Telah dikatakan
bahwasanya tanda-tanda akhir zaman adalah maraknya perzinaan disana sini. Hal ini
terbukti dengan adanya berita penyalahgunaan sex di berbagai media pemberitaan.
Pelakunya bervariasi, mulai dari ayah kepada anak perempuannya, kakek kepada
cucunya, guru kepada muridnya, kakak kepada adiknya, dan lain sebagainya yang
terkadang sulit diterima akal sehat. Namun inilah faktanya, jika nafsu sudah
bergejolak di dalam dada, logika pun tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.
Syaitan rupanya telah mengepakkan sayapnya di atas kelalaian manusia.
Seperti kasus yang
saya temui beberapa hari yang lalu, tepatnya pada hari Jum’at tanggal 11 Maret
2016 . Salah seorang teman mengirim berita di grup W, isinya berupa laporan
berita pembuangan bayi laki-laki di lereng bukit Tengger, Kecamatan Sambit
Kabupaten Ponorogo. Sekitar 3 km dari tempat tinggal saya. Kejadian
ditemukannya bayi tersebut pada tanggal 1 Maret 2016 namun baru berhasil
diungkap hari Jum’at lalu. Pelaku berinisial AN, selaku sang ayah dari bayi
tersebut yang mana pelajar berusia 17
tahun. Pelaku kedua berinisial HP, sang ibu dari bayi yang juga masih merupakan
pelajar berusia 17 tahun. Keduanya berpacaran kurang lebih satu tahun, dan
telah melakukan hubungan suami istri. Karena takut, sang bayi dibuang ketika
lahir.
Singkat cerita,
kedua orang tua si perempuan (HP) bekerja di Kalimantan. HP menempati rumah
orangtuanya seorang diri, dan terkadang menginap di rumah neneknya di seberang
desa. Setelah terkuakknya kasus ini, keduanya diamankan pihak berwajib untuk
kemudian diproses menurut ketentuan yang berlaku, mengingat keduanya masih
berstatus pelajar.
Mendengar berita
ini, merinding sekaligus prihatin batin ini. Diantara percaya dan tidak.
Akhirnya saya klarifikasikan kepada teman saya yang masih tetangga dengan
pelaku (HP). Pasalnya, HP adalah seseorang yang saya kenal baik, juga tidak
neko-neko. Namun apa mau dikata, jagung telah menjadi popcorn atau istilahnya
nasi telah menjadi bubur. Semua sudah terjadi. Lalu terfikir dalam benak saya,
“Siapa yang bersalah dalam kasus seperti ini? Tidak selamanya anak akan terus
disalahkan. Karena apapun yang terjadi pada mereka, sudah pasti adalah bentukan
dari kedua orang tuanya.”
Dengan melalui dasar-dasar pendidikan dari orang tua, islam
mensyariatkan bahwasanya orang tua adalah penanggung jawab atas putra-putrinya.
Pengenalan akidah yang baik dan penanaman akh laq
menjadi suatu keharusan agar mereka mampu menjadi generasi islam yang lebih
baik, di dunia maupun di akhirat. Seperti diriwayatkan dalam hadits:
“Seseorang itu adalah penggembala di lingkungan rumah tangganya dan
bertanggung jawab terhadap gembalaannya”.
Maka tidak dapat
dipungkiri, peran orang tua dalam mendidik anak-anaknya tentang sex sangat
diperlukan. Karena pada usia anak-anak, rasa penasaran pasti akan selalu muncul
mengenai hal-hal baru yang mereka temui. Jika orang tua sebagai orang
terdekatnya tidak memberinya pengertian, maka yang terjadi ia akan menyerap
mentah-mentah apa yang ditontonnya, didengarnya dari teman-teman sebayanya,
atau media lain. Sedangkan pada usia anak-anak, filter yang mereka punyai belum
cukup untuk menyaring mana yang harus mereka terima sebagai suatu pembelajaran,
dan mana yang harus mereka tolak sebagai larangan. Dalam hal inilah peran orang
tua sangat penting, khususnya untuk mendampingi anak dalam proses
pendewasaannya. Terutama seorang ibu.
Mengapa ibu?
Tidakkah ayah? Jawabannya adalah karena ibu adalah sosok pendidik pertama bagi
mereka, para anak-anak. Sebaik-baiknya seorang ayah mendidik, anak akan tetap
memiliki kedekatan tersendiri dengan seorang ibu sehingga nilai-nilai yang
ditanamkan seorang ibu biasanya lebih cepat mengena dan menancap dengan kuat
dalam diri sang anak. Dari siniilah kita sadari pentingnya peran seorang ibu
dalam mengajarkan pendidikan seks kepada anak-anaknya. Meskipun pada dasarnya
anak menerima pembelajaran terkait dengan hal tersebut di sekolah, biasanya
hal-hal yang langsung diterima melalui praktek langsung dalam keseharian, lebih
cepat diterima oleh sang anak dan membentuk dirinya.
Beberapa hal di
bawah ini dapat dilakukan oleh para orang tua untuk membentuk karakter anak
menjadi generasi muslim anti sex bebas, diantara lain adalah sebagai berikut :
1. 1. Mengajarkan batasan-batasan aurat yang harus ditutup
Sejak dini, anak harus diajarkan
tentang batasan-batasan aurat bagi anak perempuan dan anak laki-laki. Apalagi
ketika si anak sudah beranjak dewasa yakni berumur 15 tahun keatas, yang mana
pada usia-usia tersebut seseorang dikatakan telah baligh. Pada suatu hadits
yang diriwayatkan oleh Imam Nawawi, batasan baligh adalah ketika berumur 15 tahun.
Seorang anak laki-laki sudah dihukumi mukallaf meskipun belum pernah mimpi
basah, juga anak perempuan yang belum pernah haid namun sudah dihukumi baligh.
Pada usia tersebut, anak seharusnya
telah mengetahui batasan-batasan aurat yang disyariatkan oleh islam. Pada anak
laki-laki yakni pusar sampai lutut, dan perempuan berlaku seluruh tubuh kecuali
muka dan telapak tangan. Sebagai bentuk konkritnya, orangtua mengajarkan adab
berpakaian yang baik dalam segala keadaan. Misalnya bagi anak laki-laki untuk
keluar rumah harus berpakaian panjang paling tidak celana selutut dan baju
lengan pendek, sedangkan pada anak perempuan rok panjang dan baju lengan
panjang serta jilbab. Kaos cangcut hanya bisa dikenakan ketika di dalam kamar.
Hal-hal seperti ini harus dibiasakan dan dijelaskan alasannya yang mampu
diterima anak dengan mudah. Misalnya dengan pakaian tertutup, anak akan
terlindung dari segala gangguan kuman dan penyakit. Seiring anak tumbuh dewasa,
ia akan mengerti dengan sendirinya.
2. 2. Memberitahu anak daerah-daerah sensitif
Pada dasarnya, jika kita amati sejak
kecil anak memiliki rasa malu untuk menunjukkan alat kelaminnya. Jika disentuh
ibunya pun, seorang semestinya anak akan kegelian karena tanpa disadari, fitrah
memiliki rasa malu telah ada pada tiap-tiap manusia. Selanjutnya, tinggal
bagaimana orangtuanya memberi penjelasan mengenai daerah-daerah sensitif
tersebut.
Dengan bahasa yang mudah diterima,
para orang tua harus memberi pengertian kepada anak bahwa daerah-daerah
tersebut tidak boleh dilihat dan disentuh orang lain, dan mengakibatkan suatu
hal yang berbahaya bagi anak. Daerah-daerah sensitif itu meliputi alat kelamin
dan dada bagi anak perempuan.
3. 3. Memberitahu anak tata krama pergaulan
Pada masanya, seorang anak akan
memiliki ketertarikan kepada lawan jenis yakni pada masa pubertas. Jika tidak
diberi pemahaman akan batasan-batasan pergaulan dengan lawan jenis, seorang
anak dikhawatirkan akan bergaul dengan teman lawan jenisnya sesuka hatinya
tanpa ada batasan. Dengan begitu, ia akan mengerti dan memahami batasan-batasan itu.
4. 4. Membedakan perlakuan anak perempuan dengan anak laki-laki
Sejak dini anak harus diperlakukan sesuai kodratnya. Jika ia
dilahirkan sebagai anak laki-laki, ia harus diberi pakaian selayaknya anak
laki-laki, dengan warna-warna maskulin. Juga diberi mainan selayaknya kesukaan
anak laki-laki seperti mobil-mobilan, kelereng, robot-robotan, dan lain
sebagainya. Begitu juga anak perempuan, ia harus diberi pakaian selayaknya anak
perempuan, dengan warna-warna lembut. Juga diberi mainan selayaknya kesukaan
anak perempuan seperti boneka, dan lain-lain. Kesalahan dalam memperlakukan
anak bisa mengakibatkan orientasi seksual anak akan berubah, dampaknya bisa
terlihat jelas ketika ia beranjak dewasa. Perilaku, sikap dan sifatnya bisa
mencerminkan bagaimana ia diperlakukan orang tuanya sejak kecil. Karena menurut
teori konvergensi, lingkungan dan keluarga menjadi pembentuk kepribadian anak
yang paling mendasar.
5. 5. Mendampingi anak dalam mengakses segala media
Media sekarang ini adalah musuh
paling berbahaya bagi seorang anak. Terlebih lagi internet. Segala data apapun
masuk ke dalamnya dan mampu diakses hanya dengan hitungan detik. Seiring laju
perkembangannya, dengan mudahnya gadget bisa dioperasikan oleh anak. Ketika
orang tua telah memberi lampu hijau bagi anak untuk memegang gadget, maka
dengan konsekuensi tersebut orang tua
harus mengawasi anak. Agar penggunaan internet bisa dialihkan ke jalur positif,
misalnya untuk mengakses video tutorial menggambar, atau game peningkat
kecerdasan atau IQ anak. Cerdas menggunakan media akan banyak mengalirkan
banyak manfaaat bagi anak, tentunya juga dengan bimbingan dan pendampingan yang
benar oleh orang tua.
