Masa muda seperti masa
emas. Masa yang sangat mahal harganya. Kekuatan seorang manusia mencapai
titik puncak saat usia muda. Dimana
organ tubuh berfungsi dengan optimal, wajah masih segar, kulit kencang dengan
mata penuh binar. Begitu juga dengan kekuatan daya berfikir, pada usia muda
otak manusia bekerja dengan maksimal. Masa depan 99% ditentukan dari apa yang
seseorang lakukan sekarang ini..
Jumat, 29 Mei 2015
Senin, 04 Mei 2015
Titian Langkah bersama sang Guru Besar
Ku pandangi jam tangan
hitamku yang sedari tadi tergeletak di meja kamar. Heningnya suasana membuat
suaranya semakin jelas terdengar. Jarumnya terus berputar. Detik selalu berujung menit,
menitpun terus berjalan hingga jam. Hari terus berganti, segala tangis,
kebersamaan, duka, serta bahagia lengkap sudah menjadi warna warni dalam
perjalanan ini. Tak hanya perjalanan langkah kaki, namun juga perjalanan sebuah
hati. Kita bersama disini, satu tujuan dan satu harapan, bersama-sama mencari
cahaya. Entah mengapa, fikirku melayang pada memori beberapa bulan yang lalu.
Tak terasa hampir enam bulan aku disini, di tanah rantau kota Pahlawan tercinta.
Kini aku bersyukur atas
limpahan kasih sayang-Mu ya Rahman. Engkau beri hamba kesehatan jasmani dan rohani hingga
sampai saat ini, detik ini hamba mampu menghirup oksigen yang kau sediakan dengan
melimpah di bumi-Mu yang agung ini. Sampai hari ini pul hamba bisa melihat
keindahan dunia beserta isinya, tidak lain hanyalah karena kuasa-Mu ya Rahim.
Engkau beri hamba indra yang lengkap dan berfungsi secara sempurna, semata-mata
untuk memikirkan dan merenungi apa yang ada di langit dan di bumi-Mu ini. Namun
aku sadar terkadang kelalaianku membuatku jauh akan rasa syukur atas nikmatMu
yang sungguh agung ini ya Rabb.
Jika
mengingat seluruh pemberian Allah kepada kita, memang tidak akan pernah mampu
kita menghitungnya. Mulai dari penciptaan alam semesta yang begitu sempurna,
alamnya yang melimpah ruah sebagai sumber penghidupan makhluk-makhlukNya,
susunan ruang angkasa yang menakjubkan yang terdiri dari galaksi-galaksi yang
mana didalamnya tertata rapi planet-planet beserta tata surya. Disanalah bulan
dan matahari serta bumi berputar sesuai porosnya tanpa bertabrakan satu dengan
yang lain. Yang paling utama untuk kita syukuri adalah nikmat iman dan islam
atas diutusnya nabi Muhammad SAW sebagai rahmatan lil ‘alamin dan
mukjizat terbesarnya yang menjadi pedoman umat islam hingga akhir kiamat yakni
Al-Qur’an. Sekalipun sebagai makhlukNya kita terkadang lengah, terbujuk
bisikan setan sehingga dengan mudahnya menuruti hawa nafsu kita, namun Allah
SWT tetap menyayangi kita, buktinya nafas kita tetap dijaga-Nya dalam setiap
detiknya. Allah tak pernah pilih kasih, dan tak pandang sayang dengan segala
kuasa-Nya.
The best arsitek in this
world. Yap! Allah memang sebaik-baik pembuat rencana. Takdir
setiap insan telah ditulis-Nya ketika masih dalam kandungan sang bunda. Namun
terkadang ketika menghadapi realita, kebanyakan manusia masih saja
mempertanyakan takdir sebelum pada akhirnya mengetahui bahwa itulah yang memang
terbaik untuknya. Tak ubahnya aku saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah
ini. Tepatnya ketika mengikuti tes PBSB di Asrama Haji Sukolilo. Lingkungan
padat penduduk, terik matahari yang terasa begitu menyengat kulit, sampah dan
limbah pabrik yang baunya cukup menusuk hidung sempat membuatku tidak kerasan
dan ingin cepat kembali ke tanah kelahiran. Karena pada saat itu yang menjadi kota impianku untuk menimba ilmu adalah kota
Malang. Kota yang terkenal dingin
dan menentramkan hati siapapun yang mengunjunginya.
Namun ternyata ada
rahasia dibalik rahasia. Apa yang tidak kita sukai memang tidak selamanya
buruk. Allah Maha tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Atas kuasa Allah SWT, kota Surabaya
menjadi tanah tempatku menimba ilmu untuk studi 3,5 tahun kedepan. Dengan
adanya kenyataan ini maka aku harus mampu beradaptasi dengan lingkungan disini.
Tidak ada rasa sesal. Meski awalnya aku sempat kurang betah namun aku mencoba
meyakinkan diri bahwa aku mampu bertahan. Ini hanyalah satu diantara banyak
kerikil tajam yang harus kulalui nantinya. Jadi aku harus mampu melewatinya. Mengingat
perkataan salah seorang sahabatku bahwa seseorang yang berjuang lebih, tentu
yang dihasilkannya pun juga akan lebih. Aku bahagia dan bersyukur atas
kesempatan yang telah diberikan Allah kepadaku untuk menimba ilmu disini dan
berusaha menganggap persepsi awalku itu sebagai tantangan untuk menggapai
segala impian dan harapanku. Disana, di kota
penuh harapan.
Persepsi
awal memang tidak selamanya benar. Keraguan yang sempat melayang di pikiranku
akhirnya kini kian terhapuskan oleh adanya kenyataan yang kutemui disini.
Lingkungan kampusku lumayan asri, cukup banyak pepohonan besar yang tumbuh
dengan suburnya. Hampir di setiap sela-sela gedung fakultas tumbuh subur
pohon-pohon besar yang nampaknya sudah berumur. Bahkan jika sudah masuk area
kampus, rasanya aku sudah lupa dengan asumsi bahwa ini adalah kota
Surabaya. Kota yang terkenal dengan
panas. Aku cukup lega dan bersyukur atas segala rahmat-Nya yang tiada pernah
kuduga.
Waktupun terus beranjak.
Terus berjalan tanpa kenal traffic light. Yap!
Waktu bukanlah kendaraan. Berjalan kapanpun sesuai aba-aba kita. Yang
menghentikannya hanyalah kematian. Sakaratul maut akan datang kapanpun,
dimanapun dan kepada siapapun sesuai kehendak Allah. lantas, sudah siapkah kita
menghadapi yang namanya kematian? Saat dimana mata tak mampu lagi memandang
dunia dengan segala keindahannya, orang-orang yang kita cintai, sahabat-sahabat
yang selalu warnai hari, saat tangan tidak mampu lagi melakukan apapun yang
kita kehendaki, saat semua telah terhenti dan kita hanya mampu melihat
kerumunan orang-orang yang membentangkan kain putih diatas jasad kita, maka
selagi nafas masih terjaga, selagi detak jantung masih ada dalam genggamanNya,
mari kita lampahi kehidupan ini sebaik-baiknya.
Kini, semester dua pun
telah nampak jelas di depan mata. Segala harapan dan impian-impianpun telah
merasuk ke dalam hati dan sanubari, menjelma menjadi sebuah kekuatan yang
membawaku kembali ke bumi perantauan. Tempat dimana aku harus menempa diri. Do’a
serta petuah kedua orangtua semakin menguatkan setiap derap langkah ini. Jika
kemarin adalah pengalaman, maka esok adalah harapan dan hari ini adalah kenyataan
yang harus ku hadapi. Aku menyadari segala kekurangan belajarku semester lalu.
Memakluminya karena ini adalah awal dari perjalanan yang membutuhkan
penyesuaian. Tentu kekurangan-kekurangan ini kujadikan bahan pembelajaran untuk
perbaikan di semester kedua.
Jika menilik lembaran
memori semester lalu, seakan-akan kuliah masih seperti suatu rutinitas yang menegangkan.
Layaknya fenomena panas dingin saat persentasi di kelas, melongo saat
diskusi berlangsung, penyusunan tugas kuliah seperti makalah yang masih
acak-acakan, asal comot referensi, takut dengan dosen killer, dan lain
sebagainya. Tidak dapat dipungkiri bahwa hal-hal ini sempat terjadi padaku semester
yang lalu.
Namun, akhir-akhir ini
aku menyadari bahwa segala sesuatu tak lepas dari proses. Tanpa melewati tangga
pertama tentu kau tidak akan bisa melangkah ke tangga kedua. Walaupun dengan
usaha kerasmu kau bisa melompat, namun tetap hargailah sebuah proses. Banyak
hikmah dan pelajaran yang kau temui di tangga pertama yang akan mengantarkanmu menuju
tangga kedua. Selalu belajarlah dari pengalaman karena pengalaman adalah
sebaik-baiknya guru. Seperti teori Empirisme (John Locke 1632-1704) yang
mengatakan bahwa cara memperoleh ilmu pengetahuan adalah melalui pengalaman. Jadi kita tidak bisa hidup tanpa
belajar dari pengalaman-pengalaman yang telah kita lalui. Entah itu pengalaman
buruk ataupun baik. Aku yakin aku mampu memperbaiki semua ini, dan aku yakin
esok pasti lebih indah. Mentari masih bersinar terang maka tak ada kata mundur
ke belakang. Semua masih bisa diperbaiki. Cukup akui, dan perbaiki.
Maka hari ini, tanggal
02 Maret 2015. Ku awali perkuliahan semester ini dengan membaca basmalah. Bismillahirrahmanirrahim.
Semoga harapan-harapan baru di semester ini bukan sekedar harapan namun
benar-benar terwujudkan atas kuasa dan pertolongan Allah SWT. Aku selalu
mencoba meyakinkan diri “Aku pasti bisa karena Allah pasti menolongku”. Semoga
Allah senantiasa memberi keberkahan dan menjaga kami dari segala hal yang
menjauhkan kami dari ridha-Nya. Amin.
Upredictable Opportunity
Dosen yang bukan hanya
sekedar dosen. Aku tak pernah bosan mengagumi sosok beliau. Menurutku,
kepribadiaannya begitu sempurna. Sosoknya begitu kharismatik, aura yang ada
dalam dirinya selalu menebar ke orang-orang disekitarnya. Seakan-akan beliau
memancarkan energi-energi positif yang membuat orang-orang disekitarnya menjadi
lebih merasakan ketenangan. Terkadang beliau terbilang lebih dari bapak kandung
kami karena perhatiannya yang begitu besar tanpa membedakan satu dengan yang
lain. Pernah suatu ketika beliau menanyakan hal kecil yang tidak lumrah
ditanyakan oleh seorang dosen kepada mahasiswanya. Bahkan dikatakan snagat
jarang. Inilah yang membuat kami begitu mengagumi kepribadian beliau. Prof Ali
bertanya kepada salah satu diantara kami, sebut saja Rifqi. Salah seorang kawan
berdarah Jawa yang logatnya sangat medhok ini ditanya mengenai
gatal-gatal yang menyerang kakinya. Apakah kedua orangtuanya mengetahui hal
tersebut, kapan saja gatal-gatal itu kambuh, dan lain lain. Beliau juga sempat
bertanya kepada Jajang, Mizan, dan beberapa teman yang lain mengenai hal-hal
yang hampir tidak terfikirkan oleh kebanyakan dari kami. Pertanyaan yang
menunjukkan betapa besarnya perhatian dan kasih sayang beliau kepada para
mahasiswanya. Hal inilah salah satu hal
yang membedakan Prof Ali dengan dosen-dosen yang lain. Perhatiannya begitu
besar, bahkan melebihi perhatian seorang bapak kandung. Thank you Prof. J
Dorongan semangat,
suntikan inspirasi, beserta bait-bait nasihatnya senantiasa disampaikan dalam
setiap pertemuan. Beliau seperti tidak pernah kehabisan kata-kata untuk selalu
memotivasi kami. Begitu besar harapannya kepada kami agar kelak menjadi manusia
hebat yang bermanfaat untuk umat serta berguna bagi bangsa dan negara. Durasi
mata kuliah yang terbilang cukup lama yakni pukul 07.45-11.20 WIB pun menjadi
begitu singkat karena waktu yang begitu berharga bersama beliau. Tidak jarang
beliau mengkisahkan pengalaman-pengalaman dan kisah hidup beliau yang berharga
yang dapat memberikan kami pelajaran. Dengan kisah-kisah itu, kami dilatih
untuk selalu belajar dari kesalahan, bangkit dari setiap kegagalan, karena
bukan masalah berapa kali seseorang itu gagal, namun berapa kali seseorang itu
bangkit dari setiap kegagalannya dan kemudian memetik hikmah dari itu semua.
Karya-karyanya laksana
obor penerang dalam kegelapan hati umat. Beliau tidak rela jika pengetahuan
yang didapatnya hanya berguna untuk dirinya sendiri. Mulai dari menulis
kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku, mengisi kolom majalah, mengisi
ceramah di beberapa stasiun radio, sampai dengan khutbah di berbagai pelosok
Negara. Bahkan, beliau pernah berkata “Percuma kamu pinter, kalau hanya
untuk diri kamu sendiri. Lebih baik mati saja”. Kata-kata ini seolah
menjadi tamparan bagi kami agar bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu agar
nantinya mampu menjadikan manfaat untuk orang lain. Jadi percuma saja seseorang
menempuh pendidikan tinggi namun tidak mau membaginya untuk orang-orang yang
membutuhkan.
Buku-buku yang berhasil
diterbitkan antara lain Ilmu Dakwah, Tekhnik Khutbah Jum’at Komunikatif, Terapi
Shalat Bahagia, Do’a-do’a Keluarga Bahagia, dan masih banyak lagi. Buku yang
paling laris dan diminati masyarakat yakni Buku Terapi Shalat Bahagia. Sebab
diterbitkannya buku ini pula, kini beliau menerima banyak permintaan untuk
mengisi PTSB (Pelatihan Terapi Shalat Bahagia) sampai berbagai pelosok Negara.
Meskipun kesibukan beliau sangat padat, bahkan bisa dikatakan hampir setiap
bulan beliau pergi keluar negeri untuk memenuhi undangan PTSB. Namun beliau
tetap mengutamakan kegiatan belajar mengajar dan tidak pernah meninggalkan jam
kuliah kecuali dengan menggantinya dengan kegiatan yang lain. Beliau sangat menghargai
waktu.
Laki-laki asal
Siwalankerto Tengah ini sangat menekankan kepada kami untuk selalu menulis setiap
hari walaupun hanya barang satu lembar. Karena menulis merupakan pembiasaan,
bukan merupakan bakat atau skill dari lahir. Hingga pada suatu ketika
beliau berkata, “Saya tidak hanya bertanggung jawab memintarkan kamu sebagai
mahasiswa, namun saya juga bertanggung jawab mengantakan kamu menjadi penulis
besar”. Begitu mendengar kata-kata ini tanpa terasa bulu kudukku merinding,
karena takjub akan besar nan mulianya keinginan beliau untuk menjadikan kami
orang besar. Subhanallah. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan
kesehatan dan kerahmatan bagi beliau, sang pencerah kami ini. Amin
Pernah suatu ketika
beliau bercerita kepada kami tentang seorang mahasiswa hebat yang pernah
ditemuinya di Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. Beliau tertarik dengan caranya
berbicara sekaligus retorikanya yang mengagumkan, ternyata mahasiswa ini adalah
lulusan Universitas Al-azhar Kairo-Mesir. Namanya “Ahmad Ainul Yaqin” ungkap
beliau sembari mengingat kembali cerita saat itu.
Di
akhir pertemuan, laki-laki yang gemar mengenakan kemeja putih ketika mengajar
kelas kami ini memberikan tugas untuk menulis sebanyak 50 halaman mengenai
cerita-cerita selama kuliah semester kedua ini. Khususnya ketika mata kuliah
Tafsir BKI bersama beliau. Prof Ali menegaskan bahwa tugas ini menjadi syarat
untuk lulus UAS (Ujian Akhir Semester). Mendengar pernyataan beliau terakhir
ini, sontak semua anggota kelas hening sejenak, disusul dengan tepuk tangan
dari beberapa orang, kemudian seluruh isi kelas bertepuk tangan meriah. Baru
ketika semua tepuk tangan telah berhenti, kami saling tengok satu sama lain.
Apalagi aku dengan Sofi, kawan asal Bangkalan Madura. Ekspresi wajahnya
membuatku ingin tertawa karena ia nampak keberatan. Beberapa teman pun mulai
nyeletuk dengan mengatakan “Gak paapa”, dengan logat khas Prof Ali. Satu
sama lain saling bersahut sahutan. Begitulah yang Prof ajarkan kepada kami,
jika mendapatkan tugas seberat apapun maka janganlah mengeluh, syukurilah dan
bersama Allah pasti kita bisa menyelesaikannya.
Hidup adalah Pilihan.
Masih
teringat jelas, sewaktu kakakku yang pertama akan pergi mondok ke Kuningan Jawa
Barat. Saat itu aku masih duduk di kelas tiga Sekolah Dasar. Melihat
barang-barang yang dikemas oleh kakakku cukup banyak, aku hanya terduduk lesu,
ingin rasanya ikut dengannya. Karena bisa dibilang kakakku ini adalah pahlawan
keduaku setelah bapak. Dia adalah sosok yang penuh tanggung jawab kepada
keluarga, apalagi terhadap adik-adiknya. Yang paling ku ingat adalah ketulusan
hati dan pengorbanannya. Pernah suatu ketika aku akan menghadapi ujian, kakak
berjanji bahwa jika nanti aku mendapatkan juara atau setidaknya masuk 3 besar
maka aku akan dibelikan sepasang sepatu. Betapa girangnya aku mendengarnya.
Akupun belajar dengan giat dan alhasil aku mampu mendapatkan peringkat meskipun
peringkat kedua. Bahagia bukan kepalang, aku dibelikan sepatu baru. Itu hanya
salah satu alasan mengapa aku lebih dekat dengan kakak laki-lakiku daripada
dengan kakak perempuanku. Kakak laki-lakiku humoris dan cenderung lebih
perhatian. Namun bukan berarti aku tidak dekat dengan kakakku yang perempuan.
Kedekatanku dengan kakakku perempuan dalam bidang lain dan bisa dibilang musiman
lah. Hal ini dikarenakan aku dengan kakak perempuanku memiliki ego yang
sama-sama tinggi. Sehingga tidak jarang kami berebut sesuatu, entah itu berebut
makanan, remote televisi, hingga masuk kamar mandi. Semua itu menjadikan rumah
terasa ramai bahkan rebut, karena ulah kami yang selalu membuat keributan.
Beberapa
tahun sepeninggal kakak laki-lakiku, lagi-lagi aku harus merelakan kakak
perempuanku yang juga akan berangkat mondok di Pondok Pesantren Darul Huda
Mayak Tonatan Ponorogo. Meski dalam keseharian aku sering membuat kakak
perempuanku kesal, begitupun sebaliknya. Kami merasa sulit untuk dipisahkan.
Aku merasa ada yang hilang setelah kepergian mereka ke tanah rantau. Sampai
suatu ketika aku tertantang untuk menelusuri jejak-jejak kakak-kakakku.
Seringkali aku masuk kamarnya, memandangi setiap sudut ruangannya, mengamati
foto yang terpajang di dinding kamarnya. Sampai
mengobrak-abrik rak bukunya. Berharap ada buku yang menarik untuk
dibaca. Entah betapa usilnya aku. Dan usahaku selalu mujur, pernah suatu ketika
aku mendapatkan beberapa antologi cerpen. Betapa girangnya aku karena pada saat
itu aku sedang menyukai bacaan-bacaan segar seperti itu. seperti kumpulan
cerpen Asma Nadia yang di antologikan menjadi buku “Sepenggal Senja di Kafe
Kuningan”. Sejak saat itulah aku mengenal sosok Asma Nadia. Sosok yang entah
itu siapa, yang jelas aku menyukai cerpen-cerpennya.
Sejak
saat itu aku sering meluangkan waktu untuk membaca. Ketika itu, aku banyak
menemukan majalah-majalah dari kampus kakakku yang dibawa pulang. Aku ingat,
majalah “AL-MILLAH” namanya. Isi dari majalah ini kebanyakan tak kupahami apa
maksudnya karena bahasanya terlalu tinggi ala mahasiswa. Biasanya aku hanya
membaca kolom puisi, cerpen serta inspirasi. Ketika tsanawiyah, aku masih suka
membaca buku-buku novel namun tidak pernah tertarik untuk membeli. Karena pada
saat itu aku tidak berani meminta uang kepada ibu kecuali hanya untuk
keperluan-keperluan sekolah yang lebih urgen. Tak jarang pula aku mencoba
menulis hasil imajinasiku di buku tulis yang kusediakan khusus untuk coret
menyoret. Aku selalu bisa untuk memulai, namun tidak bisa menyelesaikannya
sampai akhir. Inilah kebiasaanku yang tak bisa kuhilangkan. Bahkan sampai saat
ini.
Sewaktu di MA, aku
sempat nyemplung dalam organisasi kepramukaan yakni Dewan Ambalan.
Organisasi ini menaungi pramuka penegak yang ingin mendalami kepramukaan lebih
luas. Tak ku sangka, aku diberi amanah sebagai sekretaris. Jabatan tak pernah
membuatku hidup dengan tenang. Makan tak enak, tidurpun tak lelap karena selalu
dikejar deadline. Bukan hanya omelan
kakak kelas yang ku hindari, namun juga cacian pembimbing karena suatu
kesalahan dalam penyusunan administrasi kami. Yang lebih mengherankan, aku
jarang diletakkan di bagian korlap (koordinator lapangan). Yang ada aku selalu
ditempatkan di belakang layar. Seperti di posisi sekretaris, bendahara, seksi
konsumsi, dekorasi dan dokumentasi, dan lain sebagainya. Jangan heran jika aku
tak pernah dikenal adik-adik kelas. Karena lebih sering aku menghadap komputer dan
kertas-kertas daripada menghadapi andika-andika di lapangan. Dari sinilah aku
terus menekuni bidang administrasi. Bukan karena inginku, melainkan karena
sebuah tuntutan.
Tak jarang aku mengisi
majalah dinding yang diprakarsai oleh organisasiku ini. Meski hanya mengisi
rubrik cerpen, artikel pada saat momen tertentu seperti perayaan valentine oleh
kaum muda mudi, joke-joke dan humor singkat dan sebagainya. Tak kusadari ini
menjadi hobi. Dan yang tak pernah kuduga, hobiku ini sedikit berpengaruh kepada
bidang yang kupilih sekarang. Yakni bidang kepenulisan. Bisa dikatakan
pilihanku untuk menekuni bidang kepenulisan ini tidak pernah terbayangkan
sebelumnya.
Ketika telah resmi
menjadi mahasiswa UIN Sunan Ampel aku mengenal salah seorang alumi Pondokku,
sebut saja mbak Anifa. Dulu ketika masih
menjabat di Ankuperpus Koordinator Gugusdepan Putri Pondok Pesantren AL-ISLAM,
dia menyediakan buku-buku untuk dibaca para santriwan-santriwati. Gratis tanpa
dipungut biaya sepeserpun. Dan ajaibnya, sekarang dia sudah menghasilkan
beberapa novel, diantaranya “Ternyata Cinta Itu Indah”. Novel ini pernah
dibedah di Pondok ketika aku duduk di kelas akhir tepatnya satu tahun yang
lalu. Entah angin dari mana, aku mulai tertarik dengan dunia kepenulisan. Ada semacam rongrongan
dari dalam hati “Kami dibesarkan di pondok yang sama. Mbak Anifa saja bisa,
masa aku tidak bisa”. Maka sudah bulat keputusanku untuk mengikuti salah
satu organisasi kampus yang berfokus dalam hal kepenulisan yakni LPM
Solidaritas yang dipimpin langsung oleh kak Anifa. Rasa bangga sekaligus
optimis bahwa nantinya aku mampu seperti dia bahkan melebihi apa yang telah ia
capai saat ini. inilah artikel pertamaku sebagai syarat untuk masuk seleksi
anggota maganger LPM Solidaritas, simak ya.
EKSISTENSI MASA MUDA
Masa muda seperti masa
emas. Masa yang sangat mahal harganya. Kekuatan seorang manusia mencapai
titik puncak saat usia muda. Dimana
organ tubuh berfungsi dengan optimal, wajah masih segar, kulit kencang dengan
mata penuh binar. Begitu juga dengan kekuatan daya berfikir, pada usia muda
otak manusia bekerja dengan maksimal. Masa depan 99% ditentukan dari apa yang
seseorang lakukan sekarang ini..
Semua orang di planet bumi
ini dalam setiap harinya memiliki jatah waktu yang sama yaitu 24 jam. Tidak ada
yang lebih, tidak dijumpai pula yang kurang. Ada orang yang meraih kesuksesan di usia
muda. Ada juga
yang sedang berlari mengejar cita-cita. Tapi fenomena yang terjadi sekarang
kebanyakan justru anak muda kurang cakap dalam me-manage waktunya. Mari tengok sekeliling kita, di pinggir
jalan, di warung-warung kopi, bahkan di jembatan kita sering menjumpai muda
mudi menghabiskan waktu disini tanpa tujuan yang jelas. Terjebak dalam
hura-hura yang tiada makna. Padahal jika kesadaran itu benar benar ada dalam
jiwa seorang pemuda. Potensi-potensi akan tersalurkan dengan baik dan mulailah
terbuka pintu gerbang menuju keberhasilan.
Sekarang mari kita bertanya pada diri masing-masing, masuk dalam
kategori yang manakah kita?
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda “Manfaatkan lima
perkara sebelum lima
perkara:
“Waktu mudamu sebelum dating waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang
waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu
sebelum dating waktu sempitmu, hidupmu sebelum datang kematianmu”.
(Hadis riwayat Al-hakim
dishahihkan oleh Syaikh Al-albani).
Maka melakukan hal-hal
yang bermanfaat untuk diri sendiri bahkan orang lain adalah suatu keharusan,
selagi kita masih dikaruniai kesehatan, kelapangan, usia muda, sebelum ajal
menjemput kita.
Hidup itu bukanlah
sebuah film. Tidak ada tombol pause dan prev dalam hidup. Betapa waktu yang
telah berlalu tidak akan bisa ditarik mundur kembali. Setiap yang bernyawa
pasti akan mati. Begitupun masa tua tidak bisa dihindari dan akan datang suatu
saat nanti.
Berikut ini 3 tips untuk kita kawula muda yang ingin unggul, berjihad
dan berkarya untuk masa depan gemilang :
1.
Create your passion!
Manusia
hidup harus mempunyai tujuan. Hidup tanpa tujuan bagaikan kapal yang berlayar
di laut lepas tak tahu arah pelabuhan. Cobalah menjadi arsitek masa depan dalam
kehidupan kita sendiri. Membuat proposal
hidup adalah salah satu kuncinya. Nah, tulis apa yang ingin kita capai pada
kertas dan tempel di dinding kamar. Kita akan membacanya setiap hari dan
lama-kelamaan kita tersugesti dengan harapan tersebut. Maka setiap kali kita
membacanya, secara tidak langsung otak kita terdorong untuk melakukan hal lebih
banyak lagi, menumbuhkan ide-ide baru dan tentunya memompa semangat untuk lebih
baik lagi.
2.
Do it with Allah.
Yap. Lakukan semua bersama Allah, agar segalanya terasa
ringan tanpa beban. Mintalah do’a kepada
orang tua karena keridhoan Allah terletak pada keridhoan orang tua. Rasulullah
pernah bersabda dalam hadist yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Hakim “Sesungguhnya
do’a bermanfaat bagisesuatu yang sedang terjadi dan yang belum terjadi. Dan
tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali do’a, maka berpeganglah wahai hamba
Allah pada do’a.”
3.
Lakukan semua dengan sepenuh hati, berbagilah
apapun yang kita punya agar kita lebih menghargai apa yang dikaruniakan Allah
sehingga dapat menambah rasa syukur kita.
Setelah
berusaha semaksimal mungkin, jangan lupa untuk selalu bersyukur atas apa yang
telah Allah berikan selama ini. Bertawakkal atas apa yang akan terjadi
dikemudian hari. Karena Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana. Kita hanya
mampu berusaha dan bordo’a.
KUN MUSTA’IDDAN !!
Memang terlihat sederhana, namun inilah kali
pertamanya aku menulis artikel yang benar-benar kuadopsi dari perkataan
beberapa guru, maupun buku bacaan. Aku cukup optimis untuk diterima menjadi
maganger LPM Solidaritas, dan akhirnya kaupun diterima. Alhamdulillah. Satu
kesempatan untuk mengenal kakak kelasku yang sempat menjadi PU LPM ini, yakni
mbak Anifa. Tentunya aku ingin lebih banyak belajar darinya.
Dan lagi-lagi kini aku mengenal
penulis-penulis hebat seperti Prof Ali, membaca karya-karyanya yang begitu
menakjubkan, hati ini sering bertanya-tanya. Apakah aku mampu menghasilkan
karya sebagus ini? Apakah mungkin aku mampu menghasilkan karya yang lebih dari
ini? Akupun membayangkan betapa bahagianya ketika nanti aku mampu menciptakan
karya-karya yang memberikan sejuta manfaat untuk umat manusia terlebih untuk
umat islam. Betapa bahagianya ketika nama kita senantiasa dikenal orang banyak
meskipun jasad kita telah hilang ditelan bumi.
Satu lagi ;Sang
Motivatior Muda
Pada pertemuan
selanjutnya, sedikit lama kami menunggu kedatangan sang guru besar. Tak seperti
biasanya. Biasanya beliau selalu datang tepat waktu bahkan terlebih dahulu
sebelum kami datang. Setelah menunggu beberapa menit, ada seseorang dibalik
pintu dan ternyata yang datang justru bukan sosok beliau. Kamipun
bertanya-tanya di dalam hati. Apakah gerangan yang terjadi sehingga Prof tidak
bisa hadir dan justru sosok laki-laki asing ini yang datang? Tidak satupun dari
kami mengenali laki-laki ini. Seisi kelas pun terdiam.
“Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh” salam
laki-laki itu diiringi senyuman hangat. Lelaki ini terlihat ramah. Seluruh
perhatian seisi kelaspun terpusat pada sosok ini. Dengan mengenakan jas hitam
berpadu dengan celana hitam, sosok lelaki berkumis tipis ini menyampaikan bahwa
Prof Ali tidak bisa hadir dikarenakan
suatu kepentingan. Kulitnya kuning khas jawa timuran, posturnya sedang,
tidak terlalu tinggi dan tidak pula terlalu rendah. Nampaknya sosok lelaki ini
umurnya berkisar 25 tahun. Cara berbicaranya menarik, fasih dan jelas. Cocok
sekali menjadi pendakwah besar. Ujarku dalam batin.
Dialah ustad Ainul
Yaqin. Mahasiswa pascasarjana yang pernah diceritakan Prof Ali beberapa waktu
yang lalu. Tidak heran jika beliau mengutus ustad Ainul untuk menggantikan
beliau. Kemampuan bahasa arabnya sudah tidak diragukan lagi. Dari awal pertemuan
beliau berinteraksi dengan kami menggunakan bahasa arab setelah mengetahui dari
prof ali bahwa kelas kami adalah kelas khusus. Kamipun terpana oleh
kemahirannya berbahasa arab tanpa kesulitan sama sekali. Beliau adalah
mahasiswa pilihan yang selain mutlitalent juga memiliki kepribadian yang baik.
Beberapa nasihat dan kata bijak sempat terurai dari ustad yang berdomisili di Surabaya ini.
Selain itu, beliau juga
ramah, santun, serta humoris. Obrolan kamipun segar dan renyah ala obrolan anak
muda. Pagi ini ada suasana obrolan yang berbeda, karena biasanya kami
berinteraksi dengan dosen yang bisa dikatakan sudah sepuh. Maklum, ternyata
selisih kami dengan beliau hanya beberapa tahun. Walaupun masih pertemuan
pertama kalinya, beliau tidak segan untuk berbagi pengalaman kepada kami. Suka
duka perjalanan hingga beliau mampu menginjakkan kaki di kiblatnya orang muslim
dalam hal keilmuan yakni Al-azhar Kairo. Beberapa foto ketika masih studi di
Mesirpun sempat ditunjukkan kepada kami melalui LCD proyektor. Hal ini bukan
karena ujub namun semata-mata demi memotivasi kami. Beliau sempat mengatakan “Tidak
mudah memang perjalanan menuju sukses, jika sukses itu mudah maka semua orang
tentu akan sukses”.
Berbicara mengenai
perjalanan beliau sampai mendapatkan beasiswa studi ke Mesir, hal ini tidak
lepas dari kedua orangtua beliau yang senantiasa memberikan do’a serta
dukungan. Beliau juga menyampaikan betapa mustajabnya do’a seorang ibu, serta
pentingnya kita patuh dan tunduk kepada apa yang dikehendaki kedua orang tua
meski apa yang kita inginkan jauh lebih besar. Karena beliau sangat meyakini
bahwa keridhaan Allah SWT ada pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah SWT
ada pada kemurkaan orang tua. Tidak tanggung-tanggung, hal yang lebih bersifat privasi
seperti masalah calon pendamping hidup sempat beliau ceritakan secara singkat.
Kami tertegun dibuatnya. Beliau memohon iringan do’a kami agar dimudahkan oleh
Allah SWT jika memang dikehendaki berjodoh. Dengan lantang kamipun mengucapkan “Amiin”
secara serempak dan spontan ustadpun tersenyum. Pertemuan pertama yang begitu mengesankan. Ungkapku dalam hati.
Di akhir sesi, beliau
berkata “Bukan tanpa alasan Allah SWT mempertemukan kita semua dengan Prof
Ali, juga saya dengan antum semua.”, ungkap beliau dengan mata berbinar
tanda penuh kesyukuran. Tidak mau kalah dengan semangat prof Ali yang
menggebu-gebu dalam mendidik kami, laki-laki kelahiran Surabaya ini bertekad untuk membimbing kami
terutama dalam bidang bahasa arab. Rencananya, kami akan diberi kajian bahasa
arab dan sirah an-Nabawiyyah bertajuk cerita-cerita tentang rasulullah
SAW. Rencananya kajian ini akan dirutinkan setiap hari Sabtu pagi.
Kuliah hari Senin pun
menjadi semakin berwarna karena hadirnya
beliau. Lama kelamaan kamipun akrab dan merasa seolah-olah beliau wali
kelas kami yang begitu memperhatikan potensi dan kemampuan kami. Tidak hanya
itu, ketika salah seorang diantara kami yakni Ahmad Munir (Balikpapan) terbaring sakit di RS Bhayangkara
beberapa hari, ustad menyegerakan diri untuk menjenguk meski di sela-sela
kesibukannya. Bahkan beliau mengatakan bahwa jangan sungkan-sungkan memberi
kabar jika ada apa-apa. Subhanallah, sungguh bangga sekaligus bersyukur
mengenal sosok seperti ustad.
“ISIS,
Antara Tujuan Islami dan Hasrat Duniawi”
(20 Maret 2015)
Matahari mulai condong
ke arah barat. Waktu telah menunjukkan pukul 15.20 WIB. Beberapa panitia dari CSS MoRA angkatan 2014
terlihat sedang membersihkan banner yang akan digunakan sebagai alas duduk
dalam Kajian Komunal sore ini. Lokasi yang dipilih panitia yaitu di depan
Gedung SAC (Self Access Centre) UIN Sunan Ampel Surabaya. Kajian
persembahan DPSDM divisi Intelektual dan Keagamaan ini mengusung sebuah tema
yaitu “ISIS, antara tujuan islami dan hasrat
duniawi”. Tidak tanggung-tanggung, pemateri yang didatangkan kali ini pun bukan
orang sembarangan. Wawasannya yang begitu luas mengenai islam dan perkembangannya
membuat panitia tertarik untuk mengundang beliau dalam kajian kali ini.
Kepanitiaan dalam acara ini tidak hanya dari pengurus CSS MoRA saja, namun juga
melibatkan magangers DPSDM dari CSS MoRA angkatan 2014. Semua bersatu
padu bahu membahu, saling membantu satu sama yang lain demi kelancaran acara.
Pukul 15.25 WIB, peserta
mulai datang namun masih bisa dihitung dengan hitungan jari. Beberapa menit
kemudian sosok yang dinanti-nanti datang. Salah seorang panitia devisi acara
terlihat menyambut kedatangan beliau dan mengajak beliau duduk
berbincang-bincang di teras gedung SAC. Selang beberapa menit, yakni pukul
15.40 WIB peserta kajian mulai berdatangan. Mereka dipersilahkan duduk dengan
formasi melingkar di tempat yang telah disediakan. Bapak Ahmad Ainul Yaqin,Lc
sebagai pemateri dalam kajian kali ini dipersilahkan segera mengambil tempat,
beliau mengambil tempat di depan, menghadap peserta kajian. Pukul 15.55 WIB
acara dimulai dengan pembukaan oleh moderator yakni saudara Febri Zulkarnain.
Acara dilanjutkan dengan
sambutan saudara Ahmad Jadulhaq Halim dari CSS MoRA angkatan 2014 mewakili panitia
mengucapkan terimakasih serta mengucapkan maaf atas segala kekurangan acara.
Sekitar pukul 16.05 WIB moderator membacakan CV (Curriculum Vitae) dari
pemateri. Selang beberapa menit pemateri pun dipersilahkan untuk memulai
kajian. Para peserta begitu antusias mendengarkan
sajian materi dari bapak Yaqin. Semangatnya yang menggebu-gebu menambah
antusiasme peserta semakin memuncak dengan tema terhangat yang sedang menjadi trending
topic di tengah-tengah masyarakat yakni mengenai ISIS.
Sedangkan anggota CSS MoRA angkatan 2014, dikabarkan ada 5 orang yang
berhalangan hadir dikarenakan sakit dan beberapa lainnya dikarenakan kesibukan
lain. Dari CSS MoRA angkatan 2013 hadir 7 orang serta angkatan 2012 sebanyak 4
orang. Hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB, materi dicukupkan
oleh pemateri dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.
Pada sesi ini ada 3
orang yang mengajukan pertanyaan, yakni saudara Nanang dan Mizan dari CSS MoRA
angkatan 2014. Serta saudara Ulil Abshor dari CSS MoRA angkatan 2013.
Pertanyaan-pertanyaan yang sangat super membuat pembahasan semakin luas. Waktu
menunjukkan pukul 17.15 WIB, tibalah pada penghunjung acara yakni penutup. Dirangkai
dengan penyerahan cinderamata atau kenang-kenangan dan foto bersama. Acara
selesai dan ditutup pukul 17.24 WIB.
Senin 23 Maret 2015
‘Kecewa’. Seolah-olah hanya kata itu yang
menjadi ceritaku hari ini. Yah, kekecewaanku kepada diriku sendiri. Seolah-olah seribu pertanyaan
menyerangku. Mulai dari waktuku yang tidak kupergunakan sebaik mungkin, belajar
kurang sungguh-sungguh, istilahnya dari segi ikhtiar masih dikatakan kurang
dibanding dengan teman-teman yang lain. Yang paling menorehkan penyesalan ialah
hasil ujian pertamaku dalam mata kuliah Tafsir BKI yang mana pembahasannya
menggunakan tafsir Al-munir karya Wahbah Zuhaily.
Saking pesimisnya aku
pun mengambil tempat di bangku belakang. Padahal dalam sejarahku jarang sekali
mengambil tempat dibelakang kecuali benar-benar terpaksa dan tidak ada bangku
lagi. Namun jika sudah pesimis terkadang hal-hal bodoh seperti inipun
kulakukan. Alhasil, ternyata suara Ustad
Ainul Yaqin kurang jelas di telingaku dan sedikit samar. Minta pengulangan
berkali-kali pun tidak enak kepada ustad. Inilah kesalahanku yang kedua. Tak
lagi-lagi aku mengulanginya untuk ke depannya. Apapun yang terjadi aku harus
duduk di barisan depan, atau minimal
barisan tengah.
Mungkin dikarenakan
faktor hafalanku yang kurang sempurna, jadi hasilnya pun juga kurang sempurna. Aku
termasuk golongan orang yang sulit menghafal, maka aku membutuhkan waktu yang
lama untuk menghafal. Biasanya aku tidak akan hafal kecuali sebelum kubaca
sampai mulut menjadi kelu. Dan yang terjadi kini, dari sekian banyak ayat-ayat
yang berkaitan dengan bimbingan dan konseling, aku lupa beberapa ayat. Inilah
yang kusesalkan. Faktor lain karena management waktu yang kurang
terstruktur. Pada malam hari sebelum ujian, aku berencana untuk mendalami
materi tafsir yang kesemuanya menggunakan bahasa arab gundul, namun apa mau
dikata ternyata gagal karena ada hal lain yang harus kuselesaikan malam itu
juga. Aku harus menyelesaikan tugas mengedit tafsir Tafsir AL-AZHAR. Meski
hanya 45 lembar namun cukup memakan
banyak waktuku hingga baru selesai pukul 22.30 WIB. Otomatis, malam itu
belajarku hanya sekilas saja karena mata yang sudah memerah dan meminta haknya
untuk dipejamkan.
Alhasil, beginilah
jadinya. Aku mendapatkan skor 70. Minim sekali dibanding teman-teman yang lain
yang rata-rata mendapatkan skor diatas 80. Nilai terendah 68, hanya selisih 2
skor dibawahku. Kekecewaan dan rasa berdosa pun sempat menjadikan semburat di
wajahku semakin nampak. Aku hanya berdiam diri sembari beristighfar. Inilah
hasil dari usahaku dan inilah yang harus ku terima. Inilah pembelajaran dari
Allah mengenai pentingnya usaha dan proses.
Sesak hati di antara
himpitan-himpitan waktu yang semakin mendesakku untuk terus mengejar
ketertinggalanku. Dalam sujudku aku mengadukan segala rasaku kepada Rabbku.
Rabb
Aku
lemah ya Rabb tanpa pertolongan dan kasih sayangmu.
Terimakasih atas
pembelajaranmu hari ini yang amat luar biasa.
Aku yakin Engkau
memberikan hikmah yang luar biasa dibalik semua ini.
Karena Engkaulah
sebaik-baik pembuat rencana.
Aku percaya bahwa aku
bisa bangkit dari semua ini dan memperbaiki semua dengan pertolonganMu ya
Rahman
Tak henti-hentinya prof
meyakinkan kami bahwa “Hidup masih koma!”. Aku yakin, yakin, yakin, aku bisa
dan pasti bisa. Bukan seberapa banyak kamu gagal namun berapa kali kamu bangkit
dari kegagalan. Aku yakin bisa karena Allah SWT pasti memberiku pertolongan.
Aku yakin bahwa Allah pasti tersenyum melihatku bersemangat lagi dan Dia pasti
akan memberikan yang terbaik untukku
Gema Shalawat Cinta
Rasulullah SAW
Acara Senandung Cinta Rasulullah SAW ini bertempat di depan kantor jurusan
BKI Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN
Sunan Ampel Surabaya. Beberapa panitia terlihat berdatangan sejak pukul 18.25
WIB, disusul oleh panitia-panitia lain. Semua panitia bekerja sama untuk
mempersiapkan acara yang akan dimulai nanti pada pukul 19.00 WIB. Mulai dari
bagian Dekorasi Perlengkapan dan Akomodasi (DPA) yang sedang menata sound
system. Bagian acara, juga bagian konsumsi yang sedang menata
gorengan-gorengan untuk acara nanti. Semua bekerja sama saling membantu antar
bagian satu dengan yang lain demi kelancaran acara.
Pukul 18. 55 WIB beberapa hadirin mulai berdatangan termasuk dengan
bapak Agus Santoso dan bapak Muhammad Tohir. Mereka di persilahkan duduk di
tempat yang telah disediakan. Selang beberapa menit, sekitar pukul 19.12 WIB
acara dimulai dengan pembacaan do’a yang dipimpin oleh Nanang Sufratna.
Pembacaan do’a ini berlangsung sekitar 15 menit.
Seluruh arena hampir penuh, kecuali bagian tengah yang memisahkan antara
hadirin putra dan hadirin putri. Beberapa
menit kemudian sekitar pukul 19.28 WIB acara dimulai oleh Ahmad Rifai
Sinaga sebagai pemandu acara. Dirangkai dengan pembacaan
kalam
ilahi oleh saudara Febri Zulkarnain sampai dengan pukul 19.34 WIB, cukup
syahdu membuat hadirin terkesima oleh alunannya.
Pukul 19.35 WIB acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan
yang pertama disampaikan oleh Nanang Sufratna mewakili seluruh panitia. Pukul
19.45 dilanjutkan dengan sambutan Ketua CSS MoRA UIN Sunan Ampel Surabaya,
Anwari Nuril Huda yang berlangsung hingga pukul 19.52 WIB.
Menginjak acara selanjutnya yaitu shalawatan. Shalawatan ini berlangsung
secara khusyuk dengan iringan grup banjari CSS MoRA dan saudari Ainun Nadhiroh
dan Iva Umi Agustina sebagai vokalis. Bapak Agus dan bapak Thohir pun tak
ketinggalan turut menyumbangkan beberapa shalawat. Suasana begitu khusyuk
dengan shalawatan ini dan berakhir pukul 20.31 WIB.
Acara dilanjutkan dengan ceramah agama yang disampaikan oleh bapak
Achmad Murtafi Haris Lc, M.Fil sampai dengan pukul 21.23 WIB. Pembacaan do’a
oleh bapak Agus Santoso selaku pengelola PBSB UIN Sunan Ampel Surabaya
sekaligus penyampaian beberapa pesan menjadi penutup dari rangkaian acara malam
ini. Acara selesai pukul 21.23 WIB ditandai dengan bubarnya hadirin dikarenakan
malam yang semakin larut.
Dengan dilaksanakannya shalawat cinta rasul ini, diharapkan anggota CSS
lebih mencintai shalawat Nabi dan melestarikannya sehingga tidak kalah saing
dengan lagu-lagu produk barat yang merusak akhlaq dan moral umat. Shalawat itu
mudah, bisa setiap saat bahkan cara menikmati shalawat sekarang ini cukup
beraneka ragam. Mulai dari alunan music qasidah, al-banjari, shalawat
kontemporer, nasyid, dan lain sebagainya.
Senin 30 Maret 2015
Aku mulai belajar dari kegagalanku kemarin, mulai menata
diri meniti hari. Berusaha tidak menyia-nyiakan setiap waktuku dan mencetak
bahan ujian secepat mungkin hingga aku dapat mempelajarinya seawal mungkin.
Karena aku sadar aku bukan manusia super yang mampu mempelajari materi sebanyak
ini semalam saja. Berbeda dengan teman-teman yang lain yang mungkin mudah saja
belajar dalam hitungan jam. Inilah yang kukagumi dari mereka, mereka manusia
hebat yang pernah kutemui. Syukurku bisa bertemu dan mengenal sosok-sosok
seperti mereka.
Pagi tadi ujian Tafsir yang kedua telah dilaksanakan.
Ujian kali ini merujuk Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka. Menurut pengakuan
beberapa teman, bahasa yang digunakan Buya Hamka lumayan sulit untuk difahami
karena bahasa-bahasa daerah yang disertakan dalam penulisannya. Kuakui hal ini
memang benar. Tapi NO EXCUSE! Banyak alasan yang membuat kita jauh dari
kesuksesan. Aku tetap berusaha memahaminya dan yakin dengan bantuan Allah SWT
aku pasti faham. Kali ini aku tidak lupa memohon do’a restu kepada ibu demi kelancaran
ujian pagi ini lewat senarai pesan pendekku. Tidak kusangka ibu langsung
membalasnya. Kata katanya merupakan energi besar bagiku, mengalahkan energi
Power Rangers yang mampu membuat gedung-gedung hancur. Seakan-akan mengaktifkan
seluruh sel-sel dalam otakku dan seakan menghapus sugesti bahwa ujian nanti
lumayan sulit. Aku berusaha menggantinya dengan sugesti “Bersama Allah aku
bisa”.
Seperti
amanah Prof Ali beberapa waktu yang lalu, ujian kami diserahkan sepenuhnya
kepada ustad Ainul Yaqin. Beliau diberi amanat untuk membuat soal sekaligus
mengujikannya kepada kami. Aku mengambil
tempat duduk nomor dua dari depan. Yap! Tempat
duduk nomor dua dari depan selalu menjadi pilihanku. Akupun berusaha
mendengarkan soal-soal dari ustad dengan seksama dan sesuai anjuran Prof Ali,
tidak bernafas untuk soal-soal yang lumayan sulit. Sebisa mungkin aku tidak
tengok kanan tengok kiri, nguping kanan nguping kiri. Aku mencoba al i’timad
‘ala an nafs karena percaya bahwa berpegang teguh pada diri sendiri
merupakan dasar dari kesuksesan.
Setelah
ujian selesai dilaksanakan, nilai masing-masing pun telah jelas di tangan. Kami
tidak menukar lembar jawaban dengan teman yang lain karena Prof telah
mempercayakannya kepada kami. Tragisnya, sebagian besar nilai kami turun
drastis. Entah ada apa dengan Tafsir Al-Azhar. Padahal Tafsir minggu lalu terbilang
lebih sulit karena merujuk pada Tafsir Al-Munir karya Wahbah Zuhaily yang redaksinya
menggunakan tulisan arab dan mayoritas mendapat nilai yang cukup memuaskan.
Sedangkan kali ini, tafsir Al-Azhar redaksinya berbahasa Indonesia dan
justru mayoritas nilai kami menurun.
Memang nilaiku sendiri tidak turun tapi naik
meskipun hanya 3 angka dari nilai sebelumnya yakni 73. Aku cukup bersyukur
dengan usaha dan jerih pbapakku untuk belajar mampu meningkatkan nilaiku meski
hanya sedikit sekali peningkatannya. Paling tidak nilaiku tidak turun, itu saja
yang ada di pikiranku saat ini. Syukurku juga karena nilaiku tetap bertahan
meski pas-pasan disaat teman-teman yang lain nilainya menurun. Alhamdulillahirabbil
‘alamin.
Allah
selalu bersama orang-orang yang bertawakkal dan berserah diri. Satu titik
terang dalam hidupku mulai Nampak, dan aku mencoba mengikuti kemana arah titik
terang itu. Seketika itu pula kukirim pesan singkat kepada ibu. Aku ucapkan
terimakasih atas do’a yang telah dipanjatkan dalam do’anya. Aku semakin percaya
dan berusaha mengingat ucapan ustad Ainul beberapa saat yang lalu bahwa do’a
ibu itu sangat mustajabah. Maka jangan remehkan do’a ibu. Akupun bertekad ingin
selalu meminta do’a ibu ketika akan melakukan aktivitas apapun. Meskipun aku
yakin ibu selalu menyertakan namaku dalam setiap do’anya tanpa harus ku minta.
Good Bye Maret Kelabu, April
Telah Bersemi
Ku awali semerbak harum
Bulan April yang menyapaku dengan penuh semangat. Aku sadar, bulan Maret
memberi pembelajaran yang cukup besar dalam hidupku. Tak ada gunanya penyesalan
yang tiada berujung, yang ada hanyalah mataku yang semakin dibutakan dari kenyataan
yang harus kuhadapi sekarang ini karena terus memikirkan hal yang telah berlalu
dan bahkan telah hilang. Seperti kata bijak yang pernah kudengarkan dalam radio
Suara Gontor FM yaitu “Memikirkan hal yang telah berlalu dan mengkhawatirkan
yang akan datang adalah sebuah kegilaan semata”. Tiada gunanya sama sekali
dan hanya membuang-buang waktu.
Ketika berjalan
melintasi jalan arah keluar pesmi, ku pandangi pohon-pohon besar yang tumbuh di
pinggir jalan. Dedaunannya rindang melambai-lambai diterpa angin siang hari.
Pikirku melayang pada suasana musim semi di Jepang. Imajinasiku seperti terkuak
dan memintaku masuk dalam alam khayalku. Memang benar kata miss Ima. Guruku
saat mengikuti Kursus di Genta Pare-Kediri. Ia pernah berkata “Hidup dalam
imajinasi itu indah, asalkan kamu bisa membawanya pada kehidupan nyata”.
Akupun mencoba nyemplung dalam imajinasiku sendiri seakan akan aku
berada di tengah-tengah pohon-pohon sakura yang sedang bermekaran.
Kuncup-kuncup
bunga sakura telah nampak diujung ranting pohon yang berjajar rapi di sepanjang
jalan itu. Harumnya semerbak mewangi menambah sensasi musim semi yang telah
tiba kini. Kehadiran musim semi selalu dinanti oleh penduduk Jepang karena
keindahan pesona sakuranya dibanding musim yang lain. Bagi orang Jepang, bunga
sakura merupakan simbol penting yang kerap diasosiasikan dengan perempuan,
kehidupan, dan kematian Sebenarnya bunga sakura mengajak kita untuk bertafakkur.
Karena bunga ini hanya “Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati”. Bunga yang
merupakan bunga nasional Negara Jepang ini mekar hanya sekali dalam setahun
pada saat musim semi yakni sekitar bulan April.. Seiring itu pula ku teringat
pada kakak kelasku yang pernah singgah ke Negara yang dijuluki sebagai Negara
Macan Putih ini untuk mengikuti pertukaran pelajar. Namanya Siti Rowiyah,
santriwati pondok yang prestasinya begitu brillian. Apalagi kemampuan bahasa inggris, sudah tidak
diragukan lagi. Sekarang dia aktif di pondok.
Sungguh pesonanya Negara
Sakura ini membuatku ingin mengunjunginya suatu saat nanti. Entah kapan
waktunya. Aku benar-benar ingin melihat keindahan negeri itu ketika musim semi
tiba. Yang ku ingat dari bunga ini, “Hidup sekali, berarti, lalu mati”.
Meski dalam durasi hidupnya tahun depan ia akan hidup kembali, berbeda dengan
manusia bahwa jika sudah mati maka tidak akan hidup kembali di dunia. Tetap
saja kata-kata ini mengingatkanku bahwa tidak sepantasnya aku membuang-buang
waktu. Apalagi masa mudaku yang masih penuh dengan ide-ide, kreatifitas, energi
yang masih prima, tidak pantas rasanya jika aku menyia-nyiakan masa emas ini. Fastabiqul
khairaat! Aku percaya suatu saat nanti Allah SWT menunjukkanku buminya yang
indah dengan jalan yang dikehendaki-Nya. Aku ingin melihat bumi Allah lebih
luas. Amiin, insya’allah.
“Maka
Kenikmatan apa lagi yang Kamu Dustakan?”
Aku baru tersadar, ternyata memiliki
teman yang banyak itu menyenangkan. Dimanapun kita melangkahkan kaki, selalu
ada yang menyapa, menebar senyum, dan mewarnai setiap derap langkah. Berbagai mejelis ilmu pun menjadi ajang untuk meluaskan
ukhuwah. Seperti organisasi, media social, dan lain sebagainya. Ketika kita
terjatuh dan butuh pertolongan, selalu ada saja tangan-tangan penuh keikhlasan
yang bersedia menolong. Ketika kita butuh tempat untuk mencurahkan isi hati,
ada saja yang bersedia untuk mendengarkan. Betapa indahnya ukhuwah dalam islam,
apalagi di tanah jawa yang orang-orangnya terkenal ramah dan easy going.
Dengan memiliki banyak teman, hidup
terasa tidak sesempit daun kelor. Selalu ada setiap saat. Kita pun mampu
belajar banyak dari teman. Belajar memahami karakter-karakter dari mereka,
menyerap apa-apa yang baik dan menghindari sikap yang tidak berkenan di hati. Hidup
terasa bahagia karena menghargai orang lain. Entah apapun yang ada pada diri
orang lain, kita tidak perlu protes, apalagi mengeluh. Karena perbedaan itu
suatu keniscayaan dan beda itu indah jika kita mampu mengolahnya dengan baik. Ketika hidup di perantauan seperti yang
sedang ku tempuh saat ini. Kawan seperjuangan tidak dapat dikatakan sebagai
teman lagi. Yap! Saudara. Karena orang
terdekat disini adalah mereka, kawan-kawan seperjuangan. Menyayangi satu sama
lain dan saling mengerti adalah kunci untuk menciptakan keluarga baru ketika di
perantauan.
Malam ini ku teringat seorang kawan
semasa di MA. Ia kerap disapa “Hanik”, Hanik Kharismatul Laila nama lengkapnya.
Karena usia yang terpaut 1 tahun denganku, dia lebih ku anggap sebagai adik
disamping pula sifatnya yang masih kekanak-kanakan. Dia adalah sosok yang
periang, ramah serta tidak pernah menampakkan wajahnya yang murung di depan
teman-temannya. Aku sangat mengenal karakternya karena kurang lebih 3 tahun aku
satu kelas dengannya.
Gadis manis berkulit sawo matang ini
telah kembali ke rahmatullah 2 tahun yang lalu dikarenakan penyakit yang
merongrong tubuhnya. Putri sulung dari tiga bersaudara ini divonis terkena
penyakit paru-paru. Setelah terbaring sakit selama beberapa minggu, dan sempat
dirawat selama beberapa hari di rumah sakit, akhirnya sahabat karibku ini
menghembuskan nafas terakhirnya dengan lengkungan senyum di bibirnya. Begitu mendengar akbar
ini, aku begitu terpukul karena pada saat itu aku belum sempat menjenguknya.
Dia telah kembali ke kota
asalnya yakni Tulungagung beberapa bulan ketika sakitnya mulai parah. Sedangkan
aku terjebak kesibukan di pondok yang tiada kunjung usai dan sangat sulit untuk
ku tinggalkan. Aku merasa amat sangat bersalah. Tiada yang mampu ku lakukan,
selain mendo’akan semoga dia mendapatkan tempat yang terbaik dan terindah di
sisi-Nya. Amin.
Aku beserta teman-teman seangkatan
berkunjung ke kediamannya, di desa Boyolangu kecamatan Kuncen Kabupaten
Tulungagung. Beberapa kawan sempat mengirim do’a bersama dan berziarah ke
makamnya. Lain denganku, aku tidak kuat menahan dukaku. Hanya mampu
bersilaturrahmi kepada ibu bapaknya sekaligus do’a bersama di kediamannya. Satu
hal lagi yang kusesalkan adalah karena beberapa hari sebelum dia dirawat di RS,
dia sempat mengirim pesan kepadaku lewat inbox di facebook. Dia bertanya
mengenai pengalamanku di organisasi yang baru beberapa bulan kami dilantik.
Sebenarnya dia juga termasuk dalam kepengurusan, namun karena dia sakit jadi
tidak ikut dalam prosesi pelantikan. Dan inilah yang selalu mengusik pikiranku
karena aku belum tuntas menjawab pertanyaannya. Lagi-lagi karena waktu yang
belum mengizinkanku. Tak ada lagi yang mampu kulakukan, hanya perasaan bersalah
dan mencoba mengungkapkan permintaan maafku lewat do’a yang kupanjatkan.
Tiba-tiba aku teringat lagu nasyid
yang dibawakan oleh salah satu grup music nasyid asal kota kembang. Siapa sih yang tidak kenal grup
band “Edcoustic”. Grup nasyid asal kota Bandung yang mempercayakan kang Aden sebagai vokalis dan kang Eggie sebagai
gitaris ini identik dengan tema yang humanis religius. Cocok sekali untuk kaum
muda karena bisa merangsang energy-energi positif yang menghantarkan kesemangatan.
Berawal dari kebiasaanku mendengarkan radio Suargo FM dan lagu yang sering
diputar adalah lagu-lagu Edcoustic, maka aku menjadi suka dengan semua lagu
grup nasyid ini. Lagu ini sedikit sendu, mengenang keberadaan seorang sahabat,
kira-kira beginilah liriknya :
Hari hari saat aku bersamamu sahabat
Telah lama waktu yang kita lewati
bersama
Kusadari masa itu masa-masa terindah
Dalam sukaku dalam dukaku engkau
selalu ada
Reff
Sahabatku tercinta terimalah laguku
Hadirmu selalu memberi bahagia
Semoga abadi persahabatan kita
Ingatkah saat kuterpuruk disini
Engkaulah yang selalu disampingku
Terimakasih telah menjadi bagian
Yang berarti tuk persahabatan kita
Back to reff
Senin 06 April 2015
Alhamdulillah wa syukru lillah. Kusyukuri pemberian terindahmu hari ini ya Allah. Setelah
usaha keras, do’a yang senantiasa kupanjatkan, akhirnya Allah SWT menunjukkan
betapa besar kekuasaan-Nya. Ada
peningkatan yang cukup signifikan pada hasil ujian tafsir BKI yang ketiga
kalinya ini dibanding nilai-nilaiku sebelumnya meski hanya mencapai skor 83.
Aku merasa usaha belajarku tidak seberapa besar dibanding ujian sebelumnya yang
lumayan sulit. Ujian kali ini merujuk pada Tafsir Ibnu Katsir.
Semua karena ibu. Do’a ibu memang
tiada duanya. Bahkan ustad Ainul pernah berkata “Do’a perempuan (ibu) kepada
anaknya seperti do’a nabi kepada umatnya”. Dinding-dinding langit pun
bergetar karena do’a seorang ibu. Tak hanya itu, bapakku juga luar biasa.
Beliau juga pasti selalu menyelipkan namaku diantara sujud-sujud shalat hajatnya.
Terimakasih bapak, ibu. Aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik bagimu,
meski belum cukup semua usahaku untuk mengukir senyum diwajahmu. Namun selagi
nafas dan detak jantungku masih pada genggaman sang pemberi hidup, aku akan
selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk meringankan bebanmu bapak, ibu. Insya’Allah.
Belakangan ini setiap kali akan ada
Ujian, aku selalu menyempatkan diri untuk mengirim pesan kepada ibu memohon
do’a restu demi kelancaran ujianku. Ketika ibu membalas pesanku, rasanya seperti
diguyur dengan hujan kesemangatan yang tiada pernah kudapat dari motivator
manapun. Karena ibu aku ada, karena bapak
aku besar sampai saat ini.
Tapi ini
hasil ini belum apa-apa dibanding teman-teman yang lain. Teman-temanku luar
biasa dan hebat. Camkan pula bahwa nilai bukanlah satu hal yang menjadi tolok
ukur utama bagi pembelajaran seseorang. Menuntut ilmu itu harus diniati karena
mencari keridhaan Allah, menghilangkan kebodohan dalam diri, bukan yang
lain-lain. Aku akan terus berusaha semampu dan sebisaku. Terus belajar dan
tiada kata puas untuk menuntut ilmu. Ingat tria J
Muhasabah Waktu
Malam ini aku teringat gubahan syair yang sering kudengar
dari radio Suara Gontor FM Ponorogo, kira-kira begini bunyinya :
Untuk
memahami makna waktu satu tahun, tanyalah seorang siswa yang gagal dalam sebuah
ujian kenaikan kelas
Untuk
memahami makna waktu 1 bulan, tanyalah ibu yang melahirkan bayi prematur
Untuk
memahami makna waktu 1 minggu, tanyalah editor majalah mingguan
Untuk
memahami makna waktu 1 hari, tanyalah seorang pekerja dengan gaji harian
Untuk
memahami makna waktu 1 jam, tanyalah seorang anak yang sedang menunggu
kedatangan orangtuanya
Untuk
memahami makna waktu 1 menit, tanyalah
seseorang yang ketinggalan kereta
Untuk
memahami makna waktu 1 detik, tanyalah tanyalah seseorang yang selamat dalam
sebuah kecelakaan
Untuk
memahami makna waktu 1 milidetik, tanyalah seorang pelari yang meraih medali perak dalam sebuah
pertandingan
Dan
akhirnya sadarkah kita bahwa waktu terus berlalu. Sanggupkah kita
mempertanggungjawabkan kepada Allah bagaimana kita menggunakan setiap milidetik
waktu kita”
Tiada hari yang kuharapkan selain hari dimana aku bertambah
dewasa. Bijak dalam menghadapi segala problema dan kerasnya dunia. Maklum, ini
perantauanku yang pertama. Aku masih dalam belajar menata diri. Mulai dari
sikap, kebiasaan, rutinitas, sampai mental. Setiap hari aku berharap untuk
senantiasa memperbaiki diri. Meski hari demi hari tak secerah dan sebiru yang
aku harapkan. Aku tak peduli. Hidup masih koma. Itu yang selalu aku tekankan
pada diriku sendiri. Karena mau tidak mau, sadar atau tidak sadar, perjuangan
ini pun tak mudah. Kuda-kuda yang telah aku pasang mungkin tidak berjalan
secepat yang aku inginkan. Terjatuh? Sudah pasti dan itu berulang kali.
Menangis? Itu sudah biasa dan itulah obat hati.
Maka
teguhkanlah hatimu dan yakinlah ini takdir Allah yang terbaik bagimu. Jalanilah
dengan penuh ikhlas hati dan jadilah pejuang masa depan. Jangan pernah menyerah
karena arus pasti akan membuat perahumu goyah. Engkau adalah nahkoda bagi
perahu kehidupanmu. Maka cukuplah Allah sebagai penentu langkahmu, penjaga hatimu, penentram qalbumu hingga ada
sosok imam yang akan membawamu menuju syurga al Firdaus. Semoga Allah
menjaganya selalu dalam setiap waktu. Amin.
Dan sekali lagi, dunia itu indah.
Bahkan ketika kamu dalam keterpurukan dan jatuh dalam lubang kehancuran. Itu
semua memberimu pelajaran bahkan hikmah yang membuatmu lebih kuat untuk
menjalani kehidupan. Yap. Sekali lagi, dunia
itu indah. Tinggal bagaimana kamu memandangnya. Tidak selamanya seseorang itu
seburuk yang kamu duga, tidak selamanya masalah itu serumit yang kamu fikirkan.
Bukalah matamu, pandanglah bahwa segala sesuatu pada dasarnya itu baik. Setiap
manusia dilahirkan dalam keadaan fithrah.
Dakwah Ala Asma Nadia Dan Aguk
Irawan
“Buka mata , buka telinga, buka
hati. Lihat dunia lebih luas dan jadilah penebar kebaikan lewat tulisan
Sejumlah
mahasiswa yang tergabung dalam CSS MoRA (Community of Santri Scholars of
Ministry of Religious Affairs) UIN Sunan Ampel Surabaya menggelar Talk
Show bersama Asma Nadia dan Aguk Irawan (16/04) dalam rangka DIES
NATALIS CSS MoRA yang ke VII. Acara yang
berlangsung mulai pukul 08.45 hingga 14.00 di auditorium UIN Sunan Ampel ini
merupakan acara puncak setelah beberapa rangkaian acara sebelumnya yakni CSS Cup,
Bakti Sosial, CSS Challenges, dan Bazaar Buku.
Menurut
Haris Maiza selaku ketua panitia, Talk Show yang mengusung tema “Mari
Menulis; Ekspresikan Idemu, Lejitkan Namamu” ini menghabiskan dana mencapai Rp.
34.000.000,00. Sebanyak 85 % berasal dari anggota CSS MoRA sendiri yang berupa
uang organisasi, pengajuan proposal sponsor serta kerjasama dengan berbagai
pihak salah satunya adalah P2B (Pusat Pengembangan Bahasa) UIN Sunan Ampel
Surabaya.
Antusiasme para peserta dinilai cukup besar
seperti yang diungkapkan Wahyu Setiani, guru MI Mojoarno Jombang. “Luar
biasa! Saya sudah menunggu 10 bulan untuk kedatangan mbak Asma. Karena menurut
saya mbak Asma itu penulis yang sangat inspiratif. Selain menjadi contoh
muslimah, kreatifitasnya serta jiwa sosialnya juga tinggi”.
Penulis
novel best seller berjudul “Assalamu’alaikum Beijing” ini juga merupakan penggagas
Rumah Baca Asma Nadia dan salah satu mimpinya yaitu mendirikan 1000 rumah
baca.“Menulis Buku bukan sekedar hiburan namun kebutuhan diri sendiri dan
orang lain. Jika kamu tidak menemuinya di toko buku manapun, maka jadilah
penulisnya.” Ungkap ibu dua orang anak ini. Sedangkan Aguk, pria yang juga penulis novel bestseller Haji Backpacker dan Maha Cinta ini mengungkapkan bahwa seseorang
terlebih dahulu harus peka terhadap lingkungan dan situasi agar lebih mudah
mendapatkan inspirasi.
Pada
akhir talkshow, Asma menambahkan bahwa dengan menulis kita juga bisa berdakwah
kepada banyak orang serta menebar kemanfaatan sekalipun kita telah terdekap
beberapa meter dibawah tanah. Betapa mulianya orang-orang seperti ini, pena
yang menjadi saksi akan karya-karyanya. Semoga Allah memberikan balasan yang
setimpal kelak di syurga-Nya. Amin.
Acara
ini cukup memberikan kesan tersendiri bagiku. Bisa bertemu sekaligus bertatap
muka langsung dengan penulis besar yang fenomenal dengan beragam karyanya yang telah
menjadi bestseller dan beberapa diantaranya telah di film-kan. Karena
kesempatan ini sangat jarang didapatkan, aku berusaha untuk bisa berfoto
bersama dengannya sebagai motivasi bagiku untuk berkarya minimal sama dengan
bunda Asma. Penulis itu biasa, namun penulis yang berjiwa social tinggi itulah
yang luar biasa. Dan inilah yang kutemukan pada sosok bunda Asma Nadia.
Orang-orang seperti inilah yang dibutuhkan oleh bangsa. Karena tidak semua
kalangan mampu membeli buku-buku bacaan yang berkualitas dan tentunya lumayan
merogoh kocek cukup dalam. Bersama suami dan partner kerjanya, Asma mendirikan
rumah baca yang cabangnya sudah lebih dari 100. Impiannya yakni mendirikan 1000
rumah baca. Sungguh mulianya hati perempuan cantik yang berjilbab rapih ini, semoga
Allah meridhai setiap langkahnya sebagai penulis sekaligus pendakwah muslim. Amin
.
“Menulis Itu Asyik Loh”
Hari
ini perkuliahan berjalan dengan lancar, syukur Alhamdulillah. Sorenya kami
melaksanakan kajian angkatan bersama kawan satu kelas dengan pemateri dari
anggota kelas kami sendiri yang mana ia telah memiliki segudang pengalaman
dalam bidang kepenulisan. Dia adalah Moh. Mizan Asrori. Pemuda berkulit sawo
matang ini telah memulai kiprahnya semenjak masih nyantri di Pondok Pesantren
Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. Kajian kali ini mengusung sebuah tema yaitu
“Menulis itu Asik Loh”, dengan dibawakan oleh moderator keren produk batak
asli, ia kerap disapa “Rafael” dengan nama lengkap Rahmat Faisal Nasution. Nah,
berikut sedikit uraian materi yang disampaikan oleh Mizan :
“Menulis
Itu Asyik Loh”
Dengan menulis, secara tidak langsung kita :
1. Menjadi
guru bangsa
Ketika kita menulis opini, secara
tidak langsung kita memposisikan diri sebagai pribadi yang lebih mengetahui dari
pembaca. Hal ini tentunya harus didukung dengan berbagai literatur dan sumber
yang akurat. Perbanyak wawasan dengan membaca berbagai literatur baik dari
buku, internet maupun jurnal. Karena dengan wawasan yang luas juga akan
mempermudah kita untuk menuangkan gagasan menjadi sebuah tulisan.
2. Memperpanjang
umur
Penulis-penulis besar seperti
Al-Ghazali, Chaerul Anwar, Ibnu Katsir tidak pernah terkenal jika tidak
berkarya. Karena karya-karyanya terus dinikmati umat manusia, nama mereka abadi
sepanjang masa meskipun jasadnya telah terkubur dalam tanah. Petuah sayyidina Ali bin Abi Thalib :
“Setiap
penulis akan mati. Hanya karyanyalah yang abadi. Maka tulislah sesuatu yang
membahagiakan dirimu di akhirat nanti”
Tips-tips menjadi penulis besar :
1.
Menulis itu bukan pembawaan, dan tidak ada
faktor hereditas yang melatarbelakangi seseorang itu bisa menulis. Namun menulis itu sebuah ketrampilan, semua
orang pasti bisa menulis jika dia memiliki kemauan dan dibiasakan. Intinya, semua orang bisa menulis karena
menulis bukan bakat namun pembiasaan.
2.
Menulis tidak perlu banyak konsep, tulislah apa
yang ada dipikiranmu.
Jangan terlalu lama memikirkan apa yang harus
ditulis, tulislah apa yang kamu lihat, apa yang kamu dengar, dan apa yang kamu
rasakan. Seperti hal yang sangat sederhana, misalnya ekspresikan suasana hatimu
saat ini dengan menulis agar orang lain tahu bagaimana perasaanmu.
3.
Spesifikasikan apa yang menjadi kecenderungan
kita.
Misalnya kita lebih menyukai berita, maka
tekunilah cara-cara penulisannya bagaimana, sering-sering membaca berita di surat kabar, dan
sebagainya. Jika lebih cenderung menyukai cerpen, maka tekunilah cara-cara
menulis cerpen yang baik.
4.
Baca buku-buku yang berkaitan.
Membaca buku-buku literature bukan berarti kita
meniru pikiran orang tetapi kita belajar menyelami gagasan yang ada dalam
pikiran orang lain yang tertuang dalam tulisan-tulisannya, lalu kita kombinasi
dengan apa yang telah ada dalam benak kita.
5.
Menulis perlu banyak wawasan, (teks dan konteks)
Teks adalah yang ada di dalam
literatur-literatur, sedangkan konteks ialah apa yang ada di alam realita yang
membutuhkan kepekaan sosial untuk mampu membacanya. Maka seorang penulis mutlak
harus memiliki kepekaan social terhadap apa yang ada disekitarnya.
6.
Belajar dari penulis-penulis besar
Tidak perlu jauh-jauh mengambil contoh, kita
ambil dari sosok penulis besar di sekitar kita yakni beliau Prof Moh. Ali Aziz.
Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah belajar dari kegigihan dan
keuletan beliau, membaca karya-karya yang telah dihasilkan beliau, menanyakan
hal-hal yang menjadi hambatan kita untuk menulis, meminta motivasi, dan lain
sebagainya.
7.
Mengikuti pelatihan-pelatihan atau seminar
tentang kepenulisan.
Ikuti kajian-kajian kepenulisan sekecil apapun
hingga pelatihan dan seminar kepenulisan skala nasional. Dengan berbagi ide dan
sharing pengalaman dengan penulis yang lain, kita akan terinspirasi dengan
hasil-hasil karyanya dan termotivasi untuk menciptakan karya yang lebih hebat.
8.
Mencari gagasan.
Karena menulis butuh ide. Dengan zaman yang
semakin dinamis ini, maka ide untuk menciptakan karya-karya baru yang lebih
segar sangat dibutuhkan demi menjawab kebutuhan masyarakat luas akan
karya-karya baru.
9.
Selalu merasa kurang.
Jangan mudah puas dengan tulisan kita. Ketika
telah menulis dan mendapatkan apresiasi dari pembaca, jangan lekas puas akan
hasil tulisan kita dan terus berlatih dan selalu meminta tanggapan dari penulis
yang lebih senior.
Proses menulis yang baik :
1.
Pengalaman
Gali ide dan tujuan penulisan. Menulis itu dari
hati, maka jatuhnya akan kehati pula.
2.
Mulailah menulis
Tuliskan ide anda sebelum hilang atau diambil
orang lain
3.
Evaluasi
Baca kembali, mintalah saran dan masukan dari
orang lain terutama yang ahli dibidangnya.
4.
Revisi
Perbaiki sesegera mungkin
5.
Terbitkan!
Sabtu 18 April 2015
Mentari
hari Sabtu begitu cerah menyinari pagi ini. Gedung-gedung pencakar langit
terlihat silau terkena sorotan sang mentari. Embun yang membasahi pagar balkon
semakin lama semakin hilang tertiup hembusan angina pagi. Ku hirup dalam-dalam
udara yang masih lumayan segar ini. Dari balkon lantai 5 Pesantren Mahasiswi
UIN Sunan Ampel Surabaya ku pandang hamparan luas pemukiman padat penduduk di
sekitar. Inilah bukti bahwa semua orang selalu ingin maju dari keterbelakangan
hidup. Beramai-ramai ke kota
untuk mengadu nasib dan menyambung kehidupan dengan mencari pundi-pundi rupiah
di tengah hiruk-pikuk perkotaan. Mereka tak berbeda jauh dengan aku. Akulah
anak desa yang berbekal restu bapak ibu datang ke kota ini untuk menimba lautan ilmu. Tidak
tahu apakah nasib akan berpihak kepadaku. Allah SWT berkuasa atas semuanya dan
aku percaya Allah SWT pasti akan memberikan yang terbaik untuk hambanya yang
telah berikhtiar, berdo’a dan bertawakkal. Insya’allah.
Tak
seperti biasanya, pagi ini ada agenda baru untuk mengisi akhir pekan kami.
Kajian bersama ustad Ainul di depan SAC menjadi
salah satu rutinitas terbaru bagi kami dan sepertinya akan menjadikan
kesan tersendiri dalam hari libur kami. Karena pada hari libur pada umumnya
mahasantri bangun kesiangan. Dengan adanya kajian ini yang dimulai pukul 07.00
WIB, bagi kami tiada kata ‘kesiangan’ lagi pada hari Sabtu pagi.
Kajian
diisi dengan pembacaan kitab yang berisi seputar sirah an-nabawiyah.
Yang pasti kitab yang tebalnya berkisar 500 halaman ini berisikan semua tentang
rasulullah Muhammad SAW. Perjalanan beliau mulai dari lahir ke dunia sampai
menutup mata. Bahkan hal-hal seperti perawakan nabi, warna kulit, tinggi badan
rasulullah SAW diungkap secara detail oleh kitab ini kemudian disampaikan
kembali oleh ustad Ainul dengan bahasa arab yang mudah dipahami.
Pada
pertemuan pagi ini, ustad menyampaikan bahwa rambut rasulullah SAW tidak lurus,
tidak juga keriting. Panjangnya sampai daun telinga. Sedangkan kulit beliau
kuning kemerah-merahan. Cara berjalannya tegak seperti orang baru turun dari
gunung. Tegap dan tidak terlalu cepat, tidak pula terlalu lambat. Badannya pun
athletis dan kekar. Yang begitu mengagumkan, katanya wajah rasulullah SAW sangat
tampan. Bahkan saking tampannya tiada orang yang mampu melukiskannya.
Pada
akhir sesi, ustad meminta kami untuk memperkenalkan diri satu persatu dengan
menggunakan bahasa arab. Kami diminta menyebutkan nama, asal, hobi dan
cita-cita kami di masa depan nanti. Dengan adanya perkenalan ini ustad ingin
mengenal kami lebih dalam lagi. Tentunya dalam artian positif untuk mempermudah
berinteraksi dengan kami, tidak untuk hal-hal lain. Ustad benar-benar
menyatakan niat baiknya untuk bersama-sama mengajak dan membimbing kami menuju
arah yang lebih baik serta lebih maju. Begitu mulianya hati ustad, semoga Allah
limpahkan keberkahan untuk beliau beserta seluruh keluarganya. Amin.
Sebiru Hari Ini
Pagi
yang cerah, secerah hati yang berharap akan indahnya hari ini. Bismillahirrahmanirrahim,
dengan menyebut namaMu, aku langkahkan kaki ini, ku gerakkan tangan ini, ku
buka lembaran-lembaran ilmu-Mu. Tiada kuasa aku berdiri untuk menuntut ilmu
tanpa pertolongan dan kasih sayangMu. Maka ajarillah kami seperti Engkau mengajari
Nabi Ibrahim, dan fahamkanlah kami seperti Engkau memahamkan Nabi Sulaiman. Amin.
Pagi
ini aku tak ingin membuang waktu sedetik pun untuk hal-hal yang kurang
bermanfaat, aku bisa aku bisa aku bisa. Aku harus bisa menguasai materi yang
akan diujikan besok senin. Aku harus mampu karena aku adalah orang pilihan.
Bukan orang BEJO saja. Aku mulai merapikan file-file yang berserakan di
laptopku, aku menemukan tulisanku beberapa waktu yang lalu mengenai event
bookfair di JX beberapa waktu yang lalu, ini tulisanku :
SUASANA BARU SURABAYA BOOK FAIR 2014
Surabaya (15/11) - Suasana masih
lengang ketika langkah kami menuju stand Book Fair 24th Surabaya yang
dilaksanakan di Jatim Exspo International mulai tanggal 11-16 November 2014.
Maklum, hari masih pagi, jam menunjukkan pukul 09.10 WIB. Dilansir dari salah
satu panitia Korlap yang akrab disapa Mujib, Book Fair ini terselengara berkat request dari Pakde Karwo yang
menginginkan perayaan di kota Surabaya pada peringatan hari pahlawan 10
November. Acara ini diselenggarakan oleh pemerintah provinsi Jatim melalui
IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia)
bekerja sama dengan Badan Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur dalam rangka
memperingati hari pahlawan di Kota Surabaya.
Event yang mengusung
tema “ Budaya Membaca Membangun Karakter Bangsa” ini bekerja sama dengan
beberapa penerbit buku ternama seperti Diva Press, Mizan, Pustaka Progresiff,
dan masih banyak lagi. Ada
sekitar 40 stand yang meramaikan Book fair kali ini, sebagian besar stand
buku-buku. Mulai dari buku bacaan, ensiklopedi, novel, majalah, kitab-kitab,
dengan berbagai macam varian harga. Ada
yang memasang diskon cukup fantastis, mulai dari 30-50%. Adapun stand-stand
yang lain adalah stand baju muslimah dan pernak perniknya, stand promosi produk
obat-obatan, serta stand jajanan dan makanan yang berjajar rapi di sisi gedung
bagian kiri. Sungguh menggiurkan setiap mata yang memandang untuk mampir.
Di tengah-tengah beberapa pengunjung yang mulai
berdatangan di stand-stand, beberapa panitia terlihat sedang sibuk menata
kursi-kursi di depan panggung. Ternyata event ini tidak hanya menyuguhkan pameran
buku, namun membawa serangkaian acara, mulai dari Bedah buku
Mewarnai
Bersama 1000 anak TK, Talk Show tentang menulis buku, dan Penjualan buku diskon
oleh para penerbit peserta pameran, dan lain-lain. Seperti yang akan
berlangsung pagi ini yaitu Lomba Mewarnai untuk anak-anak dengan prasyarat
berusia 3-6 tahun.
Event ini disambut
meriah oleh anak-anak karena beberapa event yang diadakan dalam memperingati
hari Pahlawan biasanya diperuntukkan bagi kalangan remaja. Seperti lomba balap karung, cerdas cermat,
olimpiade, dan lain-lain. Apalagi dengan iming-iming hadiah yang cukup
menggiurkan. Beberapa piala tertata rapi mulai dari yang paling tinggi hingga
yang paling rendah. Uang pembinaan pun dijanjikan sebagai penghargaan bagi sang
juara pemenang lomba mewarnai kali ini. Cukup membuat anak-anak tertarik apalagi
pemilihan hari yang pas, bertepatan dengan akhir pekan.
Acara ini mendapat
sambutan dan respon yang cukup baik dari khalayak umum. Banyak instansi yang
memprakarsai acara ini, antara lain WAFA TV, Yayasan Nurul Hayat, Yayasan Dana
Sosial Al-Falah, Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia, Badan Komunikasi
Pemuda Remaja Masjid Indonesia, SIRKIT School of Writing, dan lain-lain.
Sambutan meriah pun mengalir dari para pengunjung. Banyak pengunjung yang tidak
sengaja membawa sang buah hati pada acara Book Fair ini tanpa mengetahui
sebelumnya bahwa ada event menarik yaitu Lomba Mewarnai. Namun dengan spontan
mereka ingin mengikutsertakan putra-putrinya. Apalagi hanya dengan merogoh
kocek Rp. 10.000,- ,pengunjung sudah dapat membantu mengasah kemampuan dan kreasi
putra-putrinya dengan event lomba mewarnai ini. Murah bukan, namun cukup
menghibur untuk mengisi hari libur anak.
“Saya selalu support Sabila untuk mengikuti
lomba-lomba seperti ini, untuk mengembangkan skillnya juga”. Tutur ibu Rani
seorang ibu yang duduk bersama sang buah hati sembari menunggu acara perlombaan
dimulai. Acara-acara kompetisi seperti
ini nampaknya harus diupayakan terlebih dalam peringatan hari-hari besar nan
bersejarah seperti moment hari pahlawan 10 November silam. Tak hanya untuk
membangkitkan semangat para generasi muda, namun juga anak-anak sebagai cikal
bakal generasi yang akan melanjutkan tonggak kepemimpinan bangsa di masa yang
akan datang.
Segenggam Harapan
Angin berhembus sepoi-sepoi,
menyejukkan kalbu. Menyapu wajah yang awalnya dilanda kantuk yang teramat
sangat. Setelah panas dan mendung yang tiada menentu, akhirnya tetesan-tetesan
itu jatuh juga. Alhamdulillah, maha
Besar Allah. Hujan turun dengan derasnya. Mengguyur tanah kota pahlawan yang mulai hilang tertutup paving-paving
bersemen. Setiap tetesnya adalah berkah yang harus kita syukuri. Alhamdulillah,
Malam ini aku harus mendalami lagi
materi yang akan diujikan besok dalam mata kuliah tafsir BKI. Aku tidak ingin
kecewa untuk yang kedua kalinya. Setelah nilai pertamaku pas-pasan, berlanjut
dengan nilai kedua yang hanya bertambah sedikit yakni dari 70 menuju 73. “Aku
harus lebih baik, aku harus bisa lebih baik”. Dan bersama Allah aku yakin
aku mampu memberikan yang terbaik yang aku mampu. Aku berharap nilaiku tidak
turun, itu saja sudah cukup membahagiakanku. Paling tidak ada yang bisa menjadi
semangat untuk hari pertama di pekan ini. Tentunya hari dalam pekan pertama itu
menentukan hari selanjutnya bukan?
Tiada hari tanpa belajar. Belajar,
belajar, dan terus belajar. Saat ini aku masih miskin ilmu, miskin pengetahuan.
Maka dari itu tiada kata berhenti untuk belajar. Sekalipun kamu harus sakit,
hingga tenagamu tak kuat untuk menyangga badanmu. Lebih baik mati di bangku
sekolahan daripada mati diatas kasur. Percaya bahwa Allah SWT selalu menghargai
proses, bukan hasil. Maka dari itu berapapun hasilnya, syukurilah. Karena itu
adalah bagian dari kuasa Allah SWT. Kau hanya diminta untuk berusaha, berdo’a, mohon do’a restu kepada bapak dan
ibu. Hargailah setiap waktumu karena tidak akan kembali hari-hari yang telah
berlalu.
Senin 20 April 2015
Pekan telah berlalu,
syukur Alhamdulillah Allah SWT masih memberikan kesempatan tuk berjumpa kembali
dengan hari Senin. Hari pertama tuk mengawali pekan ini yang masih penuh dengan
suntikan semangat di akhir pekan lalu. Semoga pekan ini lebih baik dari pekan
lalu. Semangat semangaaaattt! Kucoba semangati diriku sendiri yang mulai
dilanda kegelisahan yang tak pasti.
Hari ini jadwal ujian
Tafsir Al-Munir yang mana pembahasan dan ayat yang harus dihafalkan lumayan
banyak, belum lagi tafsir ini menggunakan bahasa arab. Nampak berat namun aku
terus berusaha memahami baris demi baris. Seperti layaknya manusia, yak arena
aku seorang manusia. Aku berusaha semampuku dan selalu kusempatkan untuk
mengirim pesan kepada ibu memohon do’a restu. Mungkin terlihat sepele namun aku
selalu berusaha untuk tidak melupakan hal ini karena pengaruhnya cukup besar
terhadap mental dan semangatku.
Hari ini prof
berhalangan hadir dikarenakan ada kepentingan yang mengharuskannya ke Jakarta. Di tengah-tengah
ujian berlangsung, prof menelpon ustad Ainul dan beliau menyatakan keinginannya
untuk berbicara dengan kami. Sungguh luar biasa. Di tengah kesibukannya, beliau
menyempatkan waktunya untuk memberikan pesan-pesan positifnya kepada kami. Kami
terharu dengan perhatian beliau yang cukup besar kepada kami.
Ujian telah selesai,
tibalah saatnya pengkoreksian hasil ujian. Aku hanya mampu berpasrah atas
segala usaha. Bertawakkal kepada Allah SWT entah berapapun hasilnya. Apa mau
dikata, ternyata dugaanku tak jauh meleset. Nilaiku turun. Yang sebelumnya aku
mendapatkan 83, sekarang anjlok menjadi 63. Turun 20 angka cukup membuatku
sedikit kecewa. Sekali lagi aku mencoba meyakikan diri bahwa Ini bukan
kelemahan, hanya saja usahaku yang kurang juga do’aku yang kurang sungguhan.
Aku yang kurang yakin sejak awal akan kemampuan bahasa arabku sehingga seakan
menjadi sugesti bahwa bahasa arab itu sulit.
Tiada kata lelah untuk
belajar. Itu yang harusnya kutanamkan dalam benakku. Aku pasti bisa lebih baik!
Sekali lagi, Hidup masih koma! HIDUP MASIH KOMA!
Belajar dari Senja
Kupandangi
mega merah yang sedari tadi tersenyum di ufuk barat. Cahayanya kuning
kemerah-merahan, sungguh indah dipandang mata. Menyejukkan hati, mendamaikan
jiwa. Keindahannya sungguh merona. Jika aku mampu seindah dan selembut senja,
tentu aku akan menenangkan hati setiap orang yang memandang.
Namun realita yang terjadi tidaklah
selamanya seperti itu. Aku hanyalah manusia biasa. Tutur ini terkadang
menggores hati dan sanubari sesama, lisan ini terkadang membicarakan hal-hal
yang menjadi ladang dosa. Aku sadar dan tahu akan hal itu, akulah insan biasa
yang tak luput dari kekurangan. Maka sungguhlah benar bahwa lisan itu ibarat
pedang, mampu menusuk hati siapapun jika tak pandai mempergunakannya.
Sebaliknya, Lisan mampu menjadi obat ketika kehadirannya amat dibutuhkan. Lisan
mampu mencairkan hati yang keras dengan petuah-petuah bijaknya. Ya Allah, ya
rabby..jagalah hatiku, jagalah lisanku selalu dalam naungan dan ridha-Mu.
Sabtu, 25 April 2015
Mentari menyapa pagiku
dengan begitu sempurna. Cahayanya tebarkan kasih penuh cinta kepada seluruh
makhluk semesta alam. Mengingatkanku akan sepasang mata yang begitu teduh,
pancarkan ketulusan kasih tanpa harapkan apapun dari yang dikasihinya. Ibu..
kasihmu bagaikan mentari, aku senantiasa merasakannya kilau hangatnya setiap
hari meskipun mataku tidak bisa melihat sosokmu. Terimakasih ibu, semangatmu
akan selalu mengalir di dalam darahku, juga nafasku.
Akhir pekan adalah hari
yang selalu dinantikan oleh banyak kalangan. Mulai dari pekerja, mahasiswa,
bahkan hampir semua kalangan. Bagi mahasiswa, waktu tersebut dimanfaatkan untuk
melepas kepenatan setelah berhari-hari berjibaku dengan tumpukan tugas kuliah,
kegiatan organisasi ekstra/intra kampus, dan sebagainya. Akhir pekan menjadi
ajang untuk me-refresh pikiran agar terhindar dari tekanan atau stress.
Karena tidak bisa dipungkiri lagi, sudah menjadi fitrah manusia untuk condong
kepada kesenangan-kesenangan.
Lain ladang lain
ilalang. Lain lubuk, lain akarnya. Begitu kiranya kata yang pantas untuk
menggambarkan beragamnya kesibukan mahasiswa ketika akhir pekan telah tiba.
Bagi mahasiswa yang berasal tidak jauh dari kampus, pulang kampong menjadi
alternatif pilihan. Berharap kerinduan dengan keluarga akan terobati sekaligus
berharap ada uang saku tambahan untuk menyambung hidup. Lain halnya dengan mahasiswa
rantauan pulau Borneo ini. Sebut saja
Nursabila. Mahasiswi kelahiaran Sambas, Kalimantan Barat yang sedang menempuh
studi semester 2 UIN Sunan Ampel Surabaya Jurusan Bimbingan Konseling Islam
Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Ungkapnya, tiket pulang kampung hanya akan
dikantonginya setelah bapak rektor menyematkan toga di akhir semester nanti
setelah perjalanannya menimba ilmu telah usai di Kota Pahlawan ini.
Organisasi-organisasi
juga memanfaatkan akhir pekan sebagai waktu untuk melaksanakan program kerjanya.
Terutama kegiatan yang cukup memiliki banyak agenda serta tempat pelaksanaannya
di luar area kampus. Seperti halnya CSS MoRA (Community of Santri Scholars
of Ministry of Religious Affairs) UIN Sunan Ampel Surabaya, yang
hari ini sedang menggelar “CSS Mengabdi” di pondok pesantren BahruL Ulum
Jombang sampai esok hari. Bagi para mahasiswa yang berorganisasi selain
mendapatkan ilmu berinteraksi sosial, jutaan pengalaman yang bermanfaat juga
mereka kantongi untuk mengisi hari libur.
Pagi ini selepas merendam
cucian, ku beranjak ke kamar untuk bersih-bersih. Ketika sedang menyapu lantai,
tiba-tiba aku teringat sosok bapakku. Seringkali aku membersihkan halaman
bersama bapak. Mencabuti rumput-rumput liar dan membakarnya di pojok halaman.
Beliau adalah bapak yang bukan sekedar bapak. Sedang apakah beliau pagi ini?
Akankah sedang menemani cucu-cucunya bermain? Ataukah sedang membersihkan
kandang kambing? Atau sepagi ini beliau
telah berangkat ke sawah dengan cangkul yang berada dipunggungnya, capil yang beliau
kenakan, berjalan dengan menuntun sepeda menuju sawah? Berbagai pertanyaan
menyerangku. Aku merindukan bapak.
Beliau sosok bapak yang
sangat kuat, tegar dan bertanggung jawab. Selagi beliau bisa mengerjakan segala
sesuatu dengan tangannya sendiri, beliau tidak akan pernah meminta orang lain.
Sekalipun badannya harus remuk dan sakit, beliau tetap bekerja keras di sawah
warisan kakek tanpa pernah memperdulikan kondisi tubuhnya. Dan inilah hal yang
sering menjadi pemicu kekhawatiranku. Bapak begitu teguh pendirian. Jika beliau
telah memutuskan suatu hal, maka sangat sulit untuk mengubah keputusannya.
Hal
yang menjadi kekhawatiranku hanya 1, yakni penyakit bapak. Seperti yang telah
menimpa bapak bulan ramadhan yang lalu. Sakitnya menyangkut organ dalam yang
harus mengharuskannya melakukan operasi. Beliau divonis terkena penyakit hernia.
Penyakit karena aktivitas yang terlalu memforsir tenaga seperti membawa beban berat,
sehingga usus besar melorot. Inilah yang menjadi pukulan yang amat keras bagiku
waktu itu. Karena saat itu adalah saat-saat pemberangkatanku ke kota Pahlawan. Dilema
sempat menghantui fikiranku, diantara berangkat atau tidak, mengingat kondisi
bapak yang sedemikian itu.
Diriku saat ini adalah
berkat perjuangan bapak, atas curahan keringatnya pundi-pundi rupiah itu
dihasilkan untuk membiayai aku dan kakak-kakakku sekolah sampai jenjang
pendidikan tinggi seperti yang diharapkan mereka. Saat ini aku hanya mampu
mendo’akan bapak dan ibu disetiap sujudku, semoga mereka diberikan kesehatan,
keimanan dan ketaqwaan serta mawaddah wa rahmah. Ya Allah, jagalah bapak
ibuku hingga saatnya nanti aku mampu membahagiakan mereka. Amin.
Pagi ini kami memiliki
agenda kajian rutinan bersama ustad Ainul Yaqien, Lc. Dua minggu terakhir ini
kami warga kelas B3 selalu menyelenggarakan kajian bersama beliau tepatnya hari
Sabtu pagi. Tidak seperti minggu lalu yang bertempat di depan SAC (Self
Access Centre), pelaksanaan kajian dilaksanakan di samping auditorium
karena gedung SAC sedang dipakai untuk acara ajang Lomba Musabaqah Khottil
Qur’an se-Jawa Timur persembahan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) “IQMA”
(Ikatan Qori’ Qori’ah Mahasiswa).
Kajian tetap berjalan
seperti biasa, antusiasme teman-teman tidak berkurang meski separuh dari
anggota kelas tidak bisa hadir dikarenakan mengikuti CSS mengabdi di Jombang.
Dengan arahannya yang begitu menggebu-gebu, ustad menyampaikan pesan-pesannya.
Sebagai pembuka, ustad berpesan bahwa “Menuntut ilmu jangan diniati untuk
diri sendiri saja, namun diniati untuk orang banyak juga. Seorang wanita mau
memilih karier apapun, pendidikannya harus tinggi karena dia adalah pendidik
pertama bagi anak-anaknya”.
Beberapa menit telah
berlalu, ustad membagikan setumpuk kertas yang berbendel-bendel. Tiap bendel
berisi 4 lembar kertas dan dibagikan kepada satu orang. Dua lembar pertama
Ustad memerintahkan kami untuk memberi harakat tulisan arab gundul, dan
lembaran ke-3 dan 4 berisi cerita ustad.
Ustad meminta kami untuk mengevaluasi tulisannya yang ditulis ketika baru
menginjakkan kaki di tanah air setelah 5 tahun di Kairo. Beberapa hal yang
perlu perbaikan sempat kami temui, yakni diantaranya mengenai penggunaan EYD
yang baik dan benar, pemilihan diksi yang universal dan tidak terlalu
kedaerahan, karena pada saat itu cukup banyak kata yang diadopsi dari bahasa
jawa dan teman-teman kurang mengerti.
Senin, 27 April 2015
Ku percepat langkah kakiku menuju ruangan di sebelah
barat pojok kanan lantai 2 Fakultas Dakwah dan Komunikasi kampus tercinta ini.
Akhirnya ku gapai gagang pintu yang berdaun dua yang elegan dipadukan dengan
kaca bening yang tembus pandang ini, perlahan kubuka sembari mengucap salam
lirih. Tersentak kaget bercampur gugup ketika melihat Ustad Ainul Yaqin telah menempati
tempat duduknya di depan kelas. Aku segera masuk dan memilih tempat duduk yang
strategis dan nyaman yakni di barisan kedua dari depan. Samping kananku Nadia,
kawan asal Garut dan samping kiriku Rafikah, kawan asal Amuntai, Kalimantan
Selatan.
Selang beberapa menit, dengan logat bahasa arabnya yang
fasih bak orang asli Mesir, ustad menanyakan kelengkapan kami karena ujian akan
segera dimulai. Kami telah lengkap, Rifqi baru saja memasuki ruangan. Pagi ini
ustad mengenakan kemeja merah hati berpadu dengan celana hitam. Sangat serasi
dengan kulitnya yang kuning khas orang Jawa. Seperti biasa kami mengawali
setiap mata kuliah dengan membaca do’a bersama. Berikut kutipan do’anya :
بسم الله الرحمن الرحيم
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَ لِوَلِدَيْنَا
وَرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا
“Oh Our God, forgive us
and our parents 2x
Bless them bless them as they care
as since baby 2x”
رَبِّ اشْرَحْ لِى صَدْرِى وَيَسِّرْلِى اَمْرِى وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِى يَفْقَهُوْ قَوْلِى
“Ya Allah give me relief make easy
with my matter 2x
Get my tongue to be fluent and
realize my word 2x"
اللَّهُمَّ يَا مُعَلِّمَ اِبْرَاهِيْمَ عَلِّمْنَا
وَيَا مُفَهِّمَ سُلَيْمَانَ فَهِّمْنَا
امين يا ربّ العا لمين
Do’a telah selesai
dikumandangkan bersama. Bukti segala penyerahan diri dan memohon keridhaan
Allah SWT selalu menyertai perjalanan kami dalam menuntut ilmu. Memohon supaya
ujian berjalan dengan lancar. Dengan ucapan salam, Ustad membuka pertemuan
perkuliahan pagi ini. Kali ini ustad tidak berdiri di sebelah kiri kelas, namun
tetap duduk di depan kelas. Ada
apa dengan ustad?
Untuk membuka mata kuliah pagi ini, ustad meminta
perwakilan satu putra dan satu putri untuk menceritakan bagaimana kegiatan CSS
Mengabdi yang dilaksanakan di Pondok Pesantren As-Sa’idiyah 2 Jombang kemarin
lusa. Atas permintaan teman-teman, Faisal (Riau) maju dan mulai menceritakan
kegiatan dari awal sampai akhir, sesuai dengan peraturan yakni menggunakan
bahasa arab. Gaya
bicaranya penuh semangat, amat lancar bahkan seperti bahasa daerahnya sendiri.
Dengan celana jeans abu-abu dipadukan dengan jas almamater UIN berwarna biru
dongker yang terlihat kedodoran alias masih kebesaran, Faisal menghipnotis kami
dengan ceritanya yang lancar menggunakan bahasa arab dan sesekali mengundang
gelak tawa kami karena guyonan segarnya. Suatu kebanggaan bisa berkawan dengan
dia.
Setelah Faisal selesai bercerita, kini ustad meminta
perwakilan dari putri untuk bercerita. Teman-teman menunjuk Sofi untuk maju dan
dengan dorongan teman-teman akhirnya dia mau. Pagi ini dia mengenakan rok ungu
tua, berpadu dengan baju ungu muda dan jilbab ungu tua, gadis manis ini
mengucapkan salam ala orang Mesir namun logatnya tetap ala tanah garam. Dia
mengatakan bahwa karena ceritanya sama dengan Faisal, maka dirasa tidak perlu
dia bercerita. Ucapan salamnya mengakhiri cerita dan kamipun tertawa dibuatnya.
Tawa kami terhenti
perlahan mengingat ujian tafsir dengan rujukan tafsir Al-azhar karya monumental
Buya Hamka telah menanti. Tak seperti biasanya, ujian kali ini hanya 20 soal
namun jika satu nomor salah maka skor akan dikurangi 5. Suasana hening sejenak
karena masing-masing dari kami sibuk mempersiapkan diri, nampaknya ujian akan
segera dimulai.
Benar saja, ujian pun dimulai. Kami dituntut untuk teliti
karena banyak soal yang perlu analisis tinggi alias menjebak. Ustad begitu
mahir membuat saya bingung dan kebingungan. Beberapa saat kemudian ada
seseorang dibalik pintu, sosok laki-laki dengan memakai kemeja putih bergaris
masuk dan mengucapkan salam. Sang pencerah telah datang, beliau Prof Ali Aziz terlihat
gagah dengan senyum yang mengembang diwajahnya yang memancarkan aura ketenangan.
Ujian tlah usai, tibalah
saat pengkoreksian. Dan benar saja, ketika selesai dikoreksi nilaiku cukup
rendah yakni hanya 65. Disitu terkadang saya merasa sedih. Kebanyakan dari
teman-teman mengalami penurunan nilai. Entah karena faktor apa. Mengetahui hal
ini maka Prof langsung menanyai satu per satu mengapa nilainya turun. Ketika
tiba giliranku, aku hanya menjawab “Kurang teliti prof”dengan nada penuh
penyesalan. Seketika itu pula seakan-akan prof langsung membaca semburat hitam
diwajahku dan berkata “Tidak boleh menyesali hasil yang sudah kita dapat”. Aku
menunduk seraya mengangguk. Tiada kata yang mampu terucap saat itu, hanya
hikmah yang mampu kupetik untuk perbaikan selanjutnya.
Tak lama kemudian prof
menanyakan siapa yang mendapatkan nilai 90. Terlihat beberapa teman yang
mengangkat tangan, yakni Nadia, Rina, Nanang, dan Zahra. Mereka sungguh luar
biasa. Prof mengatakan bahwa ada kesempatan untuk menambah skor dengan cara
menjawab pertanyaan ustad. Siapa cepat dialah yang dapat. Pertanyaan berkisar
tentang sebab rasulullah SAW wafat,
dengan pilihan jawaban wafat karena dibunuh, sakit, atau memang sudah waktunya
wafat. Pada saat itu, Nanang mengangkat tangan pertama kali, setelah itu dia
dipersilahkan untuk menjawab “Karena sakit tad”. Apa mau dikata, ternyata
jawaban masih kurang tepat. Kemudian Zahra mengangkat tangan dan ia menjawab
dengan logat lembut khas Jawa Baratnya “ Karena sudah waktunya”. Dan
lagi lagi jawaban masih kurang tepat.
Peluang menambah skor ternyata tidak hanya diberikan bagi
mereka yang mendapatkan nilai bagus. Ada
kesempatan juga bagi kami karena ternyata ada 3 orang yang mendapatkan nilai
65, yakni aku, Faisal dan Mizan. Ada secercah harapan
dalam hati ini setidaknya untuk menaikkan 5 poin lagi menuju angka 70.
Harap-harap cemas karena lawanku adalah Mizan dan Faisal, mereka memiliki
pengetahuan yang luar biasa dibanding denganku. “Akh, aku pasti bisa!”. bisikku
dalam hati seraya mencoba menepis keraguan yang mulai menjalar di otakku.
Beberapa saat kemudian ustad mengajukan pertanyaan kepada
kami bertiga, “Bagaimana dalil yang menunjukkan metode rasulullah SAW dalam
berdakwah?” tanpa pikir panjang aku segera mengangkat tanganku, begitu juga
dengan dua teman yang lain yakni Faisal dan Mizan. Namun ternyata aku yang
dipersilahkan menjawab karena aku yang tercepat. Dengan nada bicaraku yang
lirih serta terbata-bata karena aku sedikit lupa dengan potongan ayatnya, aku
berusaha menjawab :
“ادْعُ
إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي
هِيَ أَحْسَنُ َ”
Nafasku terengah-engah bercampur detakan jantung yang
kian terpacu karena takut jawabanku salah. Aku selalu tidak bisa lolos dari
kegugupanku. Namun ternyata Allah memberiku kesempatan kedua. Jawabanku benar,
meski ketika ditanya kelanjutan ayatnya aku tidak bisa menjawabnya. Akhirnya, jawabanku
tadi cukup untuk menambah poinku sebanyak 5, jadi nilaiku naik menjadi 70. Alhamdulillah.
Syukurku tak henti ku ucapkan kepada-Nya atas segala pertolongan dan kasih
sayang-Nya.
Selang beberapa menit, prof maju beberapa langkah dan
mendekati kami, beliau menanyakan kami satu persatu mengenai perkembangan tugas
menulis 50 halaman yang beliau targetkan untuk semester ini. Ada yang masih memperoleh 7 halaman, 10
halaman, 19 halaman, bahkan ada yang sudah mencapai 39 halaman. Dia adalah
gadis kecil Nursabila. Pemudi asal Kalimantan Barat. Maka sontak kami langsung
bertepuk tangan mengapresiasinya.
Aku sendiri merasa ciut karena tulisanku baru mencapai
sekitar 5 halaman. Dengan bimbingan otakku, aku mulai flash back, akhir-akhir
ini ketika ada waktu luang aku gunakan untuk apa. Aku lebih banyak
bersantai-santai, nonton tv bersama teman-teman dan inilah resikonya. Prof
kembali menegaskan bahwa setiap orang memiliki jatah waktu yang sama yakni 24
jam. Tinggal bagaimana pandainya orang itu me-manage waktu itu dengan sebaik
mungkin. Kali ini, aku gagal mengatur waktuku dengan baik. Astaghfirullah.
“Kamu, bagaimana?” Dengan sedikit
membungkukkan badannya, Prof Ali bertanya kepada Rifqi. “Kalau minat menulis
masih kurang bagaimana prof?” jawab Rifqi dengan nadanya yang lemah lembut.
Spontan beliau menjawab “Ini sudah bukan masalah minat atau tidaknya, ini
wajib. Mau tidak mau, mood atau tidak mood harus dikerjakan”. Jawabnya
dengan nada penuh kesungguhan. Mengisyaratkan bahwa beliau benar-benar mengharuskan
kami mengerjakan tulisan ini sesegera mungkin. Beliau juga menambahkan “Segala
sesuatu memang berawal dari paksaan, mending saya paksa kamu sekarang.
Bersyukurlah kamu bertemu dengan orang yang memaksa”.
Pada suatu hari beliau
menjanjikan kepada anaknya bahwa beliau akan menyelesaikan buku do’a-do’a para
nabi pada pertengahan Mei. Padahal jadwal beliau pada bulan Maret sangat padat.
Berkat deadline dan tentunya paksaan, buku itu selesai dan hanya dicetak 100
eksemplar karena hanya untuk kalangan sendiri dan tidak diperjualbelikan.
Tiba-tiba beliau bertanya “Siapa yang sering mendapatkan nilai tertinggi?”,
kami langsung menjawab “Febi, ustad”. Prof memberikan satu buah buku
tadi untuk Febi dan ialah mahasiswa paling beruntung karena satu-satunya
mahasiswa yang diberi buku itu oleh Prof Ali.
Beliau membagikan selembar kertas untuk berisi
petunjuk menulis. Prof menyuruh beberapa diantara kami untuk membacanya dengan
keras, kemudian beliau menjelaskannya satu persatu dengan detail. Lagi-lagi
prof bertanya “Apakah masih ada kesulitan dalam menulis?” ada beberapa
teman yang mengangkat tangan. Salah satu
keluhannya yakni masalah ‘ngantuk’. Prof Ali langsung menganggapi, “Bersyukurlah
karena kamu masih diberi ngantuk, berapa dana yang kamu habiskan jika kamu
tidak bisa ngantuk?” Beliau juga bercerita bahwa ketika beliau masih
mengajar di IAIN Situbondo dulu, beliau selalu tertidur ketika di perjalanan
bahkan belum keluar dari terminal Bungurasih pun beliau sudah tertidur karena masih
dini hari. Uniknya, sering sekali beliau kebablasan sampai Banyuwangi karena
tertidur. Kondektur pun lupa padahal beliau selalu berpesan bahwa jika sampai
situbondo minta dibangunkan. Dan yang lebih unik lagi si kondektur juga tidak
mau diberi ongkos tambahan. Maka bersyukurlah karena kamu masih diberi rasa
ngantuk.
Melihat perkembangan
menulis kami yang terlihat masih stagnan, karena mayoritas kurang dari 10
halaman, beliau mengatakan “Anak
SD bisa menulis berlembar-lembar
karena mereka tidak ada beban, maka menulis itu jangan dijadikan beban. Kamu
itu sebenarnya berpotensi, namun rasa malas dan rendah dirimu yang menghalangi
kamu untuk menjadi orang hebat”. Ungkapnya dengan nada keseriusan.
Beliau mengatakan juga
bahwa pada ujian terakhir akan mendatangkan guru besar dari Mesir. Sontak seisi
ruang kelas langsung bersorak riuh penuh kegembiraan menyambut sang guru besar.
Sungguh terharu akan kebaikan dan ketulusan hati Prof Ali yang tiada pernah
mengharap imbalan dari kami melainkan kesuksesan serta keberhasilan kami di
masa depan. Semoga Allah SWT senantiasa membalas kebaikannya dan menjadikannya
amal baik disisi-Nya. Amin.
Ketika dihadapkan pada
Pilihan
Malam ini hatiku bimbang
dan ragu. Syaitan memang makhluk paling usil yang amat pandai membisikkan
keraguan dihati manusia. Aku terhimpit diantara pilihan yang sangat sulit dan
harus kuputuskan juga malam ini. Pemilihan tempat tinggal untuk kami setelah
keluar dari Pesmi ada 3 opsi. Yang pertama ialah ke kontrakan, kedua pesantren,
ketiga ikut ke rumah dosen. Pilihan yang sangat sulit dimana ke-3 nya sama-sama
memiliki konsekuensi yang harus kami tanggung.
Maksud hati ingin
menelpon ibu. Namun apa daya, nampaknya beliau sibuk dan kakak telah tertidur
sehingga tiada seorangpun yang mengangkat telponku. Ku coba mengalihkan
perhatianku dengan menonton tv. Namun yang ada aku semakin rindu akan suara ibu
dan nasihatnya. Dengan hati penuh harap akhirnya aku coba menghubungi beliau
kembali. Tanpa disangka beliau mengangkatnya. Suaranya terdengar begitu letih,
lelah setelah sehari bermandikan keringat, beradu dengan panas dan terik
matahari, berjibaku dengan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga. Aku merasa
sangat bersalah karena telah mengganggu waktu istirahat ibu. Namun nasi telah
menjadi bubur. Aku harus mengutarakannya malam ini juga.
Alhamdulillah, ibu menyetujui
pilihanku. Namun terlepas dari itu semua, nampaknya ada sedikit kekhawatiran
dalam hati ibu ketika aku menyampaikan bahwa ketika aku telah tinggal bersama
dosen nanti aku pulang-pergi ke kampus naik sepeda. Aku pun mencoba
meyakinkannya bahwa bersama Allah SWT aku akan baik-baik saja. Dan niatku telah
teguh yakni semata-mata hanya ingin mengabdi pada ahli ilmu. Dalam akhir
pembicaraanku, aku memohon do’a kepada ibu untuk kelancaran aktifitasku dan
keberkahan ilmu yang kupelajari. Kusampaikan maafku karena mengganggu waktu
istirahatnya dan menyarankan beliau untuk segera beristirahat kembali. Kudengar
suaranya bergetar seraya berkata “Iyo nduk, sing tenanan mugo mugo diparingi
sehat lan sukses”.
Ibu..
Setiap
tutur katamu adalah do’a
Yang
menggetarkan seluruh kolong langit
Pasti
mendapatkan ijabah dari sang Khaliq
Kini
aku telah dewasa..
Aku
mulai mengerti akan hakikat kehidupan..
Satu
yang membuatku takut
Waktu
tiada pernah menghentikan langkahnya
Masa
senjamu pasti akan tiba
Kulit
yang semula kencang
Akan
berubah menjadi keriput
Tenagamu
semakin hari semakin berkurang
Namun
satu yang tak pernah berubah ibu
Aku
melihat setitik cahaya terang disudut bola matamu
Matamu
tetap memancarkan cahaya ketulusan
Dan
akupun belum mampu membalas jasa-jasamu
Aku sudah tidak tahan
menahan anak sungai di pelupuk mata ini. Teringat wajah ibu dan bapak yang
semakin menua, rambut yang semakin memutih, kulit yang semakin keriput.
Sedangkan sampai saat inipun aku belum mampu mempersembahkan suatu kebahagiaan
untuk mereka. Mereka adalah satu-satunya alasan untukku melanjutkan pendidikan,
meniti setiap langkah dalam ikhtiarku menjemput masa depan. Ya Allah, Bless
them as they care as since baby.
Sabtu, 02 Mei 2015
“Kayfa asbahtum?” sapa ustad mengawali
pertemuan dalam kajian pagi ini. Kajian kali ini bertempat di serambi masjid
Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya. Kajian diawali dengan pengkoreksian tugas memberi
harakat yang dikerjakan sabtu pekan lalu. Kertas tugas pun dibagikan satu
persatu kepada pemiliknya. Bagi yang salah dalam memberi harakat, maka ustad
akan menanyakan seputar kesalahannya. Seperti yang tadi ditanyakan ustad
kepadaku. Beliau meminta aku memberi contoh idhafah, awalnya aku salah
dalam memberi contoh dan yang kedua sudah benar. Dari sini ustad benar-benar
menekankan kepada kami untuk mendalami ilmu nahwu karena pentingnya ilmu
tersebut karena merupakan kunci mempelajari ilmu-ilmu yang lain yang berbahasa
arab.
Beliau tidak pilih
kasih, tidak pandang sayang. Semua dianggap sama. Beliau juga tidak ingin hanya
beberapa saja diantara kami yang menguasai nahawu-shorof, beliau menghendaki
semua diantara kami tanpa terkecuali mampu memahami kaidah-kaidah nahwu. Beliau
meminta Jajang dan Fikri untuk membimbing Syarif agar faham mengenai fi’il,
fa’il, mubtada’ dan khabar. Tidak tanggung-tanggung, beliau juga menegaskan
bahwa Jika minggu depan Syarif tetap tidak bisa, maka Jajang dan Fikri tidak diperkenankan
mengikuti ujian.
Tak lama kemudian ustad
membacakan kembali bacaan tadi dan sesekali bertanya kepada kami mengenai
kedudukan suatu kalimat. Inilah yang melatih ketelitian kami. Beliau mengatakan
bahwa kitab “Al-Jurumiyah” adalah kunci dari ilmu Nahwu-Shorof, maka
pelajarilah sampai tuntas. Dari sini aku semakin penasaran dengan kitab ini,
ingin segera mempelajarinya karena yang aku pelajari semasa di pondok hanyalah Nahwu
Wadhih. Maka semakin mantab niatku untuk mengikuti pesantren kilat pada bulan
ramadhan depan di Pondok Dalwah Pasuruan. Tak ingin melewatkan kesempatan ini
karena waktu puasa adalah saat terbaik untuk menuntut ilmu. Semoga Allah SWT memberiku kesempatan untuk
menimba ilmu barang 20 hari sebelum pulang ke kampong halaman.
Kemudian beliau meminta
kami membaca cerita salah seorang istri nabi, yakni Sayyidah Aisyah bintu Abu
Bakar. Berikut ceritanya :
Aku, Istri Nabi
yang Tertuduh
Seperti
biasa, sudah menjadi kelumrahan bilamana Rasulullah hendak bepergian, beliau
mengundi nama istri-istrinya terlebih dahulu. Nama siapakah yang keluar, dialah
yang berhak mendampingi Rasulullah. Perang melawan Bani Mustaliq sudah
ditetapkan dan Rasulullah sendiri yang akan pergi memimpin peperangan. Malam
itu diundilah nama para istri beliau, kiranya siapa yang akan menemani beliau
selama peperangan Bani Mustaliq.
Aisyah
binti Abi Bakar, itulah nama yang disebut Rasulullah. Sontak wajahku merona
gembira mendengar namaku disebut. Sungguh aku tak percaya. Rasa gembira yang
membara bercampur lebur dengan keraguan, apakah benar namaku yang keluar dan
berhak menemani Rasulullah berjuang membela agama Allah kali ini? Sungguh
sebuah kehormatan bagiku bisa menyertai dan melayani beliau berjihad di jalan
Allah. Peperangan dengan Bani Musthaliq terjadi selepas
ayat Hijab turun.
Otomatis, aku berhijab seperti yang telah difirmankan oleh Allah SWT. Aku pun dinaikkan di atas unta yang memanggul haudah[1].
Setelah
peperangan rampung dan begitu mudah kemenangan diraih oleh kaum muslimin,
Rasulullah memutuskan untuk kembali ke Madinah. Kami pun berombongan kembali
menuju tanah air kami yang penuh dengan cahaya kenabian. Tatkala semerbak aroma
Madinah tercium, Rasulullah memerintahkan rombongan untuk berhenti di suatu tempat
sejenak, agar kami bisa melepas lelah malam itu. Ya, inilah salah satu dari
kebijaksanaan Rasulullah kepada para sahabat dan umatnya. Beliau sangat
memahami betul kondisi dan keadaan kami yang memang amat sangat letih kala itu.
Rasulullah tidak memaksakan kehendaknya untuk memasuki kota Madinah malam itu juga, beliau memilih
berhenti dan mengistirahatkan semua pasukan Islam yang telah memperoleh
kemenangan.
Saat
semua sahabat beristirahat dan sebagian yang lain terlelap, aku putuskan keluar
dari tenda kecilku menunaikan sedikit keperluanku hingga tak kukira langkahku semakin menjauh dari rombongan. Gegap
gempitanya malam membuatku tak sadar, posisiku sangatlah berjarak dengan unta
yang kunaiki. Selepas merampungkan keperluanku dan hendak kembali ke rombongan,
tiba-tiba aku terkesiap bukan main. Kuraba leherku, kalung pemberian Rasulullah
dari kota Zifar
- Yaman raib. Kuputuskan mencarinya. Dalam malam yang begitu hitam, amat susah
menemukan sebuah kalung. Tapi itu kalung pemberian Rasulullah. Tak boleh
kubiarkan begitu saja. Aku harus mencarinya dan menemukannya.
Mondar-mandir,
kulalui berkali-kali jalan yang kutapaki tadi, tak jua kutemukan kalung itu. Ya
Allah, istri macam apa aku ini yang menyia-nyiakan perhiasan pemberian suami.
Apalagi itu kalung yang istimewa dan impor dari Yaman. Kuulangi lagi
pencarianku hingga aku pun putus asa dan kembali ke rombongan dengan rasa
cemas, malu, takut, sungkan bila bertemu dengan suamiku, Rasulullah.
Astaghfirullah,
Rasulullah dan rombongan tak terlihat lagi. Mereka meninggalkanku. Bagaimana
ini? Apa yang akan kulakukan? Menyusul mereka sendirian berlari? Tak mungkin.
Aku buta arah jalan ke Madinah. Teriak? Siapa yang akan mendengar. Air mataku
meleleh membanjiri pipiku. Ingin menyesali kejadian ini, tapi untuk apa?
Bukankah ini sudah takdir Allah?
Dalam
kegalauanku, secercah cahaya berkilau di tanah pijakan untaku saat istirahat
tadi, kulihat sebuah logam berbentuk kalung. Kudekati. Dan Alhamdulillah
kalungku ketemu. Rasa cemasku lantaran ditinggal Rasulullah bertabrakan dan
melebur menjadi satu dengan kegembiraan ditemukannya kalung pemberian
Rasulullah. Oh ya, orang-orang yang menuntun untaku mungkin mengira aku sudah
berada dalam haudah itu. Aku wanita muda bertubuh ringan, lantaran
itulah, mereka begitu saja menuntun unta yang aku tunggangi mendahului
rombongan terdepan. Mereka tak sadar bahwa unta yang mereka giring hanya sebuah
haudah kosong tak berhuni. Aku juga salah, mengapa aku tidak memberitahu
mereka kalau aku keluar sedikit lama untuk sebuah keperluan pribadiku? Memang,
para wanita kala itu umumnya berbadan lunak dan tak berlemak. Jadi ada atau
tidak ada orang di dalam haudah sepertinya sama saja.
Dengan
penuh harap, semoga mereka sadar dan merasa kehilangan aku, kuputuskan duduk di
tempatku semula sewaktu beristirahat bersama rombongan. Entah mengapa, mendadak
rasa kantuk begitu akrab dan cepat menyapaku.
Aku pun pulas tertidur. Dalam kenyenyakanku, Shafwan bin Al-Muathal
As-Sulamy menyeruak, ia memang bertugas sebagai pengawal akhir rombongan. Bila
ada barang rombongan yang tertinggal, dialah yang menyelamatkan barang itu
hingga sampai ke Madinah.
Shafwan
menghampiriku. Ia memang mengenaliku dan pernah melihatku sebelum ayat hijab
turun. Saat ia tahu akulah yang bersimpuh dalam sengatan kantuk itu, ia pun
berucap inna lillah wa inna ilaih rajiun, aku terkejut dengan ‘kalimat
musibah’ yang ia lengkingkan. Seketika kututup wajahku dengan hijab. Demi Allah,
tak ada satu huruf pun yang keluar dari mulutnya
kecuali kalimat istirja’
itu. Mulutku juga tak mengeluarkan kalimat apapun barang sekata. Ia rundukkan
hewan tunggagannya hingga aku bisa menaiki hewan tunggangan itu.
Kami teruskan perjalanan menyusul rombongan, Shafwan
berjalan menuntun tunggangannya hingga sampailah kami di sungai Az-Zahirah,
tempat singgah rombongan di tengah panasnya siang. Dan celakalah, sebagian
orang menebarkan fitnah kebohongan dengan menuduhku ini dan itu. Masih
terekam dalam ingatanku yang paling
getol menyebarkan berita palsu itu adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Selain Abdullah bin Ubay bin
Salul, Hassan bin Tsabit juga terlalu gegabah menelan dan menyiarkan berita
nista itu. Misthah bin Utsasah,
Hamnah binti Jahs dan orang-orang lain yang tak kutahu namanya satu persatu
yang jumlahnya sekitar 10 sampai 40, ikut pula menjadi biang gosip.
* * *
Sesampai di Madinah, aku sakit dan merasa tak enak badan selama satu bulan. Sungguh, aku tak tahu-menahu fitnah
kebohongan dan berita palsu itu telah memenuhi telinga masyarakat Madinah
selama sebulan. Kecurigaanku pun muncul tatkala kelembutan Rasulullah mulai
menipis dan tak seperti biasanya di saat aku melawan demam dan sakitku.
Biasanya Rasulullah begitu memanjakanku kala aku sakit. Namun beliau sedikit berubah. Beliau hanya
menyapaku dengan bertanya tentang keadaanku, kemudian berlalu begitu
saja.
Suatu malam, aku keluar ditemani Ibunda Misthah
bin Utsasah untuk membuang hajat. Sewaktu hendak kembali ke rumah, Ibu Misthah tersandung sembari mencela anaknya sendiri,
Misthah.
“Sungguh
buruk kata-katamu. Apakah kau mencela seseorang yang pernah berjuang di
peperangan Badar?” kataku padanya.
“Nak, tidakkah kau mendengar apa yang ia katakan?” ia malah
bertanya kepadaku.
“Apa
yang telah ia katakan?”
Ibu Misthah menceritakan tuduhan keji tentangku yang
didengungkan oleh sebagian orang. Sakitku makin menjadi-jadi. Dan sesampainya
di rumah, aku meminta izin Rasulullah agar menetap sementara di rumah orang
tuaku, guna memastikan ke kedua orang tuaku tentang tuduhan keji itu.
Rasulullah mempersilahkan.
Lalu
aku bertanya kepada ibuku, “Ibu, apa yang menjadi gunjingan orang-orang?”
Ibuku
menenangkanku agar tidak risau dan gelisah. Mendadak mataku mendung,
menderaskan air mata dan
membasahi pipiku sepanjang malam hingga pagi menjelang.
Rasulullah yang cukup gusar akan
suara-suara negatif tentang istri dan rumah tangganya, meminta pendapat kepada Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid. Zaid berpendapat,
“Pertahankanlah keluarga Anda. Kami hanya tahu satu kata dari keluarga Anda, yaitu kebaikan.”
“Wahai Rasulullah, Allah tidak mungkin
menjadikanmu
bersedih dalam perkara ini. Sesungguhnya wanita masih banyak. Tanyalah kepada seorang
wanita yang dekat dengan Aisyah supaya bisa meyakinkan Anda,” begitulah
jawaban Ali.
Rasulullah bertanya kepada Barirah tentangku, apakah ada
sesuatu yang meragukan dari diriku? Barirah memantapkan hati Rasulullah dengan
menegaskan bahwa tak ada sesuatu yang meragukan pada diriku. Aku hanyalah seorang wanita yang masih muda yang
pernah tidur bersama adonan makanan, lalu memakan adonan itu. Demikian Barirah
menceritakan tentang diriku di hadapan Rasulullah.
* * *
Sepanjang hari itu air mataku berlinang dan tidurku
sangat jauh dari rasa tenang. Hingga kedua orang tuaku berada di sisiku, aku
tetap saja menangis. Dua malam satu hari, air mataku bercucuran dan tidurku tak
karuan. Salah seorang perempuan Anshar meminta izin untuk menemaniku. Ia pun
turut meratapi kesedihanku.
Rasulullah
datang ke rumah orang tuaku. Beliau belum pernah duduk di sampingku selama
tuduhan keji itu tersiar.
Rasulullah bersabda, “Wahai Aisyah, aku telah mendengar
berita tentang dirimu. Jika kau tidak bersalah, Allah akan mensucikanmu
(dengan membelamu). Dan jika kau
melakukan dosa, memohon ampunlah dan bertaubatlah kepada Allah. Karena seorang
hamba bila mengakui kesalahannya dan mau bertaubat, Allah akan menerima
taubatnya.”
Setelah Rasulullah selesai menyampaikan kalimat itu, kuhapus
air mataku hingga tak tampak setetes pun. Aku meminta bapak dan ibuku agar
membelaku di hadapan Rasulullah. Tapi keduanya tak kuasa berkata-kata.
Dengan sesenggukan aku berkata kepada mereka, “Aku
hanyalah wanita yang masih belia, dan memang aku belum banyak membaca Al-Quran.
Demi Allah, sungguh aku telah mengetahui apa yang kalian dengar dari
perbincangan orang-orang hingga kalian masukkan berita itu ke dalam hati kalian
dan kalian percayai. Seandainya saja aku mengatakan bahwa aku bersih dari tuduhan
keji itu, kalian tak akan mengaminiku. Dan jika aku mengakui tuduhan keji itu
–meskipun Allah tahu bahwa aku terbebas dari tuduhan itu-, niscaya kalian akan
mempercayaiku. Demi Allah aku tak menemukan perumpamaan antara aku dan kalian
selain seperti Nabi
Ya’kub, saat berkata: Bersabarlah dengan kesabaran yang baik.
Hanya Allah tempat meminta pertolongan atas apa yang kamu ceritakan.”
Usai kuutarakan kegundahanku, tempat tidurkulah menjadi
penenangku. Sungguh Allah mengetahui aku benar-benar bersih dari berita miring
itu dan Allah yang akan membebaskanku. Jujur aku tak mengira Allah menurunkan
wahyu membebaskanku dari tuduhan itu. Rasanya tak pantas bila wahyu turun lalu
dibaca semua orang hanya menyoal tentang masalah pribadiku. Aku ini siapa
hingga Allah membicarakan masalahku. Aku hanya mengharap Rasulullah mendapatkan
wahyu melewati mimpi tentang pembebasanku dari fitnah itu.
Dan demi Allah, Rasulullah enggan beranjak dari tempat
itu dan tak satu pun dari keluarga kami –bapak ibuku yang merupakan mertua
Rasulullah- berminat melangkahkan kaki, hingga wahyu turun kepada Rasulullah.
Seketika keringat beliau bercucuran bak butiran mutiara, padahal kala itu musim
dingin
amat menusuk tulang kami. Wajah beliau berseri dan tersenyum.
“Wahai
Aisyah, sungguh Allah telah membersihkan
dan membebaskanmu dari tuduhan itu.” Itulah kalimat pertama yang kudengar dari
suamiku.
Spontan,
ibuku menyuruhku bangkit dan menemui Rasulullah.
“Demi
Allah, aku tak akan bangkit kepada beliau, dan tak akan memuji kepada siapapun
selain Allah.” jawabku.
Ya,
akulah istri Rasulullah yang
tertuduh. Dan Allah membebaskanku dari tuduhan itu dengan firman-Nya yang
membuat air mataku teduh. Aku Aisyah, istri Rasulullah yang terfitnah.
Dengan
menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita
bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita
bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang
dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara
mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu
baginya azab yang besar.” (11) “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong
itu orang-orang mu'minin dan mu'minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka
sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang
nyata." (12) “Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat
orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan
saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta.” (13)
“Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan
di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang
berita bohong itu. (14) “(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu
dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui
sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada
sisi Allah adalah besar.” (15) “Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu
mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita
memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang
besar." (16) Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat
yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (17) “Dan
Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Bijaksana.” (18) “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita)
perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi
mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang,
kamu tidak mengetahui.” (19) “Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan
rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang,
(niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).” (20) [QS: An-Nur]
***
Setelah mengingat-ngingat beberapa saat, ternyata cerita penuh hikmah ini sudah
pernah kubaca di dalam al-qur’anku yang juga menyisipkan cerita wanita-wanita
yang namanya abadi dalam al-Qur’an di lembaran paling belakang. Diantaranya
Aisyah binti Abu Bakar (Q.S. An-nur: 11-17), Fathimah Az-zahra r.a (Q.S.
Al-Ahzab : 33), Ummul Mu’minin Hafsah binti Umar (Q.S. Al-Azhab: 3-5), Khaulah
binti Tsa’labah (Q.S. Al-mujadalah : 1-4), Ummul Mukminin Ramlah binti Abi
Sufyan (Q.S. Al-Mumtahanah : 6-7), Ummu Kultsum binti Uqbah r.a. (Q.S.
Al-Mumtahanah : 10), Ummu Syuraik Ghaziyah binti Jabir Ad-DausiUmmul Mu’minin
Zainab binti Jahay (Q.S. Al-Ahzab: 37-38).
Beliau meminta kami menceritakan kembali dengan menggunakan bahasa arab. Satu persatu dari kami
mencoba menceritakannya dengan bahasa arab. Ada yang mencoba menceritakan namun
bingung menyusun kata-kata sehingga terbata-bata, ada juga yang lancar
berbahasa arab tanpa kesulitan menjelaskan alur ceritanya. Pada intinya beliau
hanya ingin kami membiasakan diri berbicara menggunakan bahasa arab.
Beliau mengatakan bahwa “Kita
harus bersyukur meski tidak hidup bersama rasulullah SAW. Kita hidup lebih dari
400 tahun setelah rasulullah SAW wafat, tidak bertatap muka dengan beliau,
hanya mndengar riwayat tentang beliau. Namun kita masih mengimani rasulullah
SAW. Kita percaya bahwa beliau adalah utusan Allah yang menjadi penyempurna ajaran
agama islam. Itulah yang luar biasa”. Maka sebagai umatnya hendaknya kita
senantiasa bersyukur karena kita mengimani Rasulullah yang merupakan uswatun
hasanah dan menjadi suri tauladan bagi seluruh umat manusia.
Satu pertanyaan dari
beliau, “Mengapa orang yang sering bersujud ketika dipandang wajahnya
seakan-akan memancarkan cahaya?” karena tidak ada satupun dari kami yang
menajwabnya, beliau menjawab “Sebab ia sering bertemu dengan sang Maha
cahaya yaitu Allah azza Wa alla. Ketika ia shalat, ia dipeluk oleh nuur ala
nuurin, Muhammad SAW” Orang-orang dengan wajah seperti ini enak dipandang karena
pancaran cahayanya menyenangkan, menenangkan, dan mengingatkan kita kepada sang pencipta.
Semakin banyak sujud, semakin terpancar cahaya di wajah dan semakin mudah bagi
Nabi untuk mengenal kekasihnya di akhirat.
Seperti yang telah Prof
Ali petuahkan dalam bukunya yang berjudul “60 Menit Terapi Shalat Bahagia,
“Sujud merupakan tanda ketundukan fisik dan hati serta perendahan diri secara
total di hadapan Allah SWT. Kadangkala Nabi SAW tidak segan sujud tanpa alas di
atas tanah yang berair atau berlumpur untuk menunjukkan betapa rendah dan hina
dirinya di hadapan Allah. Atha’ Al-Kharasani berkata “Ketika seorang hamba
bersujud di atas tanah, maka pada hari kiamat kelak tanah itu akan menjadi
saksi untuknya dan meratapinya saat ia meninggal dunia.”
Maka dari itu marilah
kita memperbaiki shalat, karena memaknai setiap gerakan dalam shalat adalah
suatu kewajiban. Shalat seutuhnya kita ma’nai. Jangan sampai kita tadzallul.
Tanpa kita sadari, Ketika shalat kita sering menggunjing. Kadang kita merasa
lebih baik dari orang yang shalat disamping kita, kadang kita merasa lebih
khusyuk, lebih tuma’ninah, dan itulah yang dinamakan tadzallul.
Allah berfirman dalam
Al-Qur’an Surat Ar-Rad ayat 31 :
“Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang
dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau
oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah Al Quran
itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah
orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki
(semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya.
Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan
mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga
datanglah janji Allah. Sungguh, Allah tidak menyalahi janji.” (QS. Ar-Ra’d [13]:31)
Pesan
ustad Ainul di akhir sesi, “Marilah sama-sama kita belajar, agar kita kelak
bersama rasul. Buku sejarah nabi dibaca, ditekuni. Orang-orang yang tidak
pernah bertawasul, bershalawat kepada nabi adalah orang yg tidak tahu
berterimakasih kepada rasululullah SAW.” Begitu banyak keutamaan shalawat
nabi, hingga Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang paling mulia bersamaku pada
hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat untukku” (HR. Tirmidzi
dari Ibnu Mas’ud r.a)
Fenomena Tekhnologi yang
Berimbas kepada Al-Qur’an
Dengan adanya kemajuan
teknologi saat ini, umat islam sekarang nampaknya semakin menjauh dengan
rasulullah dan ajarannya yakni Al-Qur’anul karim. Tidak dapat dipungkiri lagi
bahwa anak muda sekarang lebih nyaman memegang android daripada memegang
Al-Qur’an, mudah mengantuk jika membaca Al-Qur’an dan tahan berjam-jam jika
chatting, . Bahkan ini telah menjadi budaya dan bukan lagi menjadi fenomena.
Lalu apakah kita akan terus berdiam diri dengan kondisi generasi umat yang
seperti ini?
Orang-orang barat yang telah
menguasai teknologi berkelas tinggi mudah saja menciptakan alat-alat komunikasi
canggih berbentuk gadget, android, dan sebagainya. Dengan mudahnya
produk-produk tersebut masuk dan didistribusikan di Indonesia karena Indonesia
sendiri adalah negara berkembang yang masih membutuhkan ekspor dari
Negara-negara maju. Jika ditilik lebih dalam, apa saja sebenarnya tujuan
penciptaan teknologi komunikasi berkelas tinggi ini?
Tidak menutup
kemungkinan penciptaan gadget dan sejenisnya adalah untuk merusak generasi
islam sendiri karaena mayoritas pengguna gadget adalah dari kaum muda. Semakin
lama islam hancur dari dalam dikarenakan generasinya telah terpengaruh
produk-produk budaya barat dan semakin menjauh dari sunnah rasul-Nya. Sebagai
contoh kecil, shalawat rasul yang semakin ditinggalkan para generasi muda.
Lagu-lagu barat bergenre rock lebih menjadi pilihan, lagu-lagu galau produk
artis Indonesia pun semakin menjamur. Lalu apakah kita mau digolongkan menjadi
orang-orang yang tidak tahu terimakasih kepada rasulullah SAW yang telah
menjadi revolusioner umat?
Shalawat kepada
rasulullah SAW adalah salah satu bentuk realisasi kecintaan kita kepada
Rasulullah SAW sebagai umatnya. Menurut literatur yang pernah saya temukan di
salah satu media, dengan membaca shalawat satu kali, kita mendapat balasan
sepuluh rahmat dari Allah atau sepuluh kebaikan, dihapus sepuluh
keburukan, menjadi sebab utama
dikabulkan do’a, menjadi sebab meraih syafaat Nabi, mendapat pengampunan dari
Allah, serta Allah akan mencukupi hidupnya dari berbagai macam keluh kesah.
Selain itu, orang yang senang membaca shalawat akan mendapat kabar gembira
sebelum kematiannya, dan pada hari kiamat Rasulullah SAW akan menjawab shalawat
dan salam kepada orang-orang yang membaca shalawat dan salam kepadanya. Bisa
membantu seorang hamba mengingatkan sesuatu yang terlupa. Menjadi sebab
berkahnya suatu majlis agar tidak kembali pulang dalam keadaan merugi dan
caacat, serta masih banyak lagi manfaat shalawat yang lain.
Tidakkah kita sebagai
pemuda menjadi generasi penerus yang kelak akan memimpin umat? Gemerlap dunia
begitu indah dan menyilaukan mata kita. Tanpa sadar bahwa di alam sana masih
ada yang jauh lebih indah dibanding ini semua. Kenikmatan duniawi ibarat masih
seujung kuku dari kenikmatan surga. Hanya kecil sekali bahkan tidak mampu
dibandingkan dengan kenikmatan dan keindahan surga yang kekal abadi.
Terkadang aku berfikir,
apakah benar memang orang-orang barat pencipta gadget-gadget morern itu
benar-benar berorientasi untuk menghancurkan islam dari dalam. Aku mencoba
menilik kehidupan orang-orang disekitarku yang kebanyakan adalah pengguna
gadget. Dari tingkah laku dan kebiasaan mereka, ada beberapa hal yang menurutku
mulai menyimpang dari syariat-syariat islam, berikut :
1.
Niatnya
upload namun ujub sulit dihindari
Fenomena
upload foto di berbagai media social seperti facebook, line, what’s app, BBM,
instagram, dan lain sebagainya sudah menjamur dan tidak asing lagi bagi kita.
Tidak hanya kaum muda saja namun fenomena ini telah menjadi budaya yang telah
di adopsi publik. Apalagi dengan dukungan kamera yang canggih ala android.
Aplikasi-aplikasi yang mendukung aksi ini pun banyak, seperti B6 12, Kamera
360, dan lain sebagainya. Aplikasi-aplikasi ini semakin mendukung public untuk
menyalurkan hobinya yaitu berfoto dan berpose di depan kamera. Istilah ‘selfie’
pun sudah tidak asing lagi kareana canggihnya handphone sekarang mampu
mendeteksi kamera dari depan sehingga nampak secara nyata apa yang akan difoto
seperti sedang bercermin.
Ketika
melihat kawan sedang upload foto, yang mana foto tersebut dikatakan berlebihan
dalam aksinya, atau kalau tidak menyangkut harta benda yang dipunyainya seperti
bergaya menyetir mobil mewah, berpose macam artis dengan senyuman yang memikat,
apakah tidak takut terjerumus dalam sifat ujub? Padahal telah jelas bahwa
sesame muslim laki-laki dan perempuan semestinya harus menjaga pandangan.
Karena seperti perkataan beberapa orang bahwa segala sesuatu dari mata akan
turun ke hati.
2.
Mendekatkan
yang jauh, menjauhkan yang dekat
Dengan
adanya android yang dengan berbagai aplikasinya semua orang mampu melakukan apa
saja sekehendak mereka. Berhubungan jarak jauh pun tidak menjadikan suatu
masalah, namun jika yang terjadi malah kesenjangan social dilingkungan tempat
tinggal kita karena kita sibuk berkomuniaksi dengan orang-orang yang berada di
kejauhan. Lalu apakah tidak sebaiknya lingkungan sekitar itu lebih diutamakan,
dengan tanpa mengabaikan orang-orang yang berada di kejauhan? Nampaknya ini
lebih baik.
3.
Semakin
jauh dengan al-Qur’an
Jika kita
lihat perbedaan orang-orang dulu dengan orang-oang sekarang. Maka kita akan
lihat jelas perbedaannya pada segi keilmuan, kemantapan jiwa, serta bacaan
al-qur’an yang bagus. Sekarang umat nabi Muhammad seakan-akan semakin menjauh
dari al-Qur’an. Bagaimana tidak, generasinya saja lebih senang membaca chatting
daripada membaca al-Qur’an.?
Minggu, 3 Mei 2015
Indahnya kerlap kerlip
lampu kota, tak jemu-jemu ku memandanginya dari jendela kamar. Ada lampu-lampu
penerang jalan yang berwarna kuning kemerah-merahan di setiap ujung jalan. Tak
jauh dari Pesmi, ku lihat gedung tinggi yang berdiri dengan megahnya. Ruangannya
kaca sehingga terlihat lampu ynag menyala terlihat dari luar. Indah sekali. Ada
pula lampu merah yang berkelap-kelip nampak di ujung tower, sesekali terlihat
sorot lampu pesawat yang melintas dan akan mendarat di bandara Juanda. Di
kejauhan sana tepat lurus dengan arah jendela ku temukan lampu yang cahayanya
warna-warni hampir mirip bentuk komidi putar. Searah dengan gedung itu, ku
lihat cahaya terang yang Nampak dari sebuah menara, yang mana tempat itu adalah
Masjid Nasional Al-akbar Surabaya. Inilah surabayaku malam hari yang begitu
menyimpan sejuta pesona.
Aku tidak pernah
menemukan keindahan kota ini di desaku. Tak heran jika aku begitu mengaguminya.
Namun yang jarang aku temukan di malam-malam surabayaku adalah kerlip-kerlip
sang bintang. Kemanakah dia pergi? Ataukah ia bersembunyi karena kerlap kerlip
lampu begitu indah dan menyombongkan dirinya? Entahlah, aku selalu berharap
melihat bintang disimi. Di langit Surabayaku. Aku ingin melihat bintang seperti
saat aku di desa. Hamparan luas langitnya tak pernah sepi dari kawanan
bintang-bintang. Aku bahagia melihat bintang, apalagi berpadu dengan cahaya
sang rembulan.
Apalagi jika berjalan di
jalan depan kampus, suasananya indah seperti bernostalgia mengenang rihlah
angkatan pondokku ke Jogja tepatnya sekitar satu tahun yang lalu. Pada malam
harinya kami singgah di Malioboro. Nah, ketika melintasi jalan depan kampus ini
rasanya mirip sekali dengan Jl. Malioboro, sungguh mengingatkanku akan
kebersamaan dengan kawan-kawan seperjuanganku saat masih bersama dalam satu marhalah.
Suasana yang tak kalah
menarik adalah ketika melihat kereta api sedang melintas. Hidup ini jika
diibaratkan kereta maka tidak ada orang yang tersesat, karena telah berjalan
pada jalannya. Jika dia keluar jalur, maka dia akan celaka. Seperti itu pula
gambaran orang-orang yang bertaqwa, jika mereka berjalan pada jalannya (jalan
kebenaran) maka sampailah mereka kepada tujuan akhir dari perjalanan hidupnya
yakni alam akhirat yang akan membawanya menuju syurga. Semoga kita termasuk
hamba-hambaNya yang menghuni syurga bersama Rasulullah, para sahabat, tabiin,
ulama’ dan para habaib. Allahumma amiin.
Wajah yang penuh cahaya,
seakan tak pernah mengisyaratkan adanya suatu kemarahan dalam perjalanan
hidupnya. Tiada yang terpancar selain kedamaian bagi setiap mata yang
memandangnya. Astaghfirullah. kok jadi ngelantur. Ini hanya sekedar
ungkapan yang tergambar dari sosok ustad kebanggaan kami, ustad Ainul Yaqin.
Pagi ini beliau tampil prima di hadapan kami dengan kemeja krem dipadukan
dengan celana hitam. Tatkala berbicara di depan kelas, tangannya bergerak
kesana kemari senada dengan maksud dan alur bicaranya. Terlihat dengan jelas
jam tangan elegant berwarna hitam terpasang di lengannya sebelah kiri. Cocok
sekali, gumamku di dalam hati. Namun, ada satu yang mengundang perhatianku,
sebuah cincin akik di jari manis ustad di sebelah kiri. Dalam hati aku pun
bertanya-tanya, “Apa sih istimewanya cincin akik sehingga begitu menarik
perhatian publik akhir-akhir ini?” pertanyaan liar yang tak penting sebenarnya.
Namun mengalir begitu saja dalam otakku.
“Kalau jodoh tidak
ditangan Allah, maka di tangan bapak ibu” ucapan ustad tegas membuyarkan lamunanku.
Entah mengapa telingaku begitu jelas mendengar kata-kata ini. namun, apa
perkataan ustad sebelumnya hingga kata-kata ini terlontar dari ustad. Aku
terjebak dalam lamunanku sehingga tak tahu arah pembicaraan ustad. Yang aku
pahami, ustad selalu berpasrah dan bertawakkal untuk urusan pendamping hidup
atau jodoh. Tulang rusuk tidak akan mungkin tertukar. Wanita diciptakan dari
tulang rusuk pria, maka dari itu, janganlah terlalu keras meluruskannya karena
ia akan pecah atau patah. Dan jika kau biarkan maka ia akan semakin membengkok.
Maka berkata-katalah yang baik, perlakukan wanita dengan penuh kelembutan.
Begitu kira-kira pesan ustad untuk kami khususnya teman laki-laki yang nantinya
akan menjadi pemimpin dalam bahtera rumah tangganya.
Kemudian ustad
menguraikan tentang keistimewaan berpuasa. Laki-laki berkulit kuning ini berkata “Ibadah yang intim adalah puasa,
karena yang tahu hanyalah kita sendiri dan Allah SWT”. Berbeda dengan
ibadah-ibadah lain yang tidak menutup kemungkinan mengundang ‘ujub dalam
diri pelaku ibadahnya. Seperti halnya ibadah haji, shalat, zakat. Semua itu
adalah ibadah yang nampak dipandang mata. Jadi, rawan sekali mendatangkan
pujian dari manusia dan sifat ‘ujub atau mencari kemuliaan di maat manusia.
Lebih istimewanya lagi, malaikat tidak diperbolehkan mencatat ganjaran orang
yang berpuasa, Allah SWT langsung yang akan mencatatanya sebagai amal kebaikan.
“Semoga kita dipertemukan di bulan Ramadhan, ini pertama kalinya Ramadan saya
di Indonesia setelah 5 kali puasa 5 kali lebaran” ungkap ustad dengan nada
penuh harap. Sedikit mengundang tawa, macam bang toyib saja, ungkapku dalam
hati.
Jika diumpamakan kita
adalah artis, maka sutradaranya Allah. Allah SWT akan mengatur jalannya
skenario yang harus kita mainkan dalam hidup kita. Ketika kita mendapat cobaan
dari Allah, itu tidak untuk membuat kita bersedih namun untuk tersenyum. Karena
itu tandanya Allah mengasihi kita. Dalam hidup pun seringkali kita dihadapkan
dengan berbagai masalah. Entah masalah terkait dengan diri sendiri, maupun
dengan orang lain. Sikap dalam menghadapi masalah pun berbeda-beda. Ada yang
menghadapi masalah dengan lapang hati dan tangan terbuka, ada pula yang gugup
dan kebingungan kesana kemari, ada pula yang menghadapinya dengan kemarahan
karena ego yang tidak mampu diredam. Pernah dikatakan oleh ustad, “Orang
yang sering marah itu orang yang tidak pernah berdzikir. Orang yang galau
adalah orang yang tidak pernah berdzikir, atau berdzikir namun tidak tahu apa
yang diucapkannya” Kita tetap stabil dan terjaga ketika kita berdzikir dan
ingat kepada Allah.
Sedangkan menurut beliau
dzikir itu ada tiga, yang pertama dzikr al-halqi li al-halqi yakni
dzikir makhluk untuk makhluk, yang kedua dzikr al-khalqi li al-khaliq yaitu
dzikir makhluk kepada sang pencipta, dan yang ketiga dzikr al-khaliq li
al-khalqi yaitu dzikr sang pencipta kepada makhlukNya. Ketika waktu
menunjukkan pukul 10.36 WIB, Prof datang, beliau mengenakan kemeja putih
panjang berpadu dengan celana hitam sembari membawa 3 bendel tafsir yang telah
dikoreksi beliau. Beliau mengucapkan salam kepada kami. “Assalamu’alaikum”. Kamipun
serentak menjawabnya “wa’alaikumsalam”.
Tak lama kemudian beliau
menanyakan perkembangan sejauh mana tulisan kami, karena dirasa tak kunjung ada
perubahan yang signifikan dari jumlah halamannya, beliau berkata “Potensimu
itu kalau dipaksa bisa. Kemampuanmu hanya terhalang oleh kemalasan dan rendah
dirimu. Tidak ada malas, tidak mood” beliau menegaskan kembali mengenai
tugas menulis ini. Tulisan tidak akan dilihat prof namun di masukkan kedalam
blog masing-masing. Bagi yang belum membuat blog harus segera membuatnya hari
ini juga.
“Peran Konselor Sekolah Sebagai Navigator Bagi
Para Siswa”
Secara psikologi, masa
remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia
dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua
melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak.
(Elizabeth B. Hurlock,1980 :206). Bisa dikatakan usia remaja adalah masa-masa
peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa. Masa ini ditandai dengan semangat
yang menggebu-gebu, rasa keingintahuan yang tinggi serta emosi yang meluap-luap
yang tak jarang menyebabkan para remaja mudah menyimpang dari norma-norma yang
telah ada. Namun jika masa-masa ini terorganisir dengan baik, masa ini bisa
menjadi masa emas yang mampu menorehkan sejuta prestasi yang membanggakan.
Manusia
adalah makhluk Allah SWT dengan penciptaan yang sempurna. Panca indera dengan
masing-masing yang fungsinya begitu menakjubkan, serta penciptaan akal pikiran
yang membedakannya dengan hewan. Dengan penciptaan akal pikiran inilah manusia
mampu membedakan yang baik dan yang buruk, yang haq dan yang bathil. Namun
disamping itu pula manusia diberi hawa nafsu oleh Allah SWT. Barang siapa yang
memerangi hawa nafsunya maka kelak ia akan bernaung di syurga-Nya, begitu pula
sebaliknya. Hawa nafsu inilah salah satu faktor yang mendorong seseorang untuk berbuat
sesuatu yang menyimpang dan pemicu timbulnya suatu masalah. Sehubungan dengan
itu pula, maka dalam hidup kita tak pernah jauh dari masalah.
Pendek
kata, semua orang pasti memiliki masalah. Apalagi pada masa-masa pubertas, masa
yang begitu rentan bagi remaja untuk dihadapkan dengan berbagai masalah karena
berbagai perubahan yang dialaminya. Masa ini juga disebut dengan periode “badai
atau tekanan”, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari
perubaan fisik dan lingkungan social.
Dikarenakan tingkat emosi setiap individu itu berbeda-beda, maka kompleksitas
masalah yang dihadapi oleh individu yang satu dengan yang lainnya tentu
berbeda-beda. M. Hamdan Bakran Adz-Dzaky (2004:190) mengklasifikasikan masalah
individu termasuk siswa sebagai berikut :
1. Masalah
individu yang berhubungan dengan Tuhannya
Adalah
kegagalan individu melakukan hubungan secara vertikal dengan Tuhannya, seperti
sulit menghadirkan rasa takut, memiliki rasa tidak bersalah atas dosa yang
dilakukan, sulit menghadirkan rasa taat. Dampak dari kesemua itu adalah
timbulnya rasa malas atau enggan melaksanakan ibadah dan sulit untuk meninggalkan
perbuatan-perbuatan yang di larang oleh Allah.
2. Masalah
individu berhubungan dengan dirinya sendiri
Adalah
kegagalan bersikap disiplin dan bersahabat dengan hati nurani yang selalu
mengajak atau menyeru dan membimbing kepada kebaikan dan kebenaran Tuhannya.
3. Masalah
individu yang berhubungan dengan lingkungan keluarga
Adalah
kegagalan ketidakmampuan individu dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan keluarganya, missal
hubungan yang harmonis antara anak dengan ayah dan ibu, adik dengan kakak dan
saudara-saudara lainnya. Kondisi ini akan menyebabkan anak merasa tertekan,
kurang kasih sayang, kurang keteladanan dari kedua orang tua.
4. Masalah
individu yang berhubungan dengan lingkungan kerja
Adalah
kegagalan individu memilih pekerjaan yang sesuai dengan karakteristik
pribadinya, kegagalan dalam meningkatkan prestasi kerja, ketidakmampuan
berkomunikasi dengan atasan, rekan kerja dan kegagalan melaksanakan
pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.
5. Masalah
individu yang berhubungan dengan lingkungan sosialnya
Adalah
ketidakmampuan individu melakukan penyesuaian diri (adaptasi) baik dengan
lingkungan tetangga, sekolah, ataupun dengan masyarakat. Atau kegagalan dalam
bergaul dengan lingkungan yang beraneka ragam watak, sifat dan perilaku.
Jika berbicara fakta, di
tengah krisis moral dan modernisasi yang semakin menjadi-jadi, banyak
siswa-siswi yang tertekan secara psikis karena ketidakmampuan untuk
menyelesaikan masalahnya sendiri. Selain faktor usia dan kematangan, relasi
dengan keluarga juga memiliki peranan yang cukup penting bagi kemampuan seorang
anak dalam menyelesaikan masalahnya. Jika orang terdekat seperti orang tua
dirasa tidak mampu menjadi curahan hati anak, maka tak jarang yang menjadi
alternatif selanjutnya yaitu lawan jenis. Namun akibat lemahnya kontrol diri
dan minimnya pengawasan dari orang tua, tidak menutup kemungkinan hal inilah
yang menjadi latar belakang terjadinya berbagai penyimpangan sosial, seperti
maraknya free seks dan prostitusi di kalangan para remaja.
Dengan adanya berbagai
kasus yang mayoritas backgroundnya adalah siswa-siswi sekolah, maka
tidak dapat dipungkiri lagi peran sekaligus uluran tangan guru BK dirasa
semakin penting dalam menyelamatkan masa depan putra-putri bangsa. Apalagi guru juga menyandang gelar orang tua kedua
bagi para siswa. Disinilah peran bimbingan konseling diharapkan mampu menjadi
tempat curahan hati para siswa.
Betapa
Mulianya Tugas Konselor
Menurut
Shertzer dan Stone, (1980) konseling adalah upaya membantu individu dengan
melalui proses interaksi yang bersifat individu antara konselor dan konseli
agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, serta mampu mengambil
keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga
konseli merasa bahagia dan efektif prilakunya. [2]
Dari situ dapat dipahami bahwa Bimbingan konseling adalah konseling adalah bantuan konselor yang di berikan
kepada individu dalam memecahkan masalah kehidupannya dengan wawancara dan
dengan cara yang sesuai dengan keadaan yang dihadapi individu untuk mencapai
kesejahteraan hidupnya.
Berangkat dari pengertian itu, karena pada
akhirnya tujuannya sama yakni mengajak menuju arah yang lebih baik, maka
konseling memiliki korelasi yang erat dengan dakwah, dihubungkan dengan nash
(teks) Al-Qur’an yang berkaitan dengan kewajiban dakwah yakni :
"وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ
أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ
الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون"(104)
﴿آل عمران 3/ 104﴾
“Dan
hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah
orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran[03]: 104)
Jadi sudah jelas bahwa tugas untuk
menolong atau menyeru kepada kebaikan ini merupakan perintah Allah SWT yang
telah termaktub dalam Al-Qur’an. Betapa mulianya tugas seorang konselor. Namun
perlu dipahami juga, karena bimbingan dan konseling merupakan usaha bersama,
maka tugas ini bukan hanya tugas dan tanggung jawab seorang konselor, namun
juga tugas seluruh guru dan kepala sekolah. Mereka bekerja sebagai team work.
Konselor bukan Polisi
Sekolah
Tidak selamanya konselor
sekolah hanya menangani siswa-siswi yang bermasalah saja. Perlu ditinjau
kembali fungsi bimbingan konseling, yakni terdapat fungsi pencegahan (preventif)
yang merupakan usaha pencegahan terjadinya masalah. Usaha ini dapat berupa
program orientasi, pengarahan, layanan informasi, layanan konsultasi dan lain
sebagainya. Dengan adanya berbagai usaha ini maka diharapkan konseling dapat
meminimalisir timbulnya berbagai masalah pada peserta didik.
Namun seiring dengan
adanya berbagai usaha ini, bahwa anggapan bahwa guru BK adalah sosok yang kejam,
menyeramkan, dan mudah menjustifikasi sudah mengakar dalam benak para siswa.
Asumsi ini bukan tanpa alasan. Seperti teori Labelling yang dikemukakan oleh
Edwin M. Lemert, seseorang dianggap menyimpang karena proses labelling yang
diberikan masyarakat kepadanya. Maka tak jarang, seorang guru BK yang dianggap kejam
juga akan berlaku seperti asumsi itu. Alasannya adalah terlanjur basah atau
kepalang tanggung.
Jadi dipandang perlu adanya pengapusan image
guru BK adalah polisi sekolah. Perlu ditekankan bahwa konselor tidak
sepantasnya berlaku seperti image yang dianggap demikian. Seperti yang
telah diungkapkan oleh Prof. Dr.H Syamsu Yusuf LN,M.Pd. di aula Fakultas Dakwah
UIN Sunan Ampel Surabaya, saat kunjungannya dalam acara workshop Pengembangan
Model Konseling Indigerous pada hari Selasa lalu, (13/05/2015) tiga kriteria
seorang yang mutlak dimiliki oleh seorang konselor yakni : 1) Knowledge 2)
Skill 3) Personality. Kriteria yang terakhir yakni personality. Selain memiliki
knowledge yaitu wawasan keilmuan mengenai Bimbingan Konseling dan skill
yang mumpuni terutama dalam bidang komunikasi, ia harus memiliki personality
atau kepribadian yang unggul. Yakni kepribadian yang berlandaskan Al-qur’an
dan sunnah, dalam artian memiliki akhlaq yang mulia serta pekerti yang budiman
sehingga mampu menghargai hak-hak orang lain terutama seorang konseli.
Menurut Bahri Mustofa
dalam bukunya yakni Bimbingan dan Konseling di Sekolah, upaya untuk
menangani siswa yang bermasalah dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yakni :
1) Pendekatan disiplin 2) Pendekatan bimbingan dan konseling.[3] Penanganan
siswa bermasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan
(tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. Pendekatan ini
memungkinkan pemberian sanksi untuk memberikan efek jera. Sedangkan disini
pendekatan bimbingan dan konseling justru lebih mengutamakan pada penyembuhan
dengan berbagai macam teknik yang ada. Sehingga setahap demi setahap siswa
mampu memahami diri dan lingkungannya guna tercapainya penyesuaian diri yang
lebih baik.
Pada umumnya, proses konseling dikatakan berhasil jika
seorang konselor mampu membangun sesuatu dalam diri konseli. Entah itu berupa
motivasi, kekuatan spiritual, rasa tanggung jawab, dan lain-lain. Konselor
sekolah yang baik adalah yang mampu menjadi navigator bagi para siswa. Yakni
mampu menjadi guide yang mengarahkan para siswa yang bermasalah menuju
arah yang lebih baik. Juga mengembangkan potensi, minat dan bakat peserta didik
yang mampu menjadikannya siswa terampil, kreatif, mandiri serta mempunyai
orientasi masa depan yang cemerlang demi nusa dan bangsa. Seiring itu dengan
itu pula dibutuhkan sarjana-sarjana lulusan Bimbingan Konseling Islam yang
unggul dan kompeten serta telah mengikuti Pendidikan Profesi Konselor, agar
mampu turut serta berkontribusi dalam mencerdaskan anak bangsa demi kemajuan
Indonesia.
Pencarian Jati Diri
Malam ini sulit rasanya
memejamkan kedua mata ini. Pertanyaan-pertanyaan itu kembali memberondongku
satu-persatu setelah sekian lama menghilang entah kemana. Bahkan tertutup oleh
hal-hal yang lain. Pertanyaan yang sebenarnya jawabannya akan kutemukan pada
diriku sendiri. Namun entah mengapa, sepertinya mataku masih buta untuk
meraba-raba apa sebenarnya yang ada di dalam diriku ini. Apa yang menjadi hal
yang menonjol dalam diriku ini yang dikatakan sebagai potensi.
Pernah suatu ketika aku
menceritakan kegalauan akan potensiku ini kepada salah seorang kawan yang
sangat kupercaya, namun lagi-lagi dia menertawakanku dan berkata “Hari gini
gak tau potensi? Kemana aja?”. Aku terdiam sekaligus merasa sedikit jengkel
karena respon dia tidak memberikan pencerahan sedikitpun. Namun setelah
menelaah lebih dalam dan merenungi perkataan kawanku tadi, memang ada benarnya
juga. Apa saja yang kulakukan selama ini, sehingga potensi diri sendiri pun aku
tidak tahu. Ku buang kemana saja waktuku sehingga ketika yang lain sudah
disibukkan dengan potensi masing-masing, aku masih bengong dan bingung akan ku
bawa kemana arah hidupku.
Aku dikelilingi oleh
mahasiswa super yang masing-masing sepertinya telah memiliki potensi yang
mereka temukan di dalam dirinya. Seperti Rafael, mahasiswa asal Riau yang
mengaktualisasikan dirinya sebagai sosok yang mantap public speakingnya dan
menekuni entrepreneur ini. bisa jadi ia menjadi entrepreneur hebat sekaligus
motivator. Lain lagi dengan Mizan, mahasantri asal Sumenep ini telah menekuni bidang
kepenulisan semenjak dia masih nyantri di Pondok Pesantren Annuqbapak Sumenep
yang katanya pondoknya intelek dan sastrawan-sastrawan Indonesia. Dengan
ketrampilan menuangkan gagasan menjadi
sebuah tulisan, juga ketrampilan berbicara karena wawasannya yang begitu luas,
bisa ku prediksikan ia akan menjadi orang besar dan tentu penulis hebat.
Sedangkan gadis berkacamata asal Majalengka yang kerap disapa teteh Zahra ini
sangat mahir dalam berkomunikasi, menurut prediksiku nantinya ia akan menjadi
konselor islam yang handal.
Bangga sekaligus turut
berbahagia meihat teman-teman yang telah menemukan potensi dalam dirinya.
Seiring itu pula terkadang terbesit dalam hati, “Apakah berguna untuk orang
lain saja sudah cukup?”. Aku selalu berpegang kepada Qaul ‘araby خير الناس انفعهم
للناس . ketika ditanya tentang
cita-cita pun aku selalu menjawab, “Mau jadi apapun yang penting bermanfaat
untuk yang lain, terutama lingkungan sekitar”. Hal inilah yang menjadikanku
sulit untuk menjelaskan apa sebenarnya cita-citaku. Karena semua berawal dari
komitmenku sendiri. Aku berkomitmen untuk menjadi orang yang bermanfaat. Namun
yang menjadi pertanyaan sekarang, bermanfaat dalam hal apa? Mungkin seorang
tukang sapu atau akrab dipanggil dengan cleaning service pun sudah bisa dikatakan
bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan sekitar.
Sebenarnya bukan ini
yang ku maksud. Bermanfaat untuk orang lain dalam artian mampu mengajarkan
kebaikan, membimbing, dan mencerahkan layaknya seorang guru. Namun jika memang
demikian keinginanku, aku memiliki keahlian apa? Bukan lulusan sarjana
pendidikan, namun lulusan sarjana BKI. Akankah bekal yang ku kantongi cukup
untuk mengantarkanku kepada impianku?
Maka malam ini aku
mencoba menyelami seluruh isi hati, keinginan-keinginan dari lubuk hati yang
paling dalam tidak akan kubiarkan menggelayut tanpa kutuangkan dalam tulisan.
Aku ingin menghimpun keinginan-keinginan itu dalam suatu himpunan dan aku
memberinya judul “99 Impian di Langit Surabaya”. Rasanya memang perlu
menuangkan semua yang di targetkan dalam perjalanan menimba ilmu ini agar focus
senantiasa terjaga dan tidak menyibukkan diri dengan hal-hal lain. Yap,
akhir-akhir ini aku sering tidak focus dikarenakan suatu hal yang sering
mengganggu fikiran, dan hal itu tak seharusnya difikirkan sekarang. Mungkin
dengan menuliskan ini semua mampu membuatku focus kembali untuk menyibukkan
diri dengan hal-hal yang ku targetkan.
Kuliah Terakhir bersama Prof
Ali
Pagi ini kami ada jam masuk kuliah Tafsir BKI bersama
Prof Ali, meski tidak ada matakuliah yang diajarkan karena telah selesai. Pagi
ini agendanya hanya sarasehan saja. Ungkap Kurniawan, salah seorang kawan yang
berperan sebagai Humas kami, warga B3. Sebab dia selalu menjadi perantara
antara kami dengan dosen-dosen. Pagi ini Prof Ali bersama ustad Ainul Yaqin
duduk bersama, mereka berangkat hampir bersamaan. Meski ustad Ainul Yaqin
sampai beberapa menit lebih dahulu. Setelah menempati cProf menyampaikan bahwa sebagai calon
pendakwah hendaknya kita tidak bosan memberi pesan. Artinya, dalam diri
seseorang tidak mudah dalam merubah tingkah laku. Maka sebagai orang yang lebih
tahu, hendaknya kita tidak pernah bosan untuk memberi pesan dakwah. “Seperti
anda ini, hampir 50% kuliah anda harus berisi tentang menulis jika saya ingin
menjadikan anda penulis hebat” ujar beliau.
Ditengah sesi, beliau meminta salah satu diantara kami
untuk membaca tulisannya. Semuanya terdiam tanpa ada gerakan sama sekali, semua
menunduk. Ada gerak hati untuk mengangkat tangan karena aku membawa laptop yang
berisi file tulisanku. Sedangkan bagi teman-teman yang lain kebanyakan tidak
membawa laptop. Namun entahlah apa yang membuatku berat sekali untuk sekadar
mengangkat tangan, mungkin rasa minder masih saja hinggap diubun-ubunku ini.
akhirnya ada salah seorang teman putri yang mengagkat tangan, dialah Fiska
Emila, gadis cantik asal Semarang Jawa Tengah. Dia diminta untuk maju dan
mengambil kursi untuk duduk disamping Prof Ali. Suatu kehormatan bisa duduk
disamping beliau. Teriak dalam batinku, penyesalan pun datang bertubi-tubi.
Kesempatan memang begitu mahal harganya.
Sebagai balasan, maka aku ingin menanyakan suatu hal
kepada Prof. ketika sesi pertanyaan, tanpa keraguan sama sekali aku mengangkat
tnagan, kemudian Prof mempersilahkanku. “Saya ingin bertanya Prof, mana yang
harus kita dahulukan antara keinginan orang tua dengan cita-cita kita sendiri”,
ungkapku. Kemudian beliau berkata “cita-citamu jadi apa?” “Penulis” jawabku.
Kemudian beliau bertanya lagi “Orangtuamu menginginkan apa? “Guru ustadz,”
jawabku lagi. “Ya sudah, jadilah guru yang penulis”. Ungkap beliau yang
sekaligus meyakinkanku untuk terus berlari meraih keduanya.
Kemudian
beliau menyarankan kami untuk membaca kisah inspiratif yang masuk Koran harian
Jawa Pos pagi tadi yang terpampang di depan Fakultas. Ceritanya mengenai Pak
dul, seorang kakek tua yang selama 10 tahun telah mengumpulkan aspal yang sudah
berserakan kemudian mengolahnya kembali untuk menambal jalan-jalan yang
berlubang ketika tengah malam. Bahkan sampai-sampai orang-orang kampung menyebutnya
orang gila. Dia tidak pernah rela jika ada orang yang meninggal karena
kecelakaan akibat jalan yang berlubang itu. Betapa mulianya hati pak dul. Tanpa
mengharapkan imbalan dia terus berjuang meski harus dicaci dan dihina
orang-orang kampong.
Selepas
kuliah selesai, akupun segera bergegas turun tangga dan berjalan menuju depan
fakultas, rasa penasaranku belum berakhir sebelum melihat sendiri berita itu.
Dan benar saja, berita itu memang benar-benar ada, aku menemukan gambar sosok
laki-laki sedang membawa karung di pinggir jalan. Pak dul? Inikah pak dul? Sosoknya
sudah renta karena dimakan usia, begitu miris aku melihatnya. Kagum akan
keikhlasannya mengabdi kepada masyarakat dengan caranya sedniri yakni menambal
jalan-jalan aspal yang berlubang. Karena sangat terburu-buru karena waktu sudah
siang, maka aku putuskan untuk membacanya nanti saja lewat internet.
Ketika browsing-browsing berita, aku tertarik untuk
mengikuti saran salah seorang kawan untuk mengikuti Workshop Keberagaman di
Jogja. Kegiatan ini gratis tanpa dipungut biaya jika artikel yang disyaratkan
lolos seleksi panitia. Inilah artikel yang kukirimkan kepada panitia workshop :
Tak Sepantasnya Multikulturalisme Pudarkan
Kebhinekaan dalam diri Bangsa
Indonesia
adalah negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau, terpisahkan oleh
lautan, kaya akan bahasa, etnis suku bangsa, warisan budaya, serta keyakinan.
Ragam kekayaan ini telah ada sejak zaman nenek moyang yang kemudian membentuk
Indonesia menjadi negara yang berpegang teguh pada semboyan “Bhineka Tunggal
Ika”, berbeda-beda namun tetap satu jua. Semboyan yang termaktub dalam
kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular pada abad ke-14 ini menunjukkan bahwa sejak
zaman dahulu masyarakat Indonesia hidup dengan damai, saling menghargai serta
memiliki rasa toleransi yang tinggi di atas segala perbedaan yang ada.
Terbukti, sikap toleransi ini menjadi pemersatu bangsa Indonesia selama puluhan
tahun setelah kebebasan negeri ini dari belenggu penjajah.
Sebagai bangsa yang besar, sikap
toleran menjadi hal yang sangat fundamental karena dengan adanya toleransi mampu
meminimalisir adanya konflik dan ketegangan antar umat beragama. Mengingat
bahwa pemicu konflik yang besar terkadang hanya karena minimnya rasa toleransi.
Tidak menutup kemungkinan pula, rasa toleransi yang semakin berkurang akan
menjadi pemicu terjadinya konflik-konflik besar yang tidak terduga nantinya.
Fakta
belakangan ini semakin membuka mata kita, bahwa masyarakat Indonesia yang sejak
dulu terkenal dengan bangsa yang budiman, berbudi pekerti luhur dan memiliki
toleransi yang tinggi antar umat beragama, kini menjadi ganas dan beringas.
Konsekuensi dari kebhinekaan yang dulunya menjadi jati diri bangsa seakan
semakin memudar seiring isu-isu yang semakin memanas. Perbedaan keyakinan seakan
menjadi justifikasi dari sebuah kecurigaan kepada kaum minoritas. Segala bentuk
kekerasan atas nama agama pun semakin nyata adanya. Seperti konflik kekerasan terhadap kaum syi’ah
yang terjadi di Sampang, Madura, Jawa Timur pada awal 2013 lalu. Gelar
“preman berjubah’ pun sempat mencuat, memenuhi ruang publik terkait dengan
penyerangan kaum-kaum minoritas. Lalu dimanakah jati diri bangsa ini? Masih
pantaskah kita mengatakan “Bhineka tunggal ika” adalah alat pemersatu bangsa?
Sampai kapankah perang identitas ini akan terus menggilas jati diri bangsa?
Tentu
jawabannya ada dalam benak kita masing-masing. Tidak seharusnya kekerasan
menjadi alat kita untuk menyikapi perbedaan.
Sejatinya, perbedaan tidak harus dipaksa untuk diseragamkan. Karena
perbedaan memberikan harmoni tersendiri yang mampu menjadi pengikat bagi bangsa
Indonesia untuk bersatu atas segala keberagaman ini. Begitu pula pemberitaan
yang turut serta mewarnai ruang publik, hendaknya lebih mengedepankan sikap
toleransi beragama dan persamaan HAM karena media adalah guru bagi pembaca.
Media menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pola pikir dan perspektif
masyarakat mengenai apapun yang diberitakannya. Forum-forum diskusi di kalangan
masyarakatpun hendaknya menjadi salah satu ajang untung mengedukasi publik akan
pentingnya rasa toleransi dari berbagai keberagaman ini.
Tabligh Nasionalisme Santri
Sebagai mahasantri selain harus
memiliki jiwa kesantrian, hendaknya juga memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, karena nantinya santri akan turun ke
masyarakat. Atas dasar itu maka dipandang perlu dilaksanakan suatu kegiatan
yang menjadi ajang untuk memadukan keduanya.
Selain itu, santri juga merupakan seorang
mubaligh sehingga dalam hal ini perlu dikembangkan kemampuan santri terkait
dalam bidang tabligh, untuk itu devisi PSDM bagian Intelektual
dan Keagamaan mengadakan lomba antar angkatan yang bertajuk Tabligh
Nasionalisme Santri dengan tema “ Santri Berjiwa Pancasila”. Departemen PSDM yang notabene departemen
yang berkaitan dengan Pengembangan Sumber Daya Manusia, khususnya divisi
Intelektual dan Keagamaan yang notabene divisi yang berkaitan dengan
pengembangan intelektual dan keagamaan mahasiswa, merasa perlu untuk
melaksanakan kegiatan ini yakni pada tanggal 01 Juni 2015, tepat tanggal
15 Sya’ban 1436 H dan hari kesaktian pancasila.
Sinar
purnama malam itu menyinari malamnya semesta alam. Sinar yang menjadi keberkahan
pada malam nishfu Sya’ban. Dimana pada malam itu semua doa akan terijabah.
Seluruh warga CSS MoRA bertasyakur dan berdo’a bersama, dengan harapan mendapat
hidup yang lebih baik kedepannya. Agenda ini dipegang kendali oleh departemen
PSDM bidang intelektual dan keagamaan. Diadakan tepat pada tanggal 1 juni 2015
di depan fakultas dakwah dan komunikasi.
Pukul 18.15 WIB seluruh panitia telah berkumpul untuk
mempersiapkan acara sebelum dimulai. Seiring berjalannya waktu peserta mulai
berdatangan, mulai dari angkatan 2011 sampai 2014. Pukul 19.08 WIB acara
dimulai, karena sebagian besar anggota telah hadir. Ahmad Jadulhaq selaku
pembawa acara membuka acara pada malam itu. Diawali dengan membaca basmalah bersama
dan dilanjut dengan sambutan dari ketua panitia, Nanang Supratna dan ketua umum
CSS MoRA UINSA, Muhammad Namiruddin Naqiy. Pukul 19.24 WIB acara dilanjut
dengan pembacaan rottibul hadad yang dipimpin oleh Nanang Supratna.
Setelah pembacaan rotibul hadad, masuk kepada inti, yaitu pembacaan
yasin 3 kali pada pukul 19.45 WIB yang dipimpin oleh Faiz Nasrullah dari
angkatan 2011, Anwari Nuril Huda dari angkatan 2012, dan Misbah Muqarrabin dari
angkatan 2013. Acara diakhiri dengan doa tepat pukul 20.11.
Malam nisfu sya’ban tahun ini bertepatan dengan hari
kelahiran pancasila. Selain yasin bersama, diadakan juga lomba taligh pada
pukul 20.11 WIB yang diikuti oleh anggota CSS MoRA perwakilan dari setiap
angkatan. Lomba yang bertajub santri berjiwa pancasila dipandu oleh Rahmat
Faisal Nasution. Anggota pasif CSS MoRA Najid Aufar dan Afif diundang sebagai
juri pada lomba tersebut. Setelah peserta menyampaikan tablighnya juri
memberikan sedikit komentar. Setelah semua peserta menyampaikan tablighnya,
sampailah pada sesi pengumuman juara lomba. Ahmad Jadulhaq delegasi dari
angkatan 2014 keluar sebagai juara pertama.
Waktu telah manunjukkan pukul 21.40 WIB. simbolisasi
pemberian hadiah kepada pemenang lomba menjadi tanda bahwa telah berakhirnya
agenda malam itu. Rahmat Faisal sebagai pemandu acara munutup acara dengan membaca
hamdalah bersama. Acara ditutup pada pukul 20.45 WIB.
The
last Meeting
Pagi ini dilaksanakan ujian SBMPTN
(Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) yang mana seluruh Fakultas
rata-rata menjadi tempat pelaksanaan ujian. Otomatis, intensif pagi pun
diliburkan secara otomatis, karena ketiadaan tempat dan ujian SBMPTN akan
dilaksanakan mulai pukul 08.00 pagi. Akupun lumayan cukup santai karena tidak
harus berangkat pukul 06.00 pagi karena intensif ditiadakan. Kumanfaatkan waktu
pagi untuk mencuci baju karena tenaga masih full, waktu menunjukkan pukul 07.10
WIB, akupun telah selesai menjemur baju dan mandi. Kulihat hp yang tergeletak
di atas kasur, sedari tadi berdering dan ternyata ada sms dari salah seorang
teman dan mengkhabarkan bahwa Prof Ali masuk di ruang sidang pukul 07.30. Tanpa
pikir panjang langsung ku ambil piring dan bergegas makan. Tanpa banyak basa
basi aku melahap nasi beserta telur yang kubeli kemarin di gang dosen.
Nampaknya setiap pagi aku selalu terburu-buru ketika makan, dan akupun tahu
dampaknya juga kurang baik bagi pencernaan. Namun paling tidak ini lebih baik
daripada aku tidak sarapan dan ujung-ujungnya kelaparan saat di kelas. Tanpa
kusadari makan pagi telah menjadi habitku, karena sejak dulu ibu selalu
memaksaku untuk sarapan dan ketika belum sarapan maka aku tidak diperkenankan
berangkat ke sekolah. Dan benar saja, efeknya pun terasa sampai sekarang. Aku
tidak pernah didekati segala penyakit lambung atau populernya disebut penyakit
maag.
Berbeda dengan teman-teman disini,
kebanyakan mereka meninggalkan sarapan pagi. Selain karena faktor habit,
ketiadaan lauk juga membuat mereka memilih sarapan ketika hari sudah siang.
Sebut saja makan siang. Hehe. Hal ini sebenarnya sangat kusayangkan mengingat
pentingnya sarapan pagi bagi kesehatan tubuh. Aku mengantisipasi lauk dengan
membeli jatah lauk 2x. Setiap kali membeli lauk untuk makan sore aku usahakan
yang mengandung sayur dan berkuah, sedangkan untuk sarapan pagi esoknya aku
memilih lauk yang kering dan mengandung gizi yang cukup tinggi seperti ayam,
telur, ataupun ikan. Simple kan, tapi kurasa ini habit yang sudah cocok
denganku dan harus dipertahankan sampai nanti.
Kembali ke laptop! Setelah siap
dengan dandanan simpleku, aku bergegas untuk berangkat. Bagiku dandan tidak perlu
berlama-lama karena baju sudah disetrika semua ketika hari libur, dan bersolek
juga tak perlu ribet-ribet karena kita bukan mau kondangan. Hehe. Cukup 10
menit selesai. Mengingat waktu telah menginjak 07.30, aku percepat langkahku
menuju tangga dan menuruninya satu persatu, disusul dengan langkah-langkah
teman yang lain. Ketika telah sampai fakultas, kami berjalan lurus menapaki
panjangnya fakultas dakwah, kemudian belok kanan dan masuk di ruang sidang
dimana kami akan bertemu dengan Prof Ali. Ketika membuka pintu, betapa
terkejutnya kami karena Pak Prof ternyata telah duduk rapi di kursi depan dan
sebagian besar teman-teman sudah datang. Perasaan bersalah karena telah
terlambat sempat memenuhi ruang batinku, aku segera memilih tempat duduk yang
strategis dan kupastikan di barisan paling depan.
Selang beberapa menit kami diminta
untuk berdo’a sebagai pembuka majlis ilmu kali ini. Sedikit perasaan lega
karena kami tidak telat-telat banget, dalam artian kami tidak melewatkan momen
berdo’a. Pandanganku menunduk, ku coba berdo’a dengan khusyu’, tidak terlalu
keras namun cukup telingaku yang mendengarnya. Aku yakin do’a lebih khusyu’
ketika dilantunkan dengan suara lirih dan cukup telinga kita yang mendengarnya.
Do’a pun selesai, prof memulai dengan bertanya mengenai jumlah komentar pada
blog kami satu persatu dan mencatatnya pada kertas yang sedang dipegangnya.
Ternyata ada beberapa teman yang telah melampaui batas minimal jumlah komentar
yakni 50. Hafisa Idayu, gadis asal Sulsel yang kerap disapa Yuyu ini telah
mampu mencapai 77 komentar, juga Rahmat Hidayat yang telah melebihi 60
komentar, aku sendiri baru mencapai 51 komentar. Ada perasaan lega karena telah
lolos dari batas minimal, namun tentunya ada perasaan kurang puas karena teman
yang lain saja bisa mencapai 70-80. Maka akupun seharusnya bisa.
Begitupun sebaliknya, ada banyak
teman yang masih belum mencapai 50 komentar. Pak Prof nampaknya kecewa dengan
hal ini namun beliau tidak menampakkannya. Yang keluar dari lisan beliau hanya
motivasi-motivasi dan lagi-lagi beliau berkata “Saya tidak pernah meragukan
potensimu, kamu sendiri yang ragu sehingga hasilmu pun tidak maksimal”. Melihat
hal ini, prof bertanya kepada teman-teman yang belum mencapai 50 komentar
mengenai alasannya kenapa kok belum mampu mencapai target. Salah satu dari
teman putra mengatakan akibat dari ketidakadaan wi-fi di Pesma, mendengar
alasan ini Prof langsung berkata “Sukses itu bukan monopoli orang-orang yang
fasilitasnya cukup. Jangan menunggu hujan reda, tapi menarilah dalam hujan.
Beberapa teman putri pun
mengemukakan alasannya, sebut saja Nadia. Dia ditanya mengenai berapa kali ia
memberi komentar teman-temannya. Dengan nada halus khas sundanya ia menjawab “Sekali
Prof”. Kemudian Prof Ali mengatakan “Mengapa hanya sekali? Kan tiap
orang harus komentar dua kali to?”. Nadia menjawab “Teman-teman yang lain
juga hanya sekali Prof”. “Terus kamu juga ikut-ikutan satu kali? Kalau
digigit dibalas menggigit itu watak hewan. Kalau digigit kemudian sabar, itu
watak orang muslim. Kalau digigit kemudian memberi makan, itu watak Rasulullah
SAW”, tutur Prof Ali dengan penuh keseriusan.
Kemudian
beliau menegaskan lagi “Apa yang kamu lakukan adalah potret dirimu sendiri,
Jangan hanya meminta, tapi tawarkan apa yang kamu punya”. Jadi intinya kami
pasti bisa sebenarnya jika kami mau berusaha, hanya kemalasan yang menjadi
penghalang kami menuju apa yang kami targetkan. Lagi lagi kemalasan, seakan
selalu itu yang menjadi boomerang bagi kami. maka prof ali berkata “Ikuti
perkataan saya, WAHAI ALLAH, DENGAN PERTOLONGANMU SAYA AKAN MAMPU MELAWAN MALAS
SAYA! SETAN, SAYA TIDAK AKAN MENGIKUTI KEMAUAN KAMU! Kamipun mengikuti
perkataan beliau secara bersamaan dan diakhiri dengan pukulan ke atas meja
pertanda geram akan bujukan setan yang tidak pernah berhenti kepada kita.
Tak
lama kemudian beliau melirik kertasnya, kemudian bertanya “Siapa yang paling
sering mendapatkan nilai terbaik?” dengan kompak kami mengatakan “Lia”. Maka
buku “Seluk Beluk Pernikahan Islam” menjadi kado terindah untuk Lia Lutfiana
Febriyanti, gadis kalem bertubuh sedang asal Bojonegoro ini. disusul dengan
Fikri yang beberapa kali mendapatkan nilai terbaik, maka buku “Pendobrak
Administrasi Organisasi” pun diterimanya dengan penuh senang hati. Kemudian
kawan asal Ciamis, sebut saja aa’ Jajang Supriatna. Buku “Al-Ghazali” dengan
penuh tawadhu’ ia terima. Tak lupa setiap penerima buku didokumentasikan
dengan foto bersama sebagai kenangan berharga dari sang Maha guru. Semoga
bermanfaat dan mampu tertular ilmunya.
Bagi
yang belum mendapatkan buku, prof berusaha membesarkan hati kami dengan berkata
“Bagai jarum yang dicelupkan kedalam lautan, belum ada apa-apanya. Tenang
saja, Allah itu Maha Besar. Meskipun orang sukses telah banyak di dunia ini,
tapi Allah Maha Besar dan tentunya masih banyak jatah orang sukses di dunia
ini.”
Di
akhir pertemuan, Prof Ali mengatakan “Tunjukkan kepada dunia, yang
menunjukkan kamu adalah orang pilihan bukanlah jasmu tapi karyamu!” jadi
apalah arti jas CSSMoRA jika aku sama dengan mahasiswa lain, aku harus punya
karya. Ditambah lagi beliau berkata “Di tengah-tengah kemuliaamu itu kamu
menggembol aib”. Kata-kata yang sungguh menamparku dan membangunkanku dari
tidur panjangku. Aku tersadar banyak sekali kekurangn-kekuranganku namun tiada
orang yang tahu, tidak lain pula karena Allah menutupinya.
“Saya
yakin, tidak sampai 10 tahun kamu akan menjadi orang berhasil. Dan saat bertemu
dengan saya nanti, tunjukkan bahwa kamu telah menjadi orang-orang baru. Karena
Allah menitipkan kamu satu tahun dengan saya, jika kamu tidak berubah maka
pertemuan ini hanyalah sia-sia. Jangan jawab dengan kata-kata tapi tunjukkan
dengan karyamu!” pungkasnya di akhir sesi. Semangat yang bagai
terpompa kembali. Dengan tekad yang begitu menggebu-gebu aku berniat untuk
segera menyelesaikan tulisanku, apapun yang terjadi.
Sepatah
kata untuk Prof Ali
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Tiada
lagi kata yang mampu terucap selain untaian ucapan terimakasih, atas semua yang
njenengan berikan kepada kami. Seakan-akan semua telah njenengan berikan kepada
kami mulai dari ilmu perkuliahan sampai dengan ilmu kehidupan. Dari tenaga,
pikiran dan finansial. Sampai engkau hadirkan ditengah-tengah kami sosok
motivator muda yakni ustad Ainul Yaqin yang sangat menginspirasi juga sangat
mendukung kami untuk terus belajar dan belajar. Keramah-tamahannya membuat kami
seakan mendapatkan keluarga baru disini, di tanah perantauan kota Pahlawan tercinta. Sekali lagi kami
ucapkan terimakasih Prof.
Ungkapan
maaf karena mungkin disela-sela kegiatan pembelajaran, terdapat tindak tanduk
sulah bowo kami yang kurang berkenan. Juga pengerjaan tugas yang seringkali
tidak maksimal karena kemalasan kami, dan saya pada khususnya. Kami berharap
semoga ilmu yang njenengan berikan kepada kami tidak hanya mengalir begitu saja
namun dapat benar-benar bermanfaat bagi
umat, dan minimal bagi kami sendiri. Teriring do’a semoga segala kebaikan
beliau mendapatkan balasan yang setimpal yang dicatat sebagai amal disisiNya.
Amin.
Wassalamu’alaikuim
Wr. Wb.
[1]
Semacam tenda kecil sebagai penutup
yang biasanya diletakkan di punggung unta dan digunakan untuk tempat perempuan-perempuan
yang istimewa saat bepergian.
[2] Achmad Juntika Nurihsan, Bimbingan
dan Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan, (Bandung : PT Refika
Aditama, 2011), hal 10.
[3] Bahri Mustofa, Bimbingan dan
Konseling di Sekolah, (Surabaya: CV Putra Media Nusantara, 2011),hal. 110
Langganan:
Postingan (Atom)

