Senja
mulai menyingsing. Jalan setapak yang sedikit becek membuatku harus
berhati-hati karena hari sudah mulai gelap. Sepeda butut yang ku pinjam dari
mang Ujo temani langkahku menuju pesantren. Yap! 6 tahun terakhir ini aku
menimba ilmu di pesantren Al-Inayah. Salah satu pesantren
salafiyah-modern di pelosok Sukabumi, Jawa Tengah. Uniknya, orang sering
menyebut pesantrenku sebagai ‘pesantren rimba’. Karena pesantren ini terletak
di kaki gunung yang berhadapan langsung dengan hamparan hutan pinus.
Orang kerap menyapaku dengan
panggilan Nida. Padahal nama yang disematkan orang tuaku Nahdiya An-Niswah,
tidak nyambung bukan? Namun ini terlanjur kebiasaan mereka, jadi aku no
problem. Sebuah kampung di kabupaten Kuningan Jawa Barat menjadi tanah
kelahiranku 17 tahun yang lalu. Aku terlahir tanpa ibu disampingku. Ibu
meninggal saat persalinan. Ayahku tinggal bersama nenek dan kakekku di kampung.
Keadaan daerahku yang masih terbelakang mendorong ayahku untuk membawaku ke
tempat ini. “Kamu terlahir untuk masyarakat nak. Maka carilah bekal
sebanyak-banyaknya di ladang ilmu ini dan kelak kembalilah ke masyarakat. Ayah
mendo’akan dirumah dan menanti kamu kembali.” inilah kata-kata terakhir ayah 5
tahun yang lalu yang sangat menempel dalam dinding memoriku.
Gerbang
pesantren rupanya sedang terbuka. Aku mengendap-endap bak maling ayam, namun ku
tersadar di pesantren tidak ada ayam (ih ngaco banget aku ini). Lalu ku taruh
sepeda mang Ujo di tempat parkir di samping masjid. Segera ku percepat langkah
kakiku sembari celingukan melihat kanan kiri. Takut kepergok sama si judes mudabbiroh
berkacamata lebar itu. Salah satu mudabbiroh yang terkenal sangat galak dan
tidak bisa tersenyum itu terkadang menjadi bahan guyonan teman-teman karena
kacamatanya yang lebar dan sering mengantuk disetiap kesempatan.
Lagi-lagi sore ini aku meninggalkan salah satu
ekstrakurikuler santri yaitu kajian jurnalistik bersama Gus Hanif. Putra Kiai
Abdullah (Pimpinan Pesantren) yang terkenal ahli dalam bidang tulis-menulis
itu. Apalagi di bidang sastra. Tidak tanggung-tanggung, Gus Hanif telah
menjuarai berbagai ajang kompetisi karya tulis-menulis Beliau adalah salah satu
sosok yang menginspirasiku untuk semakin giat menulis. Aku suka imajinasi.
Bahkan terkadang karena kadar imajinasiku tingi, aku sering melamun. Bahkan aku
sering berpuisi, menulis bait-bait sastra dimanapun itu tempatnya. Tembok kamar
mandi yang bersih pun tercoret dengan tinta spidolku. Inilah yang sangat
menjadi pertimbangan bagiku karena aku sangat menyukai sastra meskipun
karya-karyaku masih belum bisa dibilang bagus.
Sekarang
fikiranku sedang terfokus pada seorang perempuan paruh baya yang mengabdikan
diri di pesantren sebagai tukang masak lebih dari 25 tahun, beliau
kerap disapa bi Uni. Beliau tidak pernah diberi upah oleh pesantren karena
memang pesantren ini tidak memberlakukan sistem upah bagi para tenaga kerja. Pesantren
hanya memberi sembako setiap bulan bagi setiap tenaga kerja. Hal ini
dilatarbelakangi karena pesantren tidak memiliki dana lebih untuk membiayai
pekerja-pekerjanya. Maklum, semua santri disini dibebaskan biaya nyantri alias
gratis. Hanya saja untuk biaya pendidikan santri tetap dikenakan SPP tiap
bulannya.
Hidup
adalah pilihan dan inilah pilihanku. Aku harus mengorbankan kajian jurnalistik
demi bi Uni. Sosok wanita yang sangat mengagumkan bagiku. Aku sudah menganggap beliau
ibuku sendiri karena beliau sangat penyayang, ramah serta simpati kepada setiap
santri. Beberapa hari ini kulihat bi Uni semakin lemah karena penyakit yang menggerogoti
tubuhnya. Wajahnya pucat dan sering muntah-muntah. Pernah suatu ketika aku
memergoki bi Uni sedang membaca surat keterangan kesehatan dari dokter, dan
ternyata beliau mengidap penyakit ginjal yang sudah mencapai stadium III. Tiada
seorangpun yang membantunya di rumah karena beliau tidak dikaruniai anak.
Sedangkan suaminya telah lebih dahulu berpulang ke rahmatullah. Semakin berdosa
rasanya kalau aku tidak meringankan bebannya karena hanya aku satu-satunya
orang yang tahu masalah ini. Bi Uni tidak mengizinkanku menyebarluaskan masalah
ini kepada orang lain.
Beberapa
hari ini aku putuskan untuk menggantikan pekerjaan beliau sebagai penjual
gorengan. Awalnya bi Uni tidak mengizinkanku, namun aku tetap memaksa dengan
dalih demi membalas budi kepada bi Uni yang telah berbuat banyak untuk
pesantren. Oh iya, sekarang aku menduduki kelas terakhir madrasah Aliyah.
Sepekan terakhir ini setiap sore setelah pulang dari sekolah aku berkeliling
menjual gorengan di desa-desa dengan berjalan kaki. Semoga mudabbiroh
(pengurus) tidak melihatku.
Ku terus
melangkah menapaki panjangnya koridor asrama putri. Hatiku lega setelah melintasi kantor mudabbiroh karena
tidak ada seorangpun yang nampak disana. Ku bergegas naik tangga dan brukk!!!
Aku menabrak seseorang. Dan ternyata, “Mudabbiroh! Mati aku!” Ukhti Ida
salah seorang mudabbiroh jutek yang telah ku ceritakan diatas tadi,membawaku
menuju kantor pengasuh. Aku hanya diam mengekor di belakang. Dengan sedikit
kecemasan, ku masuki ruang pengasuh. Ustadzah Nurul nampaknya sedang menantiku.
Beliau telah duduk dengan menyiapkan buku pelanggaran di depannya. Jantungku
berdegup kencang karena ini sudah ke-3 kalinya aku terlambat masuk pesantren
dan sekali tidak ikut ekstra.
“ Nida! Kamu
lagi, kamu lagi! Kamu ini santriwati senior, tidak malu dilihat adik-adikmu?
Kamu ini diharapkan menjadi contoh bagi mereka, bukan sebaliknya! Sudah berapa
kali kamu terlambat masuk pesantren, tidak ikut ekstra. Sebenarnya kamu ini
kemana saja? Belajarlah bertanggung-jawab atas pilihanmu” kata-kata ini telah
ku dengar ke-4 kalinya terlontar dari Ustadzah Nurul. “Ke-4 kalinya ustadzah”
jawabku lirih. Ustadzah nurul diam. Beliau memandangku sejenak sembari
menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sebagai ta’dzir, kamu harus bisa
membuat pondok ini tenar di masyarakat. Terserah kamu mau berbuat apa untuk membuat
pondok ini terkenal dalam waktu satu Minggu, mengerti?” Ucap Ustadzah Nurul dan
aku pun mengangguk tanda mengerti.
Inilah
konsekuensi yang harus aku tanggung. Malam hari selepas syawir (belajar
bersama) bersama seluruh santriwati, aku naik di atas genteng asrama
putri, mencari kedamaian seraya menunggu wangsit. Sungguh tidak habis pikir, aku
heran dengan ta’zir kali ini. Sangat berbeda dengan ta’zir-ta’zir
sebelumnya. Biasanya kami hanya disuruh membersihkan kamar mandi, menyapu halaman
pondok, ataupun mengepel lantai masjid. Namun ta’zir kali ini membuatku
pusing tujuh keliling. Keadaan semakin sempit rasanya ketika berbagai halangan
menerjang.
Aku pun
mulai menulis di bawah terangnya cahaya sang rembulan. Belum sampai menulis dua
baris, tiba-tiba ada suara yang menagagetkanku. rupanya Gus Hanif melihatku
dari aula lantai dua. Beliau berkata “Nida, kamu tidak sakit kan? Kamu ini anak
perempuan kok bisa-bisanya naik di atas genteng di malam hari seperti ini.” Aku
hanya cengengesan tanpa menjawab gus Hanif, lalu aku segera turun menuju lantai
III asrama putri. “Ah, gus ini gimana, wong itu tempat aku mendapatkan wangsit.
Kalau rasulullah yang mendapatkan wahyu di Gua Hira, aku juga butuh tempat yang
sepi biar dapet wangsit berupa inspirasi-inspirasi.” Gerutuku sembari membuka
pintu kamar. Sang waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB lalu ku putuskan untuk
istirahat, mengingat besok aku masih harus berjualan gorengan bi Uni.
Ketika
malam bersihkan wajahnya dari bintang-bintang
Fajar
pun telah siap menyapa hari
Secerah
cahaya mentari pagi
Secerah
itu pula semangatku hari ini
Lantunan
syair-syair penggugah kalbu ini mengiringi kayuhan sepedaku menuju rumah bi
Uni. Sekitar 2 KM dari pesantren. Untung ada sepeda mang Ujo yang aku pinjam
beberapa hari ini guna untuk berjualan gorengan. Sembari menunggu bi Uni yang
sedang menggoreng kwetiaw. Tanganku tergerak untuk mencari pena, dan mulai menari-nari
diatas kertas. Entah mengapa inspirasi selalu datang dari arah mana saja.
Asalkan ada pemicunya yaitu semangat. Tidak perlu langkah konyol seperti yang
kulakukan tadi malam. Malu rasanya mengingat bahwa yang memergokiku adalah gus
Hanif, sang idola pujaan hati.


Bila masih terurai sungai dimata, biarlah ia mengalir..
Jangan pernah dibendung..
Karena ruang suara terisi keindahan surgawi..
Dan dikala tahajjud memanggil, hati
menolaknya..
Tubuh terlalu naif tuk beranjak pergi..
Menuju singgasana sejahtera abadi..
Wahai
ayat-ayat cinta..
Kemanakah sungai dimataku harus mengalir?
Sudahkah sang hamba menunduk malu..
Kemanakah sungai dimataku harus mengalir?
Sudahkah sang hamba menunduk malu..
Di
hadapan Sang Maha Cinta..
Saat
sajak indah mengalun syahdu..
Hati merayu rindu, tanda munajat pecinta pada
yang dicinta..
Cinta
yang tiada matinya, tiada pula duanya..
Nikmatnya
cinta ini hingga membuat pecintanya buta akan dunia..
Tuli akan
godaan, lumpuh akan maksiat..
Nahdiya Annida
“Mbak Nida, ini gorengannya sudah
siap.” Suara bi Uni sontak mengagetkanku, “Oh iya Bi, saya berangkat dulu kalau
baegitu” Jawabku kemudian memasukkan kertas kedalam keranjang gorengan. Karena ini
hari Minggu, ku putuskan untuk berjualan di taman dekat telaga yang lokasinya tidak
jauh dari sini. Biasanya taman itu ramai oleh pengunjung yang berlibur dan
menghabiskan waktu untuk bersantai di pinggir telaga.
“Mbak,
gorengannya boleh? Teriakan seorang pria berkacamata menghentikan langkahku.
“Alhamdulillah..ternyata semangatku berbuah manis” bisikku riang di dalam hati.
“Oh iya pak, ini silahkan, mau kwetiaw goreng, pisang goreng, bakwan, atau
risoles, semua tersedia dan tentunya semuanya mantap!” Gini nih kalau lagi
promosi. Pria itu memesan 2 potong risoles. Segera ku ambilkan kertas untuk
membungkus risoles, lalu ku serahkan kepada kepadanya. Ucapan terimakasihnya
mengiringi langkahku menuju taman bagian belakang. Ternyata peminat gorengan
cukup banyak, mengingat harganya yang murah meriah dan penjual makanan yang
lain belum datang. Inilah fakta yang terjadi kalau orang bangun kesiangan itu
rejekinya bisa dipatok ayam. Alhamdulillah. Akhirnya daganganku habis.
Pohon
rindang di ujung jalan keluar dari taman
menjadi tempatku melepas lelah. Aku duduk dan sesekali meminum air yang ku bawa
dari rumah bi Uni tadi. Tiba-tiba ada seorang pria yang menghampiriku.
Nampaknya aku mengenali orang ini yang tidak lain adalah pembeli pertamaku pagi
tadi. “Aduh pak maaf sudah habis ini gorengannya”. Tuturku. “Oh saya bukan mau
beli gorengan, Cuma mau nanya aja mbak” ujar pria itu. “Oh iya silahkan,” aku
semakin takut karena pria ini terlihat tegang. “Mbak suka sastra ya?” pria itu
bertanya. Lalu akupun menjawab “Iya, kok bapak tahu? Jangan-jangan bapak
peramal? Atau jangna-jangan bapak tukang hipnotis? Jangan hipnotis saya, saya
harus pulang ke rumah bi UNI memberikan uang hasil saya jualan” ujarku dengan
penuh rasa ketakutan. Pria itu spontan berkata “Oh tidak, saya ini orang biasa
mbak. Saya tertarik dengan puisi di kertas yang mbak kasih ke saya untuk
pembungkus gorengan tadi. Saya tidak sengaja membacanya”. Jelas pria itu. Lalu
aku berfikir sejenak bahwa kertas yang berisi coretan-coretan puisiku tadi pagi
ternyata ku pakai untuk bungkus gorengan yang dibeli wanita itu. “Ah itu saya
cuman iseng saja bapak” ungkapku sembari cengengesan.
Waktu
ternyata telah menunjukkan pukul 11.30 siang, tidak terasa aku menghabiskan
waktuku untuk ngobrol dengan pria tadi yang ternyata beliau adalah seorang
penulis majalah kota Sukabumi yang sedang mencari anak-anak muda yang memiliki
karya dan berlabel pesantren. Ungkapnya, tulisanku akan dimuat dalam majalah
terbitan minggu depan dan pimpinan pondokku juga akan diwawancarai mengenai
minat menulis santriwan santriwati di pondok. Betapa bahagianya aku. Bagaimana
tidak, semua hanya berawal dari ketidaksengajaan. Yang lebih membahagiakan, aku
tidak perlu pusing memikirkan ta’zir yang diberikan usatdazah Nurul
kepadaku. Akupu mengucapkan beribu terimakasih atas kesempatan emas yang telah diberikan.
Tak lama
kemudian aku pulang ke rumah bi Uni dan memberitahu Bi Uni mengenai kabar
bahagia ini. Bi Uni mengelus pundakku, layaknya seorang ibu kepada anaknya. Aku
memeluk bi Uni. Kemudian ku serahkan seluruh uang hasil jerih payahku hari ini
kepada bi Uni. Bi Uni nampak bahagia karena uang hasilku berjualan cukup
banyak. “Bi, pokoknya bi Uni harus berobat ke pengobatan alternatif secepatnya,
nanti saya antar” ungkapku kepada bi Uni. Kemudian beliau tersenyum sembari
mengangguk, beliau berterimakasih kepadaku atas bantuanku selama ini. Ternyata
Allah memberkahi pengorbananku selama ini. Aku mendapatkan hal-hal yang tidak
pernah kubayangkan sebelumnya. Pria yang kerap disapa mas Dito itu berharap aku
selalu menulis sastra demi mengisi kolom sastra di majalahnya. Ungkapnya, karya
sastra yang kutulis sangat berkesan dan bernilai. Respon positif juga datang
dari Gus Hanif, beliau berkata “Tidak perlu lagi naik ke atas genteng untuk mencari
wangsit, kamu telah menjadi orang hebat sekarang”. Aku tersenyum simpul dan
berbisik di dalam hati “Semua karena inspirasi dari sampean gus”. Aku bahagia
hidup di pesantren in. Akankah kelak akan ku temukan imam dari keluarga kecilku
di pesantren ini, wallahu a’lam bi al-shawwab.
suasana pesantren. its nice to published being a novel. cheers :)
BalasHapusthank you sister, but i think this story is too simple to be a novel..
HapusTitian langkah bersama sang guru besar.. dri judulnya saja membuat seseorang tertarik untuk membacanya...
BalasHapusSaya tunggu bukunya di terbitkan