‘Pagiku hilang diambil ayam’. Mungkin itu
ungkapan yang tepat untuk pagiku ini. Udah bangun kesiangan, rumah kotor semua,
ibu marah-marah, dan sebagainya. Duuuh...
gak bisa dibayangkan betapa kacaunya pagiku ini. Karena hari sudah menjelang
siang, aku hanya menyapu ala kadarnya. Hanya ruang tv dan dapur. Lantai super
lebar di ruang tengah tak sempat tersapu karena aku harus membantu ibu memasak
di dapur.
Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul
10.30 WIB. Masak memasak selesai. Akhirnyaa.. huft. Kurebahkan badanku di
lantai kamar, sembari menyelonjorkan kedua kakiku. Beberapa saat kemudian aku
sudah tidak ingat apa-apa lagi. Zzzzz....
***
“Nduuk... bangun, mbak Risa dan mbak Salia datang” suara ibu beserta ketukan di pintu kamar terdengar
samar samar di telingaku.
“Hmmm....” aku masih setengah sadar.
Karena tak mendengar responku, ibu masuk
kamar, menggoyang-goyangkan lenganku sehingga mataku perlahan kubuka paksa. “Mbak
Risa dan Mbak Salia datang nduk, ayo bangun, salim sama gus juga loh”. Aku
terperanjat. Bukan karena perkataan ibu barusan. Tapi telingaku mendengar
cekikak-cekikik tawa beberapa laki-laki. Sepertinya sebayaku. Ah, siapa ya.
Akhirnya aku bangun. Sejenak ku cuci mukaku dan gosok gigi supaya tidak
terlihat seperti orang baru bangun tidur. Meski ku tahu usahaku pasti tidak
terlalu berhasil. Tetap saja mataku terlihat merah. Mukaku terlihat kucel.
Aku masih setengah sadar. Ku dudukkan diri di
kursi dapur. Masih diam memperhatikan ibu yang sibuk sendiri dengan piringnya
yang ditumpuk beberapa buah. Rasa enggan bercampur malu membuatku betah berlama-lama
duduk di atas kursi itu. Yah, bisa dibilang tamu kali ini kerabat dekat. Namun
hanya silaturrahim ketika lebaran, jadi ya agak sungkan meski hanya sekedar
jabat tangan. Apalagi mendengar
suara-suara cekikikan tadi.
“Ayo, salim sana”. Tutur ibu. Kini ibu menata air mineral di
atas baki.
“Aduh, malu bu. Ada siapa saja sih?” tiba-tiba aku gemetaran
“Ada gus Fatih, mbak Risa, mbak Salia dan dua
kang santrinya” tutur ibu
“Aduh, ndak usah aja ya bu. Malu ih” aku mulai merasa aneh.
“Kamu ini sudah besar, masa masih malu. Ndak
wajar.” mbakku
mulai bawel
“Aah.. bukan gitu mbak. Disalamin semua kah
bu?” aku masih ragu-ragu.
“Iya, ndak papa, sama saudaranya sendiri kok.” ibu menjawab santai.
Huft. Akhirnya ku beranikan diri melangkah menuju
ruang tamu. Langkah kakiku terasa berat sekali bak prajurit bersepatu besi.
Tanganku tiba-tiba mendingin. Mau tak
mau, aku telah berada di hadapan para tamu. Satu persatu aku salami dengan
badan sedikit ku tundukkan. Ku cium tangan gus Fatih, “Ngalap barokah gus
pondok”, batinku berceracau. Gus Fatih adalah suami dari mbak Riri,
sepupuku. Namun mbak Riri sudah kembali keharibaanNya belasan tahun yang lalu.
Sedang mbak Risa dan mbak Salia adalah kedua putrinya. Mbak Risa seumuran
denganku, adiknya, mbak Salia enam tahun dibawah kami. Ketika tiba saatnya
bersalaman dengan kedua kang santri yang dibawa gus Fatih, aku sempat ragu
untuk sekedar menjulurkan tangan. Dan keraguanku
ternyata membawa berkah. Belum sempat aku menjulurkan tangan, kedua santri itu
sudah memberi isyarat salim tanpa berjabat.
Huft. Sudah kuduga. Batinku berceracau sendirian. Aku tetap
tersenyum.
Selepas salim, aku duduk menyatu bersama mereka.
Seperti layaknya kerabat yang jarang bertemu, aku ditanyai berbagai macam hal,
yang kugeluti sekarang. Mulai dari sekolah, tempat tinggal, rutinitas, dan lain
sebagainya. Begitupun mbak Risa dan mbak Salia. Kami saling berbagi pengalaman.
Di tengah hangatnya obrolan kami, sesekali, mataku tidak sengaja menangkap sunggingan
senyum santri berkopyah hitam diseberangku. Dimulai dari sesekali, namun kini
mereka berdua (mata) mulai berdurasi. Beberapa detik sekali mataku mengekori
senyumnya. masyaAllah... Jiwa kebaperanku kayaknya mulai mode on nih, tak bisa
kuhindari. Aku memilih undur diri ke belakang, sebelum aku ketahuan diam diam
curi pandang.
***
“Hayooo... ngapain kamu?” kakak mengagetkanku.
“Ih, apa sih kak.” aku tetap asyik senyum-senyum sendiri di
balik tirai jendela yang menghubungkan kamarku dengan ruang tamu.
“Udah ih, itu tamunya sebentar lagi mau
jama’ah ashar di ruang tengah”
“Hmmmmhh.. iya iya kak, sebentar..”ucapku datar. Sosok berkopyah dengan batik
putih bermotif hijau, mengalihkan duniaku. Kuamati gerak-gerik matanya,
tangannya yang sedang menyendok nasi, caranya mengunyah, caranya tertawa, “oh
my God.... “. Seolah-olah aku berada di hadapannya. Memandanginya,
menambahkan lagi nasi dan lauk untuknya. Agar dia tertawa lagi, bahagiaa
rasanya.
“Lilis, buruann....” kini kakakku menarik ujung jilbabku dari
belakang, sontak aku kaget.
“Aiih... kakakk” ku akhiri eksplorasi bebasku dibalik tirai
itu.
Lantas aku bergegas menuju ruang tengah. Betapa
kaget bukan kepalang aku melihat lantai yang super berantakan seperti kapal
pecah. Mainan berserakan disana sini, potongan-potongan kertas bertebaran di
atas lantai. “Oh iya, tadi pagi belum sempat kubersihkan. Duh mamiii.....”
Aku mulai panik. Para tamu sudah bergegas ke belakang untuk mengambil air
wudhu. Tanpa pikir panjang, aku segera memunguti kertas-kertas kecil yang
berserakan dan merapikan mainan bocah-bocah kecil kami. Kugelar karpet,
kemudian menyapu di sekelilingnya. Semoga kalian tidak ketahuan, wahaipara debu
di bawah karpet. Huhu... berlindunglah baik baik yaa.. batinku bercaracau lagi.
Mencoba mengajak kerjasama para debu.
***
Para tamu sudah selesai shalat berjamaah. Aku
bergegas membereskan meja ruang tamu yang masih penuh oleh bekas makan siang
para tamu. Membawanya satu persatu ke
meja dapur. Untung saja mbak Risa dan mbak Salia membantuku. Aku mengentikan
langkahku di ambang pintu dapur. Bersandar sejenak untuk melepas lelah. Ku
hembuskan nafas panjangku, menghirup udara senja hari dan melepaskannya lagi. “Apakah
begitu hakikatnya jodoh? Bertemu untuk berpisah? Bercinta untuk patah hati?”
Entahlah... yang pasti dan kuyakini, “Jodoh pasti bertamu, meski sebelumya tak
pernah bertemu. Afghan hanya sok tahu kali ya. Hehe. Belum selesai aku
berbincang dengan senja, panggilan bapak memecah keheningan rumahku.
“Nduuk,”
“Inggeh pak” aku segera menuju ruang tamu
“Mbak Lis, kami mau pamit” mbak Salia sudah didepanku, menjulurkan
tangannya.
“Ya Allah kok buru-buru mbak, gak nunggu
setelah maghrib sekalian?”
“Inggeh mbak, makasih.”
“Pamit nggeh nduk” gus Fatih menyalamiku, diiringi kedua
santrinya yang menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Aku menyambutnya
dengan cara yang sama. Tapi dengan kadar senyum yang berbeda. Senyumku tertahan,
berbumbu malu. Heheh... Itulah salaman ala santri. Hehe. Batinku tak bisa diam.
Mulai baper dengan makhluk berkopyah hitam itu. kami mengantarnya sampai teras
depan. Senja mengiringi kepergian mereka. kalau Tuhan mengizinkan, tentu mereka
akan bertamu lagi.
Tiba-tiba bapak memanggilku, mengajakku duduk
di ruang tamu. Sepertinya ada suatu hal penting yang ingin bapak utarakan. “Nduk,
gus berniat meminangmu”. Ucap bapak lirih. Betapa riang bukan kepalang aku
mendengar ucapan bapak. “Bapak bercanda ah... siapa namanya pak? Yang
berkopyah hitam bukan? Yang pakai batik warna putih bukan?”aku mulai ingin
tahu dengan sosok yang dibicarakan bapak. Dengan sorot mata berbinar-binar,ku
pegang tangan bapak yang sedari tadi ingin menyeruput sisa kopinya. “Iya,
sebentar.. tanggung ini kopinya”. Bapak tegang. Aku yang menunggunya tak
kalah tegang.
“Gus Fatih nduk yang bapak maksudkan” tutur bapak. DEG... Jantungku seperti
berhenti berdegup. Dandelion-dandelion alias ilalang di pinggir jalan depan
rumah seolah kaku, tak mau bergoyang karena terpaan angin senja.
Kambing-kambing di belakang rumah seolah berhenti mengunyah rumputnya yang
lezat bak mie ayam. Burung-burung pipit di pepohonan samping rumah, seolah olah
tersedak cabai, sehingga kicauannya terdengar parau. Cicak-cicak di dinding,
seolah ingin menjatuhkan diri di sofa empuk disampingku. Bumi seolah gonjang-ganjing
mendengar pernyataan bapak yang sontak sangat mengagetkan.
“Gus Fatih pak”? kataku, memastikan ucapan bapak.
“Iyaa nduk” bapak mengangguk mantap.
Ini bukan so swit lagi, namun so pait. Yang
benar saja, masa iya aku yang seumuran mbak Risa (anak pertamanya) juga
dilirik. Apa mungkin gus Fatih lupa dengan umurnya. Atau aku yang lupa umurku.
Eh, enggak. Sangat tidak wajar sekali. Aku hanya diam, batinku berceracau
sendiri. Menatap dalam-dalam sisa kopi dalam gelas yang tersaji di meja.
“Aaaaa.... gak mungkiin. Lalu bapak bilang
apa?”
“Bapak hanya menganggapnya candaan, tahu
sendiri kan memang wataknya begitu. Semenjak ditinggal mbak Riri, dia memang
berusaha mencari ibu untuk nduk Risa dan nduk Salia. Namun sampai sekarang ya
belum dapat.”
“Huft, hampir saja. Gak kebayang pak”
“Maksudmu piye nduk?”
“Eh, ndak pak. Tapi bapak pertegas kan pak?”
“Iya, bapak bilang saja kamu sudah ada
pilihan, dan sudah sama sama setuju”
“Waduh pak, ada dari mana?
“Kan itu do’a tah nduk, memangnya kamu mau
bapak bilang kalau kamu masih sekolah, terus dia nunggu kamu sampai lulus?”
“Ya ndak lah pak.” Aku masih ketakutan
“Naah.. kan. Yakinlah kalau sudah masanya,
mudah saja kalian bertemu”
“Semoga pak..” aku mengakhiri obrolan senjaku dengan bapak.
Langkahku bergegas ke kamar, aku masih
diantara percaya dan tidak. Sedikit rasa takut mulai menjalar di relung hatiku.
Bagaimana tidak, sedari tadi aku membayangkan dapat diperistri santri berkopyah
hitam itu. namun realita yang terjadi, malah gus Fatih yang diam-diam ingin
menikahiku. Cintaku salah sasaran. Alamaaakkk... gak kebayang deh. Akhirnya
kulepas senja yang beranjak pamit dengan mengambil air wudhu, kemudian shalat
jama’ah di mushalla depan rumah. Ya Allah, nikmatnya masih single, tak akan
terbayar dengan hal apapun.
Semenjak itu aku benar-benar takut, takut
akan kata-kata ‘nikah’ itu. jangankan nikah, baper pun tak sempat terpikirkan. Aku
sudah lupa akan baperku. Aku sudah lupa bapernya melihat pasangan yang baru
saja menikah. Aku sudah amnesia dengan baperku. Ya.Aku lebih menata hati lagi,
menjaga setiap tindak tandukku dulu, sebelum berurusan dengan hal ribet semacam
itu. Takut salah sasaran lagi. Takut ada yang melirik lagi. De el el. Sungguh
aku takut.
***
Beberapa bulan kemudian, aku sudah mengurus
perlengkapan untuk wisuda. Beberapa hari ke depan aku akan melangsungkan
prosesi wisuda bersama teman-teman seangkatanku. Bahagia terasa memenuhi relung
hati. Studiku selesai tepat waktu. Namun di momen spesial ini, tak kunjung kutemukan
someone yang disebut-sebut orang sebagai ‘jodoh’ itu. Setidaknya bisa lah untuk
dijadikan pendamping dalam sesi foto-foto. Tak seperti teman-temanku yang
bahkan sudah lengkap dengan baju couple dan sekuntum bunga di tangan
pasangannya. Aku meratapi nasib, namun tetap berusaha tenang dengan senyumku
yang berlesung pipit sebelah. Tak apalah, bapak, ibu dan mbak sudah cukup
bagiku sekarang.
“Kriiiingggg.....” handphoneku
berbunyi. Orang-orang yang duduk disampingku, mulai mencari sumber suara. Aku
gelagapan mencari dimana letak hpku. Akhirnya kutemukan si mungil pencari
perhatian ini. Ku lihat layarnya, ternyata ada nomor baru yang sedang
memanggil.
“Halo.. ini siapa ya?”
“Halo, assalamu’alaikum Lilis..”
Suaranya terdengar seperti sosok laki laki
paruh baya. Seumuran bapak.
“Ini mas Fatih lis...”
“Ha?? “ aku mendengar dengan jelas, namun masih diantara
percaya dan tidak.
“Iya, ini mas Fatih. Kamu sudah mau wisuda
ya?”
“i..iya gus.” Aku menjawab singkat. Sepertinya aku mulai mengerti
arah pembicaraannya
“Habis lulus kamu siap lis?”
“Tuuut...tuut..” kumatikan handphoneku. Aku
kesal bercampur takut. Takut hal yang lalu tersinggung kembali.
Beberapa menit kemudian, gus Fatih
mengirimkan sms, isinya :
“Nduk lis, mungkin jaringan disini kurang
bagus, jadi mungkin akan saya utarakan disini maksud teleponku tadi. Jadi
setelah kamu lulus, aku mau mengantarkan santriku untuk melamarmu. Seperti yang
kamu utarakan ke bapakmu, yang berkopyah hitam, yang berbaju batik putih motif
hijau, yang dulu sempat kuajak sowan ke rumahmu. Bapakmu sudah menceritakan
semuanya. Dulu aku hanya mencandaimu, nduk. Sebenarnya memang Nabil mau
meminangmu dari dulu, sewaktu kami sowan ke rumahmu itu. Tapi dia masih
ragu-ragu. Kebetulan memang dulu kamu belum siap kan? Kini dia yakin bahwa kamu
siap.”
Setelah itu, aku melayang jauh tinggi ke
angkasa raya. Tiba-tiba menyembul diantara gumpalan awan-awan putih. Hmmm...
"Bukankah kita hanya diminta untuk bersabar? Karena jodoh pasti tidak hanya bertemu, tapi juga bertamu."
"Bukankah kita hanya diminta untuk bersabar? Karena jodoh pasti tidak hanya bertemu, tapi juga bertamu."
Dan sekali lagi, mungkin Afghan hanya sok tahu. Dia khilaf. Hehehe

Tidak ada komentar:
Posting Komentar