Pages

Senin, 16 Mei 2016

“Peran Orang tua dalam Mendidik Generasi Muslim Anti Sex Bebas”

            Telah dikatakan bahwasanya tanda-tanda akhir zaman adalah maraknya perzinaan disana sini. Hal ini terbukti dengan adanya berita penyalahgunaan sex di berbagai media pemberitaan. Pelakunya bervariasi, mulai dari ayah kepada anak perempuannya, kakek kepada cucunya, guru kepada muridnya, kakak kepada adiknya, dan lain sebagainya yang terkadang sulit diterima akal sehat. Namun inilah faktanya, jika nafsu sudah bergejolak di dalam dada, logika pun tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Syaitan rupanya telah mengepakkan sayapnya di atas kelalaian manusia.
            Seperti kasus yang saya temui beberapa hari yang lalu, tepatnya pada hari Jum’at tanggal 11 Maret 2016 . Salah seorang teman mengirim berita di grup W, isinya berupa laporan berita pembuangan bayi laki-laki di lereng bukit Tengger, Kecamatan Sambit Kabupaten Ponorogo. Sekitar 3 km dari tempat tinggal saya. Kejadian ditemukannya bayi tersebut pada tanggal 1 Maret 2016 namun baru berhasil diungkap hari Jum’at lalu. Pelaku berinisial AN, selaku sang ayah dari bayi tersebut yang mana pelajar  berusia 17 tahun. Pelaku kedua berinisial HP, sang ibu dari bayi yang juga masih merupakan pelajar berusia 17 tahun. Keduanya berpacaran kurang lebih satu tahun, dan telah melakukan hubungan suami istri. Karena takut, sang bayi dibuang ketika lahir.
            Singkat cerita, kedua orang tua si perempuan (HP) bekerja di Kalimantan. HP menempati rumah orangtuanya seorang diri, dan terkadang menginap di rumah neneknya di seberang desa. Setelah terkuakknya kasus ini, keduanya diamankan pihak berwajib untuk kemudian diproses menurut ketentuan yang berlaku, mengingat keduanya masih berstatus pelajar.
            Mendengar berita ini, merinding sekaligus prihatin batin ini. Diantara percaya dan tidak. Akhirnya saya klarifikasikan kepada teman saya yang masih tetangga dengan pelaku (HP). Pasalnya, HP adalah seseorang yang saya kenal baik, juga tidak neko-neko. Namun apa mau dikata, jagung telah menjadi popcorn atau istilahnya nasi telah menjadi bubur. Semua sudah terjadi. Lalu terfikir dalam benak saya, “Siapa yang bersalah dalam kasus seperti ini? Tidak selamanya anak akan terus disalahkan. Karena apapun yang terjadi pada mereka, sudah pasti adalah bentukan dari kedua orang tuanya.”
Dengan melalui dasar-dasar pendidikan dari orang tua, islam mensyariatkan bahwasanya orang tua adalah penanggung jawab atas putra-putrinya. Pengenalan akidah yang baik dan penanaman akh  laq menjadi suatu keharusan agar mereka mampu menjadi generasi islam yang lebih baik, di dunia maupun di akhirat. Seperti diriwayatkan dalam hadits:
“Seseorang itu adalah penggembala di lingkungan rumah tangganya dan bertanggung jawab terhadap gembalaannya”.
            Maka tidak dapat dipungkiri, peran orang tua dalam mendidik anak-anaknya tentang sex sangat diperlukan. Karena pada usia anak-anak, rasa penasaran pasti akan selalu muncul mengenai hal-hal baru yang mereka temui. Jika orang tua sebagai orang terdekatnya tidak memberinya pengertian, maka yang terjadi ia akan menyerap mentah-mentah apa yang ditontonnya, didengarnya dari teman-teman sebayanya, atau media lain. Sedangkan pada usia anak-anak, filter yang mereka punyai belum cukup untuk menyaring mana yang harus mereka terima sebagai suatu pembelajaran, dan mana yang harus mereka tolak sebagai larangan. Dalam hal inilah peran orang tua sangat penting, khususnya untuk mendampingi anak dalam proses pendewasaannya. Terutama seorang ibu.
            Mengapa ibu? Tidakkah ayah? Jawabannya adalah karena ibu adalah sosok pendidik pertama bagi mereka, para anak-anak. Sebaik-baiknya seorang ayah mendidik, anak akan tetap memiliki kedekatan tersendiri dengan seorang ibu sehingga nilai-nilai yang ditanamkan seorang ibu biasanya lebih cepat mengena dan menancap dengan kuat dalam diri sang anak. Dari siniilah kita sadari pentingnya peran seorang ibu dalam mengajarkan pendidikan seks kepada anak-anaknya. Meskipun pada dasarnya anak menerima pembelajaran terkait dengan hal tersebut di sekolah, biasanya hal-hal yang langsung diterima melalui praktek langsung dalam keseharian, lebih cepat diterima oleh sang anak dan membentuk dirinya.
            Beberapa hal di bawah ini dapat dilakukan oleh para orang tua untuk membentuk karakter anak menjadi generasi muslim anti sex bebas, diantara lain adalah sebagai berikut : 

