Pages

Minggu, 17 Juli 2016

Cerpen - "Gara-gara Baperisme"



‘Pagiku hilang diambil ayam’. Mungkin itu ungkapan yang tepat untuk pagiku ini. Udah bangun kesiangan, rumah kotor semua, ibu marah-marah, dan sebagainya. Duuuh... gak bisa dibayangkan betapa kacaunya pagiku ini. Karena hari sudah menjelang siang, aku hanya menyapu ala kadarnya. Hanya ruang tv dan dapur. Lantai super lebar di ruang tengah tak sempat tersapu karena aku harus membantu ibu memasak di dapur.

Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB. Masak memasak selesai. Akhirnyaa.. huft. Kurebahkan badanku di lantai kamar, sembari menyelonjorkan kedua kakiku. Beberapa saat kemudian aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Zzzzz....

***

“Nduuk... bangun, mbak Risa dan mbak Salia datang” suara ibu beserta ketukan di pintu kamar terdengar samar samar di telingaku.

“Hmmm....” aku masih setengah sadar.

Karena tak mendengar responku, ibu masuk kamar, menggoyang-goyangkan lenganku sehingga mataku perlahan kubuka paksa. “Mbak Risa dan Mbak Salia datang nduk, ayo bangun, salim sama gus juga loh”. Aku terperanjat. Bukan karena perkataan ibu barusan. Tapi telingaku mendengar cekikak-cekikik tawa beberapa laki-laki. Sepertinya sebayaku. Ah, siapa ya. Akhirnya aku bangun. Sejenak ku cuci mukaku dan gosok gigi supaya tidak terlihat seperti orang baru bangun tidur. Meski ku tahu usahaku pasti tidak terlalu berhasil. Tetap saja mataku terlihat merah. Mukaku terlihat kucel.

Aku masih setengah sadar. Ku dudukkan diri di kursi dapur. Masih diam memperhatikan ibu yang sibuk sendiri dengan piringnya yang ditumpuk beberapa buah. Rasa enggan bercampur malu membuatku betah berlama-lama duduk di atas kursi itu. Yah, bisa dibilang tamu kali ini kerabat dekat. Namun hanya silaturrahim ketika lebaran, jadi ya agak sungkan meski hanya sekedar jabat tangan. Apalagi mendengar  suara-suara cekikikan tadi.

“Ayo, salim sana”. Tutur ibu. Kini ibu menata air mineral di atas baki.

“Aduh, malu bu. Ada siapa saja sih?” tiba-tiba aku gemetaran

“Ada gus Fatih, mbak Risa, mbak Salia dan dua kang santrinya” tutur ibu

“Aduh, ndak usah aja ya bu. Malu ih” aku mulai merasa aneh.

“Kamu ini sudah besar, masa masih malu. Ndak wajar.” mbakku mulai bawel

“Aah.. bukan gitu mbak. Disalamin semua kah bu?” aku masih ragu-ragu.

“Iya, ndak papa, sama saudaranya sendiri kok.” ibu menjawab santai.

Huft. Akhirnya ku beranikan diri melangkah menuju ruang tamu. Langkah kakiku terasa berat sekali bak prajurit bersepatu besi. Tanganku tiba-tiba mendingin.  Mau tak mau, aku telah berada di hadapan para tamu. Satu persatu aku salami dengan badan sedikit ku tundukkan. Ku cium tangan gus Fatih, “Ngalap barokah gus pondok”, batinku berceracau. Gus Fatih adalah suami dari mbak Riri, sepupuku. Namun mbak Riri sudah kembali keharibaanNya belasan tahun yang lalu. Sedang mbak Risa dan mbak Salia adalah kedua putrinya. Mbak Risa seumuran denganku, adiknya, mbak Salia enam tahun dibawah kami. Ketika tiba saatnya bersalaman dengan kedua kang santri yang dibawa gus Fatih, aku sempat ragu untuk sekedar menjulurkan tangan.  Dan keraguanku ternyata membawa berkah. Belum sempat aku menjulurkan tangan, kedua santri itu sudah memberi isyarat salim tanpa berjabat.  Huft. Sudah kuduga. Batinku berceracau sendirian. Aku tetap tersenyum.

Selepas salim, aku duduk menyatu bersama mereka. Seperti layaknya kerabat yang jarang bertemu, aku ditanyai berbagai macam hal, yang kugeluti sekarang. Mulai dari sekolah, tempat tinggal, rutinitas, dan lain sebagainya. Begitupun mbak Risa dan mbak Salia. Kami saling berbagi pengalaman. Di tengah hangatnya obrolan kami, sesekali, mataku tidak sengaja menangkap sunggingan senyum santri berkopyah hitam diseberangku. Dimulai dari sesekali, namun kini mereka berdua (mata) mulai berdurasi. Beberapa detik sekali mataku mengekori senyumnya. masyaAllah... Jiwa kebaperanku kayaknya mulai mode on nih, tak bisa kuhindari. Aku memilih undur diri ke belakang, sebelum aku ketahuan diam diam curi pandang.

***

“Hayooo... ngapain kamu?” kakak mengagetkanku.

“Ih, apa sih kak.” aku tetap asyik senyum-senyum sendiri di balik tirai jendela yang menghubungkan kamarku dengan ruang tamu.

“Udah ih, itu tamunya sebentar lagi mau jama’ah ashar di ruang tengah”

“Hmmmmhh.. iya iya kak, sebentar..”ucapku datar. Sosok berkopyah dengan batik putih bermotif hijau, mengalihkan duniaku. Kuamati gerak-gerik matanya, tangannya yang sedang menyendok nasi, caranya mengunyah, caranya tertawa, “oh my God.... “. Seolah-olah aku berada di hadapannya. Memandanginya, menambahkan lagi nasi dan lauk untuknya. Agar dia tertawa lagi, bahagiaa rasanya.

“Lilis, buruann....” kini kakakku menarik ujung jilbabku dari belakang, sontak aku kaget.

“Aiih... kakakk” ku akhiri eksplorasi bebasku dibalik tirai itu.

Lantas aku bergegas menuju ruang tengah. Betapa kaget bukan kepalang aku melihat lantai yang super berantakan seperti kapal pecah. Mainan berserakan disana sini, potongan-potongan kertas bertebaran di atas lantai. “Oh iya, tadi pagi belum sempat kubersihkan. Duh mamiii.....” Aku mulai panik. Para tamu sudah bergegas ke belakang untuk mengambil air wudhu. Tanpa pikir panjang, aku segera memunguti kertas-kertas kecil yang berserakan dan merapikan mainan bocah-bocah kecil kami. Kugelar karpet, kemudian menyapu di sekelilingnya. Semoga kalian tidak ketahuan, wahaipara debu di bawah karpet. Huhu... berlindunglah baik baik yaa.. batinku bercaracau lagi. Mencoba mengajak kerjasama para debu.

***

Para tamu sudah selesai shalat berjamaah. Aku bergegas membereskan meja ruang tamu yang masih penuh oleh bekas makan siang para tamu. Membawanya satu  persatu ke meja dapur. Untung saja mbak Risa dan mbak Salia membantuku. Aku mengentikan langkahku di ambang pintu dapur. Bersandar sejenak untuk melepas lelah. Ku hembuskan nafas panjangku, menghirup udara senja hari dan melepaskannya lagi. “Apakah begitu hakikatnya jodoh? Bertemu untuk berpisah? Bercinta untuk patah hati?” Entahlah... yang pasti dan kuyakini, “Jodoh pasti bertamu, meski sebelumya tak pernah bertemu. Afghan hanya sok tahu kali ya. Hehe. Belum selesai aku berbincang dengan senja, panggilan bapak memecah keheningan rumahku.

“Nduuk,”

“Inggeh pak” aku segera menuju ruang tamu

“Mbak Lis, kami mau pamit” mbak Salia sudah didepanku, menjulurkan tangannya.

“Ya Allah kok buru-buru mbak, gak nunggu setelah maghrib sekalian?”

“Inggeh mbak, makasih.”

“Pamit nggeh nduk” gus Fatih menyalamiku, diiringi kedua santrinya yang menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Aku menyambutnya dengan cara yang sama. Tapi dengan kadar senyum yang berbeda. Senyumku tertahan, berbumbu malu. Heheh... Itulah salaman ala santri. Hehe. Batinku tak bisa diam. Mulai baper dengan makhluk berkopyah hitam itu. kami mengantarnya sampai teras depan. Senja mengiringi kepergian mereka. kalau Tuhan mengizinkan, tentu mereka akan bertamu lagi.

Tiba-tiba bapak memanggilku, mengajakku duduk di ruang tamu. Sepertinya ada suatu hal penting yang ingin bapak utarakan. “Nduk, gus berniat meminangmu”. Ucap bapak lirih. Betapa riang bukan kepalang aku mendengar ucapan bapak. “Bapak bercanda ah... siapa namanya pak? Yang berkopyah hitam bukan? Yang pakai batik warna putih bukan?”aku mulai ingin tahu dengan sosok yang dibicarakan bapak. Dengan sorot mata berbinar-binar,ku pegang tangan bapak yang sedari tadi ingin menyeruput sisa kopinya. “Iya, sebentar.. tanggung ini kopinya”. Bapak tegang. Aku yang menunggunya tak kalah tegang.

“Gus Fatih nduk yang bapak maksudkan” tutur bapak. DEG... Jantungku seperti berhenti berdegup. Dandelion-dandelion alias ilalang di pinggir jalan depan rumah seolah kaku, tak mau bergoyang karena terpaan angin senja. Kambing-kambing di belakang rumah seolah berhenti mengunyah rumputnya yang lezat bak mie ayam. Burung-burung pipit di pepohonan samping rumah, seolah olah tersedak cabai, sehingga kicauannya terdengar parau. Cicak-cicak di dinding, seolah ingin menjatuhkan diri di sofa empuk disampingku. Bumi seolah gonjang-ganjing mendengar pernyataan bapak yang sontak sangat mengagetkan.

“Gus Fatih pak”? kataku, memastikan ucapan bapak.

“Iyaa nduk” bapak mengangguk mantap.

Ini bukan so swit lagi, namun so pait. Yang benar saja, masa iya aku yang seumuran mbak Risa (anak pertamanya) juga dilirik. Apa mungkin gus Fatih lupa dengan umurnya. Atau aku yang lupa umurku. Eh, enggak. Sangat tidak wajar sekali. Aku hanya diam, batinku berceracau sendiri. Menatap dalam-dalam sisa kopi dalam gelas yang tersaji di meja.

“Aaaaa.... gak mungkiin. Lalu bapak bilang apa?”

Bapak hanya menganggapnya candaan, tahu sendiri kan memang wataknya begitu. Semenjak ditinggal mbak Riri, dia memang berusaha mencari ibu untuk nduk Risa dan nduk Salia. Namun sampai sekarang ya belum dapat.”

“Huft, hampir saja. Gak kebayang pak”

“Maksudmu piye nduk?”

“Eh, ndak pak. Tapi bapak pertegas kan pak?”

“Iya, bapak bilang saja kamu sudah ada pilihan, dan sudah sama sama setuju”

“Waduh pak, ada dari mana?

Kan itu do’a tah nduk, memangnya kamu mau bapak bilang kalau kamu masih sekolah, terus dia nunggu kamu sampai lulus?”

“Ya ndak lah pak.” Aku masih ketakutan

“Naah.. kan. Yakinlah kalau sudah masanya, mudah saja kalian bertemu

“Semoga pak..” aku mengakhiri obrolan senjaku dengan bapak.

Langkahku bergegas ke kamar, aku masih diantara percaya dan tidak. Sedikit rasa takut mulai menjalar di relung hatiku. Bagaimana tidak, sedari tadi aku membayangkan dapat diperistri santri berkopyah hitam itu. namun realita yang terjadi, malah gus Fatih yang diam-diam ingin menikahiku. Cintaku salah sasaran. Alamaaakkk... gak kebayang deh. Akhirnya kulepas senja yang beranjak pamit dengan mengambil air wudhu, kemudian shalat jama’ah di mushalla depan rumah. Ya Allah, nikmatnya masih single, tak akan terbayar dengan hal apapun.

Semenjak itu aku benar-benar takut, takut akan kata-kata ‘nikah’ itu. jangankan nikah, baper pun tak sempat terpikirkan. Aku sudah lupa akan baperku. Aku sudah lupa bapernya melihat pasangan yang baru saja menikah. Aku sudah amnesia dengan baperku. Ya.Aku lebih menata hati lagi, menjaga setiap tindak tandukku dulu, sebelum berurusan dengan hal ribet semacam itu. Takut salah sasaran lagi. Takut ada yang melirik lagi. De el el. Sungguh aku takut.


***

Beberapa bulan kemudian, aku sudah mengurus perlengkapan untuk wisuda. Beberapa hari ke depan aku akan melangsungkan prosesi wisuda bersama teman-teman seangkatanku. Bahagia terasa memenuhi relung hati. Studiku selesai tepat waktu. Namun di momen spesial ini, tak kunjung kutemukan someone yang disebut-sebut orang sebagai ‘jodoh’ itu. Setidaknya bisa lah untuk dijadikan pendamping dalam sesi foto-foto. Tak seperti teman-temanku yang bahkan sudah lengkap dengan baju couple dan sekuntum bunga di tangan pasangannya. Aku meratapi nasib, namun tetap berusaha tenang dengan senyumku yang berlesung pipit sebelah. Tak apalah, bapak, ibu dan mbak sudah cukup bagiku sekarang.

Kriiiingggg.....” handphoneku berbunyi. Orang-orang yang duduk disampingku, mulai mencari sumber suara. Aku gelagapan mencari dimana letak hpku. Akhirnya kutemukan si mungil pencari perhatian ini. Ku lihat layarnya, ternyata ada nomor baru yang sedang memanggil.

“Halo.. ini siapa ya?”

“Halo, assalamu’alaikum Lilis..”

Suaranya terdengar seperti sosok laki laki paruh baya. Seumuran bapak.

Ini mas Fatih lis...”

“Ha?? “ aku mendengar dengan jelas, namun masih diantara percaya dan tidak.

“Iya, ini mas Fatih. Kamu sudah mau wisuda ya?”

“i..iya gus.” Aku menjawab singkat. Sepertinya aku mulai mengerti arah pembicaraannya

“Habis lulus kamu siap lis?”

“Tuuut...tuut..” kumatikan handphoneku. Aku kesal bercampur takut. Takut hal yang lalu tersinggung kembali.

Beberapa menit kemudian, gus Fatih mengirimkan sms, isinya :

“Nduk lis, mungkin jaringan disini kurang bagus, jadi mungkin akan saya utarakan disini maksud teleponku tadi. Jadi setelah kamu lulus, aku mau mengantarkan santriku untuk melamarmu. Seperti yang kamu utarakan ke bapakmu, yang berkopyah hitam, yang berbaju batik putih motif hijau, yang dulu sempat kuajak sowan ke rumahmu. Bapakmu sudah menceritakan semuanya. Dulu aku hanya mencandaimu, nduk. Sebenarnya memang Nabil mau meminangmu dari dulu, sewaktu kami sowan ke rumahmu itu. Tapi dia masih ragu-ragu. Kebetulan memang dulu kamu belum siap kan? Kini dia yakin bahwa kamu siap.”

Setelah itu, aku melayang jauh tinggi ke angkasa raya. Tiba-tiba menyembul diantara gumpalan awan-awan putih. Hmmm...


"Bukankah kita hanya diminta untuk bersabar? Karena jodoh pasti tidak hanya bertemu, tapi juga bertamu."

Dan sekali lagi, mungkin Afghan hanya sok tahu. Dia khilaf. Hehehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar