Pages

Jumat, 10 April 2015

Cerpen - "Sebening Asa di Fajar Sukabumi"


Senja mulai menyingsing. Jalan setapak yang sedikit becek membuatku harus berhati-hati karena hari sudah mulai gelap. Sepeda butut yang ku pinjam dari mang Ujo temani langkahku menuju pesantren. Yap! 6 tahun terakhir ini aku menimba ilmu di pesantren Al-Inayah. Salah satu pesantren salafiyah-modern di pelosok Sukabumi, Jawa Tengah. Uniknya, orang sering menyebut pesantrenku sebagai ‘pesantren rimba’. Karena pesantren ini terletak di kaki gunung yang berhadapan langsung dengan hamparan hutan pinus.
            Orang kerap menyapaku dengan panggilan Nida. Padahal nama yang disematkan orang tuaku Nahdiya An-Niswah, tidak nyambung bukan? Namun ini terlanjur kebiasaan mereka, jadi aku no problem. Sebuah kampung di kabupaten Kuningan Jawa Barat menjadi tanah kelahiranku 17 tahun yang lalu. Aku terlahir tanpa ibu disampingku. Ibu meninggal saat persalinan. Ayahku tinggal bersama nenek dan kakekku di kampung. Keadaan daerahku yang masih terbelakang mendorong ayahku untuk membawaku ke tempat ini. “Kamu terlahir untuk masyarakat nak. Maka carilah bekal sebanyak-banyaknya di ladang ilmu ini dan kelak kembalilah ke masyarakat. Ayah mendo’akan dirumah dan menanti kamu kembali.” inilah kata-kata terakhir ayah 5 tahun yang lalu yang sangat menempel dalam dinding memoriku.
Gerbang pesantren rupanya sedang terbuka. Aku mengendap-endap bak maling ayam, namun ku tersadar di pesantren tidak ada ayam (ih ngaco banget aku ini). Lalu ku taruh sepeda mang Ujo di tempat parkir di samping masjid. Segera ku percepat langkah kakiku sembari celingukan melihat kanan kiri.  Takut kepergok sama si judes mudabbiroh berkacamata lebar itu. Salah satu mudabbiroh yang terkenal sangat galak dan tidak bisa tersenyum itu terkadang menjadi bahan guyonan teman-teman karena kacamatanya yang lebar dan sering mengantuk disetiap kesempatan.
 Lagi-lagi sore ini aku meninggalkan salah satu ekstrakurikuler santri yaitu kajian jurnalistik bersama Gus Hanif. Putra Kiai Abdullah (Pimpinan Pesantren) yang terkenal ahli dalam bidang tulis-menulis itu. Apalagi di bidang sastra. Tidak tanggung-tanggung, Gus Hanif telah menjuarai berbagai ajang kompetisi karya tulis-menulis Beliau adalah salah satu sosok yang menginspirasiku untuk semakin giat menulis. Aku suka imajinasi. Bahkan terkadang karena kadar imajinasiku tingi, aku sering melamun. Bahkan aku sering berpuisi, menulis bait-bait sastra dimanapun itu tempatnya. Tembok kamar mandi yang bersih pun tercoret dengan tinta spidolku. Inilah yang sangat menjadi pertimbangan bagiku karena aku sangat menyukai sastra meskipun karya-karyaku masih belum bisa dibilang bagus.
Sekarang fikiranku sedang terfokus pada seorang perempuan paruh baya yang mengabdikan diri di pesantren sebagai tukang masak lebih dari 25 tahun, beliau kerap disapa bi Uni. Beliau tidak pernah diberi upah oleh pesantren karena memang pesantren ini tidak memberlakukan sistem upah bagi para tenaga kerja. Pesantren hanya memberi sembako setiap bulan bagi setiap tenaga kerja. Hal ini dilatarbelakangi karena pesantren tidak memiliki dana lebih untuk membiayai pekerja-pekerjanya. Maklum, semua santri disini dibebaskan biaya nyantri alias gratis. Hanya saja untuk biaya pendidikan santri tetap dikenakan SPP tiap bulannya.
Hidup adalah pilihan dan inilah pilihanku. Aku harus mengorbankan kajian jurnalistik demi bi Uni. Sosok wanita yang sangat mengagumkan bagiku. Aku sudah menganggap beliau ibuku sendiri karena beliau sangat penyayang, ramah serta simpati kepada setiap santri. Beberapa hari ini kulihat bi Uni semakin lemah karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Wajahnya pucat dan sering muntah-muntah. Pernah suatu ketika aku memergoki bi Uni sedang membaca surat keterangan kesehatan dari dokter, dan ternyata beliau mengidap penyakit ginjal yang sudah mencapai stadium III. Tiada seorangpun yang membantunya di rumah karena beliau tidak dikaruniai anak. Sedangkan suaminya telah lebih dahulu berpulang ke rahmatullah. Semakin berdosa rasanya kalau aku tidak meringankan bebannya karena hanya aku satu-satunya orang yang tahu masalah ini. Bi Uni tidak mengizinkanku menyebarluaskan masalah ini kepada orang lain.
Beberapa hari ini aku putuskan untuk menggantikan pekerjaan beliau sebagai penjual gorengan. Awalnya bi Uni tidak mengizinkanku, namun aku tetap memaksa dengan dalih demi membalas budi kepada bi Uni yang telah berbuat banyak untuk pesantren. Oh iya, sekarang aku menduduki kelas terakhir madrasah Aliyah. Sepekan terakhir ini setiap sore setelah pulang dari sekolah aku berkeliling menjual gorengan di desa-desa dengan berjalan kaki. Semoga mudabbiroh (pengurus) tidak melihatku.
Ku terus melangkah menapaki panjangnya koridor asrama putri. Hatiku lega setelah  melintasi kantor mudabbiroh karena tidak ada seorangpun yang nampak disana. Ku bergegas naik tangga dan brukk!!! Aku menabrak seseorang. Dan ternyata, “Mudabbiroh! Mati aku!” Ukhti Ida salah seorang mudabbiroh jutek yang telah ku ceritakan diatas tadi,membawaku menuju kantor pengasuh. Aku hanya diam mengekor di belakang. Dengan sedikit kecemasan, ku masuki ruang pengasuh. Ustadzah Nurul nampaknya sedang menantiku. Beliau telah duduk dengan menyiapkan buku pelanggaran di depannya. Jantungku berdegup kencang karena ini sudah ke-3 kalinya aku terlambat masuk pesantren dan sekali tidak ikut ekstra.
“ Nida! Kamu lagi, kamu lagi! Kamu ini santriwati senior, tidak malu dilihat adik-adikmu? Kamu ini diharapkan menjadi contoh bagi mereka, bukan sebaliknya! Sudah berapa kali kamu terlambat masuk pesantren, tidak ikut ekstra. Sebenarnya kamu ini kemana saja? Belajarlah bertanggung-jawab atas pilihanmu” kata-kata ini telah ku dengar ke-4 kalinya terlontar dari Ustadzah Nurul. “Ke-4 kalinya ustadzah” jawabku lirih. Ustadzah nurul diam. Beliau memandangku sejenak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sebagai ta’dzir, kamu harus bisa membuat pondok ini tenar di masyarakat. Terserah kamu mau berbuat apa untuk membuat pondok ini terkenal dalam waktu satu Minggu, mengerti?” Ucap Ustadzah Nurul dan aku pun mengangguk tanda mengerti.
Inilah konsekuensi yang harus aku tanggung. Malam hari selepas syawir (belajar bersama) bersama seluruh santriwati, aku naik di atas genteng asrama putri, mencari kedamaian seraya menunggu wangsit. Sungguh tidak habis pikir, aku heran dengan ta’zir kali ini. Sangat berbeda dengan ta’zir-ta’zir sebelumnya. Biasanya kami hanya disuruh membersihkan kamar mandi, menyapu halaman pondok, ataupun mengepel lantai masjid. Namun ta’zir kali ini membuatku pusing tujuh keliling. Keadaan semakin sempit rasanya ketika berbagai halangan menerjang.
Aku pun mulai menulis di bawah terangnya cahaya sang rembulan. Belum sampai menulis dua baris, tiba-tiba ada suara yang menagagetkanku. rupanya Gus Hanif melihatku dari aula lantai dua. Beliau berkata “Nida, kamu tidak sakit kan? Kamu ini anak perempuan kok bisa-bisanya naik di atas genteng di malam hari seperti ini.” Aku hanya cengengesan tanpa menjawab gus Hanif, lalu aku segera turun menuju lantai III asrama putri. “Ah, gus ini gimana, wong itu tempat aku mendapatkan wangsit. Kalau rasulullah yang mendapatkan wahyu di Gua Hira, aku juga butuh tempat yang sepi biar dapet wangsit berupa inspirasi-inspirasi.” Gerutuku sembari membuka pintu kamar. Sang waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB lalu ku putuskan untuk istirahat, mengingat besok aku masih harus berjualan gorengan bi Uni.
Ketika malam bersihkan wajahnya dari bintang-bintang
Fajar pun telah siap menyapa hari
Secerah cahaya mentari pagi
Secerah itu pula semangatku hari ini
Lantunan syair-syair penggugah kalbu ini mengiringi kayuhan sepedaku menuju rumah bi Uni. Sekitar 2 KM dari pesantren. Untung ada sepeda mang Ujo yang aku pinjam beberapa hari ini guna untuk berjualan gorengan. Sembari menunggu bi Uni yang sedang menggoreng kwetiaw. Tanganku tergerak untuk mencari pena, dan mulai menari-nari diatas kertas. Entah mengapa inspirasi selalu datang dari arah mana saja. Asalkan ada pemicunya yaitu semangat. Tidak perlu langkah konyol seperti yang kulakukan tadi malam. Malu rasanya mengingat bahwa yang memergokiku adalah gus Hanif, sang idola pujaan hati.



















Bila masih terurai sungai dimata, biarlah ia mengalir..
Jangan pernah dibendung..
Karena ruang suara terisi keindahan surgawi..
Dan dikala tahajjud memanggil, hati menolaknya..
Tubuh terlalu naif tuk beranjak pergi..
Menuju singgasana sejahtera abadi..
Wahai ayat-ayat cinta..
Kemanakah sungai dimataku harus mengalir?
Sudahkah sang hamba menunduk malu..
Di hadapan Sang Maha Cinta..
Saat sajak indah mengalun syahdu..
Hati merayu rindu, tanda munajat pecinta pada yang dicinta..
Cinta yang tiada matinya, tiada pula duanya..
Nikmatnya cinta ini hingga membuat pecintanya buta akan dunia..
Tuli akan godaan, lumpuh akan maksiat..

Nahdiya Annida

            “Mbak Nida, ini gorengannya sudah siap.” Suara bi Uni sontak mengagetkanku, “Oh iya Bi, saya berangkat dulu kalau baegitu” Jawabku kemudian memasukkan kertas kedalam keranjang gorengan. Karena ini hari Minggu, ku putuskan untuk berjualan di taman dekat telaga yang lokasinya tidak jauh dari sini. Biasanya taman itu ramai oleh pengunjung yang berlibur dan menghabiskan waktu untuk bersantai di pinggir telaga.
“Mbak, gorengannya boleh? Teriakan seorang pria berkacamata menghentikan langkahku. “Alhamdulillah..ternyata semangatku berbuah manis” bisikku riang di dalam hati. “Oh iya pak, ini silahkan, mau kwetiaw goreng, pisang goreng, bakwan, atau risoles, semua tersedia dan tentunya semuanya mantap!” Gini nih kalau lagi promosi. Pria itu memesan 2 potong risoles. Segera ku ambilkan kertas untuk membungkus risoles, lalu ku serahkan kepada kepadanya. Ucapan terimakasihnya mengiringi langkahku menuju taman bagian belakang. Ternyata peminat gorengan cukup banyak, mengingat harganya yang murah meriah dan penjual makanan yang lain belum datang. Inilah fakta yang terjadi kalau orang bangun kesiangan itu rejekinya bisa dipatok ayam. Alhamdulillah. Akhirnya daganganku habis.
Pohon rindang di  ujung jalan keluar dari taman menjadi tempatku melepas lelah. Aku duduk dan sesekali meminum air yang ku bawa dari rumah bi Uni tadi. Tiba-tiba ada seorang pria yang menghampiriku. Nampaknya aku mengenali orang ini yang tidak lain adalah pembeli pertamaku pagi tadi. “Aduh pak maaf sudah habis ini gorengannya”. Tuturku. “Oh saya bukan mau beli gorengan, Cuma mau nanya aja mbak” ujar pria itu. “Oh iya silahkan,” aku semakin takut karena pria ini terlihat tegang. “Mbak suka sastra ya?” pria itu bertanya. Lalu akupun menjawab “Iya, kok bapak tahu? Jangan-jangan bapak peramal? Atau jangna-jangan bapak tukang hipnotis? Jangan hipnotis saya, saya harus pulang ke rumah bi UNI memberikan uang hasil saya jualan” ujarku dengan penuh rasa ketakutan. Pria itu spontan berkata “Oh tidak, saya ini orang biasa mbak. Saya tertarik dengan puisi di kertas yang mbak kasih ke saya untuk pembungkus gorengan tadi. Saya tidak sengaja membacanya”. Jelas pria itu. Lalu aku berfikir sejenak bahwa kertas yang berisi coretan-coretan puisiku tadi pagi ternyata ku pakai untuk bungkus gorengan yang dibeli wanita itu. “Ah itu saya cuman iseng saja bapak” ungkapku sembari cengengesan.
Waktu ternyata telah menunjukkan pukul 11.30 siang, tidak terasa aku menghabiskan waktuku untuk ngobrol dengan pria tadi yang ternyata beliau adalah seorang penulis majalah kota Sukabumi yang sedang mencari anak-anak muda yang memiliki karya dan berlabel pesantren. Ungkapnya, tulisanku akan dimuat dalam majalah terbitan minggu depan dan pimpinan pondokku juga akan diwawancarai mengenai minat menulis santriwan santriwati di pondok. Betapa bahagianya aku. Bagaimana tidak, semua hanya berawal dari ketidaksengajaan. Yang lebih membahagiakan, aku tidak perlu pusing memikirkan ta’zir yang diberikan usatdazah Nurul kepadaku. Akupu mengucapkan beribu terimakasih atas  kesempatan emas yang telah diberikan.

Tak lama kemudian aku pulang ke rumah bi Uni dan memberitahu Bi Uni mengenai kabar bahagia ini. Bi Uni mengelus pundakku, layaknya seorang ibu kepada anaknya. Aku memeluk bi Uni. Kemudian ku serahkan seluruh uang hasil jerih payahku hari ini kepada bi Uni. Bi Uni nampak bahagia karena uang hasilku berjualan cukup banyak. “Bi, pokoknya bi Uni harus berobat ke pengobatan alternatif secepatnya, nanti saya antar” ungkapku kepada bi Uni. Kemudian beliau tersenyum sembari mengangguk, beliau berterimakasih kepadaku atas bantuanku selama ini. Ternyata Allah memberkahi pengorbananku selama ini. Aku mendapatkan hal-hal yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Pria yang kerap disapa mas Dito itu berharap aku selalu menulis sastra demi mengisi kolom sastra di majalahnya. Ungkapnya, karya sastra yang kutulis sangat berkesan dan bernilai. Respon positif juga datang dari Gus Hanif, beliau berkata “Tidak perlu lagi naik ke atas genteng untuk mencari wangsit, kamu telah menjadi orang hebat sekarang”. Aku tersenyum simpul dan berbisik di dalam hati “Semua karena inspirasi dari sampean gus”. Aku bahagia hidup di pesantren in. Akankah kelak akan ku temukan imam dari keluarga kecilku di pesantren ini, wallahu a’lam bi al-shawwab.

3 komentar:

  1. suasana pesantren. its nice to published being a novel. cheers :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. thank you sister, but i think this story is too simple to be a novel..

      Hapus
  2. Titian langkah bersama sang guru besar.. dri judulnya saja membuat seseorang tertarik untuk membacanya...
    Saya tunggu bukunya di terbitkan

    BalasHapus