1.      1. Mengajarkan batasan-batasan aurat yang harus ditutup
Sejak dini, anak harus diajarkan tentang batasan-batasan aurat bagi anak perempuan dan anak laki-laki. Apalagi ketika si anak sudah beranjak dewasa yakni berumur 15 tahun keatas, yang mana pada usia-usia tersebut seseorang dikatakan telah baligh. Pada suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Nawawi, batasan baligh adalah ketika berumur 15 tahun. Seorang anak laki-laki sudah dihukumi mukallaf meskipun belum pernah mimpi basah, juga anak perempuan yang belum pernah haid namun sudah dihukumi baligh.
Pada usia tersebut, anak seharusnya telah mengetahui batasan-batasan aurat yang disyariatkan oleh islam. Pada anak laki-laki yakni pusar sampai lutut, dan perempuan berlaku seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Sebagai bentuk konkritnya, orangtua mengajarkan adab berpakaian yang baik dalam segala keadaan. Misalnya bagi anak laki-laki untuk keluar rumah harus berpakaian panjang paling tidak celana selutut dan baju lengan pendek, sedangkan pada anak perempuan rok panjang dan baju lengan panjang serta jilbab. Kaos cangcut hanya bisa dikenakan ketika di dalam kamar. Hal-hal seperti ini harus dibiasakan dan dijelaskan alasannya yang mampu diterima anak dengan mudah. Misalnya dengan pakaian tertutup, anak akan terlindung dari segala gangguan kuman dan penyakit. Seiring anak tumbuh dewasa, ia akan mengerti dengan sendirinya.
2.      2. Memberitahu anak daerah-daerah sensitif
Pada dasarnya, jika kita amati sejak kecil anak memiliki rasa malu untuk menunjukkan alat kelaminnya. Jika disentuh ibunya pun, seorang semestinya anak akan kegelian karena tanpa disadari, fitrah memiliki rasa malu telah ada pada tiap-tiap manusia. Selanjutnya, tinggal bagaimana orangtuanya memberi penjelasan mengenai daerah-daerah sensitif tersebut.
Dengan bahasa yang mudah diterima, para orang tua harus memberi pengertian kepada anak bahwa daerah-daerah tersebut tidak boleh dilihat dan disentuh orang lain, dan mengakibatkan suatu hal yang berbahaya bagi anak. Daerah-daerah sensitif itu meliputi alat kelamin dan dada bagi anak perempuan.
3.      3. Memberitahu anak tata krama pergaulan
Pada masanya, seorang anak akan memiliki ketertarikan kepada lawan jenis yakni pada masa pubertas. Jika tidak diberi pemahaman akan batasan-batasan pergaulan dengan lawan jenis, seorang anak dikhawatirkan akan bergaul dengan teman lawan jenisnya sesuka hatinya tanpa ada batasan. Dengan begitu, ia akan mengerti dan memahami batasan-batasan itu.
 
4.      4. Membedakan perlakuan anak perempuan dengan anak laki-laki
           Sejak dini anak harus diperlakukan sesuai kodratnya. Jika ia dilahirkan sebagai anak laki-laki, ia harus diberi pakaian selayaknya anak laki-laki, dengan warna-warna maskulin. Juga diberi mainan selayaknya kesukaan anak laki-laki seperti mobil-mobilan, kelereng, robot-robotan, dan lain sebagainya. Begitu juga anak perempuan, ia harus diberi pakaian selayaknya anak perempuan, dengan warna-warna lembut. Juga diberi mainan selayaknya kesukaan anak perempuan seperti boneka, dan lain-lain. Kesalahan dalam memperlakukan anak bisa mengakibatkan orientasi seksual anak akan berubah, dampaknya bisa terlihat jelas ketika ia beranjak dewasa. Perilaku, sikap dan sifatnya bisa mencerminkan bagaimana ia diperlakukan orang tuanya sejak kecil. Karena menurut teori konvergensi, lingkungan dan keluarga menjadi pembentuk kepribadian anak yang paling mendasar.

5.      5. Mendampingi anak dalam mengakses segala media
Media sekarang ini adalah musuh paling berbahaya bagi seorang anak. Terlebih lagi internet. Segala data apapun masuk ke dalamnya dan mampu diakses hanya dengan hitungan detik. Seiring laju perkembangannya, dengan mudahnya gadget bisa dioperasikan oleh anak. Ketika orang tua telah memberi lampu hijau bagi anak untuk memegang gadget, maka dengan konsekuensi tersebut orang  tua harus mengawasi anak. Agar penggunaan internet bisa dialihkan ke jalur positif, misalnya untuk mengakses video tutorial menggambar, atau game peningkat kecerdasan atau IQ anak. Cerdas menggunakan media akan banyak mengalirkan banyak manfaaat bagi anak, tentunya juga dengan bimbingan dan pendampingan yang benar oleh orang tua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar