Pages

Minggu, 17 Juli 2016

Cerpen - "Gara-gara Baperisme"



‘Pagiku hilang diambil ayam’. Mungkin itu ungkapan yang tepat untuk pagiku ini. Udah bangun kesiangan, rumah kotor semua, ibu marah-marah, dan sebagainya. Duuuh... gak bisa dibayangkan betapa kacaunya pagiku ini. Karena hari sudah menjelang siang, aku hanya menyapu ala kadarnya. Hanya ruang tv dan dapur. Lantai super lebar di ruang tengah tak sempat tersapu karena aku harus membantu ibu memasak di dapur.

Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB. Masak memasak selesai. Akhirnyaa.. huft. Kurebahkan badanku di lantai kamar, sembari menyelonjorkan kedua kakiku. Beberapa saat kemudian aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Zzzzz....

***

“Nduuk... bangun, mbak Risa dan mbak Salia datang” suara ibu beserta ketukan di pintu kamar terdengar samar samar di telingaku.

“Hmmm....” aku masih setengah sadar.

Karena tak mendengar responku, ibu masuk kamar, menggoyang-goyangkan lenganku sehingga mataku perlahan kubuka paksa. “Mbak Risa dan Mbak Salia datang nduk, ayo bangun, salim sama gus juga loh”. Aku terperanjat. Bukan karena perkataan ibu barusan. Tapi telingaku mendengar cekikak-cekikik tawa beberapa laki-laki. Sepertinya sebayaku. Ah, siapa ya. Akhirnya aku bangun. Sejenak ku cuci mukaku dan gosok gigi supaya tidak terlihat seperti orang baru bangun tidur. Meski ku tahu usahaku pasti tidak terlalu berhasil. Tetap saja mataku terlihat merah. Mukaku terlihat kucel.

Aku masih setengah sadar. Ku dudukkan diri di kursi dapur. Masih diam memperhatikan ibu yang sibuk sendiri dengan piringnya yang ditumpuk beberapa buah. Rasa enggan bercampur malu membuatku betah berlama-lama duduk di atas kursi itu. Yah, bisa dibilang tamu kali ini kerabat dekat. Namun hanya silaturrahim ketika lebaran, jadi ya agak sungkan meski hanya sekedar jabat tangan. Apalagi mendengar  suara-suara cekikikan tadi.

“Ayo, salim sana”. Tutur ibu. Kini ibu menata air mineral di atas baki.

“Aduh, malu bu. Ada siapa saja sih?” tiba-tiba aku gemetaran

“Ada gus Fatih, mbak Risa, mbak Salia dan dua kang santrinya” tutur ibu

“Aduh, ndak usah aja ya bu. Malu ih” aku mulai merasa aneh.

“Kamu ini sudah besar, masa masih malu. Ndak wajar.” mbakku mulai bawel

“Aah.. bukan gitu mbak. Disalamin semua kah bu?” aku masih ragu-ragu.

“Iya, ndak papa, sama saudaranya sendiri kok.” ibu menjawab santai.

Huft. Akhirnya ku beranikan diri melangkah menuju ruang tamu. Langkah kakiku terasa berat sekali bak prajurit bersepatu besi. Tanganku tiba-tiba mendingin.  Mau tak mau, aku telah berada di hadapan para tamu. Satu persatu aku salami dengan badan sedikit ku tundukkan. Ku cium tangan gus Fatih, “Ngalap barokah gus pondok”, batinku berceracau. Gus Fatih adalah suami dari mbak Riri, sepupuku. Namun mbak Riri sudah kembali keharibaanNya belasan tahun yang lalu. Sedang mbak Risa dan mbak Salia adalah kedua putrinya. Mbak Risa seumuran denganku, adiknya, mbak Salia enam tahun dibawah kami. Ketika tiba saatnya bersalaman dengan kedua kang santri yang dibawa gus Fatih, aku sempat ragu untuk sekedar menjulurkan tangan.  Dan keraguanku ternyata membawa berkah. Belum sempat aku menjulurkan tangan, kedua santri itu sudah memberi isyarat salim tanpa berjabat.  Huft. Sudah kuduga. Batinku berceracau sendirian. Aku tetap tersenyum.

Selepas salim, aku duduk menyatu bersama mereka. Seperti layaknya kerabat yang jarang bertemu, aku ditanyai berbagai macam hal, yang kugeluti sekarang. Mulai dari sekolah, tempat tinggal, rutinitas, dan lain sebagainya. Begitupun mbak Risa dan mbak Salia. Kami saling berbagi pengalaman. Di tengah hangatnya obrolan kami, sesekali, mataku tidak sengaja menangkap sunggingan senyum santri berkopyah hitam diseberangku. Dimulai dari sesekali, namun kini mereka berdua (mata) mulai berdurasi. Beberapa detik sekali mataku mengekori senyumnya. masyaAllah... Jiwa kebaperanku kayaknya mulai mode on nih, tak bisa kuhindari. Aku memilih undur diri ke belakang, sebelum aku ketahuan diam diam curi pandang.

***

“Hayooo... ngapain kamu?” kakak mengagetkanku.

“Ih, apa sih kak.” aku tetap asyik senyum-senyum sendiri di balik tirai jendela yang menghubungkan kamarku dengan ruang tamu.

“Udah ih, itu tamunya sebentar lagi mau jama’ah ashar di ruang tengah”

“Hmmmmhh.. iya iya kak, sebentar..”ucapku datar. Sosok berkopyah dengan batik putih bermotif hijau, mengalihkan duniaku. Kuamati gerak-gerik matanya, tangannya yang sedang menyendok nasi, caranya mengunyah, caranya tertawa, “oh my God.... “. Seolah-olah aku berada di hadapannya. Memandanginya, menambahkan lagi nasi dan lauk untuknya. Agar dia tertawa lagi, bahagiaa rasanya.

“Lilis, buruann....” kini kakakku menarik ujung jilbabku dari belakang, sontak aku kaget.

“Aiih... kakakk” ku akhiri eksplorasi bebasku dibalik tirai itu.

Lantas aku bergegas menuju ruang tengah. Betapa kaget bukan kepalang aku melihat lantai yang super berantakan seperti kapal pecah. Mainan berserakan disana sini, potongan-potongan kertas bertebaran di atas lantai. “Oh iya, tadi pagi belum sempat kubersihkan. Duh mamiii.....” Aku mulai panik. Para tamu sudah bergegas ke belakang untuk mengambil air wudhu. Tanpa pikir panjang, aku segera memunguti kertas-kertas kecil yang berserakan dan merapikan mainan bocah-bocah kecil kami. Kugelar karpet, kemudian menyapu di sekelilingnya. Semoga kalian tidak ketahuan, wahaipara debu di bawah karpet. Huhu... berlindunglah baik baik yaa.. batinku bercaracau lagi. Mencoba mengajak kerjasama para debu.

***

Para tamu sudah selesai shalat berjamaah. Aku bergegas membereskan meja ruang tamu yang masih penuh oleh bekas makan siang para tamu. Membawanya satu  persatu ke meja dapur. Untung saja mbak Risa dan mbak Salia membantuku. Aku mengentikan langkahku di ambang pintu dapur. Bersandar sejenak untuk melepas lelah. Ku hembuskan nafas panjangku, menghirup udara senja hari dan melepaskannya lagi. “Apakah begitu hakikatnya jodoh? Bertemu untuk berpisah? Bercinta untuk patah hati?” Entahlah... yang pasti dan kuyakini, “Jodoh pasti bertamu, meski sebelumya tak pernah bertemu. Afghan hanya sok tahu kali ya. Hehe. Belum selesai aku berbincang dengan senja, panggilan bapak memecah keheningan rumahku.

“Nduuk,”

“Inggeh pak” aku segera menuju ruang tamu

“Mbak Lis, kami mau pamit” mbak Salia sudah didepanku, menjulurkan tangannya.

“Ya Allah kok buru-buru mbak, gak nunggu setelah maghrib sekalian?”

“Inggeh mbak, makasih.”

“Pamit nggeh nduk” gus Fatih menyalamiku, diiringi kedua santrinya yang menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Aku menyambutnya dengan cara yang sama. Tapi dengan kadar senyum yang berbeda. Senyumku tertahan, berbumbu malu. Heheh... Itulah salaman ala santri. Hehe. Batinku tak bisa diam. Mulai baper dengan makhluk berkopyah hitam itu. kami mengantarnya sampai teras depan. Senja mengiringi kepergian mereka. kalau Tuhan mengizinkan, tentu mereka akan bertamu lagi.

Tiba-tiba bapak memanggilku, mengajakku duduk di ruang tamu. Sepertinya ada suatu hal penting yang ingin bapak utarakan. “Nduk, gus berniat meminangmu”. Ucap bapak lirih. Betapa riang bukan kepalang aku mendengar ucapan bapak. “Bapak bercanda ah... siapa namanya pak? Yang berkopyah hitam bukan? Yang pakai batik warna putih bukan?”aku mulai ingin tahu dengan sosok yang dibicarakan bapak. Dengan sorot mata berbinar-binar,ku pegang tangan bapak yang sedari tadi ingin menyeruput sisa kopinya. “Iya, sebentar.. tanggung ini kopinya”. Bapak tegang. Aku yang menunggunya tak kalah tegang.

“Gus Fatih nduk yang bapak maksudkan” tutur bapak. DEG... Jantungku seperti berhenti berdegup. Dandelion-dandelion alias ilalang di pinggir jalan depan rumah seolah kaku, tak mau bergoyang karena terpaan angin senja. Kambing-kambing di belakang rumah seolah berhenti mengunyah rumputnya yang lezat bak mie ayam. Burung-burung pipit di pepohonan samping rumah, seolah olah tersedak cabai, sehingga kicauannya terdengar parau. Cicak-cicak di dinding, seolah ingin menjatuhkan diri di sofa empuk disampingku. Bumi seolah gonjang-ganjing mendengar pernyataan bapak yang sontak sangat mengagetkan.

“Gus Fatih pak”? kataku, memastikan ucapan bapak.

“Iyaa nduk” bapak mengangguk mantap.

Ini bukan so swit lagi, namun so pait. Yang benar saja, masa iya aku yang seumuran mbak Risa (anak pertamanya) juga dilirik. Apa mungkin gus Fatih lupa dengan umurnya. Atau aku yang lupa umurku. Eh, enggak. Sangat tidak wajar sekali. Aku hanya diam, batinku berceracau sendiri. Menatap dalam-dalam sisa kopi dalam gelas yang tersaji di meja.

“Aaaaa.... gak mungkiin. Lalu bapak bilang apa?”

Bapak hanya menganggapnya candaan, tahu sendiri kan memang wataknya begitu. Semenjak ditinggal mbak Riri, dia memang berusaha mencari ibu untuk nduk Risa dan nduk Salia. Namun sampai sekarang ya belum dapat.”

“Huft, hampir saja. Gak kebayang pak”

“Maksudmu piye nduk?”

“Eh, ndak pak. Tapi bapak pertegas kan pak?”

“Iya, bapak bilang saja kamu sudah ada pilihan, dan sudah sama sama setuju”

“Waduh pak, ada dari mana?

Kan itu do’a tah nduk, memangnya kamu mau bapak bilang kalau kamu masih sekolah, terus dia nunggu kamu sampai lulus?”

“Ya ndak lah pak.” Aku masih ketakutan

“Naah.. kan. Yakinlah kalau sudah masanya, mudah saja kalian bertemu

“Semoga pak..” aku mengakhiri obrolan senjaku dengan bapak.

Langkahku bergegas ke kamar, aku masih diantara percaya dan tidak. Sedikit rasa takut mulai menjalar di relung hatiku. Bagaimana tidak, sedari tadi aku membayangkan dapat diperistri santri berkopyah hitam itu. namun realita yang terjadi, malah gus Fatih yang diam-diam ingin menikahiku. Cintaku salah sasaran. Alamaaakkk... gak kebayang deh. Akhirnya kulepas senja yang beranjak pamit dengan mengambil air wudhu, kemudian shalat jama’ah di mushalla depan rumah. Ya Allah, nikmatnya masih single, tak akan terbayar dengan hal apapun.

Semenjak itu aku benar-benar takut, takut akan kata-kata ‘nikah’ itu. jangankan nikah, baper pun tak sempat terpikirkan. Aku sudah lupa akan baperku. Aku sudah lupa bapernya melihat pasangan yang baru saja menikah. Aku sudah amnesia dengan baperku. Ya.Aku lebih menata hati lagi, menjaga setiap tindak tandukku dulu, sebelum berurusan dengan hal ribet semacam itu. Takut salah sasaran lagi. Takut ada yang melirik lagi. De el el. Sungguh aku takut.


***

Beberapa bulan kemudian, aku sudah mengurus perlengkapan untuk wisuda. Beberapa hari ke depan aku akan melangsungkan prosesi wisuda bersama teman-teman seangkatanku. Bahagia terasa memenuhi relung hati. Studiku selesai tepat waktu. Namun di momen spesial ini, tak kunjung kutemukan someone yang disebut-sebut orang sebagai ‘jodoh’ itu. Setidaknya bisa lah untuk dijadikan pendamping dalam sesi foto-foto. Tak seperti teman-temanku yang bahkan sudah lengkap dengan baju couple dan sekuntum bunga di tangan pasangannya. Aku meratapi nasib, namun tetap berusaha tenang dengan senyumku yang berlesung pipit sebelah. Tak apalah, bapak, ibu dan mbak sudah cukup bagiku sekarang.

Kriiiingggg.....” handphoneku berbunyi. Orang-orang yang duduk disampingku, mulai mencari sumber suara. Aku gelagapan mencari dimana letak hpku. Akhirnya kutemukan si mungil pencari perhatian ini. Ku lihat layarnya, ternyata ada nomor baru yang sedang memanggil.

“Halo.. ini siapa ya?”

“Halo, assalamu’alaikum Lilis..”

Suaranya terdengar seperti sosok laki laki paruh baya. Seumuran bapak.

Ini mas Fatih lis...”

“Ha?? “ aku mendengar dengan jelas, namun masih diantara percaya dan tidak.

“Iya, ini mas Fatih. Kamu sudah mau wisuda ya?”

“i..iya gus.” Aku menjawab singkat. Sepertinya aku mulai mengerti arah pembicaraannya

“Habis lulus kamu siap lis?”

“Tuuut...tuut..” kumatikan handphoneku. Aku kesal bercampur takut. Takut hal yang lalu tersinggung kembali.

Beberapa menit kemudian, gus Fatih mengirimkan sms, isinya :

“Nduk lis, mungkin jaringan disini kurang bagus, jadi mungkin akan saya utarakan disini maksud teleponku tadi. Jadi setelah kamu lulus, aku mau mengantarkan santriku untuk melamarmu. Seperti yang kamu utarakan ke bapakmu, yang berkopyah hitam, yang berbaju batik putih motif hijau, yang dulu sempat kuajak sowan ke rumahmu. Bapakmu sudah menceritakan semuanya. Dulu aku hanya mencandaimu, nduk. Sebenarnya memang Nabil mau meminangmu dari dulu, sewaktu kami sowan ke rumahmu itu. Tapi dia masih ragu-ragu. Kebetulan memang dulu kamu belum siap kan? Kini dia yakin bahwa kamu siap.”

Setelah itu, aku melayang jauh tinggi ke angkasa raya. Tiba-tiba menyembul diantara gumpalan awan-awan putih. Hmmm...


"Bukankah kita hanya diminta untuk bersabar? Karena jodoh pasti tidak hanya bertemu, tapi juga bertamu."

Dan sekali lagi, mungkin Afghan hanya sok tahu. Dia khilaf. Hehehe

Senin, 16 Mei 2016

“Peran Orang tua dalam Mendidik Generasi Muslim Anti Sex Bebas”

            Telah dikatakan bahwasanya tanda-tanda akhir zaman adalah maraknya perzinaan disana sini. Hal ini terbukti dengan adanya berita penyalahgunaan sex di berbagai media pemberitaan. Pelakunya bervariasi, mulai dari ayah kepada anak perempuannya, kakek kepada cucunya, guru kepada muridnya, kakak kepada adiknya, dan lain sebagainya yang terkadang sulit diterima akal sehat. Namun inilah faktanya, jika nafsu sudah bergejolak di dalam dada, logika pun tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Syaitan rupanya telah mengepakkan sayapnya di atas kelalaian manusia.
            Seperti kasus yang saya temui beberapa hari yang lalu, tepatnya pada hari Jum’at tanggal 11 Maret 2016 . Salah seorang teman mengirim berita di grup W, isinya berupa laporan berita pembuangan bayi laki-laki di lereng bukit Tengger, Kecamatan Sambit Kabupaten Ponorogo. Sekitar 3 km dari tempat tinggal saya. Kejadian ditemukannya bayi tersebut pada tanggal 1 Maret 2016 namun baru berhasil diungkap hari Jum’at lalu. Pelaku berinisial AN, selaku sang ayah dari bayi tersebut yang mana pelajar  berusia 17 tahun. Pelaku kedua berinisial HP, sang ibu dari bayi yang juga masih merupakan pelajar berusia 17 tahun. Keduanya berpacaran kurang lebih satu tahun, dan telah melakukan hubungan suami istri. Karena takut, sang bayi dibuang ketika lahir.
            Singkat cerita, kedua orang tua si perempuan (HP) bekerja di Kalimantan. HP menempati rumah orangtuanya seorang diri, dan terkadang menginap di rumah neneknya di seberang desa. Setelah terkuakknya kasus ini, keduanya diamankan pihak berwajib untuk kemudian diproses menurut ketentuan yang berlaku, mengingat keduanya masih berstatus pelajar.
            Mendengar berita ini, merinding sekaligus prihatin batin ini. Diantara percaya dan tidak. Akhirnya saya klarifikasikan kepada teman saya yang masih tetangga dengan pelaku (HP). Pasalnya, HP adalah seseorang yang saya kenal baik, juga tidak neko-neko. Namun apa mau dikata, jagung telah menjadi popcorn atau istilahnya nasi telah menjadi bubur. Semua sudah terjadi. Lalu terfikir dalam benak saya, “Siapa yang bersalah dalam kasus seperti ini? Tidak selamanya anak akan terus disalahkan. Karena apapun yang terjadi pada mereka, sudah pasti adalah bentukan dari kedua orang tuanya.”
Dengan melalui dasar-dasar pendidikan dari orang tua, islam mensyariatkan bahwasanya orang tua adalah penanggung jawab atas putra-putrinya. Pengenalan akidah yang baik dan penanaman akh  laq menjadi suatu keharusan agar mereka mampu menjadi generasi islam yang lebih baik, di dunia maupun di akhirat. Seperti diriwayatkan dalam hadits:
“Seseorang itu adalah penggembala di lingkungan rumah tangganya dan bertanggung jawab terhadap gembalaannya”.
            Maka tidak dapat dipungkiri, peran orang tua dalam mendidik anak-anaknya tentang sex sangat diperlukan. Karena pada usia anak-anak, rasa penasaran pasti akan selalu muncul mengenai hal-hal baru yang mereka temui. Jika orang tua sebagai orang terdekatnya tidak memberinya pengertian, maka yang terjadi ia akan menyerap mentah-mentah apa yang ditontonnya, didengarnya dari teman-teman sebayanya, atau media lain. Sedangkan pada usia anak-anak, filter yang mereka punyai belum cukup untuk menyaring mana yang harus mereka terima sebagai suatu pembelajaran, dan mana yang harus mereka tolak sebagai larangan. Dalam hal inilah peran orang tua sangat penting, khususnya untuk mendampingi anak dalam proses pendewasaannya. Terutama seorang ibu.
            Mengapa ibu? Tidakkah ayah? Jawabannya adalah karena ibu adalah sosok pendidik pertama bagi mereka, para anak-anak. Sebaik-baiknya seorang ayah mendidik, anak akan tetap memiliki kedekatan tersendiri dengan seorang ibu sehingga nilai-nilai yang ditanamkan seorang ibu biasanya lebih cepat mengena dan menancap dengan kuat dalam diri sang anak. Dari siniilah kita sadari pentingnya peran seorang ibu dalam mengajarkan pendidikan seks kepada anak-anaknya. Meskipun pada dasarnya anak menerima pembelajaran terkait dengan hal tersebut di sekolah, biasanya hal-hal yang langsung diterima melalui praktek langsung dalam keseharian, lebih cepat diterima oleh sang anak dan membentuk dirinya.
            Beberapa hal di bawah ini dapat dilakukan oleh para orang tua untuk membentuk karakter anak menjadi generasi muslim anti sex bebas, diantara lain adalah sebagai berikut : 

1.      1. Mengajarkan batasan-batasan aurat yang harus ditutup
Sejak dini, anak harus diajarkan tentang batasan-batasan aurat bagi anak perempuan dan anak laki-laki. Apalagi ketika si anak sudah beranjak dewasa yakni berumur 15 tahun keatas, yang mana pada usia-usia tersebut seseorang dikatakan telah baligh. Pada suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Nawawi, batasan baligh adalah ketika berumur 15 tahun. Seorang anak laki-laki sudah dihukumi mukallaf meskipun belum pernah mimpi basah, juga anak perempuan yang belum pernah haid namun sudah dihukumi baligh.
Pada usia tersebut, anak seharusnya telah mengetahui batasan-batasan aurat yang disyariatkan oleh islam. Pada anak laki-laki yakni pusar sampai lutut, dan perempuan berlaku seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Sebagai bentuk konkritnya, orangtua mengajarkan adab berpakaian yang baik dalam segala keadaan. Misalnya bagi anak laki-laki untuk keluar rumah harus berpakaian panjang paling tidak celana selutut dan baju lengan pendek, sedangkan pada anak perempuan rok panjang dan baju lengan panjang serta jilbab. Kaos cangcut hanya bisa dikenakan ketika di dalam kamar. Hal-hal seperti ini harus dibiasakan dan dijelaskan alasannya yang mampu diterima anak dengan mudah. Misalnya dengan pakaian tertutup, anak akan terlindung dari segala gangguan kuman dan penyakit. Seiring anak tumbuh dewasa, ia akan mengerti dengan sendirinya.
2.      2. Memberitahu anak daerah-daerah sensitif
Pada dasarnya, jika kita amati sejak kecil anak memiliki rasa malu untuk menunjukkan alat kelaminnya. Jika disentuh ibunya pun, seorang semestinya anak akan kegelian karena tanpa disadari, fitrah memiliki rasa malu telah ada pada tiap-tiap manusia. Selanjutnya, tinggal bagaimana orangtuanya memberi penjelasan mengenai daerah-daerah sensitif tersebut.
Dengan bahasa yang mudah diterima, para orang tua harus memberi pengertian kepada anak bahwa daerah-daerah tersebut tidak boleh dilihat dan disentuh orang lain, dan mengakibatkan suatu hal yang berbahaya bagi anak. Daerah-daerah sensitif itu meliputi alat kelamin dan dada bagi anak perempuan.
3.      3. Memberitahu anak tata krama pergaulan
Pada masanya, seorang anak akan memiliki ketertarikan kepada lawan jenis yakni pada masa pubertas. Jika tidak diberi pemahaman akan batasan-batasan pergaulan dengan lawan jenis, seorang anak dikhawatirkan akan bergaul dengan teman lawan jenisnya sesuka hatinya tanpa ada batasan. Dengan begitu, ia akan mengerti dan memahami batasan-batasan itu.
 
4.      4. Membedakan perlakuan anak perempuan dengan anak laki-laki
           Sejak dini anak harus diperlakukan sesuai kodratnya. Jika ia dilahirkan sebagai anak laki-laki, ia harus diberi pakaian selayaknya anak laki-laki, dengan warna-warna maskulin. Juga diberi mainan selayaknya kesukaan anak laki-laki seperti mobil-mobilan, kelereng, robot-robotan, dan lain sebagainya. Begitu juga anak perempuan, ia harus diberi pakaian selayaknya anak perempuan, dengan warna-warna lembut. Juga diberi mainan selayaknya kesukaan anak perempuan seperti boneka, dan lain-lain. Kesalahan dalam memperlakukan anak bisa mengakibatkan orientasi seksual anak akan berubah, dampaknya bisa terlihat jelas ketika ia beranjak dewasa. Perilaku, sikap dan sifatnya bisa mencerminkan bagaimana ia diperlakukan orang tuanya sejak kecil. Karena menurut teori konvergensi, lingkungan dan keluarga menjadi pembentuk kepribadian anak yang paling mendasar.

5.      5. Mendampingi anak dalam mengakses segala media
Media sekarang ini adalah musuh paling berbahaya bagi seorang anak. Terlebih lagi internet. Segala data apapun masuk ke dalamnya dan mampu diakses hanya dengan hitungan detik. Seiring laju perkembangannya, dengan mudahnya gadget bisa dioperasikan oleh anak. Ketika orang tua telah memberi lampu hijau bagi anak untuk memegang gadget, maka dengan konsekuensi tersebut orang  tua harus mengawasi anak. Agar penggunaan internet bisa dialihkan ke jalur positif, misalnya untuk mengakses video tutorial menggambar, atau game peningkat kecerdasan atau IQ anak. Cerdas menggunakan media akan banyak mengalirkan banyak manfaaat bagi anak, tentunya juga dengan bimbingan dan pendampingan yang benar oleh orang tua.

Minggu, 07 Juni 2015

Peran Guru BK Sebagai Navigator Bagi Para Siswa

           Secara psikologi, masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. (Elizabeth B. Hurlock,1980 :206). Bisa dikatakan usia remaja adalah masa-masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa. Masa ini ditandai dengan semangat yang menggebu-gebu, rasa keingintahuan yang tinggi serta emosi yang meluap-luap yang tak jarang menyebabkan para remaja mudah menyimpang dari norma-norma yang telah ada. Namun jika masa-masa ini terorganisir dengan baik, masa ini bisa menjadi masa emas yang mampu menorehkan sejuta prestasi yang membanggakan.
Manusia adalah makhluk Allah SWT dengan penciptaan yang sempurna. Panca indera dengan masing-masing yang fungsinya begitu menakjubkan, serta penciptaan akal pikiran yang membedakannya dengan hewan. Dengan penciptaan akal pikiran inilah manusia mampu membedakan yang baik dan yang buruk, yang haq dan yang bathil. Namun disamping itu pula manusia diberi hawa nafsu oleh Allah SWT. Barang siapa yang memerangi hawa nafsunya maka kelak ia akan bernaung di syurga-Nya, begitu pula sebaliknya. Hawa nafsu inilah salah satu faktor yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu yang menyimpang dan pemicu timbulnya suatu masalah. Sehubungan dengan itu pula, maka dalam hidup kita tak pernah jauh dari masalah.
Pendek kata, semua orang pasti memiliki masalah. Apalagi pada masa-masa pubertas, masa yang begitu rentan bagi remaja untuk dihadapkan dengan berbagai masalah karena berbagai perubahan yang dialaminya. Masa ini juga disebut dengan periode “badai atau tekanan”, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubaan fisik dan lingkungan social.
Dikarenakan tingkat emosi setiap individu itu berbeda-beda, maka kompleksitas masalah yang dihadapi oleh individu yang satu dengan yang lainnya tentu berbeda-beda. M. Hamdan Bakran Adz-Dzaky (2004:190) mengklasifikasikan masalah individu termasuk siswa sebagai berikut :
1.      Masalah individu yang berhubungan dengan Tuhannya
Adalah kegagalan individu melakukan hubungan secara vertikal dengan Tuhannya, seperti sulit menghadirkan rasa takut, memiliki rasa tidak bersalah atas dosa yang dilakukan, sulit menghadirkan rasa taat. Dampak dari kesemua itu adalah timbulnya rasa malas atau enggan melaksanakan ibadah dan sulit untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang di larang oleh Allah.
2.      Masalah individu berhubungan dengan dirinya sendiri
Adalah kegagalan bersikap disiplin dan bersahabat dengan hati nurani yang selalu mengajak atau menyeru dan membimbing kepada kebaikan dan kebenaran Tuhannya.
3.      Masalah individu yang berhubungan dengan lingkungan keluarga
Adalah kegagalan ketidakmampuan individu dalam menjalin hubungan  yang harmonis dengan keluarganya, missal hubungan yang harmonis antara anak dengan ayah dan ibu, adik dengan kakak dan saudara-saudara lainnya. Kondisi ini akan menyebabkan anak merasa tertekan, kurang kasih sayang, kurang keteladanan dari kedua orang tua.
4.      Masalah individu yang berhubungan dengan lingkungan kerja
Adalah kegagalan individu memilih pekerjaan yang sesuai dengan karakteristik pribadinya, kegagalan dalam meningkatkan prestasi kerja, ketidakmampuan berkomunikasi dengan atasan, rekan kerja dan kegagalan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.
5.      Masalah individu yang berhubungan dengan lingkungan sosialnya
Adalah ketidakmampuan individu melakukan penyesuaian diri (adaptasi) baik dengan lingkungan tetangga, sekolah, ataupun dengan masyarakat. Atau kegagalan dalam bergaul dengan lingkungan yang beraneka ragam watak, sifat dan perilaku.
Jika berbicara fakta, di tengah krisis moral dan modernisasi yang semakin menjadi-jadi, banyak siswa-siswi yang tertekan secara psikis karena ketidakmampuan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Selain faktor usia dan kematangan, relasi dengan keluarga juga memiliki peranan yang cukup penting bagi kemampuan seorang anak dalam menyelesaikan masalahnya. Jika orang terdekat seperti orang tua dirasa tidak mampu menjadi curahan hati anak, maka tak jarang yang menjadi alternatif selanjutnya yaitu lawan jenis. Namun akibat lemahnya kontrol diri dan minimnya pengawasan dari orang tua, tidak menutup kemungkinan hal inilah yang menjadi latar belakang terjadinya berbagai penyimpangan sosial, seperti maraknya free seks dan prostitusi di kalangan para remaja.
Dengan adanya berbagai kasus yang mayoritas backgroundnya adalah siswa-siswi sekolah, maka tidak dapat dipungkiri lagi peran sekaligus uluran tangan guru BK dirasa semakin penting dalam menyelamatkan masa depan putra-putri bangsa. Apalagi guru juga menyandang gelar orang tua kedua bagi para siswa. Disinilah peran bimbingan konseling diharapkan mampu menjadi tempat curahan hati para siswa.
Betapa Mulianya Tugas Konselor

              Menurut Shertzer dan Stone, (1980) konseling adalah upaya membantu individu dengan melalui proses interaksi yang bersifat individu antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, serta mampu mengambil keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif prilakunya. [1]
Dari situ dapat dipahami bahwa Bimbingan konseling adalah konseling adalah bantuan konselor yang di berikan kepada individu dalam memecahkan masalah kehidupannya dengan wawancara dan dengan cara yang sesuai dengan keadaan yang dihadapi individu untuk mencapai kesejahteraan hidupnya.
 Berangkat dari pengertian itu, karena pada akhirnya tujuannya sama yakni mengajak menuju arah yang lebih baik, maka konseling memiliki korelasi yang erat dengan dakwah, dihubungkan dengan nash (teks) Al-Qur’an yang berkaitan dengan kewajiban dakwah yakni :
"وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون"(104)
﴿آل عمران 3/ 104﴾
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran[03]: 104)
            Jadi sudah jelas bahwa tugas untuk menolong atau menyeru kepada kebaikan ini merupakan perintah Allah SWT yang telah termaktub dalam Al-Qur’an. Betapa mulianya tugas seorang konselor. Namun perlu dipahami juga, karena bimbingan dan konseling merupakan usaha bersama, maka tugas ini bukan hanya tugas dan tanggung jawab seorang konselor, namun juga tugas seluruh guru dan kepala sekolah. Mereka bekerja sebagai team work.
Konselor bukan Polisi Sekolah
Tidak selamanya konselor sekolah hanya menangani siswa-siswi yang bermasalah saja. Perlu ditinjau kembali fungsi bimbingan konseling, yakni terdapat fungsi pencegahan (preventif) yang merupakan usaha pencegahan terjadinya masalah. Usaha ini dapat berupa program orientasi, pengarahan, layanan informasi, layanan konsultasi dan lain sebagainya. Dengan adanya berbagai usaha ini maka diharapkan konseling dapat meminimalisir timbulnya berbagai masalah pada peserta didik.
Namun seiring dengan adanya berbagai usaha ini, bahwa anggapan bahwa guru BK adalah sosok yang kejam, menyeramkan, dan mudah menjustifikasi sudah mengakar dalam benak para siswa. Asumsi ini bukan tanpa alasan. Seperti teori Labelling yang dikemukakan oleh Edwin M. Lemert, seseorang dianggap menyimpang karena proses labelling yang diberikan masyarakat kepadanya. Maka tak jarang, seorang guru BK yang dianggap kejam juga akan berlaku seperti asumsi itu. Alasannya adalah terlanjur basah atau kepalang tanggung.
 Jadi dipandang perlu adanya pengapusan image guru BK adalah polisi sekolah. Perlu ditekankan bahwa konselor tidak sepantasnya berlaku seperti image yang dianggap demikian. Seperti yang telah diungkapkan oleh Prof. Dr.H Syamsu Yusuf LN,M.Pd. di aula Fakultas Dakwah UIN Sunan Ampel Surabaya, saat kunjungannya dalam acara workshop Pengembangan Model Konseling Indigerous pada hari Selasa lalu, (13/05/2015) tiga kriteria seorang yang mutlak dimiliki oleh seorang konselor yakni : 1) Knowledge 2) Skill 3) Personality. Kriteria yang terakhir yakni personality. Selain memiliki knowledge yaitu wawasan keilmuan mengenai Bimbingan Konseling dan skill yang mumpuni terutama dalam bidang komunikasi, ia harus memiliki personality atau kepribadian yang unggul. Yakni kepribadian yang berlandaskan Al-qur’an dan sunnah, dalam artian memiliki akhlaq yang mulia serta pekerti yang budiman sehingga mampu menghargai hak-hak orang lain terutama seorang konseli.
Menurut Bahri Mustofa dalam bukunya yakni Bimbingan dan Konseling di Sekolah, upaya untuk menangani siswa yang bermasalah dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yakni : 1) Pendekatan disiplin 2) Pendekatan bimbingan dan konseling.[2] Penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. Pendekatan ini memungkinkan pemberian sanksi untuk memberikan efek jera. Sedangkan disini pendekatan bimbingan dan konseling justru lebih mengutamakan pada penyembuhan dengan berbagai macam teknik yang ada. Sehingga setahap demi setahap siswa mampu memahami diri dan lingkungannya guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik.
            Pada umumnya, proses konseling dikatakan berhasil jika seorang konselor mampu membangun sesuatu dalam diri konseli. Entah itu berupa motivasi, kekuatan spiritual, rasa tanggung jawab, dan lain-lain. Konselor sekolah yang baik adalah yang mampu menjadi navigator bagi para siswa. Yakni mampu menjadi guide yang mengarahkan para siswa yang bermasalah menuju arah yang lebih baik. Juga mengembangkan potensi, minat dan bakat peserta didik yang mampu menjadikannya siswa terampil, kreatif, mandiri serta mempunyai orientasi masa depan yang cemerlang demi nusa dan bangsa. Seiring itu dengan itu pula dibutuhkan sarjana-sarjana lulusan Bimbingan Konseling Islam yang unggul dan kompeten serta telah mengikuti Pendidikan Profesi Konselor, agar mampu turut serta berkontribusi dalam mencerdaskan anak bangsa demi kemajuan Indonesia.





[1]  Achmad Juntika Nurihsan, Bimbingan dan Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan, (Bandung : PT Refika Aditama, 2011), hal 10.

[2] Bahri Mustofa, Bimbingan dan Konseling di Sekolah, (Surabaya: CV Putra Media Nusantara, 2011),hal. 110