Pages

Jumat, 29 Mei 2015

Eksistensimu Masa depanmu


        Masa muda seperti masa emas. Masa yang sangat mahal harganya. Kekuatan seorang manusia mencapai titik  puncak saat usia muda. Dimana organ tubuh berfungsi dengan optimal, wajah masih segar, kulit kencang dengan mata penuh binar. Begitu juga dengan kekuatan daya berfikir, pada usia muda otak manusia bekerja dengan maksimal. Masa depan 99% ditentukan dari apa yang seseorang lakukan sekarang ini..

Senin, 04 Mei 2015

Titian Langkah bersama sang Guru Besar

Ku pandangi jam tangan hitamku yang sedari tadi tergeletak di meja kamar. Heningnya suasana membuat suaranya semakin jelas terdengar. Jarumnya terus  berputar. Detik selalu berujung menit, menitpun terus berjalan hingga jam. Hari terus berganti, segala tangis, kebersamaan, duka, serta bahagia lengkap sudah menjadi warna warni dalam perjalanan ini. Tak hanya perjalanan langkah kaki, namun juga perjalanan sebuah hati. Kita bersama disini, satu tujuan dan satu harapan, bersama-sama mencari cahaya. Entah mengapa, fikirku melayang pada memori beberapa bulan yang lalu. Tak terasa hampir enam bulan aku disini, di tanah rantau kota Pahlawan tercinta.
Kini aku bersyukur atas limpahan kasih sayang-Mu ya Rahman. Engkau beri  hamba kesehatan jasmani dan rohani hingga sampai saat ini, detik ini hamba mampu menghirup oksigen yang kau sediakan dengan melimpah di bumi-Mu yang agung ini. Sampai hari ini pul hamba bisa melihat keindahan dunia beserta isinya, tidak lain hanyalah karena kuasa-Mu ya Rahim. Engkau beri hamba indra yang lengkap dan berfungsi secara sempurna, semata-mata untuk memikirkan dan merenungi apa yang ada di langit dan di bumi-Mu ini. Namun aku sadar terkadang kelalaianku membuatku jauh akan rasa syukur atas nikmatMu yang sungguh agung ini ya Rabb.
Jika mengingat seluruh pemberian Allah kepada kita, memang tidak akan pernah mampu kita menghitungnya. Mulai dari penciptaan alam semesta yang begitu sempurna, alamnya yang melimpah ruah sebagai sumber penghidupan makhluk-makhlukNya, susunan ruang angkasa yang menakjubkan yang terdiri dari galaksi-galaksi yang mana didalamnya tertata rapi planet-planet beserta tata surya. Disanalah bulan dan matahari serta bumi berputar sesuai porosnya tanpa bertabrakan satu dengan yang lain. Yang paling utama untuk kita syukuri adalah nikmat iman dan islam atas diutusnya nabi Muhammad SAW sebagai rahmatan lil ‘alamin dan mukjizat terbesarnya yang menjadi pedoman umat islam hingga akhir kiamat yakni Al-Qur’an. Sekalipun sebagai makhlukNya kita terkadang lengah, terbujuk bisikan setan sehingga dengan mudahnya menuruti hawa nafsu kita, namun Allah SWT tetap menyayangi kita, buktinya nafas kita tetap dijaga-Nya dalam setiap detiknya. Allah tak pernah pilih kasih, dan tak pandang sayang dengan segala kuasa-Nya.
The best arsitek in this world. Yap! Allah memang sebaik-baik pembuat rencana. Takdir setiap insan telah ditulis-Nya ketika masih dalam kandungan sang bunda. Namun terkadang ketika menghadapi realita, kebanyakan manusia masih saja mempertanyakan takdir sebelum pada akhirnya mengetahui bahwa itulah yang memang terbaik untuknya. Tak ubahnya aku saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah ini. Tepatnya ketika mengikuti tes PBSB di Asrama Haji Sukolilo. Lingkungan padat penduduk, terik matahari yang terasa begitu menyengat kulit, sampah dan limbah pabrik yang baunya cukup menusuk hidung sempat membuatku tidak kerasan dan ingin cepat kembali ke tanah kelahiran. Karena pada saat itu yang menjadi kota impianku untuk menimba ilmu adalah kota Malang. Kota yang terkenal dingin dan menentramkan hati siapapun yang mengunjunginya.
Namun ternyata ada rahasia dibalik rahasia. Apa yang tidak kita sukai memang tidak selamanya buruk. Allah Maha tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Atas kuasa Allah SWT, kota Surabaya menjadi tanah tempatku menimba ilmu untuk studi 3,5 tahun kedepan. Dengan adanya kenyataan ini maka aku harus mampu beradaptasi dengan lingkungan disini. Tidak ada rasa sesal. Meski awalnya aku sempat kurang betah namun aku mencoba meyakinkan diri bahwa aku mampu bertahan. Ini hanyalah satu diantara banyak kerikil tajam yang harus kulalui nantinya. Jadi aku harus mampu melewatinya. Mengingat perkataan salah seorang sahabatku bahwa seseorang yang berjuang lebih, tentu yang dihasilkannya pun juga akan lebih. Aku bahagia dan bersyukur atas kesempatan yang telah diberikan Allah kepadaku untuk menimba ilmu disini dan berusaha menganggap persepsi awalku itu sebagai tantangan untuk menggapai segala impian dan harapanku. Disana, di kota penuh harapan.
Persepsi awal memang tidak selamanya benar. Keraguan yang sempat melayang di pikiranku akhirnya kini kian terhapuskan oleh adanya kenyataan yang kutemui disini. Lingkungan kampusku lumayan asri, cukup banyak pepohonan besar yang tumbuh dengan suburnya. Hampir di setiap sela-sela gedung fakultas tumbuh subur pohon-pohon besar yang nampaknya sudah berumur. Bahkan jika sudah masuk area kampus, rasanya aku sudah lupa dengan asumsi bahwa ini adalah kota Surabaya. Kota yang terkenal dengan panas. Aku cukup lega dan bersyukur atas segala rahmat-Nya yang tiada pernah kuduga.
Waktupun terus beranjak. Terus berjalan tanpa kenal traffic light. Yap! Waktu bukanlah kendaraan. Berjalan kapanpun sesuai aba-aba kita. Yang menghentikannya hanyalah kematian. Sakaratul maut akan datang kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun sesuai kehendak Allah. lantas, sudah siapkah kita menghadapi yang namanya kematian? Saat dimana mata tak mampu lagi memandang dunia dengan segala keindahannya, orang-orang yang kita cintai, sahabat-sahabat yang selalu warnai hari, saat tangan tidak mampu lagi melakukan apapun yang kita kehendaki, saat semua telah terhenti dan kita hanya mampu melihat kerumunan orang-orang yang membentangkan kain putih diatas jasad kita, maka selagi nafas masih terjaga, selagi detak jantung masih ada dalam genggamanNya, mari kita lampahi kehidupan ini sebaik-baiknya.
Kini, semester dua pun telah nampak jelas di depan mata. Segala harapan dan impian-impianpun telah merasuk ke dalam hati dan sanubari, menjelma menjadi sebuah kekuatan yang membawaku kembali ke bumi perantauan. Tempat dimana aku harus menempa diri. Do’a serta petuah kedua orangtua semakin menguatkan setiap derap langkah ini. Jika kemarin adalah pengalaman, maka esok adalah harapan dan hari ini adalah kenyataan yang harus ku hadapi. Aku menyadari segala kekurangan belajarku semester lalu. Memakluminya karena ini adalah awal dari perjalanan yang membutuhkan penyesuaian. Tentu kekurangan-kekurangan ini kujadikan bahan pembelajaran untuk perbaikan di semester kedua.
Jika menilik lembaran memori semester lalu, seakan-akan kuliah masih seperti suatu rutinitas yang menegangkan. Layaknya fenomena panas dingin saat persentasi di kelas, melongo saat diskusi berlangsung, penyusunan tugas kuliah seperti makalah yang masih acak-acakan, asal comot referensi, takut dengan dosen killer, dan lain sebagainya. Tidak dapat dipungkiri bahwa hal-hal ini sempat terjadi padaku semester yang lalu.
Namun, akhir-akhir ini aku menyadari bahwa segala sesuatu tak lepas dari proses. Tanpa melewati tangga pertama tentu kau tidak akan bisa melangkah ke tangga kedua. Walaupun dengan usaha kerasmu kau bisa melompat, namun tetap hargailah sebuah proses. Banyak hikmah dan pelajaran yang kau temui di tangga pertama yang akan mengantarkanmu menuju tangga kedua. Selalu belajarlah dari pengalaman karena pengalaman adalah sebaik-baiknya guru. Seperti teori Empirisme (John Locke 1632-1704) yang mengatakan bahwa cara memperoleh ilmu pengetahuan adalah melalui  pengalaman. Jadi kita tidak bisa hidup tanpa belajar dari pengalaman-pengalaman yang telah kita lalui. Entah itu pengalaman buruk ataupun baik. Aku yakin aku mampu memperbaiki semua ini, dan aku yakin esok pasti lebih indah. Mentari masih bersinar terang maka tak ada kata mundur ke belakang. Semua masih bisa diperbaiki. Cukup akui, dan perbaiki.
Maka hari ini, tanggal 02 Maret 2015. Ku awali perkuliahan semester ini dengan membaca basmalah. Bismillahirrahmanirrahim. Semoga harapan-harapan baru di semester ini bukan sekedar harapan namun benar-benar terwujudkan atas kuasa dan pertolongan Allah SWT. Aku selalu mencoba meyakinkan diri “Aku pasti bisa karena Allah pasti menolongku”. Semoga Allah senantiasa memberi keberkahan dan menjaga kami dari segala hal yang menjauhkan kami dari ridha-Nya. Amin.

Upredictable Opportunity

Subhanallah. Merupakan suatu kebahagiaan yang tiada terkira adanya. Pada semester kedua ini Allah SWT masih mempertemukan kami dengan hamba-hamba pilihan-Nya. Beliau telah dinobatkan sebagai guru besar di fakultas Dakwah UIN Sunan Ampel Surabaya. Beliau juga pernah menjabat sebagai dekan fakultas Dakwah di kampus yang sama. Jika pada semester lalu beliau mengampu mata kuliah Ilmu Dakwah, maka pada semester dua ini beliau mengampu mata kuliah Tafsir BKI, yakni 4 sks di setiap minggunya. Mata kuliah ini awalnya sempat kukira seperti pelajaran Tafsir yang ada di pondok dulu, namun ternyata pembahasannya lebih luas lagi. Yang dibahas dalam mata kuliah Tafsir BKI ini berkaitan dengan ayat-ayat yang berhubungan dengan Konseling. Tidak tanggung-tanggung, rujukannya pun 3 kitab sekaligus. Diantaranya yakni kitab Tafsir Al-Munir karya Wahbah Zuhaily, kitab Tafsir Ibnu Katsir, serta tafsir Al-azhar karya Buya Hamka.
Dosen yang bukan hanya sekedar dosen. Aku tak pernah bosan mengagumi sosok beliau. Menurutku, kepribadiaannya begitu sempurna. Sosoknya begitu kharismatik, aura yang ada dalam dirinya selalu menebar ke orang-orang disekitarnya. Seakan-akan beliau memancarkan energi-energi positif yang membuat orang-orang disekitarnya menjadi lebih merasakan ketenangan. Terkadang beliau terbilang lebih dari bapak kandung kami karena perhatiannya yang begitu besar tanpa membedakan satu dengan yang lain. Pernah suatu ketika beliau menanyakan hal kecil yang tidak lumrah ditanyakan oleh seorang dosen kepada mahasiswanya. Bahkan dikatakan snagat jarang. Inilah yang membuat kami begitu mengagumi kepribadian beliau. Prof Ali bertanya kepada salah satu diantara kami, sebut saja Rifqi. Salah seorang kawan berdarah Jawa yang logatnya sangat medhok ini ditanya mengenai gatal-gatal yang menyerang kakinya. Apakah kedua orangtuanya mengetahui hal tersebut, kapan saja gatal-gatal itu kambuh, dan lain lain. Beliau juga sempat bertanya kepada Jajang, Mizan, dan beberapa teman yang lain mengenai hal-hal yang hampir tidak terfikirkan oleh kebanyakan dari kami. Pertanyaan yang menunjukkan betapa besarnya perhatian dan kasih sayang beliau kepada para mahasiswanya.  Hal inilah salah satu hal yang membedakan Prof Ali dengan dosen-dosen yang lain. Perhatiannya begitu besar, bahkan melebihi perhatian seorang bapak kandung. Thank you Prof. J
Dorongan semangat, suntikan inspirasi, beserta bait-bait nasihatnya senantiasa disampaikan dalam setiap pertemuan. Beliau seperti tidak pernah kehabisan kata-kata untuk selalu memotivasi kami. Begitu besar harapannya kepada kami agar kelak menjadi manusia hebat yang bermanfaat untuk umat serta berguna bagi bangsa dan negara. Durasi mata kuliah yang terbilang cukup lama yakni pukul 07.45-11.20 WIB pun menjadi begitu singkat karena waktu yang begitu berharga bersama beliau. Tidak jarang beliau mengkisahkan pengalaman-pengalaman dan kisah hidup beliau yang berharga yang dapat memberikan kami pelajaran. Dengan kisah-kisah itu, kami dilatih untuk selalu belajar dari kesalahan, bangkit dari setiap kegagalan, karena bukan masalah berapa kali seseorang itu gagal, namun berapa kali seseorang itu bangkit dari setiap kegagalannya dan kemudian memetik hikmah dari itu semua.
Karya-karyanya laksana obor penerang dalam kegelapan hati umat. Beliau tidak rela jika pengetahuan yang didapatnya hanya berguna untuk dirinya sendiri. Mulai dari menulis kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku, mengisi kolom majalah, mengisi ceramah di beberapa stasiun radio, sampai dengan khutbah di berbagai pelosok Negara. Bahkan, beliau pernah berkata “Percuma kamu pinter, kalau hanya untuk diri kamu sendiri. Lebih baik mati saja”. Kata-kata ini seolah menjadi tamparan bagi kami agar bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu agar nantinya mampu menjadikan manfaat untuk orang lain. Jadi percuma saja seseorang menempuh pendidikan tinggi namun tidak mau membaginya untuk orang-orang yang membutuhkan.
Buku-buku yang berhasil diterbitkan antara lain Ilmu Dakwah, Tekhnik Khutbah Jum’at Komunikatif, Terapi Shalat Bahagia, Do’a-do’a Keluarga Bahagia, dan masih banyak lagi. Buku yang paling laris dan diminati masyarakat yakni Buku Terapi Shalat Bahagia. Sebab diterbitkannya buku ini pula, kini beliau menerima banyak permintaan untuk mengisi PTSB (Pelatihan Terapi Shalat Bahagia) sampai berbagai pelosok Negara. Meskipun kesibukan beliau sangat padat, bahkan bisa dikatakan hampir setiap bulan beliau pergi keluar negeri untuk memenuhi undangan PTSB. Namun beliau tetap mengutamakan kegiatan belajar mengajar dan tidak pernah meninggalkan jam kuliah kecuali dengan menggantinya dengan kegiatan yang lain. Beliau sangat menghargai waktu.
Laki-laki asal Siwalankerto Tengah ini sangat menekankan kepada kami untuk selalu menulis setiap hari walaupun hanya barang satu lembar. Karena menulis merupakan pembiasaan, bukan merupakan bakat atau skill dari lahir. Hingga pada suatu ketika beliau berkata, “Saya tidak hanya bertanggung jawab memintarkan kamu sebagai mahasiswa, namun saya juga bertanggung jawab mengantakan kamu menjadi penulis besar”. Begitu mendengar kata-kata ini tanpa terasa bulu kudukku merinding, karena takjub akan besar nan mulianya keinginan beliau untuk menjadikan kami orang besar. Subhanallah. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan dan kerahmatan bagi beliau, sang pencerah kami ini. Amin
Pernah suatu ketika beliau bercerita kepada kami tentang seorang mahasiswa hebat yang pernah ditemuinya di Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. Beliau tertarik dengan caranya berbicara sekaligus retorikanya yang mengagumkan, ternyata mahasiswa ini adalah lulusan Universitas Al-azhar Kairo-Mesir. Namanya “Ahmad Ainul Yaqin” ungkap beliau sembari mengingat kembali cerita saat itu.
Di akhir pertemuan, laki-laki yang gemar mengenakan kemeja putih ketika mengajar kelas kami ini memberikan tugas untuk menulis sebanyak 50 halaman mengenai cerita-cerita selama kuliah semester kedua ini. Khususnya ketika mata kuliah Tafsir BKI bersama beliau. Prof Ali menegaskan bahwa tugas ini menjadi syarat untuk lulus UAS (Ujian Akhir Semester). Mendengar pernyataan beliau terakhir ini, sontak semua anggota kelas hening sejenak, disusul dengan tepuk tangan dari beberapa orang, kemudian seluruh isi kelas bertepuk tangan meriah. Baru ketika semua tepuk tangan telah berhenti, kami saling tengok satu sama lain. Apalagi aku dengan Sofi, kawan asal Bangkalan Madura. Ekspresi wajahnya membuatku ingin tertawa karena ia nampak keberatan. Beberapa teman pun mulai nyeletuk dengan mengatakan “Gak paapa”, dengan logat khas Prof Ali. Satu sama lain saling bersahut sahutan. Begitulah yang Prof ajarkan kepada kami, jika mendapatkan tugas seberat apapun maka janganlah mengeluh, syukurilah dan bersama Allah pasti kita bisa menyelesaikannya.

Hidup adalah Pilihan.
Masih teringat jelas, sewaktu kakakku yang pertama akan pergi mondok ke Kuningan Jawa Barat. Saat itu aku masih duduk di kelas tiga Sekolah Dasar. Melihat barang-barang yang dikemas oleh kakakku cukup banyak, aku hanya terduduk lesu, ingin rasanya ikut dengannya. Karena bisa dibilang kakakku ini adalah pahlawan keduaku setelah bapak. Dia adalah sosok yang penuh tanggung jawab kepada keluarga, apalagi terhadap adik-adiknya. Yang paling ku ingat adalah ketulusan hati dan pengorbanannya. Pernah suatu ketika aku akan menghadapi ujian, kakak berjanji bahwa jika nanti aku mendapatkan juara atau setidaknya masuk 3 besar maka aku akan dibelikan sepasang sepatu. Betapa girangnya aku mendengarnya. Akupun belajar dengan giat dan alhasil aku mampu mendapatkan peringkat meskipun peringkat kedua. Bahagia bukan kepalang, aku dibelikan sepatu baru. Itu hanya salah satu alasan mengapa aku lebih dekat dengan kakak laki-lakiku daripada dengan kakak perempuanku. Kakak laki-lakiku humoris dan cenderung lebih perhatian. Namun bukan berarti aku tidak dekat dengan kakakku yang perempuan. Kedekatanku dengan kakakku perempuan dalam bidang lain dan bisa dibilang musiman lah. Hal ini dikarenakan aku dengan kakak perempuanku memiliki ego yang sama-sama tinggi. Sehingga tidak jarang kami berebut sesuatu, entah itu berebut makanan, remote televisi, hingga masuk kamar mandi. Semua itu menjadikan rumah terasa ramai bahkan rebut, karena ulah kami yang selalu membuat keributan.
Beberapa tahun sepeninggal kakak laki-lakiku, lagi-lagi aku harus merelakan kakak perempuanku yang juga akan berangkat mondok di Pondok Pesantren Darul Huda Mayak Tonatan Ponorogo. Meski dalam keseharian aku sering membuat kakak perempuanku kesal, begitupun sebaliknya. Kami merasa sulit untuk dipisahkan. Aku merasa ada yang hilang setelah kepergian mereka ke tanah rantau. Sampai suatu ketika aku tertantang untuk menelusuri jejak-jejak kakak-kakakku. Seringkali aku masuk kamarnya, memandangi setiap sudut ruangannya, mengamati foto yang terpajang di dinding kamarnya. Sampai  mengobrak-abrik rak bukunya. Berharap ada buku yang menarik untuk dibaca. Entah betapa usilnya aku. Dan usahaku selalu mujur, pernah suatu ketika aku mendapatkan beberapa antologi cerpen. Betapa girangnya aku karena pada saat itu aku sedang menyukai bacaan-bacaan segar seperti itu. seperti kumpulan cerpen Asma Nadia yang di antologikan menjadi buku “Sepenggal Senja di Kafe Kuningan”. Sejak saat itulah aku mengenal sosok Asma Nadia. Sosok yang entah itu siapa, yang jelas aku menyukai cerpen-cerpennya.
Sejak saat itu aku sering meluangkan waktu untuk membaca. Ketika itu, aku banyak menemukan majalah-majalah dari kampus kakakku yang dibawa pulang. Aku ingat, majalah “AL-MILLAH” namanya. Isi dari majalah ini kebanyakan tak kupahami apa maksudnya karena bahasanya terlalu tinggi ala mahasiswa. Biasanya aku hanya membaca kolom puisi, cerpen serta inspirasi. Ketika tsanawiyah, aku masih suka membaca buku-buku novel namun tidak pernah tertarik untuk membeli. Karena pada saat itu aku tidak berani meminta uang kepada ibu kecuali hanya untuk keperluan-keperluan sekolah yang lebih urgen. Tak jarang pula aku mencoba menulis hasil imajinasiku di buku tulis yang kusediakan khusus untuk coret menyoret. Aku selalu bisa untuk memulai, namun tidak bisa menyelesaikannya sampai akhir. Inilah kebiasaanku yang tak bisa kuhilangkan. Bahkan sampai saat ini.
Sewaktu di MA, aku sempat nyemplung dalam organisasi kepramukaan yakni Dewan Ambalan. Organisasi ini menaungi pramuka penegak yang ingin mendalami kepramukaan lebih luas. Tak ku sangka, aku diberi amanah sebagai sekretaris. Jabatan tak pernah membuatku hidup dengan tenang. Makan tak enak, tidurpun tak lelap karena selalu dikejar deadline.  Bukan hanya omelan kakak kelas yang ku hindari, namun juga cacian pembimbing karena suatu kesalahan dalam penyusunan administrasi kami. Yang lebih mengherankan, aku jarang diletakkan di bagian korlap (koordinator lapangan). Yang ada aku selalu ditempatkan di belakang layar. Seperti di posisi sekretaris, bendahara, seksi konsumsi, dekorasi dan dokumentasi, dan lain sebagainya. Jangan heran jika aku tak pernah dikenal adik-adik kelas. Karena lebih sering aku menghadap komputer dan kertas-kertas daripada menghadapi andika-andika di lapangan. Dari sinilah aku terus menekuni bidang administrasi. Bukan karena inginku, melainkan karena sebuah tuntutan.
Tak jarang aku mengisi majalah dinding yang diprakarsai oleh organisasiku ini. Meski hanya mengisi rubrik cerpen, artikel pada saat momen tertentu seperti perayaan valentine oleh kaum muda mudi, joke-joke dan humor singkat dan sebagainya. Tak kusadari ini menjadi hobi. Dan yang tak pernah kuduga, hobiku ini sedikit berpengaruh kepada bidang yang kupilih sekarang. Yakni bidang kepenulisan. Bisa dikatakan pilihanku untuk menekuni bidang kepenulisan ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Ketika telah resmi menjadi mahasiswa UIN Sunan Ampel aku mengenal salah seorang alumi Pondokku, sebut saja mbak Anifa.  Dulu ketika masih menjabat di Ankuperpus Koordinator Gugusdepan Putri Pondok Pesantren AL-ISLAM, dia menyediakan buku-buku untuk dibaca para santriwan-santriwati. Gratis tanpa dipungut biaya sepeserpun. Dan ajaibnya, sekarang dia sudah menghasilkan beberapa novel, diantaranya “Ternyata Cinta Itu Indah”. Novel ini pernah dibedah di Pondok ketika aku duduk di kelas akhir tepatnya satu tahun yang lalu. Entah angin dari mana, aku mulai tertarik dengan dunia kepenulisan. Ada semacam rongrongan dari dalam hati “Kami dibesarkan di pondok yang sama. Mbak Anifa saja bisa, masa aku tidak bisa”. Maka sudah bulat keputusanku untuk mengikuti salah satu organisasi kampus yang berfokus dalam hal kepenulisan yakni LPM Solidaritas yang dipimpin langsung oleh kak Anifa. Rasa bangga sekaligus optimis bahwa nantinya aku mampu seperti dia bahkan melebihi apa yang telah ia capai saat ini. inilah artikel pertamaku sebagai syarat untuk masuk seleksi anggota maganger LPM Solidaritas, simak ya.
EKSISTENSI MASA MUDA
        Masa muda seperti masa emas. Masa yang sangat mahal harganya. Kekuatan seorang manusia mencapai titik  puncak saat usia muda. Dimana organ tubuh berfungsi dengan optimal, wajah masih segar, kulit kencang dengan mata penuh binar. Begitu juga dengan kekuatan daya berfikir, pada usia muda otak manusia bekerja dengan maksimal. Masa depan 99% ditentukan dari apa yang seseorang lakukan sekarang ini..
           Semua orang di planet bumi ini dalam setiap harinya memiliki jatah waktu yang sama yaitu 24 jam. Tidak ada yang lebih, tidak dijumpai pula yang kurang. Ada orang yang meraih kesuksesan di usia muda. Ada juga yang sedang berlari mengejar cita-cita. Tapi fenomena yang terjadi sekarang kebanyakan justru anak muda kurang cakap dalam me-manage waktunya.  Mari tengok sekeliling kita, di pinggir jalan, di warung-warung kopi, bahkan di jembatan kita sering menjumpai muda mudi menghabiskan waktu disini tanpa tujuan yang jelas. Terjebak dalam hura-hura yang tiada makna. Padahal jika kesadaran itu benar benar ada dalam jiwa seorang pemuda. Potensi-potensi akan tersalurkan dengan baik dan mulailah terbuka pintu gerbang menuju keberhasilan.   Sekarang mari kita bertanya pada diri masing-masing, masuk dalam kategori yang manakah kita?
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara:
“Waktu mudamu sebelum dating waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum dating waktu sempitmu, hidupmu sebelum datang kematianmu”.
 (Hadis riwayat Al-hakim dishahihkan oleh Syaikh Al-albani).
          Maka melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk diri sendiri bahkan orang lain adalah suatu keharusan, selagi kita masih dikaruniai kesehatan, kelapangan, usia muda, sebelum ajal menjemput kita. 
          Hidup itu bukanlah sebuah film. Tidak ada tombol pause dan prev dalam hidup. Betapa waktu yang telah berlalu tidak akan bisa ditarik mundur kembali. Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Begitupun masa tua tidak bisa dihindari dan akan datang suatu saat nanti.
Berikut ini 3 tips untuk kita kawula muda yang ingin unggul, berjihad dan berkarya untuk masa depan gemilang :

1.                              Create your passion!
            Manusia hidup harus mempunyai tujuan. Hidup tanpa tujuan bagaikan kapal yang berlayar di laut lepas tak tahu arah pelabuhan. Cobalah menjadi arsitek masa depan dalam kehidupan kita sendiri.  Membuat proposal hidup adalah salah satu kuncinya. Nah, tulis apa yang ingin kita capai pada kertas dan tempel di dinding kamar. Kita akan membacanya setiap hari dan lama-kelamaan kita tersugesti dengan harapan tersebut. Maka setiap kali kita membacanya, secara tidak langsung otak kita terdorong untuk melakukan hal lebih banyak lagi, menumbuhkan ide-ide baru dan tentunya memompa semangat untuk lebih baik lagi.
2.                              Do it with Allah.
            Yap. Lakukan semua bersama Allah, agar segalanya terasa ringan tanpa beban.  Mintalah do’a kepada orang tua karena keridhoan Allah terletak pada keridhoan orang tua. Rasulullah pernah bersabda dalam hadist yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Hakim “Sesungguhnya do’a bermanfaat bagisesuatu yang sedang terjadi dan yang belum terjadi. Dan tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali do’a, maka berpeganglah wahai hamba Allah pada do’a.”
3.                              Lakukan semua dengan sepenuh hati, berbagilah apapun yang kita punya agar kita lebih menghargai apa yang dikaruniakan Allah sehingga dapat menambah rasa syukur kita.
            Setelah berusaha semaksimal mungkin, jangan lupa untuk selalu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan selama ini. Bertawakkal atas apa yang akan terjadi dikemudian hari. Karena Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana. Kita hanya mampu berusaha dan bordo’a.

KUN MUSTA’IDDAN !!

Memang terlihat sederhana, namun inilah kali pertamanya aku menulis artikel yang benar-benar kuadopsi dari perkataan beberapa guru, maupun buku bacaan. Aku cukup optimis untuk diterima menjadi maganger LPM Solidaritas, dan akhirnya kaupun diterima. Alhamdulillah. Satu kesempatan untuk mengenal kakak kelasku yang sempat menjadi PU LPM ini, yakni mbak Anifa. Tentunya aku ingin lebih banyak belajar darinya.
            Dan lagi-lagi kini aku mengenal penulis-penulis hebat seperti Prof Ali, membaca karya-karyanya yang begitu menakjubkan, hati ini sering bertanya-tanya. Apakah aku mampu menghasilkan karya sebagus ini? Apakah mungkin aku mampu menghasilkan karya yang lebih dari ini? Akupun membayangkan betapa bahagianya ketika nanti aku mampu menciptakan karya-karya yang memberikan sejuta manfaat untuk umat manusia terlebih untuk umat islam. Betapa bahagianya ketika nama kita senantiasa dikenal orang banyak meskipun jasad kita telah hilang ditelan bumi.

Satu lagi ;Sang Motivatior Muda
Pada pertemuan selanjutnya, sedikit lama kami menunggu kedatangan sang guru besar. Tak seperti biasanya. Biasanya beliau selalu datang tepat waktu bahkan terlebih dahulu sebelum kami datang. Setelah menunggu beberapa menit, ada seseorang dibalik pintu dan ternyata yang datang justru bukan sosok beliau. Kamipun bertanya-tanya di dalam hati. Apakah gerangan yang terjadi sehingga Prof tidak bisa hadir dan justru sosok laki-laki asing ini yang datang? Tidak satupun dari kami mengenali laki-laki ini. Seisi kelas pun terdiam.
            Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh” salam laki-laki itu diiringi senyuman hangat. Lelaki ini terlihat ramah. Seluruh perhatian seisi kelaspun terpusat pada sosok ini. Dengan mengenakan jas hitam berpadu dengan celana hitam, sosok lelaki berkumis tipis ini menyampaikan bahwa Prof Ali tidak bisa hadir dikarenakan  suatu kepentingan. Kulitnya kuning khas jawa timuran, posturnya sedang, tidak terlalu tinggi dan tidak pula terlalu rendah. Nampaknya sosok lelaki ini umurnya berkisar 25 tahun. Cara berbicaranya menarik, fasih dan jelas. Cocok sekali menjadi pendakwah besar. Ujarku dalam batin.
Dialah ustad Ainul Yaqin. Mahasiswa pascasarjana yang pernah diceritakan Prof Ali beberapa waktu yang lalu. Tidak heran jika beliau mengutus ustad Ainul untuk menggantikan beliau. Kemampuan bahasa arabnya sudah tidak diragukan lagi. Dari awal pertemuan beliau berinteraksi dengan kami menggunakan bahasa arab setelah mengetahui dari prof ali bahwa kelas kami adalah kelas khusus. Kamipun terpana oleh kemahirannya berbahasa arab tanpa kesulitan sama sekali. Beliau adalah mahasiswa pilihan yang selain mutlitalent juga memiliki kepribadian yang baik. Beberapa nasihat dan kata bijak sempat terurai dari ustad yang berdomisili di Surabaya ini.
Selain itu, beliau juga ramah, santun, serta humoris. Obrolan kamipun segar dan renyah ala obrolan anak muda. Pagi ini ada suasana obrolan yang berbeda, karena biasanya kami berinteraksi dengan dosen yang bisa dikatakan sudah sepuh. Maklum, ternyata selisih kami dengan beliau hanya beberapa tahun. Walaupun masih pertemuan pertama kalinya, beliau tidak segan untuk berbagi pengalaman kepada kami. Suka duka perjalanan hingga beliau mampu menginjakkan kaki di kiblatnya orang muslim dalam hal keilmuan yakni Al-azhar Kairo. Beberapa foto ketika masih studi di Mesirpun sempat ditunjukkan kepada kami melalui LCD proyektor. Hal ini bukan karena ujub namun semata-mata demi memotivasi kami. Beliau sempat mengatakan “Tidak mudah memang perjalanan menuju sukses, jika sukses itu mudah maka semua orang tentu akan sukses”.
Berbicara mengenai perjalanan beliau sampai mendapatkan beasiswa studi ke Mesir, hal ini tidak lepas dari kedua orangtua beliau yang senantiasa memberikan do’a serta dukungan. Beliau juga menyampaikan betapa mustajabnya do’a seorang ibu, serta pentingnya kita patuh dan tunduk kepada apa yang dikehendaki kedua orang tua meski apa yang kita inginkan jauh lebih besar. Karena beliau sangat meyakini bahwa keridhaan Allah SWT ada pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah SWT ada pada kemurkaan orang tua. Tidak tanggung-tanggung, hal yang lebih bersifat privasi seperti masalah calon pendamping hidup sempat beliau ceritakan secara singkat. Kami tertegun dibuatnya. Beliau memohon iringan do’a kami agar dimudahkan oleh Allah SWT jika memang dikehendaki berjodoh. Dengan lantang kamipun mengucapkan “Amiin” secara serempak dan spontan ustadpun tersenyum. Pertemuan pertama yang  begitu mengesankan. Ungkapku dalam hati.
Di akhir sesi, beliau berkata “Bukan tanpa alasan Allah SWT mempertemukan kita semua dengan Prof Ali, juga saya dengan antum semua.”, ungkap beliau dengan mata berbinar tanda penuh kesyukuran. Tidak mau kalah dengan semangat prof Ali yang menggebu-gebu dalam mendidik kami, laki-laki kelahiran Surabaya ini bertekad untuk membimbing kami terutama dalam bidang bahasa arab. Rencananya, kami akan diberi kajian bahasa arab dan sirah an-Nabawiyyah bertajuk cerita-cerita tentang rasulullah SAW. Rencananya kajian ini akan dirutinkan setiap hari Sabtu pagi.
Kuliah hari Senin pun menjadi semakin berwarna karena hadirnya  beliau. Lama kelamaan kamipun akrab dan merasa seolah-olah beliau wali kelas kami yang begitu memperhatikan potensi dan kemampuan kami. Tidak hanya itu, ketika salah seorang diantara kami yakni Ahmad Munir (Balikpapan) terbaring sakit di RS Bhayangkara beberapa hari, ustad menyegerakan diri untuk menjenguk meski di sela-sela kesibukannya. Bahkan beliau mengatakan bahwa jangan sungkan-sungkan memberi kabar jika ada apa-apa. Subhanallah, sungguh bangga sekaligus bersyukur mengenal sosok seperti ustad.

“ISIS, Antara Tujuan Islami dan Hasrat Duniawi”  (20 Maret 2015)
Matahari mulai condong ke arah barat. Waktu telah menunjukkan pukul 15.20 WIB.  Beberapa panitia dari CSS MoRA angkatan 2014 terlihat sedang membersihkan banner yang akan digunakan sebagai alas duduk dalam Kajian Komunal sore ini. Lokasi yang dipilih panitia yaitu di depan Gedung SAC (Self Access Centre) UIN Sunan Ampel Surabaya. Kajian persembahan DPSDM divisi Intelektual dan Keagamaan ini mengusung sebuah tema yaitu “ISIS, antara tujuan islami dan hasrat duniawi”. Tidak tanggung-tanggung, pemateri yang didatangkan kali ini pun bukan orang sembarangan. Wawasannya yang begitu luas mengenai islam dan perkembangannya membuat panitia tertarik untuk mengundang beliau dalam kajian kali ini. Kepanitiaan dalam acara ini tidak hanya dari pengurus CSS MoRA saja, namun juga melibatkan magangers DPSDM dari CSS MoRA angkatan 2014. Semua bersatu padu bahu membahu, saling membantu satu sama yang lain demi kelancaran acara.









Pukul 15.25 WIB, peserta mulai datang namun masih bisa dihitung dengan hitungan jari. Beberapa menit kemudian sosok yang dinanti-nanti datang. Salah seorang panitia devisi acara terlihat menyambut kedatangan beliau dan mengajak beliau duduk berbincang-bincang di teras gedung SAC. Selang beberapa menit, yakni pukul 15.40 WIB peserta kajian mulai berdatangan. Mereka dipersilahkan duduk dengan formasi melingkar di tempat yang telah disediakan. Bapak Ahmad Ainul Yaqin,Lc sebagai pemateri dalam kajian kali ini dipersilahkan segera mengambil tempat, beliau mengambil tempat di depan, menghadap peserta kajian. Pukul 15.55 WIB acara dimulai dengan pembukaan oleh moderator yakni saudara Febri Zulkarnain.
Acara dilanjutkan dengan sambutan saudara Ahmad Jadulhaq Halim dari CSS MoRA angkatan 2014 mewakili panitia mengucapkan terimakasih serta mengucapkan maaf atas segala kekurangan acara. Sekitar pukul 16.05 WIB moderator membacakan CV (Curriculum Vitae) dari pemateri. Selang beberapa menit pemateri pun dipersilahkan untuk memulai kajian. Para peserta begitu antusias mendengarkan sajian materi dari bapak Yaqin. Semangatnya yang menggebu-gebu menambah antusiasme peserta semakin memuncak dengan tema terhangat yang sedang menjadi trending topic di tengah-tengah masyarakat yakni mengenai ISIS. Sedangkan anggota CSS MoRA angkatan 2014, dikabarkan ada 5 orang yang berhalangan hadir dikarenakan sakit dan beberapa lainnya dikarenakan kesibukan lain. Dari CSS MoRA angkatan 2013 hadir 7 orang serta angkatan 2012 sebanyak 4 orang. Hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB, materi dicukupkan oleh pemateri dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.
Pada sesi ini ada 3 orang yang mengajukan pertanyaan, yakni saudara Nanang dan Mizan dari CSS MoRA angkatan 2014. Serta saudara Ulil Abshor dari CSS MoRA angkatan 2013. Pertanyaan-pertanyaan yang sangat super membuat pembahasan semakin luas. Waktu menunjukkan pukul 17.15 WIB, tibalah pada penghunjung acara yakni penutup. Dirangkai dengan penyerahan cinderamata atau kenang-kenangan dan foto bersama. Acara selesai dan ditutup  pukul 17.24 WIB.

Senin 23 Maret 2015
 ‘Kecewa’. Seolah-olah hanya kata itu yang menjadi ceritaku hari ini. Yah, kekecewaanku kepada diriku  sendiri. Seolah-olah seribu pertanyaan menyerangku. Mulai dari waktuku yang tidak kupergunakan sebaik mungkin, belajar kurang sungguh-sungguh, istilahnya dari segi ikhtiar masih dikatakan kurang dibanding dengan teman-teman yang lain. Yang paling menorehkan penyesalan ialah hasil ujian pertamaku dalam mata kuliah Tafsir BKI yang mana pembahasannya menggunakan tafsir Al-munir karya Wahbah Zuhaily.
Saking pesimisnya aku pun mengambil tempat di bangku belakang. Padahal dalam sejarahku jarang sekali mengambil tempat dibelakang kecuali benar-benar terpaksa dan tidak ada bangku lagi. Namun jika sudah pesimis terkadang hal-hal bodoh seperti inipun kulakukan. Alhasil,  ternyata suara Ustad Ainul Yaqin kurang jelas di telingaku dan sedikit samar. Minta pengulangan berkali-kali pun tidak enak kepada ustad. Inilah kesalahanku yang kedua. Tak lagi-lagi aku mengulanginya untuk ke depannya. Apapun yang terjadi aku harus duduk di barisan depan, atau  minimal barisan tengah.
Mungkin dikarenakan faktor hafalanku yang kurang sempurna, jadi hasilnya pun juga kurang sempurna. Aku termasuk golongan orang yang sulit menghafal, maka aku membutuhkan waktu yang lama untuk menghafal. Biasanya aku tidak akan hafal kecuali sebelum kubaca sampai mulut menjadi kelu. Dan yang terjadi kini, dari sekian banyak ayat-ayat yang berkaitan dengan bimbingan dan konseling, aku lupa beberapa ayat. Inilah yang kusesalkan. Faktor lain karena management waktu yang kurang terstruktur. Pada malam hari sebelum ujian, aku berencana untuk mendalami materi tafsir yang kesemuanya menggunakan bahasa arab gundul, namun apa mau dikata ternyata gagal karena ada hal lain yang harus kuselesaikan malam itu juga. Aku harus menyelesaikan tugas mengedit tafsir Tafsir AL-AZHAR. Meski hanya 45 lembar namun cukup memakan  banyak waktuku hingga baru selesai pukul 22.30 WIB. Otomatis, malam itu belajarku hanya sekilas saja karena mata yang sudah memerah dan meminta haknya untuk dipejamkan.
Alhasil, beginilah jadinya. Aku mendapatkan skor 70. Minim sekali dibanding teman-teman yang lain yang rata-rata mendapatkan skor diatas 80. Nilai terendah 68, hanya selisih 2 skor dibawahku. Kekecewaan dan rasa berdosa pun sempat menjadikan semburat di wajahku semakin nampak. Aku hanya berdiam diri sembari beristighfar. Inilah hasil dari usahaku dan inilah yang harus ku terima. Inilah pembelajaran dari Allah mengenai pentingnya usaha dan proses.
Sesak hati di antara himpitan-himpitan waktu yang semakin mendesakku untuk terus mengejar ketertinggalanku. Dalam sujudku aku mengadukan segala rasaku kepada Rabbku.
Rabb
Aku lemah ya Rabb tanpa pertolongan dan kasih sayangmu.
Terimakasih atas pembelajaranmu hari ini yang amat luar biasa.
Aku yakin Engkau memberikan hikmah yang luar biasa dibalik semua ini.
Karena Engkaulah sebaik-baik pembuat rencana.
Aku percaya bahwa aku bisa bangkit dari semua ini dan memperbaiki semua dengan pertolonganMu ya Rahman


Tak henti-hentinya prof meyakinkan kami bahwa “Hidup masih koma!”. Aku yakin, yakin, yakin, aku bisa dan pasti bisa. Bukan seberapa banyak kamu gagal namun berapa kali kamu bangkit dari kegagalan. Aku yakin bisa karena Allah SWT pasti memberiku pertolongan. Aku yakin bahwa Allah pasti tersenyum melihatku bersemangat lagi dan Dia pasti akan memberikan yang terbaik untukku

Gema Shalawat Cinta Rasulullah SAW
Acara Senandung Cinta Rasulullah SAW ini bertempat di depan kantor jurusan BKI  Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya. Beberapa panitia terlihat berdatangan sejak pukul 18.25 WIB, disusul oleh panitia-panitia lain. Semua panitia bekerja sama untuk mempersiapkan acara yang akan dimulai nanti pada pukul 19.00 WIB. Mulai dari bagian Dekorasi Perlengkapan dan Akomodasi (DPA) yang sedang menata sound system. Bagian acara, juga bagian konsumsi yang sedang menata gorengan-gorengan untuk acara nanti. Semua bekerja sama saling membantu antar bagian satu dengan yang lain demi kelancaran acara.
Pukul 18. 55 WIB beberapa hadirin mulai berdatangan termasuk dengan bapak Agus Santoso dan bapak Muhammad Tohir. Mereka di persilahkan duduk di tempat yang telah disediakan. Selang beberapa menit, sekitar pukul 19.12 WIB acara dimulai dengan pembacaan do’a yang dipimpin oleh Nanang Sufratna. Pembacaan do’a ini berlangsung sekitar 15 menit.
Seluruh arena hampir penuh, kecuali bagian tengah yang memisahkan antara hadirin putra dan hadirin putri. Beberapa  menit kemudian sekitar pukul 19.28 WIB acara dimulai oleh Ahmad Rifai Sinaga sebagai pemandu acara. Dirangkai dengan pembacaan                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     kalam ilahi oleh saudara Febri Zulkarnain sampai dengan pukul 19.34 WIB, cukup syahdu membuat hadirin terkesima oleh alunannya.
Pukul 19.35 WIB acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan yang pertama disampaikan oleh Nanang Sufratna mewakili seluruh panitia. Pukul 19.45 dilanjutkan dengan sambutan Ketua CSS MoRA UIN Sunan Ampel Surabaya, Anwari Nuril Huda yang berlangsung hingga pukul 19.52 WIB.
Menginjak acara selanjutnya yaitu shalawatan. Shalawatan ini berlangsung secara khusyuk dengan iringan grup banjari CSS MoRA dan saudari Ainun Nadhiroh dan Iva Umi Agustina sebagai vokalis. Bapak Agus dan bapak Thohir pun tak ketinggalan turut menyumbangkan beberapa shalawat. Suasana begitu khusyuk dengan shalawatan ini dan berakhir pukul 20.31 WIB.
Acara dilanjutkan dengan ceramah agama yang disampaikan oleh bapak Achmad Murtafi Haris Lc, M.Fil sampai dengan pukul 21.23 WIB. Pembacaan do’a oleh bapak Agus Santoso selaku pengelola PBSB UIN Sunan Ampel Surabaya sekaligus penyampaian beberapa pesan menjadi penutup dari rangkaian acara malam ini. Acara selesai pukul 21.23 WIB ditandai dengan bubarnya hadirin dikarenakan malam yang semakin larut.
Dengan dilaksanakannya shalawat cinta rasul ini, diharapkan anggota CSS lebih mencintai shalawat Nabi dan melestarikannya sehingga tidak kalah saing dengan lagu-lagu produk barat yang merusak akhlaq dan moral umat. Shalawat itu mudah, bisa setiap saat bahkan cara menikmati shalawat sekarang ini cukup beraneka ragam. Mulai dari alunan music qasidah, al-banjari, shalawat kontemporer, nasyid, dan lain sebagainya.

Senin 30 Maret 2015
            Aku mulai belajar dari kegagalanku kemarin, mulai menata diri meniti hari. Berusaha tidak menyia-nyiakan setiap waktuku dan mencetak bahan ujian secepat mungkin hingga aku dapat mempelajarinya seawal mungkin. Karena aku sadar aku bukan manusia super yang mampu mempelajari materi sebanyak ini semalam saja. Berbeda dengan teman-teman yang lain yang mungkin mudah saja belajar dalam hitungan jam. Inilah yang kukagumi dari mereka, mereka manusia hebat yang pernah kutemui. Syukurku bisa bertemu dan mengenal sosok-sosok seperti mereka.
            Pagi tadi ujian Tafsir yang kedua telah dilaksanakan. Ujian kali ini merujuk Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka. Menurut pengakuan beberapa teman, bahasa yang digunakan Buya Hamka lumayan sulit untuk difahami karena bahasa-bahasa daerah yang disertakan dalam penulisannya. Kuakui hal ini memang benar. Tapi NO EXCUSE! Banyak alasan yang membuat kita jauh dari kesuksesan. Aku tetap berusaha memahaminya dan yakin dengan bantuan Allah SWT aku pasti faham. Kali ini aku tidak lupa memohon do’a restu kepada ibu demi kelancaran ujian pagi ini lewat senarai pesan pendekku. Tidak kusangka ibu langsung membalasnya. Kata katanya merupakan energi besar bagiku, mengalahkan energi Power Rangers yang mampu membuat gedung-gedung hancur. Seakan-akan mengaktifkan seluruh sel-sel dalam otakku dan seakan menghapus sugesti bahwa ujian nanti lumayan sulit. Aku berusaha menggantinya dengan sugesti “Bersama Allah aku bisa”.
Seperti amanah Prof Ali beberapa waktu yang lalu, ujian kami diserahkan sepenuhnya kepada ustad Ainul Yaqin. Beliau diberi amanat untuk membuat soal sekaligus mengujikannya kepada kami.  Aku mengambil tempat duduk nomor dua dari depan. Yap! Tempat duduk nomor dua dari depan selalu menjadi pilihanku. Akupun berusaha mendengarkan soal-soal dari ustad dengan seksama dan sesuai anjuran Prof Ali, tidak bernafas untuk soal-soal yang lumayan sulit. Sebisa mungkin aku tidak tengok kanan tengok kiri, nguping kanan nguping kiri. Aku mencoba al i’timad ‘ala an nafs karena percaya bahwa berpegang teguh pada diri sendiri merupakan dasar dari kesuksesan.
Setelah ujian selesai dilaksanakan, nilai masing-masing pun telah jelas di tangan. Kami tidak menukar lembar jawaban dengan teman yang lain karena Prof telah mempercayakannya kepada kami. Tragisnya, sebagian besar nilai kami turun drastis. Entah ada apa dengan Tafsir Al-Azhar. Padahal Tafsir minggu lalu terbilang lebih sulit karena merujuk pada Tafsir Al-Munir karya Wahbah Zuhaily yang redaksinya menggunakan tulisan arab dan mayoritas mendapat nilai yang cukup memuaskan. Sedangkan kali ini, tafsir Al-Azhar redaksinya berbahasa Indonesia dan justru mayoritas nilai kami menurun.
Memang  nilaiku sendiri tidak turun tapi naik meskipun hanya 3 angka dari nilai sebelumnya yakni 73. Aku cukup bersyukur dengan usaha dan jerih pbapakku untuk belajar mampu meningkatkan nilaiku meski hanya sedikit sekali peningkatannya. Paling tidak nilaiku tidak turun, itu saja yang ada di pikiranku saat ini. Syukurku juga karena nilaiku tetap bertahan meski pas-pasan disaat teman-teman yang lain nilainya menurun. Alhamdulillahirabbil ‘alamin.
Allah selalu bersama orang-orang yang bertawakkal dan berserah diri. Satu titik terang dalam hidupku mulai Nampak, dan aku mencoba mengikuti kemana arah titik terang itu. Seketika itu pula kukirim pesan singkat kepada ibu. Aku ucapkan terimakasih atas do’a yang telah dipanjatkan dalam do’anya. Aku semakin percaya dan berusaha mengingat ucapan ustad Ainul beberapa saat yang lalu bahwa do’a ibu itu sangat mustajabah. Maka jangan remehkan do’a ibu. Akupun bertekad ingin selalu meminta do’a ibu ketika akan melakukan aktivitas apapun. Meskipun aku yakin ibu selalu menyertakan namaku dalam setiap do’anya tanpa harus ku minta.

Good Bye Maret Kelabu, April Telah Bersemi
Ku awali semerbak harum Bulan April yang menyapaku dengan penuh semangat. Aku sadar, bulan Maret memberi pembelajaran yang cukup besar dalam hidupku. Tak ada gunanya penyesalan yang tiada berujung, yang ada hanyalah mataku yang semakin dibutakan dari kenyataan yang harus kuhadapi sekarang ini karena terus memikirkan hal yang telah berlalu dan bahkan telah hilang. Seperti kata bijak yang pernah kudengarkan dalam radio Suara Gontor FM yaitu “Memikirkan hal yang telah berlalu dan mengkhawatirkan yang akan datang adalah sebuah kegilaan semata”. Tiada gunanya sama sekali dan hanya membuang-buang waktu.
Ketika berjalan melintasi jalan arah keluar pesmi, ku pandangi pohon-pohon besar yang tumbuh di pinggir jalan. Dedaunannya rindang melambai-lambai diterpa angin siang hari. Pikirku melayang pada suasana musim semi di Jepang. Imajinasiku seperti terkuak dan memintaku masuk dalam alam khayalku. Memang benar kata miss Ima. Guruku saat mengikuti Kursus di Genta Pare-Kediri. Ia pernah berkata “Hidup dalam imajinasi itu indah, asalkan kamu bisa membawanya pada kehidupan nyata”. Akupun mencoba nyemplung dalam imajinasiku sendiri seakan akan aku berada di tengah-tengah pohon-pohon sakura yang sedang bermekaran.
Kuncup-kuncup bunga sakura telah nampak diujung ranting pohon yang berjajar rapi di sepanjang jalan itu. Harumnya semerbak mewangi menambah sensasi musim semi yang telah tiba kini. Kehadiran musim semi selalu dinanti oleh penduduk Jepang karena keindahan pesona sakuranya dibanding musim yang lain. Bagi orang Jepang, bunga sakura merupakan simbol penting yang kerap diasosiasikan dengan perempuan, kehidupan, dan kematian Sebenarnya bunga sakura mengajak kita untuk bertafakkur. Karena bunga ini hanya “Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati”. Bunga yang merupakan bunga nasional Negara Jepang ini mekar hanya sekali dalam setahun pada saat musim semi yakni sekitar bulan April.. Seiring itu pula ku teringat pada kakak kelasku yang pernah singgah ke Negara yang dijuluki sebagai Negara Macan Putih ini untuk mengikuti pertukaran pelajar. Namanya Siti Rowiyah, santriwati pondok yang prestasinya begitu brillian.  Apalagi kemampuan bahasa inggris, sudah tidak diragukan lagi. Sekarang dia aktif di pondok.
Sungguh pesonanya Negara Sakura ini membuatku ingin mengunjunginya suatu saat nanti. Entah kapan waktunya. Aku benar-benar ingin melihat keindahan negeri itu ketika musim semi tiba. Yang ku ingat dari bunga ini, “Hidup sekali, berarti, lalu mati”. Meski dalam durasi hidupnya tahun depan ia akan hidup kembali, berbeda dengan manusia bahwa jika sudah mati maka tidak akan hidup kembali di dunia. Tetap saja kata-kata ini mengingatkanku bahwa tidak sepantasnya aku membuang-buang waktu. Apalagi masa mudaku yang masih penuh dengan ide-ide, kreatifitas, energi yang masih prima, tidak pantas rasanya jika aku menyia-nyiakan masa emas ini. Fastabiqul khairaat! Aku percaya suatu saat nanti Allah SWT menunjukkanku buminya yang indah dengan jalan yang dikehendaki-Nya. Aku ingin melihat bumi Allah lebih luas. Amiin, insya’allah.

“Maka Kenikmatan apa lagi yang Kamu Dustakan?”
Aku baru tersadar, ternyata memiliki teman yang banyak itu menyenangkan. Dimanapun kita melangkahkan kaki, selalu ada yang menyapa, menebar senyum, dan mewarnai setiap derap langkah.  Berbagai mejelis ilmu pun menjadi ajang untuk meluaskan ukhuwah. Seperti organisasi, media social, dan lain sebagainya. Ketika kita terjatuh dan butuh pertolongan, selalu ada saja tangan-tangan penuh keikhlasan yang bersedia menolong. Ketika kita butuh tempat untuk mencurahkan isi hati, ada saja yang bersedia untuk mendengarkan. Betapa indahnya ukhuwah dalam islam, apalagi di tanah jawa yang orang-orangnya terkenal ramah dan easy going.
Dengan memiliki banyak teman, hidup terasa tidak sesempit daun kelor. Selalu ada setiap saat. Kita pun mampu belajar banyak dari teman. Belajar memahami karakter-karakter dari mereka, menyerap apa-apa yang baik dan menghindari sikap yang tidak berkenan di hati. Hidup terasa bahagia karena menghargai orang lain. Entah apapun yang ada pada diri orang lain, kita tidak perlu protes, apalagi mengeluh. Karena perbedaan itu suatu keniscayaan dan beda itu indah jika kita mampu mengolahnya dengan baik.  Ketika hidup di perantauan seperti yang sedang ku tempuh saat ini. Kawan seperjuangan tidak dapat dikatakan sebagai teman lagi. Yap! Saudara. Karena orang terdekat disini adalah mereka, kawan-kawan seperjuangan. Menyayangi satu sama lain dan saling mengerti adalah kunci untuk menciptakan keluarga baru ketika di perantauan.
Malam ini ku teringat seorang kawan semasa di MA. Ia kerap disapa “Hanik”, Hanik Kharismatul Laila nama lengkapnya. Karena usia yang terpaut 1 tahun denganku, dia lebih ku anggap sebagai adik disamping pula sifatnya yang masih kekanak-kanakan. Dia adalah sosok yang periang, ramah serta tidak pernah menampakkan wajahnya yang murung di depan teman-temannya. Aku sangat mengenal karakternya karena kurang lebih 3 tahun aku satu kelas dengannya.
Gadis manis berkulit sawo matang ini telah kembali ke rahmatullah 2 tahun yang lalu dikarenakan penyakit yang merongrong tubuhnya. Putri sulung dari tiga bersaudara ini divonis terkena penyakit paru-paru. Setelah terbaring sakit selama beberapa minggu, dan sempat dirawat selama beberapa hari di rumah sakit, akhirnya sahabat karibku ini menghembuskan nafas terakhirnya dengan lengkungan  senyum di bibirnya. Begitu mendengar akbar ini, aku begitu terpukul karena pada saat itu aku belum sempat menjenguknya. Dia telah kembali ke kota asalnya yakni Tulungagung beberapa bulan ketika sakitnya mulai parah. Sedangkan aku terjebak kesibukan di pondok yang tiada kunjung usai dan sangat sulit untuk ku tinggalkan. Aku merasa amat sangat bersalah. Tiada yang mampu ku lakukan, selain mendo’akan semoga dia mendapatkan tempat yang terbaik dan terindah di sisi-Nya. Amin.
Aku beserta teman-teman seangkatan berkunjung ke kediamannya, di desa Boyolangu kecamatan Kuncen Kabupaten Tulungagung. Beberapa kawan sempat mengirim do’a bersama dan berziarah ke makamnya. Lain denganku, aku tidak kuat menahan dukaku. Hanya mampu bersilaturrahmi kepada ibu bapaknya sekaligus do’a bersama di kediamannya. Satu hal lagi yang kusesalkan adalah karena beberapa hari sebelum dia dirawat di RS, dia sempat mengirim pesan kepadaku lewat inbox di facebook. Dia bertanya mengenai pengalamanku di organisasi yang baru beberapa bulan kami dilantik. Sebenarnya dia juga termasuk dalam kepengurusan, namun karena dia sakit jadi tidak ikut dalam prosesi pelantikan. Dan inilah yang selalu mengusik pikiranku karena aku belum tuntas menjawab pertanyaannya. Lagi-lagi karena waktu yang belum mengizinkanku. Tak ada lagi yang mampu kulakukan, hanya perasaan bersalah dan mencoba mengungkapkan permintaan maafku lewat do’a yang kupanjatkan.
Tiba-tiba aku teringat lagu nasyid yang dibawakan oleh salah satu grup music nasyid asal kota kembang. Siapa sih yang tidak kenal grup band “Edcoustic”. Grup nasyid asal kota Bandung yang mempercayakan kang Aden sebagai vokalis dan kang Eggie sebagai gitaris ini identik dengan tema yang humanis religius. Cocok sekali untuk kaum muda karena bisa merangsang energy-energi positif yang menghantarkan kesemangatan. Berawal dari kebiasaanku mendengarkan radio Suargo FM dan lagu yang sering diputar adalah lagu-lagu Edcoustic, maka aku menjadi suka dengan semua lagu grup nasyid ini. Lagu ini sedikit sendu, mengenang keberadaan seorang sahabat, kira-kira beginilah liriknya :
Hari hari saat aku bersamamu sahabat
Telah lama waktu yang kita lewati bersama
Kusadari masa itu masa-masa terindah
Dalam sukaku dalam dukaku engkau selalu ada
Reff
Sahabatku tercinta terimalah laguku
Hadirmu selalu memberi bahagia
Semoga abadi persahabatan kita
Ingatkah saat kuterpuruk disini
Engkaulah yang selalu disampingku
Terimakasih telah menjadi bagian
Yang berarti tuk persahabatan kita
Back to reff

Senin 06 April 2015
Alhamdulillah wa syukru lillah. Kusyukuri pemberian terindahmu hari ini ya Allah. Setelah usaha keras, do’a yang senantiasa kupanjatkan, akhirnya Allah SWT menunjukkan betapa besar kekuasaan-Nya. Ada peningkatan yang cukup signifikan pada hasil ujian tafsir BKI yang ketiga kalinya ini dibanding nilai-nilaiku sebelumnya meski hanya mencapai skor 83. Aku merasa usaha belajarku tidak seberapa besar dibanding ujian sebelumnya yang lumayan sulit. Ujian kali ini merujuk pada Tafsir Ibnu Katsir.
Semua karena ibu. Do’a ibu memang tiada duanya. Bahkan ustad Ainul pernah berkata “Do’a perempuan (ibu) kepada anaknya seperti do’a nabi kepada umatnya”. Dinding-dinding langit pun bergetar karena do’a seorang ibu. Tak hanya itu, bapakku juga luar biasa. Beliau juga pasti selalu menyelipkan namaku diantara sujud-sujud shalat hajatnya. Terimakasih bapak, ibu. Aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik bagimu, meski belum cukup semua usahaku untuk mengukir senyum diwajahmu. Namun selagi nafas dan detak jantungku masih pada genggaman sang pemberi hidup, aku akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk meringankan bebanmu bapak, ibu. Insya’Allah.
Belakangan ini setiap kali akan ada Ujian, aku selalu menyempatkan diri untuk mengirim pesan kepada ibu memohon do’a restu demi kelancaran ujianku. Ketika ibu membalas pesanku, rasanya seperti diguyur dengan hujan kesemangatan yang tiada pernah kudapat dari motivator manapun.  Karena ibu aku ada, karena bapak aku besar sampai saat ini.
            Tapi ini hasil ini belum apa-apa dibanding teman-teman yang lain. Teman-temanku luar biasa dan hebat. Camkan pula bahwa nilai bukanlah satu hal yang menjadi tolok ukur utama bagi pembelajaran seseorang. Menuntut ilmu itu harus diniati karena mencari keridhaan Allah, menghilangkan kebodohan dalam diri, bukan yang lain-lain. Aku akan terus berusaha semampu dan sebisaku. Terus belajar dan tiada kata puas untuk menuntut ilmu. Ingat tria J

Muhasabah Waktu
Malam ini aku teringat gubahan syair yang sering kudengar dari radio Suara Gontor FM Ponorogo, kira-kira begini bunyinya :
Untuk memahami makna waktu satu tahun, tanyalah seorang siswa yang gagal dalam sebuah ujian kenaikan kelas
Untuk memahami makna waktu 1 bulan, tanyalah ibu yang melahirkan bayi prematur
Untuk memahami makna waktu 1 minggu, tanyalah editor majalah mingguan
Untuk memahami makna waktu 1 hari, tanyalah seorang pekerja dengan gaji harian
Untuk memahami makna waktu 1 jam, tanyalah seorang anak yang sedang menunggu kedatangan orangtuanya
Untuk memahami makna waktu 1 menit, tanyalah  seseorang yang ketinggalan kereta
Untuk memahami makna waktu 1 detik, tanyalah tanyalah seseorang yang selamat dalam sebuah kecelakaan
Untuk memahami makna waktu 1 milidetik, tanyalah seorang pelari  yang meraih medali perak dalam sebuah pertandingan
Dan akhirnya sadarkah kita bahwa waktu terus berlalu. Sanggupkah kita mempertanggungjawabkan kepada Allah bagaimana kita menggunakan setiap milidetik waktu kita”

              Tiada hari yang kuharapkan selain hari dimana aku bertambah dewasa. Bijak dalam menghadapi segala problema dan kerasnya dunia. Maklum, ini perantauanku yang pertama. Aku masih dalam belajar menata diri. Mulai dari sikap, kebiasaan, rutinitas, sampai mental. Setiap hari aku berharap untuk senantiasa memperbaiki diri. Meski hari demi hari tak secerah dan sebiru yang aku harapkan. Aku tak peduli. Hidup masih koma. Itu yang selalu aku tekankan pada diriku sendiri. Karena mau tidak mau, sadar atau tidak sadar, perjuangan ini pun tak mudah. Kuda-kuda yang telah aku pasang mungkin tidak berjalan secepat yang aku inginkan. Terjatuh? Sudah pasti dan itu berulang kali. Menangis? Itu sudah biasa dan itulah obat hati.
              Maka teguhkanlah hatimu dan yakinlah ini takdir Allah yang terbaik bagimu. Jalanilah dengan penuh ikhlas hati dan jadilah pejuang masa depan. Jangan pernah menyerah karena arus pasti akan membuat perahumu goyah. Engkau adalah nahkoda bagi perahu kehidupanmu. Maka cukuplah Allah sebagai penentu langkahmu,  penjaga hatimu, penentram qalbumu hingga ada sosok imam yang akan membawamu menuju syurga al Firdaus. Semoga Allah menjaganya selalu dalam setiap waktu. Amin.
Dan sekali lagi, dunia itu indah. Bahkan ketika kamu dalam keterpurukan dan jatuh dalam lubang kehancuran. Itu semua memberimu pelajaran bahkan hikmah yang membuatmu lebih kuat untuk menjalani kehidupan. Yap. Sekali lagi, dunia itu indah. Tinggal bagaimana kamu memandangnya. Tidak selamanya seseorang itu seburuk yang kamu duga, tidak selamanya masalah itu serumit yang kamu fikirkan. Bukalah matamu, pandanglah bahwa segala sesuatu pada dasarnya itu baik. Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fithrah.

Dakwah Ala Asma Nadia Dan Aguk Irawan
“Buka mata , buka telinga, buka hati. Lihat dunia lebih luas dan jadilah penebar kebaikan lewat tulisan
Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam CSS MoRA (Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) UIN Sunan Ampel Surabaya menggelar Talk Show bersama Asma Nadia dan Aguk Irawan (16/04) dalam rangka DIES NATALIS CSS MoRA yang ke VII.  Acara yang berlangsung mulai pukul 08.45 hingga 14.00 di auditorium UIN Sunan Ampel ini merupakan acara puncak setelah beberapa rangkaian acara sebelumnya yakni CSS Cup, Bakti Sosial, CSS Challenges, dan Bazaar Buku.
Menurut Haris Maiza selaku ketua panitia, Talk Show yang mengusung tema “Mari Menulis; Ekspresikan Idemu, Lejitkan Namamu” ini menghabiskan dana mencapai Rp. 34.000.000,00. Sebanyak 85 % berasal dari anggota CSS MoRA sendiri yang berupa uang organisasi, pengajuan proposal sponsor serta kerjasama dengan berbagai pihak salah satunya adalah P2B (Pusat Pengembangan Bahasa) UIN Sunan Ampel Surabaya.
 Antusiasme para peserta dinilai cukup besar seperti yang diungkapkan Wahyu Setiani, guru MI Mojoarno Jombang. “Luar biasa! Saya sudah menunggu 10 bulan untuk kedatangan mbak Asma. Karena menurut saya mbak Asma itu penulis yang sangat inspiratif. Selain menjadi contoh muslimah, kreatifitasnya serta jiwa sosialnya juga tinggi”.
Penulis novel best seller berjudul “Assalamu’alaikum Beijing” ini juga merupakan penggagas Rumah Baca Asma Nadia dan salah satu mimpinya yaitu mendirikan 1000 rumah baca.“Menulis Buku bukan sekedar hiburan namun kebutuhan diri sendiri dan orang lain. Jika kamu tidak menemuinya di toko buku manapun, maka jadilah penulisnya.” Ungkap ibu dua orang anak ini. Sedangkan Aguk, pria yang juga penulis novel bestseller Haji Backpacker dan Maha Cinta ini mengungkapkan bahwa seseorang terlebih dahulu harus peka terhadap lingkungan dan situasi agar lebih mudah mendapatkan inspirasi.
Pada akhir talkshow, Asma menambahkan bahwa dengan menulis kita juga bisa berdakwah kepada banyak orang serta menebar kemanfaatan sekalipun kita telah terdekap beberapa meter dibawah tanah. Betapa mulianya orang-orang seperti ini, pena yang menjadi saksi akan karya-karyanya. Semoga Allah memberikan balasan yang setimpal kelak di syurga-Nya. Amin.
Acara ini cukup memberikan kesan tersendiri bagiku. Bisa bertemu sekaligus bertatap muka langsung dengan penulis besar yang fenomenal dengan beragam karyanya yang telah menjadi bestseller dan beberapa diantaranya telah di film-kan. Karena kesempatan ini sangat jarang didapatkan, aku berusaha untuk bisa berfoto bersama dengannya sebagai motivasi bagiku untuk berkarya minimal sama dengan bunda Asma. Penulis itu biasa, namun penulis yang berjiwa social tinggi itulah yang luar biasa. Dan inilah yang kutemukan pada sosok bunda Asma Nadia. Orang-orang seperti inilah yang dibutuhkan oleh bangsa. Karena tidak semua kalangan mampu membeli buku-buku bacaan yang berkualitas dan tentunya lumayan merogoh kocek cukup dalam. Bersama suami dan partner kerjanya, Asma mendirikan rumah baca yang cabangnya sudah lebih dari 100. Impiannya yakni mendirikan 1000 rumah baca. Sungguh mulianya hati perempuan cantik yang berjilbab rapih ini, semoga Allah meridhai setiap langkahnya sebagai penulis sekaligus pendakwah muslim. Amin
.
“Menulis Itu Asyik Loh
Hari ini perkuliahan berjalan dengan lancar, syukur Alhamdulillah. Sorenya kami melaksanakan kajian angkatan bersama kawan satu kelas dengan pemateri dari anggota kelas kami sendiri yang mana ia telah memiliki segudang pengalaman dalam bidang kepenulisan. Dia adalah Moh. Mizan Asrori. Pemuda berkulit sawo matang ini telah memulai kiprahnya semenjak masih nyantri di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. Kajian kali ini mengusung sebuah tema yaitu “Menulis itu Asik Loh”, dengan dibawakan oleh moderator keren produk batak asli, ia kerap disapa “Rafael” dengan nama lengkap Rahmat Faisal Nasution. Nah, berikut sedikit uraian materi yang disampaikan oleh Mizan :
“Menulis Itu Asyik Loh
Dengan menulis, secara tidak langsung kita :
1.      Menjadi guru bangsa
Ketika kita menulis opini, secara tidak langsung kita memposisikan diri sebagai pribadi yang lebih mengetahui dari pembaca. Hal ini tentunya harus didukung dengan berbagai literatur dan sumber yang akurat. Perbanyak wawasan dengan membaca berbagai literatur baik dari buku, internet maupun jurnal. Karena dengan wawasan yang luas juga akan mempermudah kita untuk menuangkan gagasan menjadi sebuah tulisan.
2.      Memperpanjang umur
Penulis-penulis besar seperti Al-Ghazali, Chaerul Anwar, Ibnu Katsir tidak pernah terkenal jika tidak berkarya. Karena karya-karyanya terus dinikmati umat manusia, nama mereka abadi sepanjang masa meskipun jasadnya telah terkubur dalam tanah. Petuah sayyidina Ali bin Abi Thalib :
“Setiap penulis akan mati. Hanya karyanyalah yang abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti”
Tips-tips menjadi penulis besar :
1.      Menulis itu bukan pembawaan, dan tidak ada faktor hereditas yang melatarbelakangi seseorang itu bisa menulis.  Namun menulis itu sebuah ketrampilan, semua orang pasti bisa menulis jika dia memiliki kemauan dan dibiasakan.  Intinya, semua orang bisa menulis karena menulis bukan bakat namun pembiasaan.
2.      Menulis tidak perlu banyak konsep, tulislah apa yang ada dipikiranmu.
Jangan terlalu lama memikirkan apa yang harus ditulis, tulislah apa yang kamu lihat, apa yang kamu dengar, dan apa yang kamu rasakan. Seperti hal yang sangat sederhana, misalnya ekspresikan suasana hatimu saat ini dengan menulis agar orang lain tahu bagaimana perasaanmu.
3.      Spesifikasikan apa yang menjadi kecenderungan kita.
Misalnya kita lebih menyukai berita, maka tekunilah cara-cara penulisannya bagaimana, sering-sering membaca berita di surat kabar, dan sebagainya. Jika lebih cenderung menyukai cerpen, maka tekunilah cara-cara menulis cerpen yang baik.
4.      Baca buku-buku yang berkaitan.
Membaca buku-buku literature bukan berarti kita meniru pikiran orang tetapi kita belajar menyelami gagasan yang ada dalam pikiran orang lain yang tertuang dalam tulisan-tulisannya, lalu kita kombinasi dengan apa yang telah ada dalam benak kita.
5.      Menulis perlu banyak wawasan, (teks dan konteks)
Teks adalah yang ada di dalam literatur-literatur, sedangkan konteks ialah apa yang ada di alam realita yang membutuhkan kepekaan sosial untuk mampu membacanya. Maka seorang penulis mutlak harus memiliki kepekaan social terhadap apa yang ada disekitarnya.
6.      Belajar dari penulis-penulis besar
Tidak perlu jauh-jauh mengambil contoh, kita ambil dari sosok penulis besar di sekitar kita yakni beliau Prof Moh. Ali Aziz. Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah belajar dari kegigihan dan keuletan beliau, membaca karya-karya yang telah dihasilkan beliau, menanyakan hal-hal yang menjadi hambatan kita untuk menulis, meminta motivasi, dan lain sebagainya.
7.      Mengikuti pelatihan-pelatihan atau seminar tentang kepenulisan.
Ikuti kajian-kajian kepenulisan sekecil apapun hingga pelatihan dan seminar kepenulisan skala nasional. Dengan berbagi ide dan sharing pengalaman dengan penulis yang lain, kita akan terinspirasi dengan hasil-hasil karyanya dan termotivasi untuk menciptakan karya yang lebih hebat.
8.      Mencari gagasan.
Karena menulis butuh ide. Dengan zaman yang semakin dinamis ini, maka ide untuk menciptakan karya-karya baru yang lebih segar sangat dibutuhkan demi menjawab kebutuhan masyarakat luas akan karya-karya baru.
9.      Selalu merasa kurang.
Jangan mudah puas dengan tulisan kita. Ketika telah menulis dan mendapatkan apresiasi dari pembaca, jangan lekas puas akan hasil tulisan kita dan terus berlatih dan selalu meminta tanggapan dari penulis yang lebih senior.
Proses menulis yang baik :
1.      Pengalaman
Gali ide dan tujuan penulisan. Menulis itu dari hati, maka jatuhnya akan kehati pula.
2.      Mulailah menulis
Tuliskan ide anda sebelum hilang atau diambil orang lain
3.      Evaluasi
Baca kembali, mintalah saran dan masukan dari orang lain terutama yang ahli dibidangnya.
4.      Revisi
Perbaiki sesegera mungkin
5.      Terbitkan!

Sabtu 18 April 2015
Mentari hari Sabtu begitu cerah menyinari pagi ini. Gedung-gedung pencakar langit terlihat silau terkena sorotan sang mentari. Embun yang membasahi pagar balkon semakin lama semakin hilang tertiup hembusan angina pagi. Ku hirup dalam-dalam udara yang masih lumayan segar ini. Dari balkon lantai 5 Pesantren Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya ku pandang hamparan luas pemukiman padat penduduk di sekitar. Inilah bukti bahwa semua orang selalu ingin maju dari keterbelakangan hidup. Beramai-ramai ke kota untuk mengadu nasib dan menyambung kehidupan dengan mencari pundi-pundi rupiah di tengah hiruk-pikuk perkotaan. Mereka tak berbeda jauh dengan aku. Akulah anak desa yang berbekal restu bapak ibu datang ke kota ini untuk menimba lautan ilmu. Tidak tahu apakah nasib akan berpihak kepadaku. Allah SWT berkuasa atas semuanya dan aku percaya Allah SWT pasti akan memberikan yang terbaik untuk hambanya yang telah berikhtiar, berdo’a dan bertawakkal. Insya’allah.
Tak seperti biasanya, pagi ini ada agenda baru untuk mengisi akhir pekan kami. Kajian bersama ustad Ainul di depan SAC menjadi  salah satu rutinitas terbaru bagi kami dan sepertinya akan menjadikan kesan tersendiri dalam hari libur kami. Karena pada hari libur pada umumnya mahasantri bangun kesiangan. Dengan adanya kajian ini yang dimulai pukul 07.00 WIB, bagi kami tiada kata ‘kesiangan’ lagi pada hari Sabtu pagi.
Kajian diisi dengan pembacaan kitab yang berisi seputar sirah an-nabawiyah. Yang pasti kitab yang tebalnya berkisar 500 halaman ini berisikan semua tentang rasulullah Muhammad SAW. Perjalanan beliau mulai dari lahir ke dunia sampai menutup mata. Bahkan hal-hal seperti perawakan nabi, warna kulit, tinggi badan rasulullah SAW diungkap secara detail oleh kitab ini kemudian disampaikan kembali oleh ustad Ainul dengan bahasa arab yang mudah dipahami.
Pada pertemuan pagi ini, ustad menyampaikan bahwa rambut rasulullah SAW tidak lurus, tidak juga keriting. Panjangnya sampai daun telinga. Sedangkan kulit beliau kuning kemerah-merahan. Cara berjalannya tegak seperti orang baru turun dari gunung. Tegap dan tidak terlalu cepat, tidak pula terlalu lambat. Badannya pun athletis dan kekar. Yang begitu mengagumkan, katanya wajah rasulullah SAW sangat tampan. Bahkan saking tampannya tiada orang yang mampu melukiskannya.
Pada akhir sesi, ustad meminta kami untuk memperkenalkan diri satu persatu dengan menggunakan bahasa arab. Kami diminta menyebutkan nama, asal, hobi dan cita-cita kami di masa depan nanti. Dengan adanya perkenalan ini ustad ingin mengenal kami lebih dalam lagi. Tentunya dalam artian positif untuk mempermudah berinteraksi dengan kami, tidak untuk hal-hal lain. Ustad benar-benar menyatakan niat baiknya untuk bersama-sama mengajak dan membimbing kami menuju arah yang lebih baik serta lebih maju. Begitu mulianya hati ustad, semoga Allah limpahkan keberkahan untuk beliau beserta seluruh keluarganya. Amin.
Sebiru Hari Ini
              Pagi yang cerah, secerah hati yang berharap akan indahnya hari ini. Bismillahirrahmanirrahim, dengan menyebut namaMu, aku langkahkan kaki ini, ku gerakkan tangan ini, ku buka lembaran-lembaran ilmu-Mu. Tiada kuasa aku berdiri untuk menuntut ilmu tanpa pertolongan dan kasih sayangMu. Maka ajarillah kami seperti Engkau mengajari Nabi Ibrahim, dan fahamkanlah kami seperti Engkau memahamkan Nabi Sulaiman. Amin.
              Pagi ini aku tak ingin membuang waktu sedetik pun untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, aku bisa aku bisa aku bisa. Aku harus bisa menguasai materi yang akan diujikan besok senin. Aku harus mampu karena aku adalah orang pilihan. Bukan orang BEJO saja. Aku mulai merapikan file-file yang berserakan di laptopku, aku menemukan tulisanku beberapa waktu yang lalu mengenai event bookfair di JX beberapa waktu yang lalu, ini tulisanku :

SUASANA BARU SURABAYA BOOK FAIR 2014
Surabaya (15/11) - Suasana masih lengang ketika langkah kami menuju stand Book Fair 24th Surabaya yang dilaksanakan di Jatim Exspo International mulai tanggal 11-16 November 2014. Maklum, hari masih pagi, jam menunjukkan pukul 09.10 WIB. Dilansir dari salah satu panitia Korlap yang akrab disapa Mujib, Book Fair ini terselengara  berkat request dari Pakde Karwo yang menginginkan perayaan di kota Surabaya pada peringatan hari pahlawan 10 November. Acara ini diselenggarakan oleh pemerintah provinsi Jatim melalui IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) bekerja sama dengan Badan Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur dalam rangka memperingati hari pahlawan di Kota Surabaya.
Event yang mengusung tema “ Budaya Membaca Membangun Karakter Bangsa” ini bekerja sama dengan beberapa penerbit buku ternama seperti Diva Press, Mizan, Pustaka Progresiff, dan masih banyak lagi. Ada sekitar 40 stand yang meramaikan Book fair kali ini, sebagian besar stand buku-buku. Mulai dari buku bacaan, ensiklopedi, novel, majalah, kitab-kitab, dengan berbagai macam varian harga. Ada yang memasang diskon cukup fantastis, mulai dari 30-50%. Adapun stand-stand yang lain adalah stand baju muslimah dan pernak perniknya, stand promosi produk obat-obatan, serta stand jajanan dan makanan yang berjajar rapi di sisi gedung bagian kiri. Sungguh menggiurkan setiap mata yang memandang untuk mampir.
Di tengah-tengah beberapa pengunjung yang mulai berdatangan di stand-stand, beberapa panitia terlihat sedang sibuk menata kursi-kursi di depan panggung. Ternyata event ini tidak hanya menyuguhkan pameran buku, namun membawa serangkaian acara, mulai dari Bedah buku
Mewarnai Bersama 1000 anak TK, Talk Show tentang menulis buku, dan Penjualan buku diskon oleh para penerbit peserta pameran, dan lain-lain. Seperti yang akan berlangsung pagi ini yaitu Lomba Mewarnai untuk anak-anak dengan prasyarat berusia 3-6 tahun.
Event ini disambut meriah oleh anak-anak karena beberapa event yang diadakan dalam memperingati hari Pahlawan biasanya diperuntukkan bagi kalangan remaja.  Seperti lomba balap karung, cerdas cermat, olimpiade, dan lain-lain. Apalagi dengan iming-iming hadiah yang cukup menggiurkan. Beberapa piala tertata rapi mulai dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah. Uang pembinaan pun dijanjikan sebagai penghargaan bagi sang juara pemenang lomba mewarnai kali ini. Cukup membuat anak-anak tertarik apalagi pemilihan hari yang pas, bertepatan dengan akhir pekan.
Acara ini mendapat sambutan dan respon yang cukup baik dari khalayak umum. Banyak instansi yang memprakarsai acara ini, antara lain WAFA TV, Yayasan Nurul Hayat, Yayasan Dana Sosial Al-Falah, Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia, Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia, SIRKIT School of Writing, dan lain-lain. Sambutan meriah pun mengalir dari para pengunjung. Banyak pengunjung yang tidak sengaja membawa sang buah hati pada acara Book Fair ini tanpa mengetahui sebelumnya bahwa ada event menarik yaitu Lomba Mewarnai. Namun dengan spontan mereka ingin mengikutsertakan putra-putrinya. Apalagi hanya dengan merogoh kocek Rp. 10.000,- ,pengunjung sudah dapat membantu mengasah kemampuan dan kreasi putra-putrinya dengan event lomba mewarnai ini. Murah bukan, namun cukup menghibur untuk mengisi hari libur anak.
 Saya selalu support Sabila untuk mengikuti lomba-lomba seperti ini, untuk mengembangkan skillnya juga”. Tutur ibu Rani seorang ibu yang duduk bersama sang buah hati sembari menunggu acara perlombaan dimulai.  Acara-acara kompetisi seperti ini nampaknya harus diupayakan terlebih dalam peringatan hari-hari besar nan bersejarah seperti moment hari pahlawan 10 November silam. Tak hanya untuk membangkitkan semangat para generasi muda, namun juga anak-anak sebagai cikal bakal generasi yang akan melanjutkan tonggak kepemimpinan bangsa di masa yang akan datang.

Segenggam Harapan
Angin berhembus sepoi-sepoi, menyejukkan kalbu. Menyapu wajah yang awalnya dilanda kantuk yang teramat sangat. Setelah panas dan mendung yang tiada menentu, akhirnya tetesan-tetesan itu  jatuh juga. Alhamdulillah, maha Besar Allah. Hujan turun dengan derasnya. Mengguyur tanah kota pahlawan yang mulai hilang tertutup paving-paving bersemen. Setiap tetesnya adalah berkah yang harus kita syukuri. Alhamdulillah,
Malam ini aku harus mendalami lagi materi yang akan diujikan besok dalam mata kuliah tafsir BKI. Aku tidak ingin kecewa untuk yang kedua kalinya. Setelah nilai pertamaku pas-pasan, berlanjut dengan nilai kedua yang hanya bertambah sedikit yakni dari 70 menuju 73. “Aku harus lebih baik, aku harus bisa lebih baik”. Dan bersama Allah aku yakin aku mampu memberikan yang terbaik yang aku mampu. Aku berharap nilaiku tidak turun, itu saja sudah cukup membahagiakanku. Paling tidak ada yang bisa menjadi semangat untuk hari pertama di pekan ini. Tentunya hari dalam pekan pertama itu menentukan hari selanjutnya bukan?
Tiada hari tanpa belajar. Belajar, belajar, dan terus belajar. Saat ini aku masih miskin ilmu, miskin pengetahuan. Maka dari itu tiada kata berhenti untuk belajar. Sekalipun kamu harus sakit, hingga tenagamu tak kuat untuk menyangga badanmu. Lebih baik mati di bangku sekolahan daripada mati diatas kasur. Percaya bahwa Allah SWT selalu menghargai proses, bukan hasil. Maka dari itu berapapun hasilnya, syukurilah. Karena itu adalah bagian dari kuasa Allah SWT. Kau hanya diminta untuk berusaha,  berdo’a, mohon do’a restu kepada bapak dan ibu. Hargailah setiap waktumu karena tidak akan kembali hari-hari yang telah berlalu.

Senin 20 April 2015
Pekan telah berlalu, syukur Alhamdulillah Allah SWT masih memberikan kesempatan tuk berjumpa kembali dengan hari Senin. Hari pertama tuk mengawali pekan ini yang masih penuh dengan suntikan semangat di akhir pekan lalu. Semoga pekan ini lebih baik dari pekan lalu. Semangat semangaaaattt! Kucoba semangati diriku sendiri yang mulai dilanda kegelisahan yang tak pasti.
Hari ini jadwal ujian Tafsir Al-Munir yang mana pembahasan dan ayat yang harus dihafalkan lumayan banyak, belum lagi tafsir ini menggunakan bahasa arab. Nampak berat namun aku terus berusaha memahami baris demi baris. Seperti layaknya manusia, yak arena aku seorang manusia. Aku berusaha semampuku dan selalu kusempatkan untuk mengirim pesan kepada ibu memohon do’a restu. Mungkin terlihat sepele namun aku selalu berusaha untuk tidak melupakan hal ini karena pengaruhnya cukup besar terhadap mental dan semangatku.
Hari ini prof berhalangan hadir dikarenakan ada kepentingan yang mengharuskannya ke Jakarta. Di tengah-tengah ujian berlangsung, prof menelpon ustad Ainul dan beliau menyatakan keinginannya untuk berbicara dengan kami. Sungguh luar biasa. Di tengah kesibukannya, beliau menyempatkan waktunya untuk memberikan pesan-pesan positifnya kepada kami. Kami terharu dengan perhatian beliau yang cukup besar kepada kami.
Ujian telah selesai, tibalah saatnya pengkoreksian hasil ujian. Aku hanya mampu berpasrah atas segala usaha. Bertawakkal kepada Allah SWT entah berapapun hasilnya. Apa mau dikata, ternyata dugaanku tak jauh meleset. Nilaiku turun. Yang sebelumnya aku mendapatkan 83, sekarang anjlok menjadi 63. Turun 20 angka cukup membuatku sedikit kecewa. Sekali lagi aku mencoba meyakikan diri bahwa Ini bukan kelemahan, hanya saja usahaku yang kurang juga do’aku yang kurang sungguhan. Aku yang kurang yakin sejak awal akan kemampuan bahasa arabku sehingga seakan menjadi sugesti bahwa bahasa arab itu sulit.
Tiada kata lelah untuk belajar. Itu yang harusnya kutanamkan dalam benakku. Aku pasti bisa lebih baik! Sekali lagi, Hidup masih koma! HIDUP MASIH KOMA!

Belajar dari Senja
            Kupandangi mega merah yang sedari tadi tersenyum di ufuk barat. Cahayanya kuning kemerah-merahan, sungguh indah dipandang mata. Menyejukkan hati, mendamaikan jiwa. Keindahannya sungguh merona. Jika aku mampu seindah dan selembut senja, tentu aku akan menenangkan hati setiap orang yang memandang.
            Namun realita yang terjadi tidaklah selamanya seperti itu. Aku hanyalah manusia biasa. Tutur ini terkadang menggores hati dan sanubari sesama, lisan ini terkadang membicarakan hal-hal yang menjadi ladang dosa. Aku sadar dan tahu akan hal itu, akulah insan biasa yang tak luput dari kekurangan. Maka sungguhlah benar bahwa lisan itu ibarat pedang, mampu menusuk hati siapapun jika tak pandai mempergunakannya. Sebaliknya, Lisan mampu menjadi obat ketika kehadirannya amat dibutuhkan. Lisan mampu mencairkan hati yang keras dengan petuah-petuah bijaknya. Ya Allah, ya rabby..jagalah hatiku, jagalah lisanku selalu dalam naungan dan ridha-Mu.

Sabtu, 25 April 2015
Mentari menyapa pagiku dengan begitu sempurna. Cahayanya tebarkan kasih penuh cinta kepada seluruh makhluk semesta alam. Mengingatkanku akan sepasang mata yang begitu teduh, pancarkan ketulusan kasih tanpa harapkan apapun dari yang dikasihinya. Ibu.. kasihmu bagaikan mentari, aku senantiasa merasakannya kilau hangatnya setiap hari meskipun mataku tidak bisa melihat sosokmu. Terimakasih ibu, semangatmu akan selalu mengalir di dalam darahku, juga nafasku.
Akhir pekan adalah hari yang selalu dinantikan oleh banyak kalangan. Mulai dari pekerja, mahasiswa, bahkan hampir semua kalangan. Bagi mahasiswa, waktu tersebut dimanfaatkan untuk melepas kepenatan setelah berhari-hari berjibaku dengan tumpukan tugas kuliah, kegiatan organisasi ekstra/intra kampus, dan sebagainya. Akhir pekan menjadi ajang untuk me-refresh pikiran agar terhindar dari tekanan atau stress. Karena tidak bisa dipungkiri lagi, sudah menjadi fitrah manusia untuk condong kepada kesenangan-kesenangan.
Lain ladang lain ilalang. Lain lubuk, lain akarnya. Begitu kiranya kata yang pantas untuk menggambarkan beragamnya kesibukan mahasiswa ketika akhir pekan telah tiba. Bagi mahasiswa yang berasal tidak jauh dari kampus, pulang kampong menjadi alternatif pilihan. Berharap kerinduan dengan keluarga akan terobati sekaligus berharap ada uang saku tambahan untuk menyambung hidup. Lain halnya dengan mahasiswa rantauan pulau Borneo ini. Sebut saja Nursabila. Mahasiswi kelahiaran Sambas, Kalimantan Barat yang sedang menempuh studi semester 2 UIN Sunan Ampel Surabaya Jurusan Bimbingan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Ungkapnya, tiket pulang kampung hanya akan dikantonginya setelah bapak rektor menyematkan toga di akhir semester nanti setelah perjalanannya menimba ilmu telah usai di Kota Pahlawan ini.
Organisasi-organisasi juga memanfaatkan akhir pekan sebagai waktu untuk melaksanakan program kerjanya. Terutama kegiatan yang cukup memiliki banyak agenda serta tempat pelaksanaannya di luar area kampus. Seperti halnya CSS MoRA (Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) UIN Sunan Ampel Surabaya, yang hari ini sedang menggelar “CSS Mengabdi” di pondok pesantren BahruL Ulum Jombang sampai esok hari. Bagi para mahasiswa yang berorganisasi selain mendapatkan ilmu berinteraksi sosial, jutaan pengalaman yang bermanfaat juga mereka kantongi untuk mengisi hari libur.
Pagi ini selepas merendam cucian, ku beranjak ke kamar untuk bersih-bersih. Ketika sedang menyapu lantai, tiba-tiba aku teringat sosok bapakku. Seringkali aku membersihkan halaman bersama bapak. Mencabuti rumput-rumput liar dan membakarnya di pojok halaman. Beliau adalah bapak yang bukan sekedar bapak. Sedang apakah beliau pagi ini? Akankah sedang menemani cucu-cucunya bermain? Ataukah sedang membersihkan kandang kambing?  Atau sepagi ini beliau telah berangkat ke sawah dengan cangkul yang berada dipunggungnya, capil yang beliau kenakan, berjalan dengan menuntun sepeda menuju sawah? Berbagai pertanyaan menyerangku. Aku merindukan bapak.
Beliau sosok bapak yang sangat kuat, tegar dan bertanggung jawab. Selagi beliau bisa mengerjakan segala sesuatu dengan tangannya sendiri, beliau tidak akan pernah meminta orang lain. Sekalipun badannya harus remuk dan sakit, beliau tetap bekerja keras di sawah warisan kakek tanpa pernah memperdulikan kondisi tubuhnya. Dan inilah hal yang sering menjadi pemicu kekhawatiranku. Bapak begitu teguh pendirian. Jika beliau telah memutuskan suatu hal, maka sangat sulit untuk mengubah keputusannya.
Hal yang menjadi kekhawatiranku hanya 1, yakni penyakit bapak. Seperti yang telah menimpa bapak bulan ramadhan yang lalu. Sakitnya menyangkut organ dalam yang harus mengharuskannya melakukan operasi. Beliau divonis terkena penyakit hernia. Penyakit karena aktivitas yang terlalu memforsir tenaga seperti membawa beban berat, sehingga usus besar melorot. Inilah yang menjadi pukulan yang amat keras bagiku waktu itu. Karena saat itu adalah saat-saat pemberangkatanku ke kota Pahlawan. Dilema sempat menghantui fikiranku, diantara berangkat atau tidak, mengingat kondisi bapak yang sedemikian itu.
Diriku saat ini adalah berkat perjuangan bapak, atas curahan keringatnya pundi-pundi rupiah itu dihasilkan untuk membiayai aku dan kakak-kakakku sekolah sampai jenjang pendidikan tinggi seperti yang diharapkan mereka. Saat ini aku hanya mampu mendo’akan bapak dan ibu disetiap sujudku, semoga mereka diberikan kesehatan, keimanan dan ketaqwaan serta mawaddah wa rahmah. Ya Allah, jagalah bapak ibuku hingga saatnya nanti aku mampu membahagiakan mereka. Amin.
Pagi ini kami memiliki agenda kajian rutinan bersama ustad Ainul Yaqien, Lc. Dua minggu terakhir ini kami warga kelas B3 selalu menyelenggarakan kajian bersama beliau tepatnya hari Sabtu pagi. Tidak seperti minggu lalu yang bertempat di depan SAC (Self Access Centre), pelaksanaan kajian dilaksanakan di samping auditorium karena gedung SAC sedang dipakai untuk acara ajang Lomba Musabaqah Khottil Qur’an se-Jawa Timur persembahan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) “IQMA” (Ikatan Qori’ Qori’ah Mahasiswa).
Kajian tetap berjalan seperti biasa, antusiasme teman-teman tidak berkurang meski separuh dari anggota kelas tidak bisa hadir dikarenakan mengikuti CSS mengabdi di Jombang. Dengan arahannya yang begitu menggebu-gebu, ustad menyampaikan pesan-pesannya. Sebagai pembuka, ustad berpesan bahwa “Menuntut ilmu jangan diniati untuk diri sendiri saja, namun diniati untuk orang banyak juga. Seorang wanita mau memilih karier apapun, pendidikannya harus tinggi karena dia adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya”.
Beberapa menit telah berlalu, ustad membagikan setumpuk kertas yang berbendel-bendel. Tiap bendel berisi 4 lembar kertas dan dibagikan kepada satu orang. Dua lembar pertama Ustad memerintahkan kami untuk memberi harakat tulisan arab gundul, dan lembaran  ke-3 dan 4 berisi cerita ustad. Ustad meminta kami untuk mengevaluasi tulisannya yang ditulis ketika baru menginjakkan kaki di tanah air setelah 5 tahun di Kairo. Beberapa hal yang perlu perbaikan sempat kami temui, yakni diantaranya mengenai penggunaan EYD yang baik dan benar, pemilihan diksi yang universal dan tidak terlalu kedaerahan, karena pada saat itu cukup banyak kata yang diadopsi dari bahasa jawa dan teman-teman kurang mengerti.

Senin, 27 April 2015
            Ku percepat langkah kakiku menuju ruangan di sebelah barat pojok kanan lantai 2 Fakultas Dakwah dan Komunikasi kampus tercinta ini. Akhirnya ku gapai gagang pintu yang berdaun dua yang elegan dipadukan dengan kaca bening yang tembus pandang ini, perlahan kubuka sembari mengucap salam lirih. Tersentak kaget bercampur gugup ketika melihat Ustad Ainul Yaqin telah menempati tempat duduknya di depan kelas. Aku segera masuk dan memilih tempat duduk yang strategis dan nyaman yakni di barisan kedua dari depan. Samping kananku Nadia, kawan asal Garut dan samping kiriku Rafikah, kawan asal Amuntai, Kalimantan Selatan.
            Selang beberapa menit, dengan logat bahasa arabnya yang fasih bak orang asli Mesir, ustad menanyakan kelengkapan kami karena ujian akan segera dimulai. Kami telah lengkap, Rifqi baru saja memasuki ruangan. Pagi ini ustad mengenakan kemeja merah hati berpadu dengan celana hitam. Sangat serasi dengan kulitnya yang kuning khas orang Jawa. Seperti biasa kami mengawali setiap mata kuliah dengan membaca do’a bersama. Berikut kutipan do’anya :
بسم الله الرحمن الرحيم
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَ لِوَلِدَيْنَا وَرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا
 “Oh Our God, forgive us and our parents 2x
Bless them bless them as they care as since baby 2x”
رَبِّ اشْرَحْ لِى صَدْرِى وَيَسِّرْلِى اَمْرِى وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِى يَفْقَهُوْ قَوْلِى
“Ya Allah give me relief make easy with my matter 2x
Get my tongue to be fluent and realize my word 2x"
اللَّهُمَّ يَا مُعَلِّمَ اِبْرَاهِيْمَ عَلِّمْنَا وَيَا مُفَهِّمَ سُلَيْمَانَ فَهِّمْنَا
امين يا ربّ العا لمين

Do’a telah selesai dikumandangkan bersama. Bukti segala penyerahan diri dan memohon keridhaan Allah SWT selalu menyertai perjalanan kami dalam menuntut ilmu. Memohon supaya ujian berjalan dengan lancar. Dengan ucapan salam, Ustad membuka pertemuan perkuliahan pagi ini. Kali ini ustad tidak berdiri di sebelah kiri kelas, namun tetap duduk di depan kelas. Ada apa dengan ustad?
            Untuk membuka mata kuliah pagi ini, ustad meminta perwakilan satu putra dan satu putri untuk menceritakan bagaimana kegiatan CSS Mengabdi yang dilaksanakan di Pondok Pesantren As-Sa’idiyah 2 Jombang kemarin lusa. Atas permintaan teman-teman, Faisal (Riau) maju dan mulai menceritakan kegiatan dari awal sampai akhir, sesuai dengan peraturan yakni menggunakan bahasa arab. Gaya bicaranya penuh semangat, amat lancar bahkan seperti bahasa daerahnya sendiri. Dengan celana jeans abu-abu dipadukan dengan jas almamater UIN berwarna biru dongker yang terlihat kedodoran alias masih kebesaran, Faisal menghipnotis kami dengan ceritanya yang lancar menggunakan bahasa arab dan sesekali mengundang gelak tawa kami karena guyonan segarnya. Suatu kebanggaan bisa berkawan dengan dia.
            Setelah Faisal selesai bercerita, kini ustad meminta perwakilan dari putri untuk bercerita. Teman-teman menunjuk Sofi untuk maju dan dengan dorongan teman-teman akhirnya dia mau. Pagi ini dia mengenakan rok ungu tua, berpadu dengan baju ungu muda dan jilbab ungu tua, gadis manis ini mengucapkan salam ala orang Mesir namun logatnya tetap ala tanah garam. Dia mengatakan bahwa karena ceritanya sama dengan Faisal, maka dirasa tidak perlu dia bercerita. Ucapan salamnya mengakhiri cerita dan kamipun tertawa dibuatnya.
Tawa kami terhenti perlahan mengingat ujian tafsir dengan rujukan tafsir Al-azhar karya monumental Buya Hamka telah menanti. Tak seperti biasanya, ujian kali ini hanya 20 soal namun jika satu nomor salah maka skor akan dikurangi 5. Suasana hening sejenak karena masing-masing dari kami sibuk mempersiapkan diri, nampaknya ujian akan segera dimulai.
            Benar saja, ujian pun dimulai. Kami dituntut untuk teliti karena banyak soal yang perlu analisis tinggi alias menjebak. Ustad begitu mahir membuat saya bingung dan kebingungan. Beberapa saat kemudian ada seseorang dibalik pintu, sosok laki-laki dengan memakai kemeja putih bergaris masuk dan mengucapkan salam. Sang pencerah telah datang, beliau Prof Ali Aziz terlihat gagah dengan senyum yang mengembang diwajahnya yang memancarkan aura ketenangan.
Ujian tlah usai, tibalah saat pengkoreksian. Dan benar saja, ketika selesai dikoreksi nilaiku cukup rendah yakni hanya 65. Disitu terkadang saya merasa sedih. Kebanyakan dari teman-teman mengalami penurunan nilai. Entah karena faktor apa. Mengetahui hal ini maka Prof langsung menanyai satu per satu mengapa nilainya turun. Ketika tiba giliranku, aku hanya menjawab “Kurang teliti prof”dengan nada penuh penyesalan. Seketika itu pula seakan-akan prof langsung membaca semburat hitam diwajahku dan berkata “Tidak boleh menyesali hasil yang sudah kita dapat”. Aku menunduk seraya mengangguk. Tiada kata yang mampu terucap saat itu, hanya hikmah yang mampu kupetik untuk perbaikan selanjutnya.
Tak lama kemudian prof menanyakan siapa yang mendapatkan nilai 90. Terlihat beberapa teman yang mengangkat tangan, yakni Nadia, Rina, Nanang, dan Zahra. Mereka sungguh luar biasa. Prof mengatakan bahwa ada kesempatan untuk menambah skor dengan cara menjawab pertanyaan ustad. Siapa cepat dialah yang dapat. Pertanyaan berkisar tentang sebab rasulullah  SAW wafat, dengan pilihan jawaban wafat karena dibunuh, sakit, atau memang sudah waktunya wafat. Pada saat itu, Nanang mengangkat tangan pertama kali, setelah itu dia dipersilahkan untuk menjawab “Karena sakit tad”. Apa mau dikata, ternyata jawaban masih kurang tepat. Kemudian Zahra mengangkat tangan dan ia menjawab dengan logat lembut khas Jawa Baratnya “ Karena sudah waktunya”. Dan lagi lagi jawaban masih kurang tepat.
            Peluang menambah skor ternyata tidak hanya diberikan bagi mereka yang mendapatkan nilai bagus. Ada kesempatan juga bagi kami karena ternyata ada 3 orang yang mendapatkan nilai 65, yakni aku, Faisal dan Mizan.  Ada secercah harapan dalam hati ini setidaknya untuk menaikkan 5 poin lagi menuju angka 70. Harap-harap cemas karena lawanku adalah Mizan dan Faisal, mereka memiliki pengetahuan yang luar biasa dibanding denganku. “Akh, aku pasti bisa!”. bisikku dalam hati seraya mencoba menepis keraguan yang mulai menjalar di otakku.
            Beberapa saat kemudian ustad mengajukan pertanyaan kepada kami bertiga, “Bagaimana dalil yang menunjukkan metode rasulullah SAW dalam berdakwah?” tanpa pikir panjang aku segera mengangkat tanganku, begitu juga dengan dua teman yang lain yakni Faisal dan Mizan. Namun ternyata aku yang dipersilahkan menjawab karena aku yang tercepat. Dengan nada bicaraku yang lirih serta terbata-bata karena aku sedikit lupa dengan potongan ayatnya, aku berusaha menjawab :
 ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ َ
            Nafasku terengah-engah bercampur detakan jantung yang kian terpacu karena takut jawabanku salah. Aku selalu tidak bisa lolos dari kegugupanku. Namun ternyata Allah memberiku kesempatan kedua. Jawabanku benar, meski ketika ditanya kelanjutan ayatnya aku tidak bisa menjawabnya. Akhirnya, jawabanku tadi cukup untuk menambah poinku sebanyak 5, jadi nilaiku naik menjadi 70. Alhamdulillah. Syukurku tak henti ku ucapkan kepada-Nya atas segala pertolongan dan kasih sayang-Nya.
            Selang beberapa menit, prof maju beberapa langkah dan mendekati kami, beliau menanyakan kami satu persatu mengenai perkembangan tugas menulis 50 halaman yang beliau targetkan untuk semester ini. Ada yang masih memperoleh 7 halaman, 10 halaman, 19 halaman, bahkan ada yang sudah mencapai 39 halaman. Dia adalah gadis kecil Nursabila. Pemudi asal Kalimantan Barat. Maka sontak kami langsung bertepuk tangan mengapresiasinya.
            Aku sendiri merasa ciut karena tulisanku baru mencapai sekitar 5 halaman. Dengan bimbingan otakku, aku mulai flash back, akhir-akhir ini ketika ada waktu luang aku gunakan untuk apa. Aku lebih banyak bersantai-santai, nonton tv bersama teman-teman dan inilah resikonya. Prof kembali menegaskan bahwa setiap orang memiliki jatah waktu yang sama yakni 24 jam. Tinggal bagaimana pandainya orang itu me-manage waktu itu dengan sebaik mungkin. Kali ini, aku gagal mengatur waktuku dengan baik. Astaghfirullah.
“Kamu, bagaimana?” Dengan sedikit membungkukkan badannya, Prof Ali bertanya kepada Rifqi. “Kalau minat menulis masih kurang bagaimana prof?” jawab Rifqi dengan nadanya yang lemah lembut. Spontan beliau menjawab “Ini sudah bukan masalah minat atau tidaknya, ini wajib. Mau tidak mau, mood atau tidak mood harus dikerjakan”. Jawabnya dengan nada penuh kesungguhan. Mengisyaratkan bahwa beliau benar-benar mengharuskan kami mengerjakan tulisan ini sesegera mungkin. Beliau juga menambahkan “Segala sesuatu memang berawal dari paksaan, mending saya paksa kamu sekarang. Bersyukurlah kamu bertemu dengan orang yang memaksa”.
Pada suatu hari beliau menjanjikan kepada anaknya bahwa beliau akan menyelesaikan buku do’a-do’a para nabi pada pertengahan Mei. Padahal jadwal beliau pada bulan Maret sangat padat. Berkat deadline dan tentunya paksaan, buku itu selesai dan hanya dicetak 100 eksemplar karena hanya untuk kalangan sendiri dan tidak diperjualbelikan. Tiba-tiba beliau bertanya “Siapa yang sering mendapatkan nilai tertinggi?”, kami langsung menjawab “Febi, ustad”. Prof memberikan satu buah buku tadi untuk Febi dan ialah mahasiswa paling beruntung karena satu-satunya mahasiswa yang diberi buku itu oleh Prof Ali.
 Beliau membagikan selembar kertas untuk berisi petunjuk menulis. Prof menyuruh beberapa diantara kami untuk membacanya dengan keras, kemudian beliau menjelaskannya satu persatu dengan detail. Lagi-lagi prof bertanya “Apakah masih ada kesulitan dalam menulis?” ada beberapa teman yang mengangkat tangan.  Salah satu keluhannya yakni masalah ‘ngantuk’. Prof Ali langsung menganggapi, “Bersyukurlah karena kamu masih diberi ngantuk, berapa dana yang kamu habiskan jika kamu tidak bisa ngantuk?” Beliau juga bercerita bahwa ketika beliau masih mengajar di IAIN Situbondo dulu, beliau selalu tertidur ketika di perjalanan bahkan belum keluar dari terminal Bungurasih pun beliau sudah tertidur karena masih dini hari. Uniknya, sering sekali beliau kebablasan sampai Banyuwangi karena tertidur. Kondektur pun lupa padahal beliau selalu berpesan bahwa jika sampai situbondo minta dibangunkan. Dan yang lebih unik lagi si kondektur juga tidak mau diberi ongkos tambahan. Maka bersyukurlah karena kamu masih diberi rasa ngantuk.
Melihat perkembangan menulis kami yang terlihat masih stagnan, karena mayoritas kurang dari 10 halaman, beliau mengatakan “Anak SD bisa menulis berlembar-lembar karena mereka tidak ada beban, maka menulis itu jangan dijadikan beban. Kamu itu sebenarnya berpotensi, namun rasa malas dan rendah dirimu yang menghalangi kamu untuk menjadi orang hebat”. Ungkapnya dengan nada keseriusan.
Beliau mengatakan juga bahwa pada ujian terakhir akan mendatangkan guru besar dari Mesir. Sontak seisi ruang kelas langsung bersorak riuh penuh kegembiraan menyambut sang guru besar. Sungguh terharu akan kebaikan dan ketulusan hati Prof Ali yang tiada pernah mengharap imbalan dari kami melainkan kesuksesan serta keberhasilan kami di masa depan. Semoga Allah SWT senantiasa membalas kebaikannya dan menjadikannya amal baik disisi-Nya. Amin.

Ketika dihadapkan pada Pilihan
Malam ini hatiku bimbang dan ragu. Syaitan memang makhluk paling usil yang amat pandai membisikkan keraguan dihati manusia. Aku terhimpit diantara pilihan yang sangat sulit dan harus kuputuskan juga malam ini. Pemilihan tempat tinggal untuk kami setelah keluar dari Pesmi ada 3 opsi. Yang pertama ialah ke kontrakan, kedua pesantren, ketiga ikut ke rumah dosen. Pilihan yang sangat sulit dimana ke-3 nya sama-sama memiliki konsekuensi yang harus kami tanggung.
Maksud hati ingin menelpon ibu. Namun apa daya, nampaknya beliau sibuk dan kakak telah tertidur sehingga tiada seorangpun yang mengangkat telponku. Ku coba mengalihkan perhatianku dengan menonton tv. Namun yang ada aku semakin rindu akan suara ibu dan nasihatnya. Dengan hati penuh harap akhirnya aku coba menghubungi beliau kembali. Tanpa disangka beliau mengangkatnya. Suaranya terdengar begitu letih, lelah setelah sehari bermandikan keringat, beradu dengan panas dan terik matahari, berjibaku dengan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga. Aku merasa sangat bersalah karena telah mengganggu waktu istirahat ibu. Namun nasi telah menjadi bubur. Aku harus mengutarakannya malam ini juga.
Alhamdulillah, ibu menyetujui pilihanku. Namun terlepas dari itu semua, nampaknya ada sedikit kekhawatiran dalam hati ibu ketika aku menyampaikan bahwa ketika aku telah tinggal bersama dosen nanti aku pulang-pergi ke kampus naik sepeda. Aku pun mencoba meyakinkannya bahwa bersama Allah SWT aku akan baik-baik saja. Dan niatku telah teguh yakni semata-mata hanya ingin mengabdi pada ahli ilmu. Dalam akhir pembicaraanku, aku memohon do’a kepada ibu untuk kelancaran aktifitasku dan keberkahan ilmu yang kupelajari. Kusampaikan maafku karena mengganggu waktu istirahatnya dan menyarankan beliau untuk segera beristirahat kembali. Kudengar suaranya bergetar seraya berkata “Iyo nduk, sing tenanan mugo mugo diparingi sehat lan sukses”.
Ibu..
Setiap tutur katamu adalah do’a
Yang menggetarkan seluruh kolong langit
Pasti mendapatkan ijabah dari sang Khaliq
Kini aku telah dewasa..
Aku mulai mengerti akan hakikat kehidupan..
Satu yang membuatku takut
Waktu tiada pernah menghentikan langkahnya
Masa senjamu pasti akan tiba
Kulit yang semula kencang
Akan berubah menjadi keriput
Tenagamu semakin hari semakin berkurang
Namun satu yang tak pernah berubah ibu
Aku melihat setitik cahaya terang disudut bola matamu
Matamu tetap memancarkan cahaya ketulusan
Dan akupun belum mampu membalas jasa-jasamu

Aku sudah tidak tahan menahan anak sungai di pelupuk mata ini. Teringat wajah ibu dan bapak yang semakin menua, rambut yang semakin memutih, kulit yang semakin keriput. Sedangkan sampai saat inipun aku belum mampu mempersembahkan suatu kebahagiaan untuk mereka. Mereka adalah satu-satunya alasan untukku melanjutkan pendidikan, meniti setiap langkah dalam ikhtiarku menjemput masa depan. Ya Allah, Bless them as they care as since baby.

Sabtu, 02 Mei 2015
“Kayfa asbahtum?” sapa ustad mengawali pertemuan dalam kajian pagi ini. Kajian kali ini bertempat di serambi masjid Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya. Kajian diawali dengan pengkoreksian tugas memberi harakat yang dikerjakan sabtu pekan lalu. Kertas tugas pun dibagikan satu persatu kepada pemiliknya. Bagi yang salah dalam memberi harakat, maka ustad akan menanyakan seputar kesalahannya. Seperti yang tadi ditanyakan ustad kepadaku. Beliau meminta aku memberi contoh idhafah, awalnya aku salah dalam memberi contoh dan yang kedua sudah benar. Dari sini ustad benar-benar menekankan kepada kami untuk mendalami ilmu nahwu karena pentingnya ilmu tersebut karena merupakan kunci mempelajari ilmu-ilmu yang lain yang berbahasa arab.
Beliau tidak pilih kasih, tidak pandang sayang. Semua dianggap sama. Beliau juga tidak ingin hanya beberapa saja diantara kami yang menguasai nahawu-shorof, beliau menghendaki semua diantara kami tanpa terkecuali mampu memahami kaidah-kaidah nahwu. Beliau meminta Jajang dan Fikri untuk membimbing Syarif agar faham mengenai fi’il, fa’il, mubtada’ dan khabar. Tidak tanggung-tanggung, beliau juga menegaskan bahwa Jika minggu depan Syarif tetap tidak bisa, maka Jajang dan Fikri tidak diperkenankan mengikuti ujian.
Tak lama kemudian ustad membacakan kembali bacaan tadi dan sesekali bertanya kepada kami mengenai kedudukan suatu kalimat. Inilah yang melatih ketelitian kami. Beliau mengatakan bahwa kitab “Al-Jurumiyah” adalah kunci dari ilmu Nahwu-Shorof, maka pelajarilah sampai tuntas. Dari sini aku semakin penasaran dengan kitab ini, ingin segera mempelajarinya karena yang aku pelajari semasa di pondok hanyalah Nahwu Wadhih. Maka semakin mantab niatku untuk mengikuti pesantren kilat pada bulan ramadhan depan di Pondok Dalwah Pasuruan. Tak ingin melewatkan kesempatan ini karena waktu puasa adalah saat terbaik untuk menuntut ilmu.  Semoga Allah SWT memberiku kesempatan untuk menimba ilmu barang 20 hari sebelum pulang ke kampong halaman.
Kemudian beliau meminta kami membaca cerita salah seorang istri nabi, yakni Sayyidah Aisyah bintu Abu Bakar. Berikut ceritanya :
Aku, Istri Nabi  yang Tertuduh
Seperti biasa, sudah menjadi kelumrahan bilamana Rasulullah hendak bepergian, beliau mengundi nama istri-istrinya terlebih dahulu. Nama siapakah yang keluar, dialah yang berhak mendampingi Rasulullah. Perang melawan Bani Mustaliq sudah ditetapkan dan Rasulullah sendiri yang akan pergi memimpin peperangan. Malam itu diundilah nama para istri beliau, kiranya siapa yang akan menemani beliau selama peperangan Bani Mustaliq.
Aisyah binti Abi Bakar, itulah nama yang disebut Rasulullah. Sontak wajahku merona gembira mendengar namaku disebut. Sungguh aku tak percaya. Rasa gembira yang membara bercampur lebur dengan keraguan, apakah benar namaku yang keluar dan berhak menemani Rasulullah berjuang membela agama Allah kali ini? Sungguh sebuah kehormatan bagiku bisa menyertai dan melayani beliau berjihad di jalan Allah. Peperangan dengan Bani Musthaliq terjadi selepas ayat Hijab turun. Otomatis, aku berhijab seperti yang telah difirmankan oleh Allah SWT. Aku pun dinaikkan di atas unta yang memanggul haudah[1].
Setelah peperangan rampung dan begitu mudah kemenangan diraih oleh kaum muslimin, Rasulullah memutuskan untuk kembali ke Madinah. Kami pun berombongan kembali menuju tanah air kami yang penuh dengan cahaya kenabian. Tatkala semerbak aroma Madinah tercium, Rasulullah memerintahkan rombongan untuk berhenti di suatu tempat sejenak, agar kami bisa melepas lelah malam itu. Ya, inilah salah satu dari kebijaksanaan Rasulullah kepada para sahabat dan umatnya. Beliau sangat memahami betul kondisi dan keadaan kami yang memang amat sangat letih kala itu. Rasulullah tidak memaksakan kehendaknya untuk memasuki kota Madinah malam itu juga, beliau memilih berhenti dan mengistirahatkan semua pasukan Islam yang telah memperoleh kemenangan.
Saat semua sahabat beristirahat dan sebagian yang lain terlelap, aku putuskan keluar dari tenda kecilku menunaikan sedikit keperluanku hingga tak kukira langkahku semakin menjauh dari rombongan. Gegap gempitanya malam membuatku tak sadar, posisiku sangatlah berjarak dengan unta yang kunaiki. Selepas merampungkan keperluanku dan hendak kembali ke rombongan, tiba-tiba aku terkesiap bukan main. Kuraba leherku, kalung pemberian Rasulullah dari kota Zifar - Yaman raib. Kuputuskan mencarinya. Dalam malam yang begitu hitam, amat susah menemukan sebuah kalung. Tapi itu kalung pemberian Rasulullah. Tak boleh kubiarkan begitu saja. Aku harus mencarinya dan menemukannya.
Mondar-mandir, kulalui berkali-kali jalan yang kutapaki tadi, tak jua kutemukan kalung itu. Ya Allah, istri macam apa aku ini yang menyia-nyiakan perhiasan pemberian suami. Apalagi itu kalung yang istimewa dan impor dari Yaman. Kuulangi lagi pencarianku hingga aku pun putus asa dan kembali ke rombongan dengan rasa cemas, malu, takut, sungkan bila bertemu dengan suamiku, Rasulullah.
Astaghfirullah, Rasulullah dan rombongan tak terlihat lagi. Mereka meninggalkanku. Bagaimana ini? Apa yang akan kulakukan? Menyusul mereka sendirian berlari? Tak mungkin. Aku buta arah jalan ke Madinah. Teriak? Siapa yang akan mendengar. Air mataku meleleh membanjiri pipiku. Ingin menyesali kejadian ini, tapi untuk apa? Bukankah ini sudah takdir Allah?
Dalam kegalauanku, secercah cahaya berkilau di tanah pijakan untaku saat istirahat tadi, kulihat sebuah logam berbentuk kalung. Kudekati. Dan Alhamdulillah kalungku ketemu. Rasa cemasku lantaran ditinggal Rasulullah bertabrakan dan melebur menjadi satu dengan kegembiraan ditemukannya kalung pemberian Rasulullah. Oh ya, orang-orang yang menuntun untaku mungkin mengira aku sudah berada dalam haudah itu. Aku wanita muda bertubuh ringan, lantaran itulah, mereka begitu saja menuntun unta yang aku tunggangi mendahului rombongan terdepan. Mereka tak sadar bahwa unta yang mereka giring hanya sebuah haudah kosong tak berhuni. Aku juga salah, mengapa aku tidak memberitahu mereka kalau aku keluar sedikit lama untuk sebuah keperluan pribadiku? Memang, para wanita kala itu umumnya berbadan lunak dan tak berlemak. Jadi ada atau tidak ada orang di dalam haudah sepertinya sama saja.
Dengan penuh harap, semoga mereka sadar dan merasa kehilangan aku, kuputuskan duduk di tempatku semula sewaktu beristirahat bersama rombongan. Entah mengapa, mendadak rasa kantuk begitu akrab dan cepat menyapaku.  Aku pun pulas tertidur. Dalam kenyenyakanku, Shafwan bin Al-Muathal As-Sulamy menyeruak, ia memang bertugas sebagai pengawal akhir rombongan. Bila ada barang rombongan yang tertinggal, dialah yang menyelamatkan barang itu hingga sampai ke Madinah.
Shafwan menghampiriku. Ia memang mengenaliku dan pernah melihatku sebelum ayat hijab turun. Saat ia tahu akulah yang bersimpuh dalam sengatan kantuk itu, ia pun berucap inna lillah wa inna ilaih rajiun, aku terkejut dengan ‘kalimat musibah’ yang ia lengkingkan. Seketika kututup wajahku dengan hijab. Demi Allah, tak ada satu huruf pun yang keluar dari mulutnya kecuali kalimat istirja’ itu. Mulutku juga tak mengeluarkan kalimat apapun barang sekata. Ia rundukkan hewan tunggagannya hingga aku bisa menaiki hewan tunggangan itu.
Kami teruskan perjalanan menyusul rombongan, Shafwan berjalan menuntun tunggangannya hingga sampailah kami di sungai Az-Zahirah, tempat singgah rombongan di tengah panasnya siang. Dan celakalah, sebagian orang menebarkan fitnah kebohongan dengan menuduhku ini dan itu. Masih terekam dalam ingatanku yang paling getol menyebarkan berita palsu itu adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Selain Abdullah bin Ubay bin Salul, Hassan bin Tsabit juga terlalu gegabah menelan dan menyiarkan berita nista itu. Misthah bin Utsasah, Hamnah binti Jahs dan orang-orang lain yang tak kutahu namanya satu persatu yang jumlahnya sekitar 10 sampai 40, ikut pula menjadi biang gosip.
*  * *
Sesampai di Madinah, aku sakit dan merasa tak enak badan selama satu bulan. Sungguh, aku tak tahu-menahu fitnah kebohongan dan berita palsu itu telah memenuhi telinga masyarakat Madinah selama sebulan. Kecurigaanku pun muncul tatkala kelembutan Rasulullah mulai menipis dan tak seperti biasanya di saat aku melawan demam dan sakitku. Biasanya Rasulullah begitu memanjakanku kala aku sakit. Namun beliau sedikit berubah. Beliau hanya menyapaku dengan bertanya tentang keadaanku, kemudian berlalu begitu saja.
Suatu malam, aku keluar ditemani Ibunda Misthah bin Utsasah untuk membuang hajat. Sewaktu hendak kembali ke rumah, Ibu Misthah tersandung sembari mencela anaknya sendiri, Misthah.
“Sungguh buruk kata-katamu. Apakah kau mencela seseorang yang pernah berjuang di peperangan Badar?” kataku padanya.
Nak, tidakkah kau mendengar apa yang ia katakan?” ia malah bertanya kepadaku.
“Apa yang telah ia katakan?”
Ibu Misthah menceritakan tuduhan keji tentangku yang didengungkan oleh sebagian orang. Sakitku makin menjadi-jadi. Dan sesampainya di rumah, aku meminta izin Rasulullah agar menetap sementara di rumah orang tuaku, guna memastikan ke kedua orang tuaku tentang tuduhan keji itu. Rasulullah mempersilahkan.
Lalu aku bertanya kepada ibuku, “Ibu, apa yang menjadi gunjingan orang-orang?”
Ibuku menenangkanku agar tidak risau dan gelisah. Mendadak mataku mendung, menderaskan air mata dan membasahi pipiku sepanjang malam hingga pagi menjelang.
Rasulullah yang cukup gusar akan suara-suara negatif tentang istri dan rumah tangganya, meminta pendapat kepada Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid. Zaid berpendapat, “Pertahankanlah keluarga Anda. Kami hanya tahu satu kata dari keluarga Anda, yaitu kebaikan.”
“Wahai Rasulullah, Allah tidak mungkin menjadikanmu bersedih dalam perkara ini. Sesungguhnya wanita masih banyak. Tanyalah kepada seorang wanita yang dekat dengan Aisyah supaya bisa meyakinkan Anda,begitulah jawaban Ali.
Rasulullah bertanya kepada Barirah tentangku, apakah ada sesuatu yang meragukan dari diriku? Barirah memantapkan hati Rasulullah dengan menegaskan bahwa tak ada sesuatu yang meragukan pada diriku. Aku hanyalah seorang wanita yang masih muda yang pernah tidur bersama adonan makanan, lalu memakan adonan itu. Demikian Barirah menceritakan tentang diriku di hadapan Rasulullah.
* * *
Sepanjang hari itu air mataku berlinang dan tidurku sangat jauh dari rasa tenang. Hingga kedua orang tuaku berada di sisiku, aku tetap saja menangis. Dua malam satu hari, air mataku bercucuran dan tidurku tak karuan. Salah seorang perempuan Anshar meminta izin untuk menemaniku. Ia pun turut meratapi kesedihanku.
Rasulullah datang ke rumah orang tuaku. Beliau belum pernah duduk di sampingku selama tuduhan keji itu tersiar.
Rasulullah bersabda, “Wahai Aisyah, aku telah mendengar berita tentang dirimu. Jika kau tidak bersalah, Allah akan mensucikanmu (dengan membelamu). Dan jika kau melakukan dosa, memohon ampunlah dan bertaubatlah kepada Allah. Karena seorang hamba bila mengakui kesalahannya dan mau bertaubat, Allah akan menerima taubatnya.”
Setelah Rasulullah selesai menyampaikan kalimat itu, kuhapus air mataku hingga tak tampak setetes pun. Aku meminta bapak dan ibuku agar membelaku di hadapan Rasulullah. Tapi keduanya tak kuasa berkata-kata.
Dengan sesenggukan aku berkata kepada mereka, “Aku hanyalah wanita yang masih belia, dan memang aku belum banyak membaca Al-Quran. Demi Allah, sungguh aku telah mengetahui apa yang kalian dengar dari perbincangan orang-orang hingga kalian masukkan berita itu ke dalam hati kalian dan kalian percayai. Seandainya saja aku mengatakan bahwa aku bersih dari tuduhan keji itu, kalian tak akan mengaminiku. Dan jika aku mengakui tuduhan keji itu –meskipun Allah tahu bahwa aku terbebas dari tuduhan itu-, niscaya kalian akan mempercayaiku. Demi Allah aku tak menemukan perumpamaan antara aku dan kalian selain seperti Nabi Ya’kub, saat berkata: Bersabarlah dengan kesabaran yang baik. Hanya Allah tempat meminta pertolongan atas apa yang kamu ceritakan.”
Usai kuutarakan kegundahanku, tempat tidurkulah menjadi penenangku. Sungguh Allah mengetahui aku benar-benar bersih dari berita miring itu dan Allah yang akan membebaskanku. Jujur aku tak mengira Allah menurunkan wahyu membebaskanku dari tuduhan itu. Rasanya tak pantas bila wahyu turun lalu dibaca semua orang hanya menyoal tentang masalah pribadiku. Aku ini siapa hingga Allah membicarakan masalahku. Aku hanya mengharap Rasulullah mendapatkan wahyu melewati mimpi tentang pembebasanku dari fitnah itu.
Dan demi Allah, Rasulullah enggan beranjak dari tempat itu dan tak satu pun dari keluarga kami –bapak ibuku yang merupakan mertua Rasulullah- berminat melangkahkan kaki, hingga wahyu turun kepada Rasulullah. Seketika keringat beliau bercucuran bak butiran mutiara, padahal kala itu musim dingin amat menusuk tulang kami. Wajah beliau berseri dan tersenyum.
“Wahai Aisyah,  sungguh Allah telah membersihkan dan membebaskanmu dari tuduhan itu.” Itulah kalimat pertama yang kudengar dari suamiku.
Spontan, ibuku menyuruhku bangkit dan menemui Rasulullah.
“Demi Allah, aku tak akan bangkit kepada beliau, dan tak akan memuji kepada siapapun selain Allah.” jawabku.
Ya, akulah istri Rasulullah yang tertuduh. Dan Allah membebaskanku dari tuduhan itu dengan firman-Nya yang membuat air mataku teduh. Aku Aisyah, istri Rasulullah yang terfitnah.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (11) “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu'minin dan mu'minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata." (12) “Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta.” (13) “Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (14) “(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (15) “Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar." (16) Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (17) “Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (18) “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (19) “Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).” (20) [QS: An-Nur]
***
Setelah mengingat-ngingat beberapa saat, ternyata cerita penuh hikmah ini sudah pernah kubaca di dalam al-qur’anku yang juga menyisipkan cerita wanita-wanita yang namanya abadi dalam al-Qur’an di lembaran paling belakang. Diantaranya Aisyah binti Abu Bakar (Q.S. An-nur: 11-17), Fathimah Az-zahra r.a (Q.S. Al-Ahzab : 33), Ummul Mu’minin Hafsah binti Umar (Q.S. Al-Azhab: 3-5), Khaulah binti Tsa’labah (Q.S. Al-mujadalah : 1-4), Ummul Mukminin Ramlah binti Abi Sufyan (Q.S. Al-Mumtahanah : 6-7), Ummu Kultsum binti Uqbah r.a. (Q.S. Al-Mumtahanah : 10), Ummu Syuraik Ghaziyah binti Jabir Ad-DausiUmmul Mu’minin Zainab binti Jahay (Q.S. Al-Ahzab: 37-38).
Beliau meminta kami menceritakan kembali dengan menggunakan bahasa arab. Satu persatu dari kami mencoba menceritakannya dengan bahasa arab. Ada yang mencoba menceritakan namun bingung menyusun kata-kata sehingga terbata-bata, ada juga yang lancar berbahasa arab tanpa kesulitan menjelaskan alur ceritanya. Pada intinya beliau hanya ingin kami membiasakan diri berbicara menggunakan bahasa arab.
Beliau mengatakan bahwa “Kita harus bersyukur meski tidak hidup bersama rasulullah SAW. Kita hidup lebih dari 400 tahun setelah rasulullah SAW wafat, tidak bertatap muka dengan beliau, hanya mndengar riwayat tentang beliau. Namun kita masih mengimani rasulullah SAW. Kita percaya bahwa beliau adalah utusan Allah yang menjadi penyempurna ajaran agama islam. Itulah yang luar biasa”. Maka sebagai umatnya hendaknya kita senantiasa bersyukur karena kita mengimani Rasulullah yang merupakan uswatun hasanah dan menjadi suri tauladan bagi seluruh umat manusia.
Satu pertanyaan dari beliau, “Mengapa orang yang sering bersujud ketika dipandang wajahnya seakan-akan memancarkan cahaya?” karena tidak ada satupun dari kami yang menajwabnya, beliau menjawab “Sebab ia sering bertemu dengan sang Maha cahaya yaitu Allah azza Wa alla. Ketika ia shalat, ia dipeluk oleh nuur ala nuurin, Muhammad SAW” Orang-orang dengan wajah seperti ini enak dipandang karena pancaran cahayanya menyenangkan, menenangkan,  dan mengingatkan kita kepada sang pencipta. Semakin banyak sujud, semakin terpancar cahaya di wajah dan semakin mudah bagi Nabi untuk mengenal kekasihnya di akhirat.
Seperti yang telah Prof Ali petuahkan dalam bukunya yang berjudul “60 Menit Terapi Shalat Bahagia, “Sujud merupakan tanda ketundukan fisik dan hati serta perendahan diri secara total di hadapan Allah SWT. Kadangkala Nabi SAW tidak segan sujud tanpa alas di atas tanah yang berair atau berlumpur untuk menunjukkan betapa rendah dan hina dirinya di hadapan Allah. Atha’ Al-Kharasani berkata “Ketika seorang hamba bersujud di atas tanah, maka pada hari kiamat kelak tanah itu akan menjadi saksi untuknya dan meratapinya saat ia meninggal dunia.”
Maka dari itu marilah kita memperbaiki shalat, karena memaknai setiap gerakan dalam shalat adalah suatu kewajiban. Shalat seutuhnya kita ma’nai. Jangan sampai kita tadzallul. Tanpa kita sadari, Ketika shalat kita sering menggunjing. Kadang kita merasa lebih baik dari orang yang shalat disamping kita, kadang kita merasa lebih khusyuk, lebih tuma’ninah, dan itulah yang dinamakan tadzallul.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ar-Rad ayat 31 :
“Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah Al Quran itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sungguh, Allah tidak menyalahi janji.” (QS. Ar-Ra’d [13]:31)
            Pesan ustad Ainul di akhir sesi, “Marilah sama-sama kita belajar, agar kita kelak bersama rasul. Buku sejarah nabi dibaca, ditekuni. Orang-orang yang tidak pernah bertawasul, bershalawat kepada nabi adalah orang yg tidak tahu berterimakasih kepada rasululullah SAW.” Begitu banyak keutamaan shalawat nabi, hingga Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang paling mulia bersamaku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat untukku” (HR. Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud r.a)

Fenomena Tekhnologi yang Berimbas kepada Al-Qur’an
Dengan adanya kemajuan teknologi saat ini, umat islam sekarang nampaknya semakin menjauh dengan rasulullah dan ajarannya yakni Al-Qur’anul karim. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa anak muda sekarang lebih nyaman memegang android daripada memegang Al-Qur’an, mudah mengantuk jika membaca Al-Qur’an dan tahan berjam-jam jika chatting, . Bahkan ini telah menjadi budaya dan bukan lagi menjadi fenomena. Lalu apakah kita akan terus berdiam diri dengan kondisi generasi umat yang seperti ini?
Orang-orang barat yang telah menguasai teknologi berkelas tinggi mudah saja menciptakan alat-alat komunikasi canggih berbentuk gadget, android, dan sebagainya. Dengan mudahnya produk-produk tersebut masuk dan didistribusikan di Indonesia karena Indonesia sendiri adalah negara berkembang yang masih membutuhkan ekspor dari Negara-negara maju. Jika ditilik lebih dalam, apa saja sebenarnya tujuan penciptaan teknologi komunikasi berkelas tinggi ini?
Tidak menutup kemungkinan penciptaan gadget dan sejenisnya adalah untuk merusak generasi islam sendiri karaena mayoritas pengguna gadget adalah dari kaum muda. Semakin lama islam hancur dari dalam dikarenakan generasinya telah terpengaruh produk-produk budaya barat dan semakin menjauh dari sunnah rasul-Nya. Sebagai contoh kecil, shalawat rasul yang semakin ditinggalkan para generasi muda. Lagu-lagu barat bergenre rock lebih menjadi pilihan, lagu-lagu galau produk artis Indonesia pun semakin menjamur. Lalu apakah kita mau digolongkan menjadi orang-orang yang tidak tahu terimakasih kepada rasulullah SAW yang telah menjadi revolusioner umat?
Shalawat kepada rasulullah SAW adalah salah satu bentuk realisasi kecintaan kita kepada Rasulullah SAW sebagai umatnya. Menurut literatur yang pernah saya temukan di salah satu media, dengan membaca shalawat satu kali, kita mendapat balasan sepuluh rahmat dari Allah atau sepuluh kebaikan, dihapus sepuluh keburukan,  menjadi sebab utama dikabulkan do’a, menjadi sebab meraih syafaat Nabi, mendapat pengampunan dari Allah, serta Allah akan mencukupi hidupnya dari berbagai macam keluh kesah. Selain itu, orang yang senang membaca shalawat akan mendapat kabar gembira sebelum kematiannya, dan pada hari kiamat Rasulullah SAW akan menjawab shalawat dan salam kepada orang-orang yang membaca shalawat dan salam kepadanya. Bisa membantu seorang hamba mengingatkan sesuatu yang terlupa. Menjadi sebab berkahnya suatu majlis agar tidak kembali pulang dalam keadaan merugi dan caacat, serta masih banyak lagi manfaat shalawat yang lain.
Tidakkah kita sebagai pemuda menjadi generasi penerus yang kelak akan memimpin umat? Gemerlap dunia begitu indah dan menyilaukan mata kita. Tanpa sadar bahwa di alam sana masih ada yang jauh lebih indah dibanding ini semua. Kenikmatan duniawi ibarat masih seujung kuku dari kenikmatan surga. Hanya kecil sekali bahkan tidak mampu dibandingkan dengan kenikmatan dan keindahan surga yang kekal abadi.
Terkadang aku berfikir, apakah benar memang orang-orang barat pencipta gadget-gadget morern itu benar-benar berorientasi untuk menghancurkan islam dari dalam. Aku mencoba menilik kehidupan orang-orang disekitarku yang kebanyakan adalah pengguna gadget. Dari tingkah laku dan kebiasaan mereka, ada beberapa hal yang menurutku mulai menyimpang dari syariat-syariat islam, berikut :
1.      Niatnya upload namun ujub sulit dihindari
Fenomena upload foto di berbagai media social seperti facebook, line, what’s app, BBM, instagram, dan lain sebagainya sudah menjamur dan tidak asing lagi bagi kita. Tidak hanya kaum muda saja namun fenomena ini telah menjadi budaya yang telah di adopsi publik. Apalagi dengan dukungan kamera yang canggih ala android. Aplikasi-aplikasi yang mendukung aksi ini pun banyak, seperti B6 12, Kamera 360, dan lain sebagainya. Aplikasi-aplikasi ini semakin mendukung public untuk menyalurkan hobinya yaitu berfoto dan berpose di depan kamera. Istilah ‘selfie’ pun sudah tidak asing lagi kareana canggihnya handphone sekarang mampu mendeteksi kamera dari depan sehingga nampak secara nyata apa yang akan difoto seperti sedang bercermin.
Ketika melihat kawan sedang upload foto, yang mana foto tersebut dikatakan berlebihan dalam aksinya, atau kalau tidak menyangkut harta benda yang dipunyainya seperti bergaya menyetir mobil mewah, berpose macam artis dengan senyuman yang memikat, apakah tidak takut terjerumus dalam sifat ujub? Padahal telah jelas bahwa sesame muslim laki-laki dan perempuan semestinya harus menjaga pandangan. Karena seperti perkataan beberapa orang bahwa segala sesuatu dari mata akan turun ke hati.

2.      Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat
Dengan adanya android yang dengan berbagai aplikasinya semua orang mampu melakukan apa saja sekehendak mereka. Berhubungan jarak jauh pun tidak menjadikan suatu masalah, namun jika yang terjadi malah kesenjangan social dilingkungan tempat tinggal kita karena kita sibuk berkomuniaksi dengan orang-orang yang berada di kejauhan. Lalu apakah tidak sebaiknya lingkungan sekitar itu lebih diutamakan, dengan tanpa mengabaikan orang-orang yang berada di kejauhan? Nampaknya ini lebih baik.
3.      Semakin jauh dengan al-Qur’an
Jika kita lihat perbedaan orang-orang dulu dengan orang-oang sekarang. Maka kita akan lihat jelas perbedaannya pada segi keilmuan, kemantapan jiwa, serta bacaan al-qur’an yang bagus. Sekarang umat nabi Muhammad seakan-akan semakin menjauh dari al-Qur’an. Bagaimana tidak, generasinya saja lebih senang membaca chatting daripada membaca al-Qur’an.?
Minggu, 3 Mei 2015
Indahnya kerlap kerlip lampu kota, tak jemu-jemu ku memandanginya dari jendela kamar. Ada lampu-lampu penerang jalan yang berwarna kuning kemerah-merahan di setiap ujung jalan. Tak jauh dari Pesmi, ku lihat gedung tinggi yang berdiri dengan megahnya. Ruangannya kaca sehingga terlihat lampu ynag menyala terlihat dari luar. Indah sekali. Ada pula lampu merah yang berkelap-kelip nampak di ujung tower, sesekali terlihat sorot lampu pesawat yang melintas dan akan mendarat di bandara Juanda. Di kejauhan sana tepat lurus dengan arah jendela ku temukan lampu yang cahayanya warna-warni hampir mirip bentuk komidi putar. Searah dengan gedung itu, ku lihat cahaya terang yang Nampak dari sebuah menara, yang mana tempat itu adalah Masjid Nasional Al-akbar Surabaya. Inilah surabayaku malam hari yang begitu menyimpan sejuta pesona.
Aku tidak pernah menemukan keindahan kota ini di desaku. Tak heran jika aku begitu mengaguminya. Namun yang jarang aku temukan di malam-malam surabayaku adalah kerlip-kerlip sang bintang. Kemanakah dia pergi? Ataukah ia bersembunyi karena kerlap kerlip lampu begitu indah dan menyombongkan dirinya? Entahlah, aku selalu berharap melihat bintang disimi. Di langit Surabayaku. Aku ingin melihat bintang seperti saat aku di desa. Hamparan luas langitnya tak pernah sepi dari kawanan bintang-bintang. Aku bahagia melihat bintang, apalagi berpadu dengan cahaya sang rembulan.
Apalagi jika berjalan di jalan depan kampus, suasananya indah seperti bernostalgia mengenang rihlah angkatan pondokku ke Jogja tepatnya sekitar satu tahun yang lalu. Pada malam harinya kami singgah di Malioboro. Nah, ketika melintasi jalan depan kampus ini rasanya mirip sekali dengan Jl. Malioboro, sungguh mengingatkanku akan kebersamaan dengan kawan-kawan seperjuanganku saat masih bersama dalam satu marhalah.
Suasana yang tak kalah menarik adalah ketika melihat kereta api sedang melintas. Hidup ini jika diibaratkan kereta maka tidak ada orang yang tersesat, karena telah berjalan pada jalannya. Jika dia keluar jalur, maka dia akan celaka. Seperti itu pula gambaran orang-orang yang bertaqwa, jika mereka berjalan pada jalannya (jalan kebenaran) maka sampailah mereka kepada tujuan akhir dari perjalanan hidupnya yakni alam akhirat yang akan membawanya menuju syurga. Semoga kita termasuk hamba-hambaNya yang menghuni syurga bersama Rasulullah, para sahabat, tabiin, ulama’ dan para habaib. Allahumma amiin.

Wajah yang penuh cahaya, seakan tak pernah mengisyaratkan adanya suatu kemarahan dalam perjalanan hidupnya. Tiada yang terpancar selain kedamaian bagi setiap mata yang memandangnya. Astaghfirullah. kok jadi ngelantur. Ini hanya sekedar ungkapan yang tergambar dari sosok ustad kebanggaan kami, ustad Ainul Yaqin. Pagi ini beliau tampil prima di hadapan kami dengan kemeja krem dipadukan dengan celana hitam. Tatkala berbicara di depan kelas, tangannya bergerak kesana kemari senada dengan maksud dan alur bicaranya. Terlihat dengan jelas jam tangan elegant berwarna hitam terpasang di lengannya sebelah kiri. Cocok sekali, gumamku di dalam hati. Namun, ada satu yang mengundang perhatianku, sebuah cincin akik di jari manis ustad di sebelah kiri. Dalam hati aku pun bertanya-tanya, “Apa sih istimewanya cincin akik sehingga begitu menarik perhatian publik akhir-akhir ini?” pertanyaan liar yang tak penting sebenarnya. Namun mengalir begitu saja dalam otakku.
“Kalau jodoh tidak ditangan Allah, maka di tangan bapak ibu” ucapan ustad tegas membuyarkan lamunanku. Entah mengapa telingaku begitu jelas mendengar kata-kata ini. namun, apa perkataan ustad sebelumnya hingga kata-kata ini terlontar dari ustad. Aku terjebak dalam lamunanku sehingga tak tahu arah pembicaraan ustad. Yang aku pahami, ustad selalu berpasrah dan bertawakkal untuk urusan pendamping hidup atau jodoh. Tulang rusuk tidak akan mungkin tertukar. Wanita diciptakan dari tulang rusuk pria, maka dari itu, janganlah terlalu keras meluruskannya karena ia akan pecah atau patah. Dan jika kau biarkan maka ia akan semakin membengkok. Maka berkata-katalah yang baik, perlakukan wanita dengan penuh kelembutan. Begitu kira-kira pesan ustad untuk kami khususnya teman laki-laki yang nantinya akan menjadi pemimpin dalam bahtera rumah tangganya.
Kemudian ustad menguraikan tentang keistimewaan berpuasa. Laki-laki berkulit kuning ini  berkata “Ibadah yang intim adalah puasa, karena yang tahu hanyalah kita sendiri dan Allah SWT”. Berbeda dengan ibadah-ibadah lain yang tidak menutup kemungkinan mengundang ‘ujub dalam diri pelaku ibadahnya. Seperti halnya ibadah haji, shalat, zakat. Semua itu adalah ibadah yang nampak dipandang mata. Jadi, rawan sekali mendatangkan pujian dari manusia dan sifat ‘ujub atau mencari kemuliaan di maat manusia. Lebih istimewanya lagi, malaikat tidak diperbolehkan mencatat ganjaran orang yang berpuasa, Allah SWT langsung yang akan mencatatanya sebagai amal kebaikan. “Semoga kita dipertemukan di bulan Ramadhan, ini pertama kalinya Ramadan saya di Indonesia setelah 5 kali puasa 5 kali lebaran” ungkap ustad dengan nada penuh harap. Sedikit mengundang tawa, macam bang toyib saja, ungkapku dalam hati.
Jika diumpamakan kita adalah artis, maka sutradaranya Allah. Allah SWT akan mengatur jalannya skenario yang harus kita mainkan dalam hidup kita. Ketika kita mendapat cobaan dari Allah, itu tidak untuk membuat kita bersedih namun untuk tersenyum. Karena itu tandanya Allah mengasihi kita. Dalam hidup pun seringkali kita dihadapkan dengan berbagai masalah. Entah masalah terkait dengan diri sendiri, maupun dengan orang lain. Sikap dalam menghadapi masalah pun berbeda-beda. Ada yang menghadapi masalah dengan lapang hati dan tangan terbuka, ada pula yang gugup dan kebingungan kesana kemari, ada pula yang menghadapinya dengan kemarahan karena ego yang tidak mampu diredam. Pernah dikatakan oleh ustad, “Orang yang sering marah itu orang yang tidak pernah berdzikir. Orang yang galau adalah orang yang tidak pernah berdzikir, atau berdzikir namun tidak tahu apa yang diucapkannya” Kita tetap stabil dan terjaga ketika kita berdzikir dan ingat kepada Allah.
Sedangkan menurut beliau dzikir itu ada tiga, yang pertama dzikr al-halqi li al-halqi yakni dzikir makhluk untuk makhluk, yang kedua dzikr al-khalqi li al-khaliq yaitu dzikir makhluk kepada sang pencipta, dan yang ketiga dzikr al-khaliq li al-khalqi yaitu dzikr sang pencipta kepada makhlukNya. Ketika waktu menunjukkan pukul 10.36 WIB, Prof datang, beliau mengenakan kemeja putih panjang berpadu dengan celana hitam sembari membawa 3 bendel tafsir yang telah dikoreksi beliau. Beliau mengucapkan salam kepada kami. “Assalamu’alaikum”. Kamipun serentak menjawabnya “wa’alaikumsalam”.
Tak lama kemudian beliau menanyakan perkembangan sejauh mana tulisan kami, karena dirasa tak kunjung ada perubahan yang signifikan dari jumlah halamannya, beliau berkata “Potensimu itu kalau dipaksa bisa. Kemampuanmu hanya terhalang oleh kemalasan dan rendah dirimu. Tidak ada malas, tidak mood” beliau menegaskan kembali mengenai tugas menulis ini. Tulisan tidak akan dilihat prof namun di masukkan kedalam blog masing-masing. Bagi yang belum membuat blog harus segera membuatnya hari ini juga.

“Peran Konselor Sekolah Sebagai Navigator Bagi Para Siswa”
Secara psikologi, masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. (Elizabeth B. Hurlock,1980 :206). Bisa dikatakan usia remaja adalah masa-masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa. Masa ini ditandai dengan semangat yang menggebu-gebu, rasa keingintahuan yang tinggi serta emosi yang meluap-luap yang tak jarang menyebabkan para remaja mudah menyimpang dari norma-norma yang telah ada. Namun jika masa-masa ini terorganisir dengan baik, masa ini bisa menjadi masa emas yang mampu menorehkan sejuta prestasi yang membanggakan.
Manusia adalah makhluk Allah SWT dengan penciptaan yang sempurna. Panca indera dengan masing-masing yang fungsinya begitu menakjubkan, serta penciptaan akal pikiran yang membedakannya dengan hewan. Dengan penciptaan akal pikiran inilah manusia mampu membedakan yang baik dan yang buruk, yang haq dan yang bathil. Namun disamping itu pula manusia diberi hawa nafsu oleh Allah SWT. Barang siapa yang memerangi hawa nafsunya maka kelak ia akan bernaung di syurga-Nya, begitu pula sebaliknya. Hawa nafsu inilah salah satu faktor yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu yang menyimpang dan pemicu timbulnya suatu masalah. Sehubungan dengan itu pula, maka dalam hidup kita tak pernah jauh dari masalah.
Pendek kata, semua orang pasti memiliki masalah. Apalagi pada masa-masa pubertas, masa yang begitu rentan bagi remaja untuk dihadapkan dengan berbagai masalah karena berbagai perubahan yang dialaminya. Masa ini juga disebut dengan periode “badai atau tekanan”, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubaan fisik dan lingkungan social.
Dikarenakan tingkat emosi setiap individu itu berbeda-beda, maka kompleksitas masalah yang dihadapi oleh individu yang satu dengan yang lainnya tentu berbeda-beda. M. Hamdan Bakran Adz-Dzaky (2004:190) mengklasifikasikan masalah individu termasuk siswa sebagai berikut :
1.      Masalah individu yang berhubungan dengan Tuhannya
Adalah kegagalan individu melakukan hubungan secara vertikal dengan Tuhannya, seperti sulit menghadirkan rasa takut, memiliki rasa tidak bersalah atas dosa yang dilakukan, sulit menghadirkan rasa taat. Dampak dari kesemua itu adalah timbulnya rasa malas atau enggan melaksanakan ibadah dan sulit untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang di larang oleh Allah.
2.      Masalah individu berhubungan dengan dirinya sendiri
Adalah kegagalan bersikap disiplin dan bersahabat dengan hati nurani yang selalu mengajak atau menyeru dan membimbing kepada kebaikan dan kebenaran Tuhannya.
3.      Masalah individu yang berhubungan dengan lingkungan keluarga
Adalah kegagalan ketidakmampuan individu dalam menjalin hubungan  yang harmonis dengan keluarganya, missal hubungan yang harmonis antara anak dengan ayah dan ibu, adik dengan kakak dan saudara-saudara lainnya. Kondisi ini akan menyebabkan anak merasa tertekan, kurang kasih sayang, kurang keteladanan dari kedua orang tua.
4.      Masalah individu yang berhubungan dengan lingkungan kerja
Adalah kegagalan individu memilih pekerjaan yang sesuai dengan karakteristik pribadinya, kegagalan dalam meningkatkan prestasi kerja, ketidakmampuan berkomunikasi dengan atasan, rekan kerja dan kegagalan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.
5.      Masalah individu yang berhubungan dengan lingkungan sosialnya
Adalah ketidakmampuan individu melakukan penyesuaian diri (adaptasi) baik dengan lingkungan tetangga, sekolah, ataupun dengan masyarakat. Atau kegagalan dalam bergaul dengan lingkungan yang beraneka ragam watak, sifat dan perilaku.
Jika berbicara fakta, di tengah krisis moral dan modernisasi yang semakin menjadi-jadi, banyak siswa-siswi yang tertekan secara psikis karena ketidakmampuan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Selain faktor usia dan kematangan, relasi dengan keluarga juga memiliki peranan yang cukup penting bagi kemampuan seorang anak dalam menyelesaikan masalahnya. Jika orang terdekat seperti orang tua dirasa tidak mampu menjadi curahan hati anak, maka tak jarang yang menjadi alternatif selanjutnya yaitu lawan jenis. Namun akibat lemahnya kontrol diri dan minimnya pengawasan dari orang tua, tidak menutup kemungkinan hal inilah yang menjadi latar belakang terjadinya berbagai penyimpangan sosial, seperti maraknya free seks dan prostitusi di kalangan para remaja.
Dengan adanya berbagai kasus yang mayoritas backgroundnya adalah siswa-siswi sekolah, maka tidak dapat dipungkiri lagi peran sekaligus uluran tangan guru BK dirasa semakin penting dalam menyelamatkan masa depan putra-putri bangsa. Apalagi guru juga menyandang gelar orang tua kedua bagi para siswa. Disinilah peran bimbingan konseling diharapkan mampu menjadi tempat curahan hati para siswa.
Betapa Mulianya Tugas Konselor
Menurut Shertzer dan Stone, (1980) konseling adalah upaya membantu individu dengan melalui proses interaksi yang bersifat individu antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, serta mampu mengambil keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif prilakunya. [2]
Dari situ dapat dipahami bahwa Bimbingan konseling adalah konseling adalah bantuan konselor yang di berikan kepada individu dalam memecahkan masalah kehidupannya dengan wawancara dan dengan cara yang sesuai dengan keadaan yang dihadapi individu untuk mencapai kesejahteraan hidupnya.
 Berangkat dari pengertian itu, karena pada akhirnya tujuannya sama yakni mengajak menuju arah yang lebih baik, maka konseling memiliki korelasi yang erat dengan dakwah, dihubungkan dengan nash (teks) Al-Qur’an yang berkaitan dengan kewajiban dakwah yakni :
"وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون"(104)
﴿آل عمران 3/ 104﴾
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran[03]: 104)
            Jadi sudah jelas bahwa tugas untuk menolong atau menyeru kepada kebaikan ini merupakan perintah Allah SWT yang telah termaktub dalam Al-Qur’an. Betapa mulianya tugas seorang konselor. Namun perlu dipahami juga, karena bimbingan dan konseling merupakan usaha bersama, maka tugas ini bukan hanya tugas dan tanggung jawab seorang konselor, namun juga tugas seluruh guru dan kepala sekolah. Mereka bekerja sebagai team work.
Konselor bukan Polisi Sekolah
Tidak selamanya konselor sekolah hanya menangani siswa-siswi yang bermasalah saja. Perlu ditinjau kembali fungsi bimbingan konseling, yakni terdapat fungsi pencegahan (preventif) yang merupakan usaha pencegahan terjadinya masalah. Usaha ini dapat berupa program orientasi, pengarahan, layanan informasi, layanan konsultasi dan lain sebagainya. Dengan adanya berbagai usaha ini maka diharapkan konseling dapat meminimalisir timbulnya berbagai masalah pada peserta didik.
Namun seiring dengan adanya berbagai usaha ini, bahwa anggapan bahwa guru BK adalah sosok yang kejam, menyeramkan, dan mudah menjustifikasi sudah mengakar dalam benak para siswa. Asumsi ini bukan tanpa alasan. Seperti teori Labelling yang dikemukakan oleh Edwin M. Lemert, seseorang dianggap menyimpang karena proses labelling yang diberikan masyarakat kepadanya. Maka tak jarang, seorang guru BK yang dianggap kejam juga akan berlaku seperti asumsi itu. Alasannya adalah terlanjur basah atau kepalang tanggung.
 Jadi dipandang perlu adanya pengapusan image guru BK adalah polisi sekolah. Perlu ditekankan bahwa konselor tidak sepantasnya berlaku seperti image yang dianggap demikian. Seperti yang telah diungkapkan oleh Prof. Dr.H Syamsu Yusuf LN,M.Pd. di aula Fakultas Dakwah UIN Sunan Ampel Surabaya, saat kunjungannya dalam acara workshop Pengembangan Model Konseling Indigerous pada hari Selasa lalu, (13/05/2015) tiga kriteria seorang yang mutlak dimiliki oleh seorang konselor yakni : 1) Knowledge 2) Skill 3) Personality. Kriteria yang terakhir yakni personality. Selain memiliki knowledge yaitu wawasan keilmuan mengenai Bimbingan Konseling dan skill yang mumpuni terutama dalam bidang komunikasi, ia harus memiliki personality atau kepribadian yang unggul. Yakni kepribadian yang berlandaskan Al-qur’an dan sunnah, dalam artian memiliki akhlaq yang mulia serta pekerti yang budiman sehingga mampu menghargai hak-hak orang lain terutama seorang konseli.
Menurut Bahri Mustofa dalam bukunya yakni Bimbingan dan Konseling di Sekolah, upaya untuk menangani siswa yang bermasalah dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yakni : 1) Pendekatan disiplin 2) Pendekatan bimbingan dan konseling.[3] Penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. Pendekatan ini memungkinkan pemberian sanksi untuk memberikan efek jera. Sedangkan disini pendekatan bimbingan dan konseling justru lebih mengutamakan pada penyembuhan dengan berbagai macam teknik yang ada. Sehingga setahap demi setahap siswa mampu memahami diri dan lingkungannya guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik.
            Pada umumnya, proses konseling dikatakan berhasil jika seorang konselor mampu membangun sesuatu dalam diri konseli. Entah itu berupa motivasi, kekuatan spiritual, rasa tanggung jawab, dan lain-lain. Konselor sekolah yang baik adalah yang mampu menjadi navigator bagi para siswa. Yakni mampu menjadi guide yang mengarahkan para siswa yang bermasalah menuju arah yang lebih baik. Juga mengembangkan potensi, minat dan bakat peserta didik yang mampu menjadikannya siswa terampil, kreatif, mandiri serta mempunyai orientasi masa depan yang cemerlang demi nusa dan bangsa. Seiring itu dengan itu pula dibutuhkan sarjana-sarjana lulusan Bimbingan Konseling Islam yang unggul dan kompeten serta telah mengikuti Pendidikan Profesi Konselor, agar mampu turut serta berkontribusi dalam mencerdaskan anak bangsa demi kemajuan Indonesia.

Pencarian Jati Diri
Malam ini sulit rasanya memejamkan kedua mata ini. Pertanyaan-pertanyaan itu kembali memberondongku satu-persatu setelah sekian lama menghilang entah kemana. Bahkan tertutup oleh hal-hal yang lain. Pertanyaan yang sebenarnya jawabannya akan kutemukan pada diriku sendiri. Namun entah mengapa, sepertinya mataku masih buta untuk meraba-raba apa sebenarnya yang ada di dalam diriku ini. Apa yang menjadi hal yang menonjol dalam diriku ini yang dikatakan sebagai potensi.
Pernah suatu ketika aku menceritakan kegalauan akan potensiku ini kepada salah seorang kawan yang sangat kupercaya, namun lagi-lagi dia menertawakanku dan berkata “Hari gini gak tau potensi? Kemana aja?”. Aku terdiam sekaligus merasa sedikit jengkel karena respon dia tidak memberikan pencerahan sedikitpun. Namun setelah menelaah lebih dalam dan merenungi perkataan kawanku tadi, memang ada benarnya juga. Apa saja yang kulakukan selama ini, sehingga potensi diri sendiri pun aku tidak tahu. Ku buang kemana saja waktuku sehingga ketika yang lain sudah disibukkan dengan potensi masing-masing, aku masih bengong dan bingung akan ku bawa kemana arah hidupku.
Aku dikelilingi oleh mahasiswa super yang masing-masing sepertinya telah memiliki potensi yang mereka temukan di dalam dirinya. Seperti Rafael, mahasiswa asal Riau yang mengaktualisasikan dirinya sebagai sosok yang mantap public speakingnya dan menekuni entrepreneur ini. bisa jadi ia menjadi entrepreneur hebat sekaligus motivator. Lain lagi dengan Mizan, mahasantri asal Sumenep ini telah menekuni bidang kepenulisan semenjak dia masih nyantri di Pondok Pesantren Annuqbapak Sumenep yang katanya pondoknya intelek dan sastrawan-sastrawan Indonesia. Dengan ketrampilan menuangkan gagasan  menjadi sebuah tulisan, juga ketrampilan berbicara karena wawasannya yang begitu luas, bisa ku prediksikan ia akan menjadi orang besar dan tentu penulis hebat. Sedangkan gadis berkacamata asal Majalengka yang kerap disapa teteh Zahra ini sangat mahir dalam berkomunikasi, menurut prediksiku nantinya ia akan menjadi konselor islam yang handal.
Bangga sekaligus turut berbahagia meihat teman-teman yang telah menemukan potensi dalam dirinya. Seiring itu pula terkadang terbesit dalam hati, “Apakah berguna untuk orang lain saja sudah cukup?”. Aku selalu berpegang kepada Qaul ‘araby  خير الناس انفعهم للناس . ketika ditanya tentang cita-cita pun aku selalu menjawab, “Mau jadi apapun yang penting bermanfaat untuk yang lain, terutama lingkungan sekitar”. Hal inilah yang menjadikanku sulit untuk menjelaskan apa sebenarnya cita-citaku. Karena semua berawal dari komitmenku sendiri. Aku berkomitmen untuk menjadi orang yang bermanfaat. Namun yang menjadi pertanyaan sekarang, bermanfaat dalam hal apa? Mungkin seorang tukang sapu atau akrab dipanggil dengan cleaning service pun sudah bisa dikatakan bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan sekitar.
Sebenarnya bukan ini yang ku maksud. Bermanfaat untuk orang lain dalam artian mampu mengajarkan kebaikan, membimbing, dan mencerahkan layaknya seorang guru. Namun jika memang demikian keinginanku, aku memiliki keahlian apa? Bukan lulusan sarjana pendidikan, namun lulusan sarjana BKI. Akankah bekal yang ku kantongi cukup untuk mengantarkanku kepada impianku?
Maka malam ini aku mencoba menyelami seluruh isi hati, keinginan-keinginan dari lubuk hati yang paling dalam tidak akan kubiarkan menggelayut tanpa kutuangkan dalam tulisan. Aku ingin menghimpun keinginan-keinginan itu dalam suatu himpunan dan aku memberinya judul “99 Impian di Langit Surabaya”. Rasanya memang perlu menuangkan semua yang di targetkan dalam perjalanan menimba ilmu ini agar focus senantiasa terjaga dan tidak menyibukkan diri dengan hal-hal lain. Yap, akhir-akhir ini aku sering tidak focus dikarenakan suatu hal yang sering mengganggu fikiran, dan hal itu tak seharusnya difikirkan sekarang. Mungkin dengan menuliskan ini semua mampu membuatku focus kembali untuk menyibukkan diri dengan hal-hal yang ku targetkan.

Kuliah Terakhir bersama Prof Ali
            Pagi ini kami ada jam masuk kuliah Tafsir BKI bersama Prof Ali, meski tidak ada matakuliah yang diajarkan karena telah selesai. Pagi ini agendanya hanya sarasehan saja. Ungkap Kurniawan, salah seorang kawan yang berperan sebagai Humas kami, warga B3. Sebab dia selalu menjadi perantara antara kami dengan dosen-dosen. Pagi ini Prof Ali bersama ustad Ainul Yaqin duduk bersama, mereka berangkat hampir bersamaan. Meski ustad Ainul Yaqin sampai beberapa menit lebih dahulu. Setelah menempati  cProf menyampaikan bahwa sebagai calon pendakwah hendaknya kita tidak bosan memberi pesan. Artinya, dalam diri seseorang tidak mudah dalam merubah tingkah laku. Maka sebagai orang yang lebih tahu, hendaknya kita tidak pernah bosan untuk memberi pesan dakwah. “Seperti anda ini, hampir 50% kuliah anda harus berisi tentang menulis jika saya ingin menjadikan anda penulis hebat” ujar beliau.
            Ditengah sesi, beliau meminta salah satu diantara kami untuk membaca tulisannya. Semuanya terdiam tanpa ada gerakan sama sekali, semua menunduk. Ada gerak hati untuk mengangkat tangan karena aku membawa laptop yang berisi file tulisanku. Sedangkan bagi teman-teman yang lain kebanyakan tidak membawa laptop. Namun entahlah apa yang membuatku berat sekali untuk sekadar mengangkat tangan, mungkin rasa minder masih saja hinggap diubun-ubunku ini. akhirnya ada salah seorang teman putri yang mengagkat tangan, dialah Fiska Emila, gadis cantik asal Semarang Jawa Tengah. Dia diminta untuk maju dan mengambil kursi untuk duduk disamping Prof Ali. Suatu kehormatan bisa duduk disamping beliau. Teriak dalam batinku, penyesalan pun datang bertubi-tubi. Kesempatan memang begitu mahal harganya.
            Sebagai balasan, maka aku ingin menanyakan suatu hal kepada Prof. ketika sesi pertanyaan, tanpa keraguan sama sekali aku mengangkat tnagan, kemudian Prof mempersilahkanku. “Saya ingin bertanya Prof, mana yang harus kita dahulukan antara keinginan orang tua dengan cita-cita kita sendiri”, ungkapku. Kemudian beliau berkata “cita-citamu jadi apa?” “Penulis” jawabku. Kemudian beliau bertanya lagi “Orangtuamu menginginkan apa? “Guru ustadz,” jawabku lagi. “Ya sudah, jadilah guru yang penulis”. Ungkap beliau yang sekaligus meyakinkanku untuk terus berlari meraih keduanya.
Kemudian beliau menyarankan kami untuk membaca kisah inspiratif yang masuk Koran harian Jawa Pos pagi tadi yang terpampang di depan Fakultas. Ceritanya mengenai Pak dul, seorang kakek tua yang selama 10 tahun telah mengumpulkan aspal yang sudah berserakan kemudian mengolahnya kembali untuk menambal jalan-jalan yang berlubang ketika tengah malam. Bahkan sampai-sampai orang-orang kampung menyebutnya orang gila. Dia tidak pernah rela jika ada orang yang meninggal karena kecelakaan akibat jalan yang berlubang itu. Betapa mulianya hati pak dul. Tanpa mengharapkan imbalan dia terus berjuang meski harus dicaci dan dihina orang-orang kampong.
Selepas kuliah selesai, akupun segera bergegas turun tangga dan berjalan menuju depan fakultas, rasa penasaranku belum berakhir sebelum melihat sendiri berita itu. Dan benar saja, berita itu memang benar-benar ada, aku menemukan gambar sosok laki-laki sedang membawa karung di pinggir jalan. Pak dul? Inikah pak dul? Sosoknya sudah renta karena dimakan usia, begitu miris aku melihatnya. Kagum akan keikhlasannya mengabdi kepada masyarakat dengan caranya sedniri yakni menambal jalan-jalan aspal yang berlubang. Karena sangat terburu-buru karena waktu sudah siang, maka aku putuskan untuk membacanya nanti saja lewat internet.
            Ketika browsing-browsing berita, aku tertarik untuk mengikuti saran salah seorang kawan untuk mengikuti Workshop Keberagaman di Jogja. Kegiatan ini gratis tanpa dipungut biaya jika artikel yang disyaratkan lolos seleksi panitia. Inilah artikel yang kukirimkan kepada panitia workshop :
Tak Sepantasnya Multikulturalisme Pudarkan Kebhinekaan dalam diri Bangsa
            Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau, terpisahkan oleh lautan, kaya akan bahasa, etnis suku bangsa, warisan budaya, serta keyakinan. Ragam kekayaan ini telah ada sejak zaman nenek moyang yang kemudian membentuk Indonesia menjadi negara yang berpegang teguh pada semboyan “Bhineka Tunggal Ika”, berbeda-beda namun tetap satu jua. Semboyan yang termaktub dalam kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular pada abad ke-14 ini menunjukkan bahwa sejak zaman dahulu masyarakat Indonesia hidup dengan damai, saling menghargai serta memiliki rasa toleransi yang tinggi di atas segala perbedaan yang ada. Terbukti, sikap toleransi ini menjadi pemersatu bangsa Indonesia selama puluhan tahun setelah kebebasan negeri ini dari belenggu penjajah.
            Sebagai bangsa yang besar, sikap toleran menjadi hal yang sangat fundamental karena dengan adanya toleransi mampu meminimalisir adanya konflik dan ketegangan antar umat beragama. Mengingat bahwa pemicu konflik yang besar terkadang hanya karena minimnya rasa toleransi. Tidak menutup kemungkinan pula, rasa toleransi yang semakin berkurang akan menjadi pemicu terjadinya konflik-konflik besar yang tidak terduga nantinya.
Fakta belakangan ini semakin membuka mata kita, bahwa masyarakat Indonesia yang sejak dulu terkenal dengan bangsa yang budiman, berbudi pekerti luhur dan memiliki toleransi yang tinggi antar umat beragama, kini menjadi ganas dan beringas. Konsekuensi dari kebhinekaan yang dulunya menjadi jati diri bangsa seakan semakin memudar seiring isu-isu yang semakin memanas. Perbedaan keyakinan seakan menjadi justifikasi dari sebuah kecurigaan kepada kaum minoritas. Segala bentuk kekerasan atas nama agama pun semakin nyata adanya. Seperti konflik kekerasan terhadap kaum syi’ah yang terjadi di Sampang, Madura, Jawa Timur pada awal 2013 lalu. Gelar “preman berjubah’ pun sempat mencuat, memenuhi ruang publik terkait dengan penyerangan kaum-kaum minoritas. Lalu dimanakah jati diri bangsa ini? Masih pantaskah kita mengatakan “Bhineka tunggal ika” adalah alat pemersatu bangsa? Sampai kapankah perang identitas ini akan terus menggilas jati diri bangsa?
Tentu jawabannya ada dalam benak kita masing-masing. Tidak seharusnya kekerasan menjadi alat kita untuk menyikapi perbedaan.  Sejatinya, perbedaan tidak harus dipaksa untuk diseragamkan. Karena perbedaan memberikan harmoni tersendiri yang mampu menjadi pengikat bagi bangsa Indonesia untuk bersatu atas segala keberagaman ini. Begitu pula pemberitaan yang turut serta mewarnai ruang publik, hendaknya lebih mengedepankan sikap toleransi beragama dan persamaan HAM karena media adalah guru bagi pembaca. Media menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pola pikir dan perspektif masyarakat mengenai apapun yang diberitakannya. Forum-forum diskusi di kalangan masyarakatpun hendaknya menjadi salah satu ajang untung mengedukasi publik akan pentingnya rasa toleransi dari berbagai keberagaman ini.

Tabligh Nasionalisme Santri
Sebagai mahasantri selain harus memiliki jiwa kesantrian, hendaknya juga memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, karena nantinya santri akan turun ke masyarakat. Atas dasar itu maka dipandang perlu dilaksanakan suatu kegiatan yang menjadi ajang untuk memadukan keduanya.
Selain itu, santri juga merupakan seorang mubaligh sehingga dalam hal ini perlu dikembangkan kemampuan santri terkait dalam bidang tabligh, untuk itu devisi PSDM bagian Intelektual dan Keagamaan mengadakan lomba antar angkatan yang bertajuk Tabligh Nasionalisme Santri dengan tema “ Santri Berjiwa Pancasila”. Departemen PSDM yang notabene departemen yang berkaitan dengan Pengembangan Sumber Daya Manusia, khususnya divisi Intelektual dan Keagamaan yang notabene divisi yang berkaitan dengan pengembangan intelektual dan keagamaan mahasiswa, merasa perlu untuk melaksanakan kegiatan ini yakni pada tanggal 01 Juni 2015, tepat tanggal 15 Sya’ban 1436 H dan hari kesaktian pancasila.
Sinar purnama malam itu menyinari malamnya semesta alam. Sinar yang menjadi keberkahan pada malam nishfu Sya’ban. Dimana pada malam itu semua doa akan terijabah. Seluruh warga CSS MoRA bertasyakur dan berdo’a bersama, dengan harapan mendapat hidup yang lebih baik kedepannya. Agenda ini dipegang kendali oleh departemen PSDM bidang intelektual dan keagamaan. Diadakan tepat pada tanggal 1 juni 2015 di depan fakultas dakwah dan komunikasi.
            Pukul 18.15 WIB seluruh panitia telah berkumpul untuk mempersiapkan acara sebelum dimulai. Seiring berjalannya waktu peserta mulai berdatangan, mulai dari angkatan 2011 sampai 2014. Pukul 19.08 WIB acara dimulai, karena sebagian besar anggota telah hadir. Ahmad Jadulhaq selaku pembawa acara membuka acara pada malam itu. Diawali dengan membaca basmalah bersama dan dilanjut dengan sambutan dari ketua panitia, Nanang Supratna dan ketua umum CSS MoRA UINSA, Muhammad Namiruddin Naqiy. Pukul 19.24 WIB acara dilanjut dengan pembacaan rottibul hadad yang dipimpin oleh Nanang Supratna. Setelah pembacaan rotibul hadad, masuk kepada inti, yaitu pembacaan yasin 3 kali pada pukul 19.45 WIB yang dipimpin oleh Faiz Nasrullah dari angkatan 2011, Anwari Nuril Huda dari angkatan 2012, dan Misbah Muqarrabin dari angkatan 2013. Acara diakhiri dengan doa tepat pukul 20.11.
            Malam nisfu sya’ban tahun ini bertepatan dengan hari kelahiran pancasila. Selain yasin bersama, diadakan juga lomba taligh pada pukul 20.11 WIB yang diikuti oleh anggota CSS MoRA perwakilan dari setiap angkatan. Lomba yang bertajub santri berjiwa pancasila dipandu oleh Rahmat Faisal Nasution. Anggota pasif CSS MoRA Najid Aufar dan Afif diundang sebagai juri pada lomba tersebut. Setelah peserta menyampaikan tablighnya juri memberikan sedikit komentar. Setelah semua peserta menyampaikan tablighnya, sampailah pada sesi pengumuman juara lomba. Ahmad Jadulhaq delegasi dari angkatan 2014 keluar sebagai juara pertama.
            Waktu telah manunjukkan pukul 21.40 WIB. simbolisasi pemberian hadiah kepada pemenang lomba menjadi tanda bahwa telah berakhirnya agenda malam itu. Rahmat Faisal sebagai pemandu acara munutup acara dengan membaca hamdalah bersama. Acara ditutup pada pukul 20.45 WIB.

The last Meeting
            Pagi ini dilaksanakan ujian SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) yang mana seluruh Fakultas rata-rata menjadi tempat pelaksanaan ujian. Otomatis, intensif pagi pun diliburkan secara otomatis, karena ketiadaan tempat dan ujian SBMPTN akan dilaksanakan mulai pukul 08.00 pagi. Akupun lumayan cukup santai karena tidak harus berangkat pukul 06.00 pagi karena intensif ditiadakan. Kumanfaatkan waktu pagi untuk mencuci baju karena tenaga masih full, waktu menunjukkan pukul 07.10 WIB, akupun telah selesai menjemur baju dan mandi. Kulihat hp yang tergeletak di atas kasur, sedari tadi berdering dan ternyata ada sms dari salah seorang teman dan mengkhabarkan bahwa Prof Ali masuk di ruang sidang pukul 07.30. Tanpa pikir panjang langsung ku ambil piring dan bergegas makan. Tanpa banyak basa basi aku melahap nasi beserta telur yang kubeli kemarin di gang dosen. Nampaknya setiap pagi aku selalu terburu-buru ketika makan, dan akupun tahu dampaknya juga kurang baik bagi pencernaan. Namun paling tidak ini lebih baik daripada aku tidak sarapan dan ujung-ujungnya kelaparan saat di kelas. Tanpa kusadari makan pagi telah menjadi habitku, karena sejak dulu ibu selalu memaksaku untuk sarapan dan ketika belum sarapan maka aku tidak diperkenankan berangkat ke sekolah. Dan benar saja, efeknya pun terasa sampai sekarang. Aku tidak pernah didekati segala penyakit lambung atau populernya disebut penyakit maag.
            Berbeda dengan teman-teman disini, kebanyakan mereka meninggalkan sarapan pagi. Selain karena faktor habit, ketiadaan lauk juga membuat mereka memilih sarapan ketika hari sudah siang. Sebut saja makan siang. Hehe. Hal ini sebenarnya sangat kusayangkan mengingat pentingnya sarapan pagi bagi kesehatan tubuh. Aku mengantisipasi lauk dengan membeli jatah lauk 2x. Setiap kali membeli lauk untuk makan sore aku usahakan yang mengandung sayur dan berkuah, sedangkan untuk sarapan pagi esoknya aku memilih lauk yang kering dan mengandung gizi yang cukup tinggi seperti ayam, telur, ataupun ikan. Simple kan, tapi kurasa ini habit yang sudah cocok denganku dan harus dipertahankan sampai nanti.
            Kembali ke laptop! Setelah siap dengan dandanan simpleku, aku bergegas untuk berangkat. Bagiku dandan tidak perlu berlama-lama karena baju sudah disetrika semua ketika hari libur, dan bersolek juga tak perlu ribet-ribet karena kita bukan mau kondangan. Hehe. Cukup 10 menit selesai. Mengingat waktu telah menginjak 07.30, aku percepat langkahku menuju tangga dan menuruninya satu persatu, disusul dengan langkah-langkah teman yang lain. Ketika telah sampai fakultas, kami berjalan lurus menapaki panjangnya fakultas dakwah, kemudian belok kanan dan masuk di ruang sidang dimana kami akan bertemu dengan Prof Ali. Ketika membuka pintu, betapa terkejutnya kami karena Pak Prof ternyata telah duduk rapi di kursi depan dan sebagian besar teman-teman sudah datang. Perasaan bersalah karena telah terlambat sempat memenuhi ruang batinku, aku segera memilih tempat duduk yang strategis dan kupastikan di barisan paling depan.
            Selang beberapa menit kami diminta untuk berdo’a sebagai pembuka majlis ilmu kali ini. Sedikit perasaan lega karena kami tidak telat-telat banget, dalam artian kami tidak melewatkan momen berdo’a. Pandanganku menunduk, ku coba berdo’a dengan khusyu’, tidak terlalu keras namun cukup telingaku yang mendengarnya. Aku yakin do’a lebih khusyu’ ketika dilantunkan dengan suara lirih dan cukup telinga kita yang mendengarnya. Do’a pun selesai, prof memulai dengan bertanya mengenai jumlah komentar pada blog kami satu persatu dan mencatatnya pada kertas yang sedang dipegangnya. Ternyata ada beberapa teman yang telah melampaui batas minimal jumlah komentar yakni 50. Hafisa Idayu, gadis asal Sulsel yang kerap disapa Yuyu ini telah mampu mencapai 77 komentar, juga Rahmat Hidayat yang telah melebihi 60 komentar, aku sendiri baru mencapai 51 komentar. Ada perasaan lega karena telah lolos dari batas minimal, namun tentunya ada perasaan kurang puas karena teman yang lain saja bisa mencapai 70-80. Maka akupun seharusnya bisa.
            Begitupun sebaliknya, ada banyak teman yang masih belum mencapai 50 komentar. Pak Prof nampaknya kecewa dengan hal ini namun beliau tidak menampakkannya. Yang keluar dari lisan beliau hanya motivasi-motivasi dan lagi-lagi beliau berkata “Saya tidak pernah meragukan potensimu, kamu sendiri yang ragu sehingga hasilmu pun tidak maksimal”. Melihat hal ini, prof bertanya kepada teman-teman yang belum mencapai 50 komentar mengenai alasannya kenapa kok belum mampu mencapai target. Salah satu dari teman putra mengatakan akibat dari ketidakadaan wi-fi di Pesma, mendengar alasan ini Prof langsung berkata “Sukses itu bukan monopoli orang-orang yang fasilitasnya cukup. Jangan menunggu hujan reda, tapi menarilah dalam hujan.
            Beberapa teman putri pun mengemukakan alasannya, sebut saja Nadia. Dia ditanya mengenai berapa kali ia memberi komentar teman-temannya. Dengan nada halus khas sundanya ia menjawab “Sekali Prof”. Kemudian Prof Ali mengatakan “Mengapa hanya sekali? Kan tiap orang harus komentar dua kali to?”. Nadia menjawab “Teman-teman yang lain juga hanya sekali Prof”. “Terus kamu juga ikut-ikutan satu kali? Kalau digigit dibalas menggigit itu watak hewan. Kalau digigit kemudian sabar, itu watak orang muslim. Kalau digigit kemudian memberi makan, itu watak Rasulullah SAW”, tutur Prof Ali dengan penuh keseriusan.
Kemudian beliau menegaskan lagi “Apa yang kamu lakukan adalah potret dirimu sendiri, Jangan hanya meminta, tapi tawarkan apa yang kamu punya”. Jadi intinya kami pasti bisa sebenarnya jika kami mau berusaha, hanya kemalasan yang menjadi penghalang kami menuju apa yang kami targetkan. Lagi lagi kemalasan, seakan selalu itu yang menjadi boomerang bagi kami. maka prof ali berkata “Ikuti perkataan saya, WAHAI ALLAH, DENGAN PERTOLONGANMU SAYA AKAN MAMPU MELAWAN MALAS SAYA! SETAN, SAYA TIDAK AKAN MENGIKUTI KEMAUAN KAMU! Kamipun mengikuti perkataan beliau secara bersamaan dan diakhiri dengan pukulan ke atas meja pertanda geram akan bujukan setan yang tidak pernah berhenti kepada kita.
Tak lama kemudian beliau melirik kertasnya, kemudian bertanya “Siapa yang paling sering mendapatkan nilai terbaik?” dengan kompak kami mengatakan “Lia”. Maka buku “Seluk Beluk Pernikahan Islam” menjadi kado terindah untuk Lia Lutfiana Febriyanti, gadis kalem bertubuh sedang asal Bojonegoro ini. disusul dengan Fikri yang beberapa kali mendapatkan nilai terbaik, maka buku “Pendobrak Administrasi Organisasi” pun diterimanya dengan penuh senang hati. Kemudian kawan asal Ciamis, sebut saja aa’ Jajang Supriatna. Buku “Al-Ghazali” dengan penuh tawadhu’ ia terima. Tak lupa setiap penerima buku didokumentasikan dengan foto bersama sebagai kenangan berharga dari sang Maha guru. Semoga bermanfaat dan mampu tertular ilmunya.
Bagi yang belum mendapatkan buku, prof berusaha membesarkan hati kami dengan berkata “Bagai jarum yang dicelupkan kedalam lautan, belum ada apa-apanya. Tenang saja, Allah itu Maha Besar. Meskipun orang sukses telah banyak di dunia ini, tapi Allah Maha Besar dan tentunya masih banyak jatah orang sukses di dunia ini.”
Di akhir pertemuan, Prof Ali mengatakan “Tunjukkan kepada dunia, yang menunjukkan kamu adalah orang pilihan bukanlah jasmu tapi karyamu!” jadi apalah arti jas CSSMoRA jika aku sama dengan mahasiswa lain, aku harus punya karya. Ditambah lagi beliau berkata “Di tengah-tengah kemuliaamu itu kamu menggembol aib”. Kata-kata yang sungguh menamparku dan membangunkanku dari tidur panjangku. Aku tersadar banyak sekali kekurangn-kekuranganku namun tiada orang yang tahu, tidak lain pula karena Allah menutupinya.
“Saya yakin, tidak sampai 10 tahun kamu akan menjadi orang berhasil. Dan saat bertemu dengan saya nanti, tunjukkan bahwa kamu telah menjadi orang-orang baru. Karena Allah menitipkan kamu satu tahun dengan saya, jika kamu tidak berubah maka pertemuan ini hanyalah sia-sia. Jangan jawab dengan kata-kata tapi tunjukkan dengan karyamu!” pungkasnya di akhir sesi. Semangat yang bagai terpompa kembali. Dengan tekad yang begitu menggebu-gebu aku berniat untuk segera menyelesaikan tulisanku, apapun yang terjadi.

Sepatah kata untuk Prof Ali
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Tiada lagi kata yang mampu terucap selain untaian ucapan terimakasih, atas semua yang njenengan berikan kepada kami. Seakan-akan semua telah njenengan berikan kepada kami mulai dari ilmu perkuliahan sampai dengan ilmu kehidupan. Dari tenaga, pikiran dan finansial. Sampai engkau hadirkan ditengah-tengah kami sosok motivator muda yakni ustad Ainul Yaqin yang sangat menginspirasi juga sangat mendukung kami untuk terus belajar dan belajar. Keramah-tamahannya membuat kami seakan mendapatkan keluarga baru disini, di tanah perantauan kota Pahlawan tercinta. Sekali lagi kami ucapkan terimakasih Prof.
Ungkapan maaf karena mungkin disela-sela kegiatan pembelajaran, terdapat tindak tanduk sulah bowo kami yang kurang berkenan. Juga pengerjaan tugas yang seringkali tidak maksimal karena kemalasan kami, dan saya pada khususnya. Kami berharap semoga ilmu yang njenengan berikan kepada kami tidak hanya mengalir begitu saja namun dapat benar-benar bermanfaat  bagi umat, dan minimal bagi kami sendiri. Teriring do’a semoga segala kebaikan beliau mendapatkan balasan yang setimpal yang dicatat sebagai amal disisiNya. Amin.
Wassalamu’alaikuim Wr. Wb.








[1] Semacam tenda kecil sebagai penutup yang biasanya diletakkan di punggung unta dan digunakan untuk tempat perempuan-perempuan yang istimewa saat bepergian.
[2]  Achmad Juntika Nurihsan, Bimbingan dan Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan, (Bandung : PT Refika Aditama, 2011), hal 10.

[3] Bahri Mustofa, Bimbingan dan Konseling di Sekolah, (Surabaya: CV Putra Media Nusantara, 2011),hal. 